DINAMIKA
Trending

Solitude, Cara Menjadi Intim dengan Diri Sendiri

“Hidup yang tak diperiksa, tak layak dijalani ” – Socrates (470 SM – 399 SM)

MILESIA.ID – Pernahkah merasa dunia bergerak begitu cepat? Menjalani aktivitas yang seolah tanpa jeda. Berangkat pagi untuk bekerja atau sekolah, kemudian pulang larut malam. Di rumah masih harus mengerjakan PR atau meneruskan pekerjaan di kantor yang belum selesai. Ketika hari libur tiba, teman-teman telah menanti untuk bersosialisasi: gowes, pengajian rutin, arisan, nongkrong di kafe atau mengikuti acara komunitas via media online.

Sebagai makhluk sosial, kebutuhan untuk bekerja, sekolah, atau berorganisasi adalah keniscayaan. Dalam dunia kiwari yang penuh keterbukaan, nyaris tanpa sekat, menghabiskan waktu sendiri akan kelihatan aneh. Dicap individual dan tidak umum. Padahal untuk mengatasi hidup yang penuh tekanan ini, menyediakan waktu untuk menyendiri alias solitude, boleh jadi memberi efek positif bagi kesehatan batin. Agar tetap waras, kita perlu menyeimbangkan kebutuhan batin dan sosial.

Memaknai Solitude

Solitude is a state of being alone without being lonely and it can lead to self awareness (psychology today).

Solitude biasa diartikan sebagai “kesendirian”. Secara terminologi, kesendirian adalah keadaan menyendiri tanpa merasa kesepian. Laku kesendirian ini secara positif mampu menimbulkan kesadaran diri. Namun yang perlu digarisbawahi, kesendirian (solitude) memiliki makna yang berbeda dengan kesepian (loneliness). Kesendirian adalah keadaan menyendiri tanpa kesepian dan dapat mengarah pada kesadaran diri. Di sisi lain, kesepian ditandai dengan rasa terasing (terkucil).

Paulo Coelho pernah menulis “Solitude is not the absence of company, but the moment when our soul is free to speak to us and help us decide what to do with our life.” (Kesendirian bukanlah tidak adanya teman, tetapi momen ketika jiwa kita bebas untuk berbicara dengan kita dan membantu kita memutuskan apa yang harus dilakukan dengan hidup kita).

Menurut Hara Estroff Marano, kesendirian (solitude) dimaknai sebagai keadaan keterlibatan yang positif dan konstruktif dengan diri sendiri. Solitude adalah waktu yang dapat digunakan untuk melakukan refleksi, pencarian batin atau pertumbuhan dan kesempatan untuk memperbarui diri. Merecharge alias mengisi kembali batin kita.

Sedangkan kesepian (loneliness) merupakan keadaan negatif yang ditandai dengan perasaan terasing. Ketika seseorang merasa ada sesuatu yang hilang. Mungkin saja bersama orang-orang dan masih merasa kesepian. “Merasa sepi di keramaian” adalah bentuk kesepian yang paling pahit.

Manfaat Solitude

Hidup yang penuh tekanan, disibukkan dengan aktivitas tanpa jeda cenderung memicu stress. Kepala yang hampir penuh ibarat gelas yang terisi separuh. Ketika dituang air di dalamnya seketika isinya tumpah ruah. Kita cenderung reaktif dan emosional ketika mendapat sedikit saja stimulus dari luar.

Dalam bukunya The Handbook of Solitude , Robert J. Coplan dan Julie C. Bowker menjelaskan bagaimana praktik solitude (kesendirian) dapat memungkinkan peningkatan harga diri, menghasilkan kejelasan, dan bisa sangat terapeutik. Manfaat lain dari tersedianya waktu kepada diri sendiri adalah fungsi pengembangan diri. Ketika seseorang menghabiskan waktu dalam kesendirian, dia akan mengalami perubahan pada konsep dirinya. Ini dapat membantu seseorang untuk membentuk atau menemukan identitasnya tanpa gangguan dari luar (originalitas).

Kesendirian juga memberikan waktu untuk melakukan kontemplasi, pertumbuhan dalam spiritualitas pribadi, dan pemeriksaan diri. Dalam Apologia, Socrates menuliskan sebuah adagium klasik: “The unexamined life is not worth living”, (Hidup yang tak diperiksa tak layak dijalani).

Beberapa individu mencari kesendirian untuk menemukan keberadaan yang lebih bermakna. Dalam konteks agama, beberapa orang suci memilih berdiam dan menemukan pencerahan dalam pencarian persepsi mereka tentang Tuhan. Nabi Muhammad SAW mencapai pencerahan spiritualnya ketika memutuskan menyendiri di gua hira, jauh dari hiruk pikuk masyarakat gurun Arabia kala itu. Siddhartha Gautama mencapai pencerahan dan menjadi Buddha setelah melalui ritus meditasi, menyendiri di bawah pohon Bodhi (Sri Maha Bodhi) di Bodh Gaya. Mereka mencapai kesadaran diri dan mengalami pencerahan spiritual setelah melalui pelepasan total dari dunia luar.

Dalam masterpiece para penulis kenamaan, jamak diangkat ihwal pencarian jati diri melalui jalan kesendirian (solitude). Seperti dalam tulisan Edward Abbey, khususnya yang berkaitan dengan Desert Solitaire di mana kesendirian yang hanya berfokus pada isolasi dari orang lain memungkinkan hubungan yang lebih lengkap ke dunia luar, karena dengan tidak adanya interaksi manusia, alam semesta akan mengambil alih.

Paulo Coelho pun mengisahkan laku kesendirian seorang gembala bernama Santiago dalam perjalanannya mencari “legenda pribadinya”. Melalui novel Sang Alkemis, digambarkannya betapa membosankan hidup yang dijalani tanpa diteliti:

Dia yakin tak ada bedanya dia datang kapan: bagi gadis itu, setiap hari sama saja, dan jika tiap hari sama belaka dengan berikutnya, itu karena orang lupa menyadari hal-hal baik yang terjadi setiap hari dalam hidup mereka, misalnya terbitnya matahari.

Pada bab lainnya, Coelho mengisahkan dialog Si bocah gembala dengan Sang Alkemis mengenai “suara hatinya”, di tengah gurun pasir nan maha luas:

“Kalau begitu, buat apa aku mendengarkan suara hatiku?”

“Sebab kau tak bisa menyuruhnya diam. Kalaupun kau pura-pura menulikan telinga terhadapnya, dia akan selalu bersuara di dalam dirimu, mengulangi pikiranmu tentang kehidupan dan dunia ini.”

“Maksudmu aku harus tetap mendengarkan, andaipun dia berkhianat?”

“Pengkhianatan adalah pukulan tak terduga-duga. Kalau kau mengenal hatimu dengan baik, dia tak akan pernah mengkhianatimu. Sebab kau tahu pasti mimpi-mimpi dan keinginan-keinginannya, dan kau akan tahu juga cara menyikapinya.”

“Kau takkan pernah bisa lari dari hatimu. Jadi, sebaiknya dengarkanlah suaranya. Dengan begitu, kau tidak perlu takut mendapatkan pukulan yang tak disangka-sangka.”

Kisah Santiago inilah yang melahirkan quote masyhur: “Jika kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan membantumu mencapainya.”

Solitude vs Mindfulness

Menyendiri secara fisik di tengah pandemi covid 19 seperti sekarang ini, saat akses komunikasi fisik dibatasi, mungkin perkara mudah. Namun keterbatasan fisik untuk bertemu (physical distancing) telah disubstitusi oleh keberadaan media sosial. Artinya jika memutuskan untuk menyendiri, pastikan hindari telepon genggam (gadget). Karena gadget berkontribusi memicu distraksi dan mengalihkan fokus.

Contoh laku solitude paling ekstrim dan jamak dilakukan pegiat spiritualis adalah meditasi. Samadi atau meditasi adalah praktik relaksasi yang melibatkan pelepasan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, maupun mencemaskan dalam hidup kita sehari-hari. Makna harfiah meditasi adalah kegiatan mengunyah-unyah atau membolak-balik dalam pikiran, memikirkan, merenungkan (Wikipedia).

Praktik solitude semacam meditasi membutuhkan waktu khusus yang harus diluangkan untuk fokus pada pernapasan dan tubuh. Masalahnya, beberapa orang mengalami kesulitan menyediakan waktu luang untuk dirinya. Bagi masyarakat modern, laku meditasi (solitude) dianggap terlalu rumit dan tidak popular karena mematikan produktivitas. Alternatif laku refleksi yang tidak membutuhkan waktu khusus dianggap lebih realistis. Pilihan pun jatuh pada praktik mindfulness.

Mindfulness merupakan suatu keterampilan dalam memberikan perhatian dengan berfokus pada satu tujuan, saat ini, dan tidak menilai (Kabat-Zinn, 1990). John Kabat-Zinn, dokter dan akademisi Universitas Massachusetts inilah yang memelopori mindfulness ke ranah ilmiah. Program Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) yang dikembangkan pada awal tahun 1980, menjadi landasan program-program mindfulness berbasis intervensi lainnya.

