ANALISA

Meneropong Konflik Agama (Islam) di Perancis: Sebuah Eksklusi Sosial terhadap Islam? *)

Oleh :  Henny Warsilah

(Profesor Riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)

Prolog

Prof.Dr. Henny Warsilah (Dok PPribadi)

Semua mata saat ini sedang menyorot Perancis dengan tokoh utamanya, presiden Emmanuel Macron, yang atas dasar kebebasan berpendapat menghalalkan kritik satire dari tabloid Charlie Hebdo terhadap agama Islam. Implikasinya, kekerasan-demi kekerasan terus terjadi, yang menghalalkan kematian brutal untuk pembelaan agama. Sampai kapan relasi kekerasan terus terjadi?

Namun demikian, tabloid satire Charlie Hebdo sebetulnya tidak hanya membuat karikatur Nabi Muhammad saja, agama Katolik dan Kristen paling banyak menjadi bulan-bulanan kritik sinis mereka. Seperti dibuatkan karikatur satire yang bahkan lebih keras bentuknya. Melalui catatan pendek Sosiologis, saya mencoba mengupas masalah relasi negara dan Islam di Perancis.

 Sekulerisme dan Liberalisme Perancis

Perancis memiliki semboyan “Liberté, Égalité, Fraternité” (Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan) yang dicanangkan sejak awal Revolusi Perancis di awal abad 18 (1789 – 1794). Inilah revolusi yang ikut meletakkan dasar keadaban masyarakat modern. Namun saat ini semboyan tersebut serasa dipertanyakan kembali, ketika relasi buruk terjadi antara negara dan penduduk imigran, terutama imigran Muslim. Hubungan yang kian memburuk dari hari ke harinya antara lain disebabkan oleh beberapa peristiwa, yang pada satu pihak di klaim sebagai kebebasan berpendapat, dan di pihak lain sebagai penodaan terhadap agama sehingga melahirkan prasangka mengarah ke dendam kesumat dan pembunuhan.

Nasionalisme dan identitas nasional Perancis, terbentuk sejak lama yaitu sejak revolusi Prancis pada 1789. Hal ini melahirkan konsep berbangsa dan bernegara dari suatu nasion modern. Konsep itu benar-benar berbeda dengan konsep monarki sebelumnya. Sebab, konsep berbangsa dan bernegara ini mengenalkan warga negara (citoyen), yang memiliki hak dan kewajiban. Konsep ini memiliki prinsip kebebasan, persaudaraan dan keseteraan sebagai fondasi bangsa, dan negara yang ditiru oleh bangsa-bangsa lain di dunia saat mendirikan negara. Dari konsep inilah, mulai dikenal sebagai penyampaian aspirasi warga negara melalui wakilnya di parlemen.

Perancis juga menganut paham sekulerisme dan liberal. Sekulerisme adalah paham yang menganggap bahwa agama itu tidak ada urusan dengan dunia, negara dan sebagainya. Sekularisme menginginkan agama dipisahkan dari kehidupan sosial. Agama hanyalah dianggap sebagai urusan individu dengan Tuhan. Seperti dikatakan Max Weber (2006), orang-orang yang menolak agama adalah orang-orang yang menganut liberalisme, serta menggunakan rasionalitas untuk melihat hidup dan mengambil keputusan, mereka memuseumkan kitab suci dan secara perlahan menyingkirkan agama, sedikit demi sedikit. Maka dari itu, berdasarkan paham ini, aturan negara dan aturan kemasyarakatan tidak boleh diatur oleh agama, melainkan oleh manusia. Agama itu menjadi urusan pribadi, jangan ada agama dalam negara, dan jangan ada agama dalam urusan pemerintahan. Dan sudah pasti, paham ini bertentangan dengan Islam karena Islam mengajarkan seluruh aspek kehidupan, dari masalah yang sepele hingga dalam urusan yang penting seperti negara dan pemerintahan.

Perbedaan aliran yang dipegang dan diyakini oleh negara ini, yang sering dianggap sebagai memperkeruh hubungan antara agama Islam dan Perancis. Seperti ketika pada tahun 1989, pemerintah Perancis melakukan pelarangan penggunaan jilbab. Padahal negara ini terkenal sebagai negara mode, seharusnya penggunaan jilbab bagi wanita Muslimah, dalam ukuran sebuah kota mode harusnya ini menjadi hal biasa.  Pelajar Muslimah akan dikeluarkan dari kelas dan pekerja Muslimah akan dipecat dari kantornya karena mengenakan jilbab. Juga pelarangan penyebaran agama Islam, dengan dalih berorganisasi, dan melakukan penutupan pintu perbatasan secara ketat untuk imigran Muslim.

