Planet Satwa

Polemik “Martabat Ongkos” Steril Kucing, yang Murah dan yang Marah-Marah..

 

Oleh : Milza Permatasari *)

Motivasi dari kebanyakan pegiat sosial dan penyayang satwa (telantar maupun tidak telantar) terkait sterilisasi kucing atau anjing berbiaya murah adalah : semakin banyak kucing atau anjing yang disterilkan, maka ledakan tak terkendali populasi kucing dan anjing dapat ditekan. Sterilisasi adalah cara yang bermartabat ketimbang ‘penjagalan’ jalanan. Berhubung sterilisasi membutuhkan biaya tak sedikit, entitas penyayang satwa memandang perlu menyelipkan misi sosial dengan memfasilitasi sterilisasi berbiaya murah. Di berbagai negara, sterilisasi berbiaya murah atau malah gratis, adalah hal lumrah. Tak demikian di sini. Tidak mudah, bahkan menimbulkan pro dan kontra. Kok? 

“Itu merendahkan martabat dokter hewan!”

Selarik komentar seseorang yang beredar di  medsos itu mendadak viral. Curhatan hati seorang dokter hewan yang belakangan justru berbalik jadi bumerang.

IST-Milza P

Ini soal apa, sih? Begini, sudah umum diketahui, ada kegiatan steril kucing atau anjing dengan biaya lebih rendah daripada biaya sterilisasi di tempat praktik dokter hewan atau klinik hewan. Umumnya, kegiatan itu diadakan oleh organisasi sosial, yayasan, komunitas, bahkan perorangan. Misi sosial yang kuat lah yang membedakannya.

Meski kegiatan itu dihelat oleh organisasi sosial atau perorangan, namun tak jarang pelaksanaanya dilakukan di tempat praktik atau klinik dokter hewan yang tentu saja melibatkan dokter hewan. Dalam prakteknya, banyak organisasi atau perorangan yang bekerjasama dengan klinik tertentu, meskipun jumlahnya relatif sedikit.

Lalu apa hubungannya dengan martabak? Eh, maksudnya martabat dokter hewan seperti selarik curhatan di awal tulisan? Rupanya, dalam ajang sosial steril kucing atau anjing, ada panitia yang mencantumkan biaya operasi steril di pemberitahuan atau iklan  yang mereka buat dan sebar di medsos. Dengan nominal biaya yang tentu saja lebih rendah dari biaya steril komersial. Ndilalah, bagi beberapa dokter hewan nominal biaya steril sosial yang tercantum di pemberitahuan itu dinilai melecehkan profesi mereka.

Muncratlah aneka uneg-uneg. Termasuk ihwal betapa besarnya biaya yang telah mereka keluarkan untuk kuliah kedokteran hingga bisa membuka praktik sendiri. Tak jarang komentar-komentar itu jadi melenceng jauh ratusan kilometer dari titik temunya. Muncrat seperti gula dalam klepon yang digigit mendadak. Mencuat juga bahasa preman ‘senggol bacok’. Intinya mereka marah.

IST. Sterilisasi oleh dokter hewan

Apakah komentar mereka tidak ditanggapi para kolega dokter hewan yang lain? Nah, disini serunya.Tidak kalah sengit, beberapa dokter hewan “membalas” curhatan kolega mereka. Diantaranya, mengingatkan dan menyarankan agar para kolega tercinta kembali pada sumpah dokter hewan. Salah satunya ihwal keharusan menolong dan berjiwa sosial. Argumen mereka mendukung steril sosial, salah satunya adalah untuk membantu masyarakat yang tidak mampu membayar biaya steril di klinik. Komentar mereka tentu saja didukung masyarakat pecinta kucing dan anjing, terlebih yang terbiasa menolong hewan-hewan telantar.

Para dokter hewan yang sayang hewan dan berjiwa sosial juga berargumen, bahwa mereka bisa membantu masyarakat dengan mengalokasikan waktu di luar jam kerja mereka. Saat seharusnya mereka libur dan menghabiskan waktu bersama keluarga atau pacar, mereka rela menyisihkan waktu dan keahlian demi mengerjakan kegiatan sosial untuk masyarakat yang membutuhkan. Bukankah itu mulia?

Apakah dalam “steril baksos” menihilkan profit sama sekali? Baiknya memang tidak menutup mata. Tentu saja ada. Apakah profitnya besar? Tergantung dari frekuensi mereka dalam membantu kegiatan. Ibarat pepatah, business is business.

Dalam prakteknya, tak jarang peserta steril murah yang sejatinya sudah diberi kemudahan dan “kemurahan” itu masih saja menawar, minta diskon, bahkan minta gratis. Sebenarnya, untuk yang gratisan sudah sering diadakan. Umumnya untuk kucing tak bertuan alias kucing jalanan. Ada juga untuk kucing berpemilik, meskipun tidak sering.

Beberapa hal yang menjadi syarat untuk mendapatkan steril gratisan, diantaranya adalah mereka yang menjadi relawan pada kegiatan tersebut. Untuk menjadi relawan juga tidak mudah. Mereka disaring oleh panitia yang sering disebut admin. Jadi bukan berarti steril hewan berbiaya terjangkau itu diterima langsung masyarakat. “Subsidian kok masih ditawar. Lo kata beli jengkol..!” ceplos banyak panitia sterilan.

Seorang dokter hewan senior mengatakan, dalam kegiatan steril kucing dan anjing yang biayanya cukup terjangkau ini, ada banyak sekali keuntungan. Dan itu tidak melulu berupa materi. Bagi para dokter hewan muda, mereka bisa mengasah keterampilan dan tak jarang mereka menemukan kasus-kasus menarik melebihi teori dan praktik yang mereka lakoni saat kuliah. Selain itu, mereka tidak dipusingkan dengan keharusan membayar karyawan atau sewa tempat karena karyawan digantikan oleh relawan dan tempat milik anggota komunitas. Semakin banyak mereka melakukan operasi steril, semakin terampil kemampuan mereka. Istilahnya “jam terbang sudah sampai bulan”.

Meskipun demikian, hasil sterilisasi di ajang sterilisasi ‘baksos’ itu tak jarang mendapat kritik. Misalnya, jika mendapati  kasus jahitan luka pasca steril yang jebol. Padahal, sterilisasi yang dikerjakan di klinik hewan juga tidak menjamin jahitan aman sentosa karena dalam beberapa kasus, perlakuan pasca operasi oleh pemilik kucing atau anjing juga turut berpengaruh. Sebut saja pengabaian sebagian pemilik atas arahan dokter hewan agar mengandangkan kucing atau anjing pasca steril selama sekian hari. Atau anjuran untuk memasang colar pengaman.

Selain itu, juga faktor hewannya sendiri. Beberapa individu hewan ada yang alergi terhadap benang jahit bahkan obat bius. Atau hewannya memiliki karakter pecicilan, loncat sana lari sini atau merasa tidak nyaman dengan luka jahitan yang dirasa gatal sehingga terus menerus menjilat luka.

IST. Bukan sembarang gegoleran.

Baksos Steril, Bukan Monopoli Indonesia

Sebenarnya program sosial sterilisasi kucing atau anjing yang “low cost” alias murah sudah ada di seluruh dunia. Di Australia, Amerika, beberapa negara di Asia dan Eropa, bahkan  terang-terangan memasang iklan di medsos berikut biayanya.

Bagusnya, tidak pernah ada yang meributkan baik dari kalangan medis hewan maupun masyarakat. Umumnya, masyarakat penyayang kucing mengaku sangat terbantu dengan adanya steril berbiaya terjangkau. Jika ke klinik hanya bisa membayar sterilisasi untuk satu ekor, maka ke tempat sterilan murah bisa membawa lebih dari seekor. Bahkan saat jadwal “tanggung bulan dompes aka dompet kempes” pun mereka masih bisa membayar sterilan murah.

IST/pexel

Terlebih jika masyarakat yang seringkali ‘ketempuhan’ buangan kucing, maka sterilan berbiaya terjangkau ini sangat membantu. Namun demikian, meski disebut murah, panitia akan berang seberang-berangnya jika disebut “murahan”. Sebab, baik obat-obatan, benang operasi, sampai vitamin, umumnya sama seperti yang digunakan di klinik komersial. Yang berbeda hanya tempat dan waktu yang terbatas.

Intinya, pilihan diserahkan kepada masyarakat. Bu Lala (bukan nama sebenarnya), misalnya, dari sekian banyak kucing jalanan yang dia sterilkan, ada yang dilakukan di klinik hewan dengan membayar penuh. Alasannya, karena dia tidak bisa menunggu jadwal dari kegiatan steril yang biayanya terjangkau itu. Selain itu, juga karena alasan lokasi yang jauh dan waktu yang belum pas dengan agenda pribadi. Senada dengan Bu Lala adalah Mbak Er, yang lebih memilih ke klinik hewan terdekat.

Sementara, yang lain ada yang kadang melakukan steril kucing atau anjing ke klinik dokter hewan, kadang juga ikut sterilisasi yang terjangkau. Tergantung sikon. Jika waktu mepet sementara jadwal steril baksos masih menunggu, maka klinik hewan adalah pilihan pertama.

Alhasil, jangan sampai ada yang merasa terpaksa atau dipaksa. Sterilisasi berbiaya mudah tidak juga diniatkan untuk merendahkan martabat seseorang atau profesi. Justru, dokter hewan yang sering membantu masyarakat menjadi lebih dikenal dan dihormati dan seringkali memotivasi masyarakat untuk mendatangi kliniknya dan memanfaatkan jasanya. Daripada ribut soal martabat naik atau turun, lebih baik kita menikmati martabak ditemani para meong dan guguk. Meoong..!

(Milza Permatasari, Founder Planet Satwa, Pegiat Baksos Steril, Jakarta)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close