KOLOMMileseducation
Trending

Mari Menulis! Mari Menafsir Ulang Diri dan Identitas Manusia Indonesia

Undangan Berpartisipasi : “Call for Book Chapter”

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

― Pramoedya Ananta Toer

MILESIA.ID, JOGJA – Bila ditanya apa sih yang paling penting dalam hidup kita? Kita pasti memberi jawaban beragam. Mulai dari yang riil hingga abstrak, dari yang individual hingga sosial, dari yang profan hingga transendental. Tak ada jawaban yang salah. Namun jika kita melongok jauh lebih dalam, kita akan sepakat dengan sebuah jawaban: “yang dianggap paling penting oleh manusia adalah dirinya sendiri.”

Undangan untuk menulis. IST

Membincangkan tentang “diri”, otomatis juga membahas tentang identitas. Bahkan, cara sekelompok masyarakat dalam menjelaskan identitasnya, akan menentukan corak dan gerak masyarakat bersangkutan. Termasuk menentukan sejauh mana tangga-tangga peradaban akan mereka capai. Artinya, penting bagi sebuah bangsa untuk menjelaskan diri dan identitasnya. Tak terkecuali dengan bangsa Indonesia.

Lalu, seperti apa sesungguhnya identitas bangsa Indonesia? Bangsa di sini tentu merujuk pada watak atau sifat yang melingkupi orang Indonesia. Mochtar Lubis pernah mengurai 6 (enam) sifat utama orang Indonesia, yaitu munafik, berjiwa feodal, percaya takhayul, memiliki watak yang lemah, enggan bertanggung jawab dan artistik. Beberapa pihak juga mengklaim, manusia Indonesia mempunyai karakter ramah, suka menolong, religius, dermawan, bergotong royong, menghargai dan menghormati orang lain.

Lepas dari label-label yang terlanjur disematkan, orang Indonesia sesungguhnya sangatlah plural. Manusia Indonesia mengembangkan diri dan identitas mereka dengan pola yang relatif khusus. Proses konstruksi identitas tersebut dipengaruhi oleh budaya, bahasa, agama, media dan kekuasaan. Dengan demikian, usaha memahami manusia Indonesia dengan mengandaikan bahwa orang Indonesia adalah sama, jelas tindakan yang tergesa-gesa dan bias.

Sebuah kolaborasi tulisan. IST

Karena kompleksitas itulah, sudah semestinya jika usaha untuk memahami diri dan identitas manusia Indonesia perlu dilakukan dengan memotret berbagai sisi dan wilayah kehidupan manusia Indonesia, termasuk perlu mempertimbangkan banyak sudut pandang. Kerja kebudayaan itu perlu dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan banyak orang, dengan cara bergotong royong.

Atas dasar kerangka berpikir inilah, maka “Center for Indigenous and Cultural Psychology Universitas Gadjah Mada” bekerjasama dengan “Forum Dosen Psikologi Indonesia”, serta didukung oleh Penerbit FORUM bermaksud menyusun buku kumpulan tulisan dengan tema “Menafsirkan Ulang Diri dan Identitas Manusia Indonesia”.

Buku ini diharapkan dapat menghidupkan kembali diskursus publik tentang identitas kebangsaan kita. Bagaimana kita menafsir ulang diri dan identitas manusia Indonesia. Secara praktis, buku ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemangku kepentingan untuk menjelaskan berbagai fenomena yang bersumber pada persoalan diri dan identitas manusia Indonesia.

Untuk mengguyubkan semangat kegotong-royongan ini, kami mengundang partisipasi seluruh pihak: peneliti, akademisi, mahasiswa, atau masyarakat umum yang bersedia berkontribusi untuk mempublikasikan tulisannya dalam buku ini.

Tulisan merupakan jenis karya ilmiah populer, karya asli, belum pernah dipublikasikan dan bukan plagiasi. Panjang tulisan 20-25 halaman. Ditulis dalam kertas A4 dengan spasi 1,5 dan huruf Times New Roman. Margin 3-4-3-4. Silakan mengirimkan tulisan ke : bukupsikologi20@gmail.com. (Informasi lebih lanjut dapat disimak pada poster yang kami lampirkan.)

Mari menulis! Seperti ujaran Pram: “Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari dalam masyarakat dan pusaran sejarah”.

(Milesia.id/ Redaksi)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close