ANALISA
Trending

Cegah Bencana Alam, Saatnya Beragama yang Berwawasan Lingkungan

MILESIA.ID, JOGJA – Dengan rubuhnya pohon itu dan akar-akarnya pun dicabut dan dibawa dengan sebuah truk oleh pemborong. Pemborong Thohir pada gilirannya melaksanakan tugasnya, mula-mula membangun masjid, kemudian MCK, dan gedung puskesmas.

Mula-mula kebutuhan air tiga bangunan itu terpenuhi tanpa masalah. Kemarahan Sing mBau Rekso yang dikatakan oleh Parto tidak terbukti datang. Parto sendiri agar tidak marah tetap diberi tugas oleh Pak Lurah untuk menjaga tiga bangunan itu, terutama bangunan masjid. Tugas itu pun dijalankan oleh Parto. Hanya saja ia berhenti bertapa dan menjadi dukun. Kyai Fauzan mengajarinya sholat sehingga ia berubah menjadi santri yang taat sholat di masjid.

Setahun kemudian, timbul suatu gejala yang aneh. Air yang dinaikkan dengan pompa Sanyo itu tak mengalir lagi. Bak penampung air kosong dan ketiga bangunan itu kekurangan air. Tapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa penduduk desa tidak lagi bisa menikmati mata air yang dulu pernah memancar dari bawah pohon keramat itu. Apakah itu bencana yang dulu pernah diingatkan oleh dukun Parto? Penduduk desa tidak menghubungkan gejala baru itu dengan peringatan Partorejo. Bahkan hal itu pun juga tidak terpikirkan oleh Parto sendiri.

Tidak saja air tidak lagi mengalir, yang lebih mengherankan penduduk desa adalah tiga bangunan itu, terutama masjid mulai retak-retak. Mungkin suatu hari masjid itu bisa runtuh sebab di dekat MCK sudah terjadi tanah longsor karena air hujan yang cukup deras sudah tidak ada yang menahan sehingga menimbulkan erosi.

Agama Berwawasan Lingkungan

Nissa Wargadipura, salah satu penggagas Pesantren Ekologi Ath Thaariq. IST/Dok. Ath Thaariq

Nukilan cerpen “Pohon Keramat” karya Dawam Rahardjo di atas, mencoba memaknai ulang pemahaman beragama masyarakat kita. Demi memberantas TBC (Takhayul, Bidah, Churafat) di desa Kalidoso, seorang ustad bernama Kyai Fauzan bekerjasama dengan pemborong Thohir untuk menumbangkan berhala sesembahan masyarakat berupa ‘Pohon Trembesi’ raksasa.

Lambat laun takhayul, bidah dan churafat terkikis. Masyarakat Kalidoso meninggalkan praktik pemujaan dan mulai berpijak atas dasar takwa. Tapi belakangan muncul masalah baru. Bangunan masjid, MCK dan Puskesmas mulai retak, sumber mata air pun surut. Masyarakat gamang, apakah Sang mBau Rekso penunggu Pohon Keramat benar-benar murka?

Dawam Rahardjo menyudahi cerpen itu dengan satire. Bukan penunggu pohon keramat yang membuat semuanya rusak, tapi ulah manusia sendiri. Bangunan retak karena pembangunan masjid, MCK dan Puskesmas tidak dilakukan sesuai standar. Bisa jadi ada praktik mark up dalam penganggarannya. Sumber mata air surut karena pepohonan yang menjadi penyangga sumber air ditebang. Secara tidak langsung, masyarakat abai terhadap kelestarian lingkungan.

Dawam menyentil pemahaman beragama yang hanya berkutat pada ukuran ideal (benar-salah), mendebatkan hal-hal permukaan, berfokus pada simbol-simbol serta menafikan fungsi agama yang sesungguhnya. Walaupun mempelajari hukum-hukum atau syariat dalam beragama mutlak dilakukan, proses bertumbuh juga perlu diperhatikan.

Proses pemahaman berkelanjutan itu lazim ditemui dalam disiplin filsafat. Ketika hendak memahami sesuatu, seseorang akan diliputi perasaan ingin tahu. Rasa ingin tahu yang bersifat sederhana dilandasi rasa ingin tahu tentang apa (ontologi), sedang rasa ingin tahu yang lebih kompleks meliputi bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi dan mengapa peristiwa itu terjadi (epistemologi), kemudian bergerak pada wilayah untuk apa peristiwa tersebut dipelajari (aksiologi).

Ketidakpedulian masyarakat Kalidoso terhadap lingkungan dan hanya berfokus pada ritual (baik ritus animisme-dinamisme maupun agama samawi) telah memunculkan hubungan yang tidak harmonis dengan alam. Ketika alam menggugat dalam bentuk bencana alam, berupa kekeringan, banjir, atau tanah longsor. Pemeluk agama mengutuki diri sebagai azab atau hal-hal yang sifatnya ketidakberesan ritual. Mereka buru-buru memperbaiki cara sholatnya, merajinkan diri ke gereja, atau sembahyang di Pura dan Wihara namun lupa menjalin hubungan harmonis dengan alam.

Gus Baha (KH Ahmad Bahauddin Nursalim) mengkritisi praktik pemeluk agama kiwari yang saleh dalam urusan ritual ibadah semata. Sibuk memperbaiki ibadah tapi bukan karena kecintaan kepada Tuhannya (tauhid), melainkan mendambakan kenikmatan surga.

“Mereka beribadah biar masuk surga, ini nafsu bukan namanya?” Ujar Gus Baha. “Memangnya di surga mau apa? Pengen ngeloni bidadari karena bosen di dunia punya istri jelek dan cerewet?” imbuhnya.

