Milestories

Terlalu Banyak Dokter dan Nakes Gugur, Indonesia Segeralah Bertindak!

“Dini hari tadi kakak sepupu saya meninggal karena covid-19. Kemarin, guru saya yang mengajar S2 Prof Budi Warsono dirawat. Lalu tadi pagi, istri Prof Budi yang juga guru saya semasa S-1 hingga  S3 giliran dirawat di ICU. Covid ini beneran ada dan mematikan. Ayo, kita ikuti protokol kesehatan dengan serius jika tak ingin bangsa kita punah..”

Selarik kalimat curhat dan ajakan di atas mengemuka dari status medsos Dr dr Tri Maharani, tenaga medis yang pernah jadi relawan di RS Sulianti Suroso, sekaligus survivor Covid-19. Curhatan Maharani memang bukan tanpa alasan menimbang terus melonjaknya jumlah korban terdampak pandemi covid-19 yang meninggal dunia. Korban dari kalangan khalayak umum maupun tenaga medis dan tenaga kesehatan.

Perang melawan Covid-19 masih jauh dari selesai. Kalangan medis masih berjibaku membantu mengatasi warga yang terinfeksi covid-19 di rumah sakit-rumah sakit di hampir seluruh daerah dengan segala keterbatasannya. DKI Jakarta, misalnya, dengan kasus Covid-19 terbanyak di Indonesia baru memiliki 67 RS rujukan dan hingga akhir pekan lalu, semuanya penuh. Kekurangan jumlah tenaga medis dan nakes, DKI Jakarta butuh tambahan setidaknya 1000 tenaga nakes lagi. Bayangkan jika dokter, perawat, bidan, relawan medis, terus berguguran.

Akhir Agustus, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merilis nama-nama dokter yang gugur selama Pandemi Covid-19. Jumlahnya mencapai 100 orang. Sepekan kemudian (7/9), angkanya kembali naik mencapai 107 orang. Para dokter yang meninggal dunia tersebut telah terkonfirmasi Covid-19 dari hasil swab test.

Mengutip Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih melalui akun instagram resmi Ikatan Dokter Indonesia, IDI memohon masyarakat mendoakan para petugas medis yang gugur. “Sejawat dokter yang gugur dalam penanganan COVID-19 sudah mencapai 100. Demikian juga petugas kesehatan lainnya yang gugur juga bertambah. Mari doakan agar kawan-kawan kita yang gugur mendapat tempat yang mulia di sisi Tuhan Yang Maha Esa, keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran serta perjuangannya mengilhami dan menjadi tauladan bagi kita semua agar tetap komitmen menjalankan pengabdian kepada kemanusiaan,” papar Daeng.

Lonjakan jumlah insan medis dan nakes yang wafat memang sangat memprihatinkan. Catatan Milesia.id, sampai pekan pertama Mei saja, jumlah dokter yang meninggal ada di kisaran 24 orang. Sementara itu, rilis Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPP PPNI) mencatat, sekurangnya 18 perawat meninggal dunia.

Jika jumlah dokter yang gugur hingga hari ini tercatat, belum demikian dengan tenaga kesehatan lain. Perawat, bidan, dll. “Mari bantu cari data teman-teman perawat, bidan, yang wafat dan tidak tercatat. Saya mencatat 10 orang yang belum masuk daftar itu,” papar Dr dr Tri Maharani, kepada Milesia.id, Senin (7/9).
Toksinolog dan pakar tatalaksana penanganan gigitan ular berbisa itu mengatakan, para dokter dan nakes yang gugur sebagai garda depan melawan Covid-19 itu meninggalkan suami, istri, anak, orang tua, dan orang-orang terkasih dengan setumpuk duka. “Mereka bukan hanya angka-angka. Namanya pantas dicatat sebagai garda depan dan pahlawan dalam memperjuangkan pandemi agar segera pergi dari negeri ini”.

