Mileslitera
Trending

Mari Berbincang di “Rumah Ilalang”

Bincang-Bincang Sastra Edisi 173

Semuanya seperti rumah yang dibangun dari ilalang. Rapuh. Mudah terbakar dan diterbangkan angin.

( “Rumah Ilalang”, Stebby Julionatan )

MILESIA.ID, JOGJA – Studio Pertunjukan Sastra kembali hadir dengan acara Bincang-Bincang Sastra yang telah menginjak edisi 173. Mengusung tajuk “Bincang Novela Rumah Ilalang Karya Stebby Julionatan”, acara ini akan digelar pada Sabtu, 22 Februari 2020 pukul 20.00 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta. Hadir sebagai pembicara, Stebby Julionatan dan Asef Saeful Anwar serta akan dimoderatori Ilham Rabbani. Tak ketinggalan akan disajikan pembacaan nukilan novela oleh Agung Wicaksana.

Jenazah Waria yang ditolak Semua ‘Agama’

Bincang-bincang Sastra Edisi 173. IST/SPS

Selepas kematian Tabita, Tania tampak begitu terpukul. Jenazah Tabita tak bisa dimakamkan. Ia ditolak di mana pun. Tidak di pemakaman muslim, maupun hanya untuk mendapatkan pelayanan kematian dari gereja. Kolom agama di KTP Tabita memang Islam, tapi di tahun-tahun akhir hidupnya, banyak orang yang melihat Tabita rutin mengikuti misa Minggu. Pelayanan kematian itu tak dapat diberikan karena–meski Tabita rajin mengikuti misa, tak sekalipun ia terdaftar sebagai warga jemaat. Terlebih, ia adalah seorang waria.

Nukilan di atas adalah gambaran singkat “Novela Rumah Ilalang” karya sastrawan asal Probolinggo, Stebby Julionatan. Novela ini adalah salah satu dari 12 naskah pemenang lomba novela yang diadakan oleh Penerbit Basabasi. Stebby mengangkat tema isu agama juga orientasi seksual dan identitas gender. Belum banyak sastrawan Indonesia yang berani mengangkat tema sensitif ini secara terbuka.

Prof. Djoko Saryono, Guru Besar Universitas Negeri Malang, dalam status facebook-nya pun mengatakan bahwa Rumah Ilalang adalah karya yang berani menggunakