KOLOM

Obat Mujarab “Kanker” Koperasi Kita : Optimisme Kaum Muda

Oleh : Robby Tulus *)

Robby Tulus (Dok.Pribadi/Milesia.id)

Kajian-kajian unggul dari pemikir dan pegiat koperasi memang harus masuk kuping kanan dan kiri para pembuat kebijakan perekonomian nasional untuk diserap otak mereka. Jangan masuk kuping kanan lalu langsung keluar dari kuping kiri.

Jika secara metaforis Indonesia sudah terkena penyakit kanker, maka ada dua alternatif yang bisa diambil. Pertama, segera sadar bahwa masih ada kehidupan setelah kanker mulai terdeteksi, dan bangkitkan semangat dan optimisme untuk hidup kembali. Kedua, sekedar pasrah pada kemampuan obat, jalan terus seperti biasa dan mati pelan pelan. Metafor ini saya angkat karena pengalaman pribadi saya belum lama ini yang melekat kuat dalam bathin.

Obat kanker yang paling mujarab adalah semangat untuk melawan sel-sel rusak dengan sel-sel yang masih segar, dan sel segar adalah optimisme dan kekuatan bathiniah kita. Dua optimisme yang saya amati bisa menghilangkan sel-sel yang sudah rusak:

  1. KAUM MUDA, yang sadar akan penyakit yang mematikan ini sebelum dia menjalar ke kelenjar kelenjar lainnya. Akar penyakit yang harus dilawan adalah “DUIT” haram yang bisa dipakai untuk merusak sel-sel yang masih segar menjadi rusak lalu dibiarkan menjalar. Kaum elit (dan yang sudah established) akan tetap memanfaatkan sistem kapitalistik ini secara sistemik dan optimal untuk merusak sel-sel kanker tersembunyi yang ada di tubuh setiap orang. Hanya KAUM MUDA yang masih optimis yang bisa membangun countervailing system dengan memberdayakan kaum tertinggal, ibarat memperbanyak sel-sel segar di dalam tubuh kita.
  2. Mulai berkembangnya SEL-SEL SEGAR (meski masih terbatas) di Indonesia yang bisa memerangi sel jahat; sel segar yang dimaksud adalah praktek-praktek demokrasi ekonomi di akar rumput dengan trickle up policy yang bisa menjadi cikal bakal perubahan sosek; Perjuangan sel segar ini haruslah konsisten dan berkelanjutan. Contoh di Kanada: (2.1.) Desjardins Movement di Kanada membutuhkan waktu 110 tahun sehingga bisa menyaingi perbankan di tingkat nasional. Vancity Credit Union membutuhkan waktu 60 tahun sehingga menjadi value-based economic system di propinsi British Columbia, dimana 1 dari 3 orang menjadi anggota “PEMILIK/PENGGUNA’ dari kedua sistem ini. (2.2.) New Generation Co-op di US dan Kanada harus mengubah sistem mereka untuk bisa memobilisasi modal secukupnya agar di sektor pertanian mereka masih bisa menjadi countervailing power terhadap (meskipun tidak bisa bersaing dengan) kartel-kartel pertanian raksasa seperti Cargill, Monsanto, dsb. Sebuah “uphill battle” yang tiada hentinya.
IST/Milesia.id

Memang, kapitalisme percaya bahwa mereka sudah “Too big to Fail“, seperti halnya pintu bergulir (revolving door) yang melestarikan oligarki dengan memakai rating system. “Rating Agencies” menjadi maha kuasa, sebab mereka menentukan siapa yang kuat dan siapa yang lemah. Untuk melawan semua itu bukan hanya dibutuhkan trickle up system yang “memeratakan” saja, namun dibutuhkan juga “KESABARAN dan KONSISTENSI”. VISI perubahan sosial-ekonomi (dan secara implikatif tentunya politik juga) tidak bisa berjangka pendek. Itulah tantangan Kaum Koperasiwan Muda kita sekarang.

*) Aktivis Koperasi, Pernah bergiat di ICA Asia Pacific, tinggal di Canada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close