ANALISA
Trending

Digagahi “Clickbait”, Minat Baca pun Ambyar

MILESIA.ID – Pernahkah kalian iseng membuka-buka artikel di media online kemudian menemukan judul yang menggelitik? Entah sengaja atau tidak, judul yang “unik” selalu menggugah rasa penasaran untuk meng”klik” dan mengetahui isinya.

Ada kalanya judul nan menggelitik itu memang sesuai isi. Artinya ada keselarasan antara judul dengan konten yang disajikan. Pembaca akan merasa beruntung karena menemukan tulisan yang menarik dan terpicu untuk melahap seluruh isi artikel.

Namun tak jarang judul yang “bombastis” itu tak relevan dengan isinya. Nitizen sengaja digoda dengan umpan agar meng”klik” lalu dijebak dengan sajian artikel ala kadarnya. Nitizen pun jengkel, mengumpat-umpat karena merasa tertipu. Belum lagi kuota internet melayang sia-sia.

Fenomena penyajian judul menggelitik alias bombastis untuk menjaring viewer sebanyak-banyaknya di media online ini acapkali disebut “Clickbait”.

Apaan Clickbait?

Clickbait bisa juga diartikan sebagai “umpan klik”. Suatu judul artikel disebut clickbait ketika difungsikan sebagai umpan agar pembaca meng”klik” artikel itu. Aktivitas “klik” ini secara otomatis menambah jumlah viewer bagi penulis atawa pemilik konten sehingga memperbesar pundi-pundi dolar dari google adsense.

Menurut laman Wikipedia.org, umpan klik (clickbait) adalah istilah peyoratif yang merujuk pada konten web yang ditujukan untuk mendapatkan penghasilan iklan daring, terutama dengan mengorbankan kualitas atau akurasi, dengan menggantungkan pada tajuk sensasional atau gambar mini yang menarik mata untuk menggunakan klik tayang (click-trough).

Ternyata tak hanya judul tulisan saja yang mengandung unsur clickbait, namun juga visual (thumbnail) alias gambar. Selama ini kita menganggap gambar hanya sebagai pelengkap atau penghias dari sebuah artikel. Nyatanya sebuah gambar disebut mengandung unsur clickbait ketika memancing nitizen untuk mengklik artikel tersebut atau thumbnail pada konten youtube.

Ankesh Anand, dari Indian Institute of Technology, membahas pengertian clickbait dalam tulisan berjudul “We used Neural Networks to Detect Clickbaits: You won’t believe what happened Next!”. Ia menyebut clickbait adalah istilah untuk judul berita yang dibuat untuk menggoda pembaca. Biasanya menggunakan bahasa provokatif dan menarik perhatian.

Judul ini misalnya:  “Ada Apa dengan Obat Mahal?” (plesetan dari film Ada Apa dengan Cinta) bakal lebih menggelitik jika dibandingkan judul “Masyarakat Mengeluh karena Harga Obat Mahal”.

Judul yang nakal alias menyerempet hal-hal tabu, seperti: “Partner Sex Pengganti…Bolehkah?” (Novia Rupilu, Kompasiana) akan lebih menggugah hasrat pembaca untuk meng”klik” dan menjelajahi seluruh isi artikel.

Minat Baca Ambyar

Tujuan seorang penulis atau konten kreator membuat judul ataupun gambar clickbait sejatinya untuk menjaring sebanyak mungkin pembaca atau pemirsa. Pemilihan judul yang bombastis masih dianggap efektif untuk menggelitik pembaca meng“klik” tulisannya.

Sebenarnya itu wajar, mengingat setiap hari ada ribuan artikel yang bertebaran di media online. Nitizen tak mungkin mau membaca keseluruhan tulisan jika tidak ‘dipancing” alias digoda dengan judul yang unik, nyeleneh, jenaka, nakal atau absurd.

Namun yang tak boleh dilupakan, fenomena “clickbait” ini secara tidak langsung merepresentasikan betapa rendahnya minat baca kita. Untuk sekadar membaca saja, sampai harus dipaksa dan diberi “umpan”.

Akibatnya, hanya dengan judul “clickbait”, informasi hoax sekalipun akan gampang dipercaya. Dan tanpa minat baca yang kuat, sebuah informasi instan yang belum tentu kebenarannya, akan dishare ke ribuan pengguna media online tanpa melakukan mekanisme cross check lebih dulu. Betapa ambyarnya budaya literasi kita.

Seperti merujuk hasil studi World Most Literate Countries yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU), John W Miller, “Minat Baca Masyarakat Indonesia” berada di peringkat 60 dari 61 negara pada tahun 2016.

Miller menggunakan 5 kategori dalam menyusun studi tersebut, dua di antaranya adalah ukuran serta jumlah perpustakaan dan kebiasaan membaca koran. Ia dan tim sedianya memeriksa data dari 200 negara di dunia, tapi karena minimnya sumber daya, akhirnya hanya memasukkan 61 negara dalam pemeringkatan.

“Faktor-faktor yang kami selidiki menunjukkan betapa kompleksnya budaya serta kondisi dari negara-negara tersebut. Tingkat literasi sangat penting bagi keberhasilan individu dan negara dalam ekonomi berbasis pengetahuan yang menentukan masa depan global,” ujar John Miller, melansir situs resmi CCSU.

Studi Miller ini, memadukan 2 variabel yaitu uji pencapaian dan karakteristik perilaku literasi. Faktor yang tak bisa terpisahkan dari variabel ini adalah sistem pendidikan di suatu negara. Setidaknya ada 5 negara dengan peringkat tertinggi, yaitu Finlandia, Norwegia, Denmark, Islandia, dan Swedia.

Konklusi

Clickbait ibarat dua sisi mata uang, dibutuhkan sekaligus dihindari. Artinya, akan dibutuhkan jika kita mencari informasi yang cepat dan singkat. Tapi bisa juga menjadi cermin betapa “ambyarnya” minat baca masyarakat kita.

Poin penting yang perlu dilakukan agar tidak gampang terjebak dalam fenomena clickbait adalah kemampuan untuk memilih berita. Artinya, hindari memilih berita dari website atau media daring yang sekedar menawarkan judul bombastis, serta pilih informasi dari sumber terpercaya. Dalam sebuah clickbait, perlu diteliti kesesuaian antara judul dengan isinya, atau relevansi antara gambar dengan informasi yang disajikan. Jangan sampai sebuah clickbait menggagahi hak-hak pembaca atau pemirsa untuk memperoleh informasi yang aktual, solutif dan bisa dipertanggungjawabkan.

 (Milesia.Id/ Kelik Novidwyanto, disarikan dari berbagai sumber)

 

 

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close