DINAMIKA
Trending

Tips Aman Bersepeda di Masa Pandemi Corona

MILESIA.ID, JOGJA – Pagi baru tiba ketika rombongan pesepeda menyusur jalanan Malioboro menuju titik Nol Kilometer. Mirip arak-arakan, para pegowes nampak stylist dengan jersey dan atribut olahraga kekinian. Beberapa di antaranya yang rata-rata anak muda, sibuk memainkan kamera ponsel mengabadikan momen prestisius itu. Sayangnya, banyak pegowes yang enggan memakai masker.

Kelakuan para pesepeda yang memadati pusat kota Jogja pada Sabtu (07/06) dan Minggu (08/06) itu tak urung membuat Sultan gerah. Menurut Gubernur DIY itu, warga yang berkumpul tanpa mengindahkan protokol kesehatan sangat membahayakan. Jika terjadi penularan COVID-19 di pusat keramaian seperti Malioboro, maka tracing kasus akan sulit dilakukan.

Sultan berharap warga Jogja tetap menaati protokol kesehatan COVID-19 seperti mengenakan masker, mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer dan menjaga jarak aman di tempat umum. Hal itu bukan hanya berlaku bagi para pesepeda saja tapi juga semua warga yang berada di kawasan Malioboro.

Populer di Dunia

Pesepeda memadati jalanan Kota New York. IST

Lepas dari kerumunan yang dipicu para pesepeda di Jogja, aktivitas bersepeda memang tengah populer belakangan ini. Bersepeda menjadi solusi praktis mengatasi kejenuhan #dirumahaja serta agar tetap sehat di masa pandemi. Masyarakat memilih gowes karena aman dari risiko tertular virus corona, daripada berdesakan dalam transportasi umum. Di sisi lain, bersepeda dianggap murah, simpel, terjangkau, dan ramah lingkungan.

Tak hanya di Indonesia, popularitas sepeda ternyata juga mewabah di belahan dunia lainnya. Mengutip laman Liputan6.com, berjudul “Fenomena Sepeda yang Kian Populer di Dunia karena Pandemi Corona”, di Prancis orang-orang kembali belajar mengendarai sepeda karena pandemi corona. Pemandangan sepeda lalu-lalang di jalan juga nampak di Berlin, Jerman.

Berdasarkan studi Trek Bicycle terbaru, 85 persen warga Amerika percaya bahwa di masa pandemi, bersepeda lebih aman daripada menggunakan transportasi umum, terlebih di beberapa wilayah masih ada pembatasan transportasi umum yang membuat waktu perpindahan menjadi lama.

Alhasil, penjualan sepeda pun meningkat pesat di sejumlah negara, bahkan menyentuh angka 647 persen di Brooklyn. Di Filipina, penjualan sepeda juga naik tajam seiring negara itu kembali membolehkan warganya bekerja di luar rumah. Sebagai respons, beberapa negara bahkan membuat jalur sepeda baru di seantero kota.

Seperti di Bogota, Kolombia yang menambah 80 kilometer jalur bersepeda di dalam kota pada Maret 2020. Pada Juni, Britania Raya dilaporkan akan menyisihkan anggaran dua miliar pound sterling atau setara Rp35 triliun untuk pengadaan jalur sepeda dan perbaikan trotoar.

Di Paris, pemerintah bahkan menawarkan dana 50 euro atau setara Rp789 ribu per orang untuk memperbaiki kembali sepeda lama.

Besarnya manfaat bersepeda sebenarnya telah menjadi sorotan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) beberapa tahun belakangan. Dalam pertemuan rutin pada 12 April 2018, PBB menetapkan tanggal 3 Juni sebagai “Hari Sepeda Dunia” atau World Bicycle Day.

Tips Aman Bersepeda

Azrul Ananda, pegiat sepeda yang juga putera Dahlan Iskan. IST

Walaupun bermanfaat menjaga kesehatan dan menjadi alternatif alat transportasi yang aman, kegiatan bersepeda tak boleh dilakukan sembarangan. Keamanan harus tetap menjadi prioritas utama, khususnya berkaitan dengan protokol kesehatan COVID-19.

