ANALISA
Trending

Analysis Paralysis, Ketika Banyak Berpikir Melumpuhkan Aksi

“Lebih baik keputusan yang baik dengan cepat daripada keputusan terbaik yang terlambat.”

(Harold Geneen)

MILESIA.ID – Syahdan, seekor kucing dan rubah terlibat obrolan seru ihwal kelihaian mereka menghadapi anjing pemburu. “Aku punya banyak trik buat mengadali anjing bodoh itu,” seloroh Sang Rubah.

“Hebat,” puji Si Kucing. “Aku hanya punya satu trik saja!” Imbuhnya.

Sekejap kemudian pemburu tiba dengan anjing-anjingnya, cekatan kucing melompat memanjat pohon. Sedang rubah yang memikirkan terlalu banyak cara, tak sempat bertindak sehingga disergap kawanan anjing pemburu.

Fabel popular dalam kumpulan dongeng Aesop (620 dan 564 SM) ini mempunyai nilai moral, “Lebih baik satu cara aman dibanding seratus cara yang tak dapat dilakukan”. Terlalu banyak berpikir atau menganalisa kadang justru merugikan. Fenomena ini lazim disebut analysis paralysis atau paralysis of analysis, dibahasakan sebagai “kelumpuhan oleh analisis”.

Analisis Berlebihan

Analysis Paralysis (kelumpuhan oleh analisis) menggambarkan proses individu atau kelompok ketika menganalisis secara berlebihan atau terlalu memikirkan suatu situasi sehingga menyebabkan progress (kemajuan) atau pengambilan keputusan menjadi “lumpuh”. Artinya tidak ada solusi atau tindakan yang diputuskan.

Beragam informasi atau pilihan yang membanjiri isi kepala acapkali  menyebabkan “kelumpuhan” seseorang dalam mengambil kesimpulan. Ini menjadi masalah besar ketika dalam situasi kritis di mana keputusan harus segera diambil, tetapi tidak dilakukan karena takut keputusannya tidak sempurna atau keliru.

Dalam contoh sederhana, analysis paralysis berlaku pada calon wirausahawan yang hendak memulai usaha. Mental block mengguyur isi kepala ketika ia mulai menganalisa: Bagaimana cara memperoleh modal besar? Gimana kalau usahanya engga laku? Gimana kalau bangkrut dan harus menutup hutang? Alhasil, ia tak melakukan apa pun alias gagal sebelum memulai.

Masalahnya, kita tidak bisa benar-benar mengetahui apakah sudah melakukan analisa berlebihan atau belum. Acapkali analisa yang kita lakukan sebenarnya masih dalam batas wajar tetapi ketakutan akan resikolah yang memicu analisa secara sporadis. Bersifat spontan, terburu-buru dan tanpa perencanaan.

Pendekatan paling genial untuk meraba apakah kita melakukan analisa secara wajar atau berlebihan adalah memilahnya menjadi beberapa kategori. Seperti memetakannya berdasarkan urgensinya (kepentingannya), yaitu analisa jangka panjang (longer term) dan analisa jangka pendek (short term) atau berdasarkan cakupan permasalahannya, yaitu smaller scope dan larger scope.

Semisal dalam ranah ekonomi, kita mengenal problem jangka pendek alias yang terkait dengan stabilisasi. Masalah ini berkaitan dengan bagaimana “menyetir” perekonomian nasional dari ukuran bulan, triwulan atau tahun, agar terhindar dan tiga penyakit makro yaitu pengangguran, inflasi dan ketimpangan neraca pembayaran. Sedang untuk masalah jangka panjang, kita mengenal istilah “pertumbuhan ekonomi”, yaitu Gross Domestic Product (GDP).

Contoh analisa berdasarkan cakupan permasalahan juga bisa digambarkan dalam konteks perekonomian, yaitu ekonomi makro dan mikro. Ekonomi makro berupaya menemukan perspektif umum di tingkat nasional, sementara ekonomi mikro berfokus pada perspektif individu, di tingkat konsumen. Meskipun penawaran (supply) dan permintaan (demand) berlaku untuk keduanya, ekonomi mikro mendasarkan trend pembeli dan penjual, sedang ekonomi makro berfokus pada berbagai siklus ekonomi, seperti siklus hutang dan bisnis.

Pengalaman vs Idealitas

“Dalam dunia bisnis, setiap orang dibayar dengan dua koin,” ujar Harold Sidney Geneen.

“Koin pertama adalah uang tunai dan koin kedua adalah pengalaman. Ambilah pengalaman terlebih dahulu, uang tunai akan datang menyusul.” Imbuhnya.

Presiden ITT Corporation itu menjadikan pengalaman sebagai sesuatu yang berharga sekaligus modal utama dalam membesarkan bisnisnya. Sedangkan uang (keuntungan) diletakkannya di urutan kedua. Terdengar sumir, namun pengalaman inilah yang menurutnya akan membawa kesuksesan. Dengan begitu secara otomatis uang akan mengikuti.

Kehati-hatian memang diperlukan agar keputusan yang diambil tidak menimbulkan masalah yang lebih besar. Artinya analisis terhadap suatu masalah harus benar-benar sempurna. Namun kelambanan dalam pengambilan keputusan bisa memicu ketidakpastian bahkan stagnasi (kemandegan). Begitu banyak orang yang memiliki kemampuan analisa yang detail, njelimet, lengkap dengan segudang opini dan argumen, namun jarang sekali orang yang memiliki ketegasan mengambil keputusan.

Bagi Geneen tidak masalah apakah keputusan itu pada akhirnya salah, yang terpenting adalah keberanian membuat keputusan.

“Lebih baik keputusan yang baik dengan cepat daripada keputusan terbaik yang terlambat.” Tegas Hal, begitu biasanya CEO kelahiran Bournemouth , Hampshire, Inggris ini dipanggil.

Mindset Geneen ini bisa digambarkan melalui kisah dua orang pemuda yang diminta melakukan tugas yang sama, yaitu membuat vas bunga dalam waktu 7 hari, tetapi dengan target berbeda. Orang pertama diminta membuat vas bunga terbaik (kualitas), sedang orang kedua diminta membuat vas bunga sebanyak-banyaknya (kuantitas).

Setelah 7 hari berlalu, siapakah pemuda yang berhasil membuat vas bunga terbaik? Seperti sebuah anomali, ternyata orang kedualah yang berhasil membuat vas bunga dengan kualitas terbaik. Kenapa? Karena pemuda kedua memiliki banyak waktu untuk menciptakan pengalaman. Tuntutan membuat vas bunga sebanyak-banyak pada awalnya membuat ia melakukan banyak kesalahan. Namun dengan metode trial and error, ia memiliki kesempatan untuk terus berlatih sampai menemukan magnum opusnya.

Sementara orang pertama yang mengejar kualitas, terlalu banyak berkutat pada analisa-analisa dan idealitas sehingga tak sempat menghasilkan apa pun sampai tenggat waktu tiba.

Bukan Konklusi

Dus, dalam banyak hal mengambil keputusan bukanlah perkara mudah. Butuh kebijaksanaan di dalamnya. Bisa saja seorang berani mengambil keputusan, tapi jika hanya didasarkan pada keberanian tanpa pertimbangan, akan menjadi tindakan “konyol”. Dalam analysis paralysis, kita diajak mengenali jebakan mental akibat terlalu banyak menganalisa. Tapi bukan berarti melakukan analisa sebelum mengambil keputusan menjadi tindakan keliru.

Sebagai latihan sederhana agar tak gampang terjebak dalam analysis paralysis, kita bisa melakukan analisa terbatas secara cepat kemudian beralih menentukan solusi cepat. Sambil secara simultan (bersamaan) melakukan analisa yang lebih komprehensif (menyeluruh).

Cara ini memang berpotensi menguras energi dan waktu, tapi setidaknya bisa membentuk pola dan pengalaman agar terhindar dari resiko melakukan analisa yang terlalu minim atau berlebihan. Tabik !

(Milesia.Id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close