DINAMIKA

Toraja Melo, Melownya Nasib Kain Tenun Kita

Oleh : Suroto, Ph *)

Menarik menyimak diskusi yang diinisiasi oleh Vivian Idris dari Biru Terong Initiative ( BTI) yang mengangkat tema ” Tenun Toraja di masa Pandemi, what next? “. Hadir Dinny Jusuf dari Toraja Melo, perusahaan sosial yang selama ini telah banyak membantu mengangkat kain tenun Toraja sampai ke dunia internasional.

Dinny Jusuf (Dok.Torajamelo/milesia.id)

Diskusi dimoderatori Vivian Idris, diikuti antusias oleh peserta dari beragam latar belakang dan profesi.  Berangkat dari kepedulianya itu, Dinny mencoba untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan di Toraja melalui aktifitas pengembangan kain tenun Toraja yang bisa dibilang hampir mati.

Toraja Melo membantu membangun kembali marwah tenun Toraja dengan memberikan pelatihan menenun sekaligus memasarkan produk mereka. Sampai saat ini, dengan bekerjasama dengan berbagai lembaga termasuk Yayasan Pekka ( Perempuan Kepala Keluarga) dan BTI, tenun Toraja kembali bergeliat.

Sampai saat ini sudah 250an orang yang ikut pelatihan Toraja Melo dan ada 1.500an orang yang aktif sebagai penenun. Tiap penenun mampu mendapatan pemasukkan hingga 5 juta rupiah. Mereka juga mengembangkan 10 koperasi yang aktif.  Fungsi koperasi adalah untuk efisiensi pembelian benang dan memberikan layanan simpan pinjam serta mengkurasi produk dan pemasaran.

Kaderisasi juga berjalan dengan baik dan sudah ada tiga generasi. Dinny berfikir, bahwa masa depan gerakan ini ada di tangan anak-anak muda. Mereka adalah keniscayaan masa depan. Ada yang menarik di balik semua usaha tenun. Ternyata kain tenun kita selama ini masih bergantung pada mafia kartel import. Hampir 100 persen! Lalu yang tak terduga, ternyata Dinny sempat mendapat intimidasi dari para pelaku “human trafficking” karena dengan aktifitas produktif yang dikembangkan Dinny dkk ternyata dianggap mengganggu suplai dari para pekerja migran perempuan asal Toraja.

Toraja Melo dan Pekka, saat ini juga sedang menginisiasi pengembangan kain tenun di Lembata, NTT. Mengembangkan alternatif bahan kain lokal dari berbagai bahan. Pada kesimpulannya, ada banyak tantangan, terlebih di masa Pandemi ini. Bagaimana agar tenun Toraja tetap mendapatkan pasar yang baik dan para perajin tetap mampu mendapatkan pemasukan.

Masa pandemi ini adalah titik balik penting. Pemerintah bisa saja membuat kebijakan penting, misalnya : kebijakkan trade off, memperkuat kelembagaan koperasi melalui modal penyertaan, mendorong industrialisasi kain tenun rumah tangga dengan substitusi import dengan spesifikasi barang modal, dan kebijkan aksi afirmatif lainnya. Pandemi bisa menjadi peluang besar untuk memperkuat industri rumah tangga, kelembagaan penting ekonomi masyarakat semacam koperasi dan penuhi kebutuhan pasar domestik kita. Hingga satu saat kita akan benar-benar mandiri dalam pemenuhan sandang.

 

*) Praktisi Koperasi dan Pemberdayaan Publik

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close