Milestories

Sugeng Wiyanto dan Keteguhan Hati Relawan Empu Besi

Sebilah sabit masih mengilap, basah baru saja diasah. Bahanya dari besi jenis baja, kuat dan keras. Bagian dalam bilah sabit itu saya usap pelan dengan ibu jari. Tajam! Gagangnya terbuat dari kayu klengkeng, ringan dan kuat, nyaman digenggam.

Sugeng Wiyanto (45), nama sang “empu” sabit nan tajam itu. Dari tangan panasnya, telah tercipta ratusan jenis alat potong manual, seperti sabit, belati, pisau, gobang, bahkan pedang.

“Sejauh ini hanya menerima pesanan, Mas” terang Sugeng sembari menunjuk beberapa bilah pisau dan gobang yang terjajar di sebuah bangku panjang. Di sampingnya nampak mesin gerinda dan bor. Serpihan kayu dan potongon besi berserakan di lantai ruangan yang merangkap sebagai dapur produksinya.

Gobang, pisau, arit (Milesia.id/Rustamaji)

Sugeng memanfaatkan teras rumahnya yang sempit. Membujur kurang lebih 2 x 6 meter yang terbagi dalam dua ruangan. Di sebelah dapur produksi terdapat meja dan beberapa bangku, yang sekaligus dimanfaatkan untuk ruang tamu.

“Sabit dan gobang yang paling laku,” lanjutnya sambil sesekali menyeruput kopi pahit kesukaannya. Awalnya hanya dipesan oleh masyarakat di sekitar tempat tinggal Sugeng saja. Yaitu di  wilayah Cawas, Klaten. Belakangan, beberapa relawan tanggap bencana (Tagana) di luar Cawas turut memesan. “Para relawan bisanya memesan gobang, yang bisa dipakai untuk menebang pohon atau memangkas ranting, ” imbuhnya.

Sugeng memulai usaha pandai besi kecilnya kurang lebih tiga bulan yang lalu. Tepatnya ketika virus corona mulai merebak di tanah air, sekitar awal Maret.  Status sebagai daerah pandemi, turut menghantam sektor ekonomi di kampungnya. Banyak lapangan usaha yang kembang kempis atau lebih parah lagi, gulung tikar.

Gobang (Milesia.id/Rustamaji)

Buruh bangunan, profesi Sugeng sebelumnya, juga tak luput dari imbas amuk sang virus. Proyek infrastruktur atau sktifitas masyarakat dalam membangun maupun merenovasi bangunan jelas tersendat. “Banyak akses jalan yang ditutup, sehingga material sulit masuk,” terang Sugeng. Situasi ini jelas memengaruhi kondisi ekonomi keluarganya.

“Awalnya agak berat, Mas ” tuturnya. Meski tergolong berlatar belakang keluarga kurang mampu, layanan sosial dari pemerintah tak pernah dirasakannya. Ribetnya persyaratan untuk mengakses bantuan sosial bisa jadi adalah salah satu kendalanya.

Pria yang hanya tamatan Sekolah Dasar ini, mengakui data-data diri keluarganya memang tidak lengkap. “Anak saya tidak memiliki akte lahir, Kartu keluarga juga belum jadi,” tutur Sugeng. Diseruputnya sisa kopi pahit yang sudah mulai mendingin.

Layanan sosial dasar seperti BJPS, sebenarnya sangat dibutuhkannya. Terlebih putra semata wayangnya yang berusia kurang lebih 10 tahun, saat ini sedang menderita lumpuh layuh dan tidak bisa berjalan.

“Sudah sekitar satu tahun yang lalu, thole tidak bisa berjalan. Kalau di sekolah, ya hanya duduk di bangku saja selama kegiatan,” lanjutnya. Sebenarnya, gejala penyakit ini sudah agak lama dirasakan putranya. Tetapi karena keterbatasan informasi tentang penyakit tersebut dan ketiadaan biaya, Sugeng tidak bisa berbuat banyak. Akibatnya fatal, tulang kaki putranya menjadi melemah dan semakin lemah. Upaya penyembuhan yang dilakukan Sugeng selama ini hanya berupa terapi-terapi pijat tulang. “Sepertinya terapi kurang berhasil, tidak ada perkembangan sejauh ini,”  imbuh Sugeng.

Tidak hanya putranya, sang adik yang menjadi tanggunganya, juga mempunyai penyakit fisik yang juga butuh penanganan, lepra.

Sugeng, relawan tanggap covid-19 Cawas (Dok.Sugeng/Milesia.id)

Sulit dibayangkan, dalam kondisi ekonomi yang serba sulit dan anggota keluarganya memerlukan perhatian khusus, Sugeng tetap teguh bertahan. Menyerah dan menghiba ternyata tak ada dalam kamus hidup Sugeng. Suntikan semangat dan saling dukung dari sahabat dan kerabatnya lah yang membuatnya masih bisa bertahan. “Terutama dari kawan-kawan relawan dan sahabat Banser, selama ini kami saling suport,” ungkapnya. Ya, disela-sela perjuangannya manafkahi kekuarga, Sugeng tetap memberi porsi waktu yang tak sedikit untuk sosial kemasyarakatan.

Berkomunitas dengan organisasi sosial keagamaan, sangat dirasakan manfaatnya oleh sang pandai besi ini. “Disamping kegiatan pengamanan dan penanggulangan bencana, kegitan rutin seperti pengajian dan sholawatan terkadang bisa menyuntik semangat untuk menjalani hidup,” imbuhnya.

Ikhtiarnya dalam membuka usaha pandai besi ini, juga berangkat dari komunitas relawan yang diikutinya. Awalnya, penyuka rokok kretek ini diminta untuk memperbaiki beberapa peralatan relawan yang rusak, seperti gobang, sabit dan gergaji. “Dari sini, saya punya ide membuat usaha pande sendiri, ” lanjut Sugeng.

Dengan modal seadanya, berupa mesin gerinda, mesin bor, dan kikir yang dibelinya secara bertahap. Untuk bahan besi baja, didapatkan dari pedagang besi bekas. Kini, untuk memperoleh bahan baku, Sugeng harus mencari sampai keluar daerah. “Pedagang besi bekas di wilayah sini stoknya terbatas, harus cari di luar,” sambungnya.

Meski terkendala minimya peralatan, dan modal untuk bahan baku, usaha pandai besi Sugeng nampaknya masih cukup menjanjikan. Komunitas petani, sebagai mayoritas profesi masyarakat desa, tentu tak dapat dilepaskan dari sabit dan cangkul. Pun menjamurnya relawan di tiap wilayah dan komunitas, memerlukan peralatan buatan Sugeng untuk kegiatan tanggab bencana dan bakti lingkungan.

“Kopinya nambah, Mas?” ujar Sugeng menawari Saya. Ampas kopi di dasar gelas memang semakin jelas terlihat. Saya menggeleng dan memutuskan bersegera pamit. Seiring langkah meninggalkan rumah sang pandai besi, kembali mesin gerinda menderu. Piringan gerinda berputar cepat mengiris lempengan baja. Bunga-bunga api memercik berloncatan, menyemangati deru nafas sang pande besi menghela mesin gerinda.

(Rustamaji/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close