Life Style
Trending

LURIK SENTHIR : “Eksotisme Etnik di Lembar Lurik”

Indrias “Senthir” mengolah lurik karya penenun tradisional menjadi produk fashion yang berkelas. Mengusung brand “Lurik Senthir”, tenun lurik dalam desain-desaian khas dengan penggemar kalangan menengah ke atas. September mendatang, di ajang Festival Payung Indonesia yang akan digelar di candi Borobudur, Indrias akan ambil bagian memamerkan karya-karya terbaiknya.

Istimewa-LS/Milesia.id

Selama ini kain lurik dianggap sebagai kain Ndeso. Lazim dipakai simbok-simbok sebagai selendang untuk menggendong bakul atau perangkat momong cucu. Di tangan kreatif Indrias Tri Purwanti, lurik khas perajin Jawa Tengah, berkibar dengan desain-desain kontemporer. Menampilkan citra tenun elegan dan berkelas.

Motif-motif lurik lawas seperti Yuyu Sekandang, Tumbar Pecah, Dom Nelusup, Kelir dan beberapa motif kuno lainnya, dipadu padan dalam desain-desain unik yang memukau. Alhasil, harga yang dipatok untuk desainnya sepadan dengan keunikannya. Mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Berawal dari Lima Scarf

Tentu, semuanya ada kisahnya. “Awalnya saya menjual lima scarf lurik motif modern, dan Alhamdulillah  laku. Uangnya untuk kulakan kain lagi dan dibuat scarf  lagi dan lagi. Sampai penjualan scarf lurik menembus luar Pulau Jawa,” papar Indrias kepada Milesia melalui sambungan telepon, pekan lalu.

Dari scarf  lantas merambah dunia kain lurik dengan desain modern. Dan itu melalui jalan berliku. Iin menjual beberapa lembar kain lurik motif modern, namun tidak laku. Tak patah semangat, Iin putar otak agarlurik rancangannya diterima pasar.

Istimewa-LS/Milesia.id

Hobi mendesain baju yang sudah dia suka sejak di bangku SMP, terbukti sangat membantu. Disulapnya  aneka motif lurik menjadi baju. Laku ! Pesanan pun mengalir, menuntut jemari mungilnya terus berkreasi.

Pada satu titik, Iin sampai pada pemahaman perlunya spesifikasi produk. Dipilihnya lurik motif kuno hasil seleksi alamiah tradisi wastra Nusantara sebagai elemen utama desainnya. Ya, motif kuno, dan ternyata publik menyukainya. Indrias pun kian intens menekuninya sampai sekarang.

Kenapa “Senthir”?

Ditanya kenapa dinamai “Lurik Senthir”, dengan semangat Iin berkisah. “Senthir adalah lampu kecil sederhana, yang menerangi di saat gelap. Bahan bakar senthir bisa berasal dari macam-macam minyak.

Indrias TP/Istimewa-LS/Milesia.id

Harapannya, dengan nama senthir, dengan kesederhanaan yang apa adanya, bisa menerangi atau membawa cahaya kepada siapa saja yang membutuhkan. Bisa hidup di manapun,” papar Indrias. Senthir juga merupakan padatan kata Solo Ethnic Reality. “Ke-ethnik-kan Solo yang sesungguhnya,” imbuh Indrias yang juga pesilat dari perguruan Perisai Diri itu.

Ethnic juga bisa dijabarannya lebih luas. Ya cantik, indah, memesona, smart, juga kepribadian yang bagus. Begitulah gambaran kota Solo tercinta tempat saya lahir dan tinggal hingga saat ini, sekaligus cerminan produk design Lurik Senthir”.

Senthir juga semula adalah nama event organizer (EO) – Wedding Organizer (WO) milik Iin. Dengan bekal latar belakang sebagai WO/EO inilah yang membuat Iin, pada 2013, mantap menghelat fashion show tunggal dengan mengusung 54 peragawati di kawasan strategis Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Dalam event monumental itu, Iin memanfaatkan 100 meter ruas jalan sebagai cat walk raksasa bagi puluhan peragawati yang melenggang mantap dan elegan.

Istimewa-LS/Milesia.id

Sejak itu, karya Iin semakin dikenal luas. Bagi warga Solo, Lurik Senthir jadi icon baru yang membanggakan di sektor mode dan fashion. Penggemar dari kota-kota di Indonesia terus bermunculan. Banyak tokoh penting hingga seniman dan artis yang mengenakan koleksinya.

