Milebisnis

“Isu Penerbitan Uang Digital Ala Tiongkok, Asumsi dan Realita”

Tak Sepenuhnya Tergantung Blockchain, Diklaim Bantu Sektor Ritel

Oleh: Martino Wibowo, Ph.D.

 

Martino Wibowo (Dok.Pribadi)

Disela guyuran pemberitaan Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, isu kemunculan uang digital dari Tiongkok belakangan ini cukup menarik perhatian. Terlebih di kalangan pemerhati dan praktisi transaksi elektronik. Hal itu menyusul apa yang dikemukakan Kepala Departemen Teknologi PBoC Li Wei, dalam sebuah forum di Shanghai, seperti dikutip dari Reuters (28/10/2019). Padahal, penggunaan mata uang elektronik di China seperti Bitcoin dan cryptocurrency lainnya, selama ini sangat dilarang.

Mata uang digital ini dianggap bisa merusak stabilitas sistem keuangan jika terjadi sesuatu. Karena mata uang kripto seperti Bitcoin dan sejenisnya juga tak dijamin dan terdaftar di bank sentral China. Adapun Bank Sentral China berencana menerbitkan uang digital sendiri.

Mu Changchun : “Tak sepenuhnya tergantung Blockchain dan bisa bantu ritel” (IST-Caixinnglobal)

PBOC mengkonfirmasi tinggal selangkah lagi menerbitkan uang digital yang akan dioperasikan oleh WeChat, China Union Pay, Ant Financial. Deputy Payment PBoC Mu Changchun mengatakan, uang dijital ini tidak akan meniru cryptocurrency yang ada di pasar. Strukturnya akan lebih kompleks.

Mata uang digital ini akan bergantung pada perpecahan dua tingkat, dengan PBoC berada di tingkatan teratas dan bank komersial lainnya berada di bawah. Teknologi ini juga tidak sepenuhnya bergantung pada blockchain tetapi bisa membantu sektor ritel, ujar Mu Changchun seperti dikutip dari Engadget. Uang digital ini akan menggantikan uang tunai yang beredar bukan M2, uang untuk penyaluran kredit dan investasi dan berdampak pada kebijakan moneter.

Sejatinya, langkah China menggunakan uang digital ini kemungkinan berkaca pada dampak Corona virus yang mewabah di negaranya dan dunia, dan pentingnya uang digital untuk transaksi dan membantu keuangan usaha kecil menengahnya. Pada dasarnya uang digital harus mempunyai blockchain dan ini sangat beresiko jika tidak memiliki enkripsi yang kuat untuk mengamankannya.

Kasus-kasus penipuan one coin oleh Dr.Ruja Ignatova atau pencurian uang digital dengan cara hacking pada Bitcoin salah satunya. Dari sisi pasar kripto, harus ada exchanger resmi dan diakui oleh pemerintah masing-masing negara. Apabila exchanger saat ini masih belum teregulasi, maka protokolnya juga rentan terhadap serangan siber.

Tidak ada standardisasi pemenuhan kelayakan meski terenskripsi secara ketat, padahal untuk menjamin keamanan konsumen hal ini mutlak harus ada.  Selain itu dasar-dasar nilai mata uangnya juga masih asumtif tidak deterministik seperti mata uang fiat. Bitcoin sendiri sempat naik hingga diatas 100% karena kebijakan negara Jepang yang pro bitcoin dan nilainya bisa juga turun drastis hanya hitungan hari.

Begitu pun dengan mata uang digital seperti Ripple, Ethereum dan semacamnya. Namun fluktuasinya sangatlah besar jika ada pencurian karena exchanger belum ada yang resmi dan bisa mempertanggungjawabkan.

Sesungguhnya platform Bitcoin cita rasa Tiongkok tersebut adalah bukan murni hard digital money, tetapi uang digital yang di back up oleh fiat money atau mungkin soft digital money macam tencent Q money atau e- gold. Harus dicek dan dievaluasi lebih jauh dulu, nanti jangan-jangan  jatuhnya hanya semacam wallet macam e-money atau flazz yang dikeluarkan beberapa bank komersial di Indonesia tapi dibawah satu payung bank sentral China (PBOC) namun tidak boleh ditransaksikan sebagai investasi atau hanya sekedar alat tukar saja, seperti yang pernah di kutip dalam wawancara wartawan senior amerika Max Keisser dalam Kitco News.