Inovasi Stetoskop

Merasakan sebagai survivor yang nyawanya nyaris terenggut keganasan virus covid-19, menjadikan Dr dr Tri Maharani meneguhkan hati untuk terus berbuat sesuatu. Kepala Instalasi gawat Darurat RS Dhaha Husada, Kediri, itu misalnya, sejak beberapa bulan lalu berinovasi melalui modifikasi stetoskop dengan tubing berukuran beberapa kali lipat lebih panjang. Idenya sederhana, selama ini dokter dan nakes harus kontak dengan pasien untuk berbagai keperluan. Diantaranya saat pemeriksaan menggunakan stetoskop. Penambahan panjang tubing stetoskop menjadikan ada jarak lebih lebar antara tenaga medis dengan pasien yang diperiksa. Diharapkan itu membantu mengurangi resiko bagi para dokter dan tenaga medis dari penularan penyakit.

Dr. Tri Maharani memeragakan stetoskop modifikasi (Dok.Tri Maharani/Milesia.id)

Stetoskop sebagai alat medis memang penting. Fungsinya memang tidak hanya untuk mendengar suara detak jantung saja, tetapi juga untuk mendengarkan suara organ lain yang berada di dalam tubuh. Diantaranya suara pada organ pencernaan, paru-paru, bahkan sampai suara detak jantung janin yang berada di dalam kandungan.

Dokter juga akan menggunakan stetoskop untuk mendeteksi sesuatu yang tidak normal dari suara halus yang bersumber dari dalam tubuh. Stetoskop modifikasi tetap dapat mendeteksi wheezing, suara pernafasan berfrekuensi tinggi yang nyaring, yang terdengar di akhir ekspirasi atau saat menghembuskan nafas. Juga ronkhi, suara nafas tambahan yang bernada rendah, yang lazim terjadi karena penyumbatan jalan nafas. Ronkhi dapat terjadi baik saat pengambilan nafas (inspirasi) maupun ekspirasi, baik ronkhi basah maupun ronkhi kering.

Eartips, terbuat dari bahan karet bertujuan agar lebih nyaman dipakai di telinga dan tidak menimbulkan rasa sakit. Eartips adalah salah satu komponen stetoskop yang mudah diganti. Bagian ini merupakan bagian yang diletakkan atau dimasukkan ke dalam telinga. Eartips menjadi pintu keluar suara yang didengar dari organ dalam tubuh, termasuk dada. Eartips umumnya terbuat dari karet atau bahan silikon yang dirancang dengan bentuk yang pas dipakai di dalam telinga sehingga suara lain yang tidak diinginkan tidak masuk tercampur.

Adapun tubing, adalah bagian dari alat yang berfungsi untuk menjaga dan mentransfer frekuensi suara yang ditangkap oleh diafragma stetoskop dan mengirimkannya kembali ke eartip. Dengan begitu suara dapat didengar oleh telinga pengguna.

Bagan stetoskop (Alodokter/milesia.id)

Bell, biasanya terdapat dalam stetoskop berkepala ganda. Biasanya bagian ini berada di ujung alat dan berbentuk melingkar, menempel pada bagian lain yang lebih pipih (diafragma). Bell memiliki bentuk lingkaran yang lebih kecil. Bagian ini berfungsi mendengarkan suara berfrekuensi rendah yang mungkin tidak mudah dideteksi oleh bagian lain alat ini, yaitu diafragma. Bell juga membantu untuk mendengarkan suara pada lokasi yang tidak datar, yang biasanya tidak dapat dijangkau secara optimal dengan menggunakan diafragma.

Diafragma atau diaphragm stetoskop adalah bagian datar di ujung kepala alat ini. Fungsinya untuk  mendengarkan nada tinggi, contohnya suara paru-paru. Beberapa jenis alat ini ada yang memiliki diafragma tetapi tidak punya bell untuk mendeteksi suara rendah.

 

(Dok. Tri Maharani/Milesia.id)

Di tengah penyebaran  APD di kalangan nakes yang belum merata, inovasi yang tampaknya sederhana itu layak diapresiasi. Dengan stetoskop modifikasi ini, dokter bisa memerikasa pasien dengan jarak lebih dari satu meter. “Sudah saya donasikan tak kurang dari 215 unit stetoskop model ini bagi dokter di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua, dan sudah banyak yang memesannya,” papar Maharani.

Lebih dari seratus dokter yang wafat jelas terlalu banyak. Itu belum termasuk tenaga kesehatan yang juga sangat berperan. Para perawat, bidan, bahkan relawan non medis/non nakes, tak sedikit yang wafat dalam menunaikan tugas.