Tidak berhenti di situ, ibu dua anak, Satria dan Ajeng ini, getol mengikuti event-event berskala nasional dan internasional. Desain luriknya sudah terbang hingga Jerman, Australia dan Jepang. Indrias dan lurik desainnya dilibatkan dalam sejumlah event nasional. Pemilihan putri budaya, putri pariwisata, festival payung Indonesia, dan masih banyak lagi.

Melirik Lurik

MC/Istimewa-LS/Milesia.id

Siapa sangka, sosok mungil, energik, dan cerdas kelahiran Solo 30 Januari 1978, itu juga merupakan pesilat handal. Silat, beladiri asli Nusantara, memang kental dengan muatan seni dan keindahan. Menghabiskan masa remajanya di kota Solo, lulusan jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas  Wangsa Manggala (Universitas Mercubuana), Yogyakarta, sejak awal memang memiliki passion dan bakat artistik. Sempat jadi dosen di sebuah perguruan tinggi di Kota Solo, kecintaan pada dunia mode menuntunnya menggeluti fashion.

Iin mengusung misi memangkas image lurik sebagai kain ndeso, dan sepertinya berhasil. Semula, lurik identik  dengan kain jadul , panas dan tidak nyaman dipakai. Kaku dan murah. Tapi di mata jeli Iin, kain lurik memiliki keindahan khas.

Filosofi kain lurik yang bisa dimaknai sebagai “Lurus Ikhlas”, juga dilakoni Iin sebagai wujud keikhlasan dan ketulusan sebagai mahluk hidup dalam melayani sesama.

Dalam perburuannya menemukan koleksi kain lurik motif kuno, hampir setiap akhir pekan dia berkunjung ke berbagai wilayah di Klaten, Solo dan sekitarnya. Tidak mudah menemukan kain lurik motif kuno, pelosok desa disambanginya.

Jika sudah menemukannya, Iin mereplika kain tersebut dengan bahan benang, warna, dan motif yang sama persis dengan aslinya. Dari replikanya  barulah dibuat berbagai model produk fashion. Pakaian dan bermacam asesoris seperti kalung, tas, payung, dan lainnya.

Kendala pengadaan bahan baku kain lurik bukannya tidak ada. Diantaranya minimnya perajin kain tenun lurik motif kuno yang diproduksi secara manual. Banyak perajin yang sudah gulung tikar. Jikapun ada, banyak yang mengerjakannya secara musiman.

Dengan mempekerjakan tujuh pegawai, fashion “Lurik Senthir” (LS) terus tumbuh dan berkembang. Ratusan design aneka produk fashion lahir. Termasuk baju kerja, baju olahraga, casual, kimono maupun bridal.

Koleksinya siap memanjakan konsumen, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak untuk beragam acara. Bahan dan rancangannya nyaman dipakai, lembut, dan elegan. Untuk menemukan koleksinya, siapa saja diterima dengan tangan terbuka di Jl. Singosari Utama No, 30 Nusukan, Solo, Jawa Tengah.

JUMINTEN/Istimewa-LS/Milesia.id

Iin mengusung motto “life is beautiful”, hidup itu indah dan perlu disyukuri. Karenanya, sebagai seorang ibu yang berbisnis dan bekesenian, Iin tetap aktif di berbagai organisasi. “Juminten” Jumpa minum teh dan niaga bagi kalangan UMKM Solo Raya, misalnya, Iin didaulat menjadi ketua. Tawaran MC di berbagai acara budaya masih ia terima di sela kesibukannya. Bersyukur juga dimaknai dengan memberi manfaat bagi banyak orang.

April Tahun lalu, “Lurik Senthir” menjadi salah satu representasi kekayaan produk unggulan nasional dalam ajang pameran kerajinan berskala internasional Inacraft, di Jakarta Convention Center (JCC). “Melalui desain-desain maupun kolaborasi kegiatan budaya yang mengetengahkan kain tenun lurik sebagai warisan unggulan negeri ini, Saya ingin mengubah persepsi sebagian masyarakat yang belum tepat dalam menilai lurik,” papar Iin kepada Milesia yang menjumpainya di JCC saat itu.

“Selain jualan lurik, saya juga  mengedukasi customer tentang nama-nama dan filosofi lurik. Visinya, lurik kembali eksis dan orang bangga mengenakannya. Misi kedepannya lurik go international,” pungkas Indrias kepada Milesia.

(Milesia.id/Anny Widi Astuti/ Editor : Prio P)

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close