DINAMIKA
Trending

Dirundung Pandemi Corona, Ramadhan 2020 akan Terasa Berbeda

MILESIA.ID, JOGJA – Ramadhan adalah kesenangan tersendiri bagi anak-anak. Benarkah? Jika mengenang medio 80-90-an, kala itu hampir setiap anak selalu antusias menyambut bulan puasa. Bukan melulu untuk beribadah, melainkan menyalurkan hasrat kenakalan kanak-kanak. Bermain petasan, mendobel takjil, berisik saat khotib naik mimbar, mencuri-curi pandang lawan jenis yang bening, sampai menukar sandal teman sebelah.

Satu-satunya hal membosankan hanyalah ketika harus mengisi buku “Kegiatan Ramadhan” yang biasanya bersampul hijau dengan kertas buram di dalamnya. Bagi anak-anak di masa itu, buku ini menjadi wahana mengarang indah. Entah tentang isi ceramah atau saat mengisi kolom kegiatan ibadah lain seperti sholat dan mengaji.

Kenakalan anak-anak ini pasti membuat kesal para orang tua yang merasa ibadahnya terganggu. Namun dari keceriaan dan kenakalan anak-anak inilah bulan ramadhan menjadi berkesan. Sesuatu yang luntur setiap dasawarsa berlalu dan semakin lindap di masa pandemi corona ini.

Ramadhan akan terasa berbeda

Selama Social Distance, anak-anak tak bisa berjumpa fisik dengan sebayanya. MILESIA.ID/ KELIK N

Sesuai sidang Isbat yang digelar Kemenag Fachrul Razi dan kolega, awal ramadhan 1441 Hijriah jatuh pada hari Jumat, 24 April 2020. Meski tengah dirundung Pandemi Corona, nyatanya masyarakat tetap antusias menyambut datangnya bulan puasa kali ini. Ekspresi kegembiraan ini nampak dalam berbagai ucapan “Marhaban Ya Ramadhan” yang memenuhi lini masa jejaring sosial, seperti Instagram, WhatsApp, Line, Telegram  dan Twitter.

Namun, ramadhan tahun ini tentu akan terasa berbeda dari bulan ramadhan sebelumnya, karena berbagai kebijakan Social Distancing (Jarak Sosial) yang diterapkan masing-masing daerah di tanah air. Seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah DKI Jakarta yang efektif berlaku sejak 10 April hingga 14 hari ke depan.

PSBB ini memuat aturan mengenai pembatasan aktivitas masyarakat seperti penghentian sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah, pembatasan aktivitas di tempat kerja alias Work From Home (WFH), pembatasan kegiatan keagamaan di rumah ibadah, pembatasan kegiatan di tempat umum, pembatasan kegiatan sosial dan budaya, pembatasan penggunaan moda transportasi untuk pergerakan orang dan barang.

Maka sesuai ketentuan pemberlakuan masa PSBB, warga ibu kota tak diperbolehkan berkegiatan di luar rumah. Karenanya, mulai dari buka puasa, sahur, tarawih, hingga salat harian harus dilakukan di rumah.

Sementara itu, Pemda DI Yogyakarta juga mulai menerapkan pembatasan jalur masuk ke wilayah DIY, sejak hari Jumat (24/4/2020), terutama bagi para pemudik yang berasal dari daerah zona merah (daerah dengan kasus virus corona tinggi). Selain itu akan dilakukan pengetatan kontrol kendaraan di tiga titik perbatasan DIY yaitu: Jalan Solo (wilayah perbatasan Prambanan), jalan Magelang (sekitar wilayah Tempel), dan Kulon Progo (sekitar wilayah Congot).

Langkah-langkah ini diambil sebagai tindak lanjut dari kebijakan larangan mudik yang disampaikan Presiden Joko Widodo bagi seluruh masyarakat. Lepas dari pro kontra mengenai terminologi mudik atau pulang kampung, konsekuensi nyata larangan mudik bagi para perantau adalah berkurangnya jatah silaturahmi fisik mereka dengan kerabat. Anak-anak juga mesti menunda kerinduan mereka melewatkan ramadhan dengan sebayanya di kampung halaman.