Banjirnya Imigran Muslim dan Implikasinya

Pada saat ini, jumlah penduduk Muslim di Perancis terus meningkat. Berdasarkan data statistik dari Agence Pour le Développement des Relations Interculturelles (ADRI), pada tahun 2000 terdapat 150 ribu Muslim dari sekitar 1,8 juta penduduk di kota Lyon. Sementara di Paris, jumlah Muslim mencapai 1,7 juta dari sekitar 12 juta warganya. Kota pelabuhan Marseille dan Lille juga memiliki jumlah Muslim sama banyak, yaitu 200 ribu orang. Dengan total penduduk Marseille yang 800 ribu orang, artinya 25 persen warganya memeluk Islam. Islam adalah agama yang berkembang paling cepat di Prancis. Dengan jumlah Muslim lima juta orang pada tahun 2017, dan 7 juta jiwa pada tahun 2020 ini. Prancis menjadi negara yang memiliki warga Muslim terbanyak di Eropa, disusul Jerman sekitar empat juta jiwa dan Inggris sekitar tiga juta jiwa.

Di Perancis, Islam adalah agama dengan pemeluk terbanyak kedua setelah Katolik. Kedatangan imigran muslim di negara-negara Barat termasuk Eropa, pada mulanya disambut baik oleh pemerintah setempat. Pada pasca perang dunia ke dua, para imigran Muslim ini justru dipekerjakan untuk ikut membangun kembali negara Perancis, terutama imigran Muslim dari negara bekas koloni Perancis. Sementara, imigran setelah Perang Dunia (PD) II kebanyakan pencari kerja, mereka banyak menjadi pekerja kerah biru dan menjadi sumber tenaga kerja yang murah.

Imigran gelombang 4 yang datang pertengahan tahun 1970-an di dominasi imigran muslim terpelajar dari negara-negara Arab, yang datang ke Perancis untuk meneruskan studi mereka. Secara perlahan, para imigran muslim tersebut mulai menunjukkan jati diri, dan identitas keislaman mereka. Ini diwujudkan melalui pembangunan masjid dan pusat-pusat keIslaman, mendirikan organisasi Islam Perancis,  serta secara aktif dalam menyampaikan ajaran Islam kepada orang lain.

Ulah Tabloid Satire Charlie Hebdo

Insiden kekerasan berlatar belakang agama (Islam) terhadap masyarakat Perancis, diawali dengan insiden Charlie Hebdo. Tabloid satire Charlie Hebdo, adalah sebuah tabloid satire yang terbit setiap hari Rabu. Tabloid satire ini didirikan pada 1969, tabloid ini pernah berhenti terbit antara tahun 1981 sampai tahun 1992. Charlie Hebdo dikenal sebagai tabloid yang memiliki gambar-gambar provokatif yang menyerang segala bentuk otoritas, baik politisi, agama, sampai dengan militer. Yang paling sering mendapat kritik keras dan satire ala Charlie Hebdo adalah agama Kristen dan Katolik. Agama Islam yang paling belakangan diserang Charlie Hebdo.

Konflik paling penting antara tabloid Charlie Hebdo dengan kaum Muslim terjadi ketika pada tahun 2005, ketika Jyllands-Posten, sebuah majalah di Denmark memuat gambar karikatur Nabi Muhammad. Setahun kemudian, Charlie Hebdo memuat ulang gambar itu, serta karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad sedang menangis dengan tulisan: “Sulit sekali dicintai oleh orang idiot”.

Pemuatan karikatur yang tidak beretika ini dianggap telah melanggar prinsip agama Islam, telah melahirkan aksi kekerasan bersenjata. Kantor tabloid Charlie Hebdo di Paris diserang dengan senjata api. Dalam insiden penembakan di kantor tabloid ini, mengakibatkan 11 orang tewas dan empat orang cedera serius. Korban tewas tersebut meliputi sembilan orang jurnalis tabloid Charilie Hebdo dan dua polisi. Salah satu korban tewas adalah Pemimpin Redaksi Charlie Hebdo, Stephane Charbonnier, atau lebih dikenal dengan nama Charb, serta tiga kartunis yang dikenal dengan panggilan Cabu, Tignous, dan Wolinski.

Peristiwa terbaru, terjadi  pada 2019 lalu, ketika seorang guru Sejarah Samuel Petty untuk pembelajaran kebebasan berekspresi, telah menunjukkan karikatur gambar Nabi Muhammad melalui proyektor kepada murid-muridnya. Apa yang dilakukan Petty sesungguhnya telah menyinggung perasaan umat Islam, dan telah memicu reaksi keras dari kelompok Islam radikal dan fundamentalis. Peristiwa ini berakhir dengan pemenggalan kepala Petty oleh kelompok Islam Radikal. Sayangnya, saat itu presiden Perancis, Emanuel Macron, atas dalih kebebasan berepskpresi, tidak bersikap tegas, dan tidak melarang peredaran gambar karikatur Nabi Muhammad yang dianggap sebagai pelecehan bagi agama Islam. Kondisi ini, dianggap menimbulkan kontroversi dan telah memancing kemarahan umat Islam dunia. Peristiwa kekerasan tersebut, pada bulan Oktober tahun 2020 ini, diikuti oleh peristiwa  penusukan terhadap tiga orang di gereja di kota Nice Perancis, yang dilakukan seorang wanita Muslim radikal.

Sebagai balasan terhadap pembunuhan terhadap warga Perancis, justru tabloid satire Charlie Hebdo malah memproyeksikan kartun Nabi Muhhamad di Gedung Pemerintahan di Kota Montplier dan Tolouse selama lebih kurang empat jam, pada awal bulan November ini. Maka, tagar keras boikot terhadap produk Perancis di seluruh jazirah Arab makin marak. Mereka mulai mengosongkan barang-barang dan produk Perancis dari rak-rak di Supermaket, tak terkecuali Supermaket Carrefour mulai di boikot. Tindakan brutal Tabloid satire Charlie Hebdo ini makin memicu peperangan, dan antipati umat Islam terhadap negara Perancis.

Epilog, Perancis Masa Depan

Perancis masa depan adalah negara multikultur dan multi agama. Meski agama adalah bagian terpisah dari negara, sesuai paham yang dianut negara Perancis. Sebab bagi Perancis, agama merupakan  hubungan antara Tuhan dan Individu. Tetapi dengan semakin derasnya arus pendatang, negara Perancis tidaklah mungkin terus membenturkan keragaman agama dan budaya yang tumbuh dan ikut menjadi penyokong negara ini dengan paham liberal dan sekulernya.

Sebagai bangsa yang besar tentu Perancis tidak bisa hidup menyendiri, dia juga membutuhkan relasi-relasi ekonomi, politik, sosial dan budaya dari negara-negara lain untuk tetap meneggakkan negara dan bangsa Perancis. Pada era globalisasi dan keterbukaan  ini, tidak ada satu negarapun dapat hidup menyendiri tanpa bantuan negara lain.

Menyikapi peristiwa tabloid Satire Perancis Charlie Hebdo, nampaknya apa yang dilakukan Nikaz, seorang pengusaha Perancis keturunan Aljazair patut diteladani. Ia selalu membayarkan denda bagi para Muslimah bercadar yang ditangkap pemerintah Perancis. Nikaz juga mengajukan membeli 51% saham tabloid satire Charlie Hebdo dengan nilai investasi 700.000 Euro. Tujuannya, agar media tersebut bisa lebih ramah terhadap Islam. Namun hingga saat ini pemilik majalah masih menolak keinginannya.

Seruan boikot atas produk-produk Perancis diserukan Negara-negara Islam, termasuk oleh negara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Sementara Universitas Qatar telah membatalkan pekan budaya Perancis. Pilihannya, Perancis tetap bersikukuh dengan prinsip sekuler dan liberalnya atau mau mendengarkan negara-negara lain untuk tidak menghina agama Islam demi kebebasan beragama. Mari kita tunggu kelanjutannya!

*) Atas izin penulis, mengambil artikel dengan judul yang sama dan pernah dimuat di Jurnal Masyarakat dan Budaya (PMB-LIPI), 12 November 2020.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close