Pandangan Gus Baha tentang tauhid selaras dengan pemikiran Murtadha Muthahhari (1920-1979) yang menekankan harmonisasi manusia dengan sesamanya, makhluk dan lingkungan.

Menurutnya, Tauhid secara mendasar dan substantif mengejawantahkan nilai-nilai pandangan ketuhanan tidak hanya sekedar pemahaman teologis saja melainkan implementatif menjadi sebuah konstruksi teologis yang bersifat sosial. Keimanan kepada Allah (tauhid) direfleksikan ke dalam nilai dan sikap sosial Tauhidi, dalam artian meyakini manusia sebagai kesatuan yang egaliter dengan sesamanya dan semesta.

Komunitas Beragama Berwawasan Ekologi

Romo Hardo Iswanto, penggagas Gubug Lazaris. IST/Dok. Gubug Lazaris

Kiwari, muncul segelintir manusia beragama yang mencoba memaknai agama dalam wilayah yang lebih membumi. Tidak hanya berkutat pada hukum-hukum agama dan ritualnya namun juga merawat harmonisasi dengan lingkungannya.

Fenomena ini disebut aktivitas beragama dengan wawasan “ekologi”.  Mengutip laman Wikipedia.com, ekologi adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lain dan juga dengan lingkungan sekitarnya. Dalam ilmu lingkungan, ekologi dijadikan sebagai ilmu dasar untuk memahami interaksi di dalam lingkungan. Komponen yang terlibat dalam interaksi ini dapat dibagi menjadi komponen biotik (hidup) dan abiotik (tak hidup). Sistem ekologi terbentuk dari kesatuan dan interaksi antar komponen penyusun ekosistem yang saling berhubungan satu sama lain.

Ibang Lukman Nurdin dan istrinya, Nissa Wargadipura, mendirikan Pesantren berwawasan Ekologi bernama Ath Thaariq di Kampung Cimurugul, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada 2008.

Di lahan seluas 8.500 meter persegi itu santri belajar apa yang disebut pertanian agroekologi, yaitu sistem pertanian yang memperbaiki hubungan manusia dengan lingkungan. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Misalnya, untuk melawan hama tikus, para santri membiarkan predator seperti ular untuk berkembang di lingkungan pesantren.

Selain ngaji Al Qur’an, santri Ath Thaariq juga diajari bercocok tanam. IST/Dok. Ath Thaariq

Para santri di Ath Thaariq setiap hari mengaji dan bertani selain menjalani pendidikan formal di sekolah umum dan Universitas. Pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional, mereka full di pesantren untuk berkebun dan beternak. Para santri justru bisa berfokus untuk menyerap banyak ilmu Alquran dan ilmu terapan.

Walaupun tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang pertanian atau peternakan, Ibang dan Nissa nekat membagi lahan pesantren dalam dua zona. Yakni, zona pertanian dan zona peternakan. Di dua zona itu tersedia area beternak ikan dan unggas. Tempat pembibitan dan area untuk kebutuhan pertanian lainnya. Pada bangunan utama difungsikan sebagai tempat tinggal Ibang sekeluarga sekaligus tempat “mondok” para santri.

Berkat keyakinan dan perjuangannya menjaga ekosistem pertanian selama ini, Nissa mendapat apresiasi dari pegiat dunia pertanian. Ia memperoleh beasiswa belajar A-Z Agroecology and Organic Food System Course dari Dr Vandana Shiva, salah seorang ilmuwan dan aktivis lingkungan dengan reputasi internasional asal India. Nissa juga turut serta dalam Bhoomi Festival di New Delhi dan The Soil Yatra di Indore serta Nagpur, India.

Di tempat lain, tepatnya di Jalan Raya Pare – Kediri KM 7, Desa Sambirejo, Pare, Kediri, Romo Hardo Iswanto mendirikan “Gubug Lazaris” pada tanggal 27 Agustus 2010. Gubug artinya pondok petani yang ada di sawah atau ladang. Lazaris artinya komunitas para romo CM (Congregatio Mission). Nama Lazaris ini berasal dari nama Lazarus dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Nama ini dua kali disebut. Pertama, Lazarus pengemis miskin dengan tubuh penuh borok dan makan dari sisa makanan orang kaya. Kedua, Lazarus yang telah meninggal kemudian dihidupkan kembali oleh Yesus.

Bagi yang bergerak di bidang pembinaan lingkungan atau aktivis lingkungan, sosok Romo yang satu ini pasti sangat dikenal terutama berkat peran sertanya dalam melakukan penghijauan di daerah rawan bencana.

Pastor nan murah hati dan simpatik ini memperkenalkan konsep pertanian organik. Mulai pertanian untuk kebutuhan sehari-hari, buah, pengelolaan pupuk hingga peternakan. Ia menyiapkan produk-produk tanaman organik, mulai buah-buahan, padi, jagung, hingga susu dari peternakan yang dikelola secara organik.

Pemilik nama lengkap Romo Markus Marcelinus Hardo Iswanto CM ini mempelajari tanaman sukun sebagai tanaman penghijauan. Selain itu, umbinya bisa dimanfaatkan sebagai pengganti tepung terigu dan makanan pokok. Sukun memiliki dahan dan daun pohon yang rindang sehingga cocok untuk konservasi bencana. Khususnya menjaga mata air.

Menurutnya, lebih baik mengantisipasi atau mencegah dengan banyak menanam daripada menunggu bencana datang.

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close