Sejumlah entitas publik dari beragam latar belakang yang peduli, melalui nakes.laporcovid19.org mengajak masyarakat melakukan tabur bunga di “pusara digital” dengan memberikan kesaksian tentang perjuangan mereka.

(Prio Penangsang/Milesia.id)

________________________

Nama para dokter yang gugur selama Pandemi Covid-19 (per 30 Agustus)

1. Prof. DR. dr. Iwan Dwi Prahasto (Guru Besar FK UGM)
2. Prof. DR. dr. Bambang Sutrisna (Guru Besar FKM UI/IDI Jakarta Timur)
3. dr. Bartholomeus Bayu Satrio (IDI Jakarta Barat)
4. dr. Exsenveny Lalopua, M.Kes (IDI Kota Bandung)
5. dr. Hadio Ali K, Sp.S (IDI Jakarta Selatan)
6. dr. Djoko Judodjoko, Sp.B (IDI Bogor)
7. dr. Adi Mirsa Putra, Sp.THT-KL (IDI Bekasi)
8. dr. Laurentius Panggabean, Sp.KJ (IDI Jakarta Timur)
9. dr. Ucok Martin Sp. P (IDI Medan)
10. dr. Efrizal Syamsudin, MM (IDI Prabumulih)
11. dr. Ratih Purwarini, MSi (IDI Jakarta Timur)
12. Laksma (Purn) dr. Jeanne PMR Winaktu, SpBS (IDI Jakarta Pusat)
13. Prof. Dr. dr. Nasrin Kodim, MPH (Guru besar Epidemiologi FKM UI)
14. Dr. Bernadette Sp THT meninggal di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo (IDI Makassar)
15. DR.Dr. Lukman Shebubakar SpOT (K) (IDI Jakarta Selatan)
16. Dr Ketty di RS Medistra (IDI Tangerang Selatan)
17. Dr. Heru S. meninggal di RSPP (IDI Jakarta Selatan)
18. Dr. Wahyu Hidayat, SpTHT (IDI Kab. Bekasi)
19. Dr. Naek L. Tobing, SpKJ (IDI Jakarta Selatan)
20. Dr. Karnely Herlena (IDI Depok)
21. Dr. Soekotjo Soerodiwirio SpRad (IDI Kota Bandung)
22. Dr. Sudadi, MKK, SpOK (IDI Jakarta Pusat)
23. Prof. Dr. H. Hasan Zain, Sp.P (IDI Banjarmasin)
24. Dr. Mikhael Robert Marampe (IDI Kab. Bekasi)
25. Dr. Berkatnu Indrawan Janguk (IDI Surabaya)
26. Dr. Irsan Nofi Hardi Nara Lubis, Sp.S (IDI Medan)
27. Dr. Boedhi Harsono (IDI Surabaya)
28. Dr. Soeharno (IDI Kediri)
29. Dr. Amir Hakim Siregar SpOG (IDI Batam)
30. Dr. Ignatius Tjahjadi SpPD (IDI Surabaya)
31. Dr. Esis Prasasti Inda Chaula, SpRad (IDI Tegal)
32. Dr. Hilmi Wahyudi (IDI Gresik)
33. DR. dr Heru Prasetya, SpB, SpU (IDI Banjarmasin)
34. dr. Miftah Fawzy Sarengat (PPDS FK Unair, RS Soetomo, IDI Balikpapan)
35. dr. Bendrong Moediarso, SpF, SH (IDI Surabaya)
36. dr. H. Dibyo Hardianto (IDI Bangkalan)
37. dr. Deny Dwi Yuniarto (IDI Sampang)
38. dr. Gatot Prasmono (IDI Sidoarjo)
39. dr. Sukarno (IDI Sidoarjo)
40. dr. Arief Basuki SpAn (IDI Surabaya)
41. dr. Herry Nawing SpA (IDI Makassar)
42. dr. Theodorus Singara SpKJ (IDI Makassar)
43. dr. Nyoman Sutedja, MPH (IDI Denpasar)
44. dr. Putri Wulan Sukmawati (PPDS Anak FK Unair/RS Soetomo Surabaya)