Mindfulness adalah proses membawa perhatian kita kepada pengalaman saat ini. Mencakup membawa kesadaran terhadap pengalaman indrawi, seperti mendengarkan suara-suara di sekitar. Kita juga dapat memfokuskan perhatian pada proses-proses tubuh otomatis, seperti pernapasan.

Sederhananya, mindfulness adalah suatu kondisi di mana pikiran, perasaan, dan tubuh berada pada saat ini (living in the present), tidak mengembara ke masa lalu maupun masa depan. Salah satu tokoh yang mempopulerkan praktik mindfulness adalah Bhikkhu Thich Nhat Hanh, seorang petapa kelahiran Vietnam yang mengasingkan diri ke Perancis dan mendirikan sebuah vihara bernama Plum Village. Beliau masyhur karena mengajarkan praktik meditasi mindfulness everywhere.

Lalu, bagaimana sebenarnya praktik mindfulness?

Mindfulness dapat dipraktikkan simultan dengan melakukan kegiatan sehari-hari. Kuncinya terletak pada “kesadaran penuh”. Semisal saat makan, kita menikmatinya dalam setiap suapan, pikiran tidak melayang ke masa lalu atau masa depan. Tidak juga sembari melakukan aktivitas lain seperti bermain hp (gadget). Sewaktu mandi pun, fokus pada aktivitas saat itu. Merasakan air yang mengalir mengguyur seluruh tubuh. Tidak memikirkan hal-hal yang tidak perlu atau bernyanyi-nyanyi.

Contoh lain dari mindfulness adalah dengan tidak menghakimi, mengamati apa pun emosi yang ada dan bagaimana rasanya secara fisik di dalam tubuh. Proses ini akan melatih pikiran mengenali perasaan dan pola pikir yang mungkin terabaikan, sehingga kita bisa lebih memahami diri sendiri. Memiliki kesadaran saat ini (living in the present) secara penuh.

Haruskah Menyendiri?

Jika mindfulness tidak membutuhkan waktu khusus dan hanya berfokus pada kesadaran saat ini, praktik solitude memang lebih kompleks. Solitude membutuhkan komitmen untuk memutuskan tidak berkomunikasi dengan oranglain secara langsung maupun melalui gadget. Walaupun begitu, praktik solitude tidaklah bertentangan dengan mindfulness karena intinya sama: kesadaran diri.

Perwujudan praktik solitude yang paling ekstrim adalah melalui jalan meditasi, retreat, beberapa lainnya memilih laku menyepi. Seperti mengambil cuti kemudian melakukan ziarah ke tempat-tempat suci. Paulo Coelho menempuh perjalanan untuk mencapai pengetahuan diri, kebijaksanaan, dan pencerahan spiritual. Dipandu oleh sekondannya nan misterius bernama Petrus, Paulo menyusuri jalan ke Santiago yang suci, melalui serangkaian cobaan dan ujian. Pengalaman pribadinya itu ditabalkan melalui novelnya, The Pilgrimage.

Namun Dr. Coplan dalam artikel yang berjudul “Why You Should Find Time to Be Alone With Youself” menyarankan alternatif solitude yang lebih sederhana. Aktivitas seperti membaca, membuat kerajinan, menonton film, makan, dan pergi ke taman bisa menjadi aktivitas yang dilakukan sendiri. Hal itu dianggap lebih sehat dibandingkan secara obsesif memeriksa media sosial.

Kiwari, masyarakat modern perkotaan banyak memilih meluangkan waktu untuk tinggal di pedesaan yang sunyi. Sejenak melepaskan penatnya rutinitas kota. Sekedar menyesap kopi lokal sembari menghirup udara pedesaan nan sejuk. Atau memandangi deretan tetumbuhan hijau sambil menikmati nyanyian burung di pucuk-pucuk pohon.

Beberapa kesendirian memang penting; memberi kita waktu untuk mengeksplorasi dan mengenal diri sendiri. Kesendirian memberi kita kesempatan untuk mendapatkan kembali perspektif, memungkinkan kita (kembali) ke posisi mengendalikan hidup sendiri, alih-alih menjalankannya berdasarkan jadwal dan tuntutan dari luar.

Dus, tidak ada tips yang paling tepat untuk menerangkan cara bersolitude. Sederhananya, carilah waktu khusus untuk menyendiri, sampai merasa nyaman dengan diri sendiri. Lepaskan pikiran tentang orang lain, medsos, deadline, dan agenda-agenda yang memenuhi pikiran. Bangun hubungan intim dengan Tuhan dan semesta, hidupkan jiwa dengan menghempaskan hasrat-hasrat duniawi.

Kesendirian memulihkan tubuh dan pikiran. Kesepian menghabiskannya. Mari bersolitude!

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close