Ramadhan di Inggris

Qari Asim MBE

Umat Islam di tanah air bukan satu-satunya yang bakal menjalani ramadhan 1441 H dalam suasana berbeda. Di Inggris, Dewan Muslim Inggris (MCB) menyerukan penangguhan semua kegiatan di masjid dan pusat kegiatan Islam pada 16 Maret, seminggu sebelum pemerintah mengumumkan semua tempat ibadah harus ditutup di bawah perintah lockdown.

Seperti mengutip laman kompas.com berjudul “Ramadhan di Tengah Pandemi Corona, Persiapan Muslim di Inggris Beribadah Saat Lockdown”, Dewan Penasihat Nasional Masjid dan Imam mengatakan tempat ibadah umat Islam akan tetap ditutup selama bulan Ramadhan hingga lockdown berakhir.

“Sangat tidak tepat untuk berjemaah shalat Tarawih atau mengadakan pertemuan keagamaan selama bulan Ramadhan ini di setiap masjid atau rumah dengan orang-orang yang bukan anggota keluarga,” kata Qari Asim MBE, seorang imam Leeds dan Ketua Dewan Penasihat Nasional Masjid.

Selama pandemi, keinginan untuk menyelamatkan nyawa harus didahulukan dibanding keinginan untuk melakukan shalat berjemaah.

Menurut Asim, kemungkinan akan ada sekelompok kecil orang yang mencoba untuk mengadakan buka puasa atau shalat Tarawih berjemaah di rumah mereka. “Pesan saya kepada mereka adalah keegoisan tidak memiliki tempat di hadapan Allah,” ujarnya.

Dia juga memperingatkan bahwa kelompok sayap kanan ekstrem akan berusaha menggunakan pandemi untuk menciptakan perpecahan dan mengkambinghitamkan umat Muslim untuk penyebaran virus.

Pentingnya memanfaatkan teknologi

Platform Digital Video Conference “Zoom” menjadi solusi bagi keterpisahan jarak. IST

Salah satu tantangan menghadapi situasi lockdown atau social distancing di bulan suci adalah bagaimana tetap menjaga antusiasme beribadah. Kelezatan beribadah pasti akan terasa berkurang tanpa kehadiran fisik di tempat-tempat ibadah atau suasana silaturahmi nan penuh keakraban di majelis-majelis taklim.

Namun dengan memanfaatkan teknologi, masalah-masalah keterpisahan ini sesungguhnya bisa diatasi. Ritus ibadah selama ramadhan seperti kajian dan pembacaan Al-Qur’an di malam hari (tadarus) bisa dilakukan secara online.

Masjid-masjid bisa mengambil peran sebagai media untuk menyiarkan ceramah dan doa, menawarkan konseling online dan mengorganisir umat Islam untuk berbagi (bersedekah) dengan membagikan makanan kepada masyarakat yang kurang mampu atau tenaga medis yang berjuang mati-matian mengatasi pandemi corona.

Sementara ritual-ritual lainnya seperti penggalangan zakat dan buka puasa bersama juga bisa dilakukan melalui platform digital. Di tanah air, platform digital “Zoom” telah banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana komunikasi untuk video conference seperti meeting, konsultasi, pengajaran atau kursus secara online.

Menyalakan lilin

Suara riuh canda anak-anak yang berlarian di langgar atau masjid seusai sholat Tarawih mungkin tak terdengar lagi. Alih-alih meramaikan masjid, anak-anak akan memilih melewatkan ramadhan di rumah bersama keluarga. Suasana ramadhan tahun ini tentu akan terasa berbeda, namun jika iman dan keyakinan itu menetap di hati, maka jarak dan batasan fisik bukanlah kendala. Masih ada banyak cara untuk tetap khusyuk beribadah, dengan sedikit membuka pikiran dan meluaskan cara pandang.

“Bukankah lebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuk kegelapan…”

(Milesia.id/Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close