45. dr. Sang Aji Widi Aneswara (IDI Semarang)
46. dr. Elianna Widiastuti (IDI Semarang)
47. dr. Agus Pramono (IDI Sidoarjo)
48. dr Ane Roviana (IDI Jepara)
49. dr. Sovian Endi (IDI Grobogan)
50. dr. Pepriyanto Nugroho (IDI Blitar)
51. dr. Ahmadi NH, Sp.KJ (IDI Semarang)
52. dr. Zulkiflie Saleh (IDI Banjarmasin)
53. dr. Abdul Choliq (IDI Probolinggo)
54. Prof. dr. H. Mgs. Usman Said, SpOG (K) (IDI Palembang)
55. dr. H. Khiarul Saleh, SpPD (IDI Palembang)
56. dr. Anna Mari Ulina Bukit (IDI Medan)
57. dr Herwanto SpB (IDI Kisaran)
58. dr. Maya Norismal Pasaribu (IDI Labuhan Batu Utara)
59. dr. Budi Luhur (IDI Gresik)
60. dr. Deni Chrismono Raharjo (IDI Surabaya)
61. dr Arif Agoestono Hadi (IDI Lamongan)
62. dr. Djoko Wiyono (IDI Surabaya)
63. Prof. Dr. dr. Andi Arifuddin Djuanna, SpOG (K) (IDI Makassar)
64. dr. Aldreyn Asman Aboet, SpAN, KIC (IDI Medan)
65. dr. M. Fahmi Arfa’i (IDI Semarang)
66. dr. M. Ali Arifin (IDI Sidoarjo)
67. dr. M. Hatta Lubis, SpPD (IDI Padang Sidempuan)
68. dr. Elida Ilyas, SpKFR (K) (IDI Jakarta)
69. dr. I Wayan Westa, Sp.KJ (K) (IDI Denpasar)
70. dr. Sony Putrananda (IDI Blitar)
71. dr. H. Muhammad Arifin Sinaga, MAP (IDI Langkat)
72. dr. Andhika Kesuma Putra, Sp.P (K) (IDI Medan)
73. dr. Edi Suwasono (IDI Kota Malang)
74. dr. Ahmad Rasyidi Siregar, SpB (IDI Medan)
75. dr. HM Syamsu Rizal (IDI Natuna)
76. dr. Dennis (IDI Medan)
77. dr. Adnan Ibrahim, SpPD (IDI Makassar)
78. dr. I Nyoman Sueta (IDI Denpasar)
79. dr. Paulus Sp.PD (IDI Jakarta Pusat)
80. dr. Sulis Bayu Sentono, dr., M.Kes., Sp.OT (K) (IDI Surabaya)
81. Prof. Dr. dr. R. Mohammad Muljohadi Ali, Sp.FK (IDI Malang Raya)
82. dr. Hery Prasetyo (IDI Blora)
83. dr. Sriyono (IDI Balikpapan)
84. dr. Sabar Tuah Barus SpA (IDI Medan)
85. dr. John Edward Feridol Sipayung (IDI Siantar Simalungun)
86. dr. Ach. Chusnul Chuluq Ar, MPH (IDI Malang Raya)
87. dr. Fatoni (IDI Ogan Komuring Ulu)
88. dr. Asriningrum Sp.S (IDI Mataram)
89. dr. R. Nurul Jaqin SpB (IDI Yogyakarta)
90. dr. Donni (IDI Deli Serdang)
91. dr. Adi Rahmawan (IDI Depok)
92. dr. Riyanto SpOG (IDI Tuban)
93. dr. Muh. Rum Limpo SpB (IDI Selayar)
94. dr. Titus Taba SpTHT-KL (IDI Sorong)
95. dr. H. Edisyahputra Nasution (IDI Samarinda)
96. dr. I Made Widiartha Wisna (IDI Buleleng)
97. dr. Nastiti Noenoeng Rahajoe, SpA (K) (IDI Jakarta Pusat)
98. dr. Daud Ginting, SpPD (IDI Medan)
99. dr. Aris Sugiharjo, SpPD (IDI Hulu Sungai Tengah)
100. dr Edwin Marpaung, SpOT (IDI Medan)

(Sumber : IDI, 31 Agustus 2020)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close