ANALISA

Wajah Kota Jakarta Sebelum dan Sesudah Pandemi Covid-19

"A city is more than a place in space, it is a drama in time" (Patrick Geddes)

 

Oleh : Luh Kitty Katherina *)

“A city is more than a place in space, it is a drama in time”

(Patrick Geddes)

Pertumbuhan dan perkembangan kota tidak lepas dari kejadian atau penemuan baru yang terjadi pada masanya. Kejadian dan temuan baru tersebut membuat kota selalu beradaptasi hingga dalam beberapa hal membentuk wajah kota yang baru. Salah satu perubahan besar terjadi ketika mesin uap ditemukan pada tahun 1769 yang merupakan cikal bakal revolusi industri. Periode industrialisasi yang sangat intensif membuat kota menjadi sangat padat dan berjejal serta polusi baik udara maupun air meningkat tajam (Catanese dan Snyder, 1989). Revolusi industri membuat kota semakin terbuka, pendatang semakin menyemut di kota.

Kota yang semakin padat membuat pola permukiman warga kota juga berubah. Pertumbuhan ekonomi kota melaju pesat, keterbatasan dan semakin mahalnya lahan di kota membuat pola bangunan menjadi vertikal, kota dipenuhi oleh bangunan pencakar langit. Bagi pekerja pusat kota yang tidak mampu mengakses hunian di tengah kota, akan memilih bertempat tinggal di pinggir kota dan melakukan ulang alik setiap harinya. Terbentuk suburbanisasi yang semakin hari semakin luas, kota inti semakin menyatu dengan wilayah pinggirannya. Secara umum, terdapat pola yang serupa pada setiap kota metropolitan, seperti yang diungkapkan Firman (1998), yakni dominasi high rise building, pembangunan perumahan skala besar di pinggiran kota besar serta menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan.

Seperti halnya yang terjadi dengan Kota Jakarta, perkembangan sektor industri membuat Jakarta berkembang pesat dan dalam waktu singkat telah menjadi salah satu kota terbesar di dunia dengan jumlah penduduk yang sangat padat. Sebuah kota yang awalnya merupakan kota pelabuhan yang tidak terlalu besar berkembang dengan sangat cepat. Selama tiga puluh tahun (1950-1980) Jakarta merupakan satu-satunya kota dengan jumlah penduduk di atas satu juta jiwa di Indonesia. Pada tahun 1990 jumlah penduduknya sudah mencapai 8,23 juta jiwa, jika ditambah dengan Jabodetabek mencapai 17,1 juta jiwa.

Penggalan ruas jalan protokol Jakarta saat Pandemi Covid-19. Foto diambil 22 April 2020 (Prio P/Milesia.id)

Gegap gempita perkembangan Kota Jakarta sempat terhenti sejenak ketika terjadi krisis pada tahun 1997-1998. Krisis yang awalnya dianggap bisa diatasi melalui manajemen makro ekonomi ternyata melebar pada kehidupan sosial ekonomi dan politik, termasuk pembangunan kota (McGee, 1998). Banyak perusahaan tutup, pekerja dirumahkan dan banyak yang kembali ke kampung halamannya karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup di kota. Kemudian butuh waktu 10 (sepuluh) tahun untuk bisa kembali pulih dari krisis, seperti yang disebutkan oleh Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar saat itu (kompas.com, 5 Oktober 2012). Wajah kota kemudian kembali seperti semula, semakin padat dan semarak.

Fenomena krisis di Kota Jakarta kembali terulang saat ini dengan skala yang lebih luas. Pandemi Covid-19 yang melanda sebagian besar kota di dunia membuat kota-kota tersebut harus berhenti sejenak. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan bahwa terdapat empat sektor yang paling tertekan akibat wabah virus corona atau Covid-19 yaitu rumah tangga, UMKM, korporasi, dan sektor keuangan. Sektor korporasi meliputi manufaktur, perdagangan, transportasi, serta akomodasi seperti perhotelan dan restoran (Republika, 1 April 2020).

Sementara itu, berdasarkan data Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka 2019, sektor yang dominan di DKI Jakarta adalah perdagangan (16,93%), manufaktur (13,15%) dan jasa keuangan (10,26%), yang merupakan sektor ekonomi paling terdampak dari pandemi Covid-19 ini. Ekonomi melambat, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran tidak dapat dihindarkan dan Kota Jakarta ditinggalkan karena penghuninya kehilangan sumber penghasilan. Dunia usaha relatif sehat, tetapi tidak bisa bergerak optimal karena pandemi. Ribuan orang kemudian meninggalkan Jakarta menuju ke kampung halaman masing-masing, sebelum hal tersebut dilarang, karena akan mengancam kesehatan warga di daerah tujuan.

Sebagai pusat konsentrasi penduduk dan aktivitas ekonomi, meskipun saat ini ditinggalkan Kota Jakarta tidak akan mati atau meredup selamanya, seperti kejadian krisis yang pernah terjadi sebelumnya. Namun Covid-19 tentunya akan mengubah gaya hidup dan gaya bekerja penduduk Kota Jakarta, menuju sebuah kehidupan normal yang baru (a new normal life). Tidak hanya untuk menghindari gelombang selanjutnya dari virus ini tetapi untuk selalu waspada akan ancaman pandemi lain di kemudian hari. Kejadian mudik masal juga mengingatkan kembali tentang primate city Jakarta dengan kota-kota lainnya. Sekitar 11,79% (28,02 juta jiwa) penduduk Indonesia berada di Jabodetabek dengan luas 0,0058% dari luas wilayah Indonesia.

Social distancing akan menjadi budaya baru dalam kehidupan warga Jakarta setelah masa pandemi berlalu, di antaranya dengan menghindari kerumunan, menghindari sentuhan terhadap benda-benda di tempat umum, mencuci tangan lebih sering, menggunakan APD serta fenomena bekerja jarak jauh semakin masif. Sistem daring akan semakin berkembang dalam semua lini kehidupan, di mana salah satunya menyebabkan pusat-pusat perbelanjaan cenderung tidak akan seramai sebelum pandemi.

Pemanfaatan transportasi massal harus mulai mempertimbangkan protokol pembatasan sosial begitu juga dengan transportasi publik lainnya seperti taksi yang harus memiliki standar pelayanan dan kebersihan yang baru. Perjalanan untuk keperluan bisnis harus mulai dibatasi, restoran dan café harus segera mungkin mengubah desain ruangannya dengan lebih memberikan jarak antar meja serta kegiatan ekonomi lainnya. Masa-masa WFH (work from home) juga merupakan masa kita belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi gaya kehidupan perkotaan yang berbeda.

*) Peneliti Penduduk dan Lingkungan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

(Artikel ini pernah dimuat di media publikasi Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, 04 Mei 2020)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close