Memang belum pasti benar, sebab zaman dulu goldbase standard juga akhirnya bisa berubah menjadi fiat standard sejak Bretton Woods berakhir. Apalagi China saat ini memiliki supercomputer seperti Tianjin yang mampu beroperasi dengan kecepatan lebih dari 2500 petaflops yang mumpuni untuk mendukung infrastruktur keamanan blockchain dan keamanan enkripsi digital currencynya.

Sejauh pengamatan penulis, digital money China ini sepertinya masih test the water untuk men-tap down USD dan mengantisipasi di launching nya Libra cryptocurrency oleh facebook company, yang menyatakan akan mem back up dengan underlying asset.

Karenanya sungguh aneh dengan pernyataan China yang mengatakan uang kripto ini diback up dengan 20 ribu ton emas, sedang fiatnya sendiri tidak di back up. Pertanyaan berikutnya adalah, e-wallet yang dipakai apa? Jika memang menjadi mata uang digital seharusnya wallet yang umum dipakai di dunia semacam Skrill, Paypal atau yang terbesar seperti VISA atau Mastercard harusnya sudah memakai mata uang digital ini. Bukan hanya wallet sekelas Alipay atau Tencent Wechat  meski ada dukungan Binance dan Agricultural Bank of China sekalipun.

Sekarang yang jadi pertanyaan adalah, kira-kira mata uang Tiongkok ini di posisi mana dalam currency taxonomy dan bagaimana transmisi moneternya? Semoga ini bisa diperjelas oleh PBOC. Bukan sekedar kabar angin yang membuat gempar jagad transaksi moneter dan bagi pelaku ekonomi yang sekiranya akan memiliki ketertarikan untuk bertransaksi dengan mata uang tersebut karena faktor simplicitynya.

Apa dampaknya bagi Indonesia? Jika sebatas asumsi ya, mungkin bisa berdampak untuk transaksi yang berhubungan dengan Tiongkok saja. Dampak ke Indonesia tidak begitu signifikan. Karen uang digital China seperti yang dikutip dalam laman Business Times juga tidak bisa dispekulasikan dan mungkin sebatas untuk transaksi saja sebab tidak disupport dengan pertukaran uang asing.

Gold based monetary saat ini memang sangat diminati hampir semua kalangan. Tetapi untuk currency based electronic suka tidak suka dapat dipastikan basisnya adalah keamanan data. Maaf kata, andaipun di backup bergunung-gunung emas, jika masih ada pencuri dan terjadi fraud orang berpikir dua kali. ini yang terjadi pada bitcoin, Ripple, Ethereum dan mata uang kripto lainnya.

Kita semua sudah mahfum dengan jargon “everything can be made in China. Dimana saya pribadi dulu sempat satu kelas dengan mahasiswa dari China. Jika berbelanja, ia cukup memakai smartphone, padahal itu dilakukan di negara lain. Berbicara dengan penjual juga memakai handphone dengan fasilitas dictionary. “In China, the miracle and the risk are saturated and incorporated in one basket”.

Dahlan Iskan di awal tulisannya mengenai mata uang digital Tiongkok ini, juga sempat memantik kontroversi, terlebih bagi yang belum sepenuhnya memahami kalimat yang disampaikan. Meskipun dalam hal ini, penulis kurang setuju jika mata uang digital ini akan menggantikan sepenuhnya uang fiat.

Sepertinya inti yang Dahlan sampaikan adalah, jangan mudah terkejut dengan hal yang baru, karena uang digital akan bisa jadi nyata di masa depan! Atau meminjam ucapan  almarhum Pak Harto yang menyitir  falsafah Jawa : “ojo gumunan”, jangan gampang kaget. Kalau toh itu benar, maka ucapkan saja “Selamat datang era uang digital!”. Selamat datang one world currency! Selamat datang disrupsi keuangan! Sungguh ngeri-ngeri sedap!

Penulis adalah Dosen Tetap STIE GICI – lulusan Ph.D. dengan konsentrasi digital economics, e- management and survival economics.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close