KOLOM

Urusan Abadi Karyawan Vs Pengusaha dan Peluang dari UU Cipta Kerja

Oleh : Agus Budiono *)
Agus Budiono (Dok.Pribadi)

Urusan antara Pengusaha versus Karyawan itu abadi. Menurut saya demikian. Jika Undang Undang Cipta Kerja ditolak karyawan itu wajar sekali, karena “kepentingan” mereka terancam. Begitu pula jika pengusaha dan dunia kerja mendukung UU tersebut itu juga wajar karena kepentingan mereka didukung UU itu.

         Dukungan dunia usaha terhadap UU Cipta Kerja itu terlihat dari menghijaunya bursa sejak kemarin. Sebetulnya, dinamika seperti ini ya diterima saja. Karena alasan kepentingan yang berbeda tadi memang tidak akan pernah selesai.
         Bagi karyawan, “gaji” tak akan pernah “cukup”. Mayoritas pekerja di Amerika Serikat saja merasa bahwa mereka digaji dibawah standar. Bahkan menurut PayScale repport, 2 dari 3 pekerja tidak puas dengan gajinya. Karyawan merasa bahwa “masa depan” mereka harus di berikan kepastian dengan status karyawan tetap.
         Bagi pengusaha “menggaji” karyawan sesuai dengan “yang mereka kerjakan” adalah pilihan terbaik. Tak ada lagi tunjangan masa kerja, keharusan mengangkat menjadi karyawan, tetap karena itu akan menjadi “beban” yang faktanya bisa membuat perusahaan bangkrut. Investor internasional akan lebih memilih vietnam di banding Indonesia karena gaji lebih rendah dengan produktifitas lebih tinggi. Bahkan menurut JETRO produktivitas pekerja Indonesia termasuk paling rendah di ASEAN jauh dibawah vietnam.
          Maksud pemerintah dengan UU Cipta Kerja itu, ya memang meningkatkan investasi, mempermudah pendirian PT dan mendirikan koperasi yang pada akhirnya nanti akan mendorong peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia.
         Saya merasakan betul bagaimana “mbulet” nya membuat PT, persyaratanya panjang sekali. Mendukung atau tidak UU Cipta Kerja sekali lagi tergantung kepentingan anda, selalu ada dua sisi mata uang yang tak pernah bisa ketemu.
Memanfaatkan Peluang UU Ciptaker
         Pertanian akan menjadi bisnis yang sangat menarik bagi investor asing karena dihapuskannya batasan PMA pada komoditas hortikultura dan perkebunan, kepemilikan pasar, kepemilikan lahan dan kepemilikan jaringan distribusi akan membuat anda para pengusaha pertanian akan berpeluang mendapatkan jaringan distribusi Internasional, alih teknologi bahkan pendanaan yang sangat besar.
         Di kota-kota utama, Jogjakarta misalnya, “pemilik” properti akan banyak yang semakin kaya. Dibukanya kemungkinan kepemilikan properti (teknisnya masih menunggu aturan turunan), maka sebagai kota yang lebih dari 50 % propertinya terjual untuk tujuan investasi lonjakan-lonjakan harga properti bisa membuat sampean kaya. Maka kondisi saat ini sangat tepat untuk berburu properti.
         Penjualan antar pulau akan semakin murah dengan semakin banyaknya pilihan pengiriman. Di Makassar banyak orang kaya hanya dengan mengambil barang dari Surabaya yang dijual di Makassar, apalagi di Papua. Jaringan distribusi pasar lokal di wilayah timur berpotensi mengalami peningkatan pesat, saatnya anda membangun pasar di wilayah Timur Indonesia. Dan Masih banyak Lagi.
         Bagaimana jika pemerintah “kalah” dengan tekanan oposisi? Atau bahkan UU Cipta Kerja dibatalkan MK, ya kembali ke status quo. Jangan khawatir, masih banyak peluang yang bisa kita manfaatkan kalaupun omnibus Law tidak dijalankan. Saya pribadi lebih memilih melihat peluang daripada melihat ancamannya.
         Bentuk empati saya kepada dunia kerja adalah upaya saya menciptakan lapangan kerja, meskipun hanya satu atau dua orang yang bisa saya pekerjakan saya kira itu bentuk kongkrit dari empati saya.
* Trainer, Pengusaha, tinggal di Yogyakarta.
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close