Seperti mengutip laman fimela.com, berjudul “5 Tips Aman Bersepeda yang Perlu Kamu Terapkan di Tengah Pandemi Covid-19”, setidaknya ada 5 hal yang perlu diperhatikan jika hendak bersepeda di masa pandemi.

Pertama, pastikan tubuh kita dalam kondisi prima. Kedua, pilih waktu yang tepat untuk bersepeda. Seperti memilih pagi hari untuk mendapat udara segar atau pada sore hari ketika matahari tidak begitu terik.

Yang tak kalah penting, pastikan bersepeda jangan terlalu jauh dan lama. Cukup 30-60 menit agar kondisi fisik tidak kelelahan. Maksimal waktu tersebut untuk berkeliling dan usahakan tidak berkeliling ke jalan yang ramai atau padat karena akan sangat berisiko. Pilih jalan yang tidak begitu padat agar kamu juga bisa lebih leluasa dalam bersepeda.

Masker “buff” lebih aman dan nyaman untuk bersepeda. IST

Ketiga, gunakan masker saat berkendara. Mengenai penggunaan masker, mengutip laman Liputan6.com, berjudul “Bersepeda di Masa Pandemi, Ini Tips agar Tetap Aman dan Terhindar dari COVID-19”, Azrul Ananda, pegiat goweser yang juga putera mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, merekomendasikan penggunaan masker “buff” saat berolahraga sepeda. Menurutnya, jenis penutup wajah itu bisa menutupi mulut, hidung, hingga telinga, namun udara yang keluar masih bisa terbuang.

“Kalau masker kan keringat tertahan di dagu jadi basah, engap banget. Kalau pakai buff itu lebih nyaman karena bisa dibuang ke bawah. Sedikit lebih nyaman,” kata pendiri mainsepeda.com itu.

Selain masker, gunakan helm atau penutup kepala sebagai pengaman. Kita tidak tahu apa saja yang akan ditemui di jalanan. Jadi pastikan semua terlindungi dengan maksimal.

Keempat, jangan memicu kerumunan. Artinya, lebih baik bersepeda sendirian daripada bergerombol. Namun jika mengharuskan bersama beberapa teman, pastikan jaga jarak aman.

Azrul Ananda menyebut aktivitas bersepeda lebih baik dilakukan bersama orang-orang yang kita kenal. Salah satunya agar komunikasi dalam kelompok bisa dilakukan dengan baik.

“Kalau kelompoknya berpengalaman pasti 2-2. Itu lebih aman karena bersebelahan dan di belakangnya lurus. Kalau lagi pleton kan biasanya masih di dalam kota, jadi kita rata-rata masih pakai masker dan kalau sudah pengalaman tidak perlu bicara cukup pakai kode tangan,” ujar mantan CEO dari Grup Jawa Pos itu, menjelaskan formasi bersepeda yang aman.

Gowes mandiri di jalanan sepi pedesaan sambil menikmati lanskap alam. IST

Selain itu, ketika berkendara di tengah kota dan harus menunggu lampu merah, Presiden Klub Persebaya Surabaya itu lebih menyarankan pesepeda untuk menjaga jarak atau memisahkan diri dari antrian kendaraan lain.

Kelima, hindari singgah atau mampir ke suatu tempat karena sangat berbahaya dan berisiko. Kita tidak bisa memastikan apakah tempat yang disinggahi itu aman dari virus atau tidak. Karena menurut penelitian, virus corona mampu bertahan pada permukaan benda untuk waktu yang cukup lama.

Di sisi lain, Azrul membolehkan pesepeda untuk membuka masker saat bersepeda di tempat yang tidak ramai atau jalanan sepi. Kita bisa memilih jalur gowes di lingkungan hijau yang jauh dari pemukiman penduduk. Sambil mengayuh sepeda, kita bisa menghirup udara segar seraya menikmati  lanskap alam nan elok. Namun yang jauh lebih penting, alangkah baiknya jika bersepeda menjadi kebutuhan hidup sehat dan bukan sekedar lifestyle semata.

(Milesia.id/ dari berbagai sumber)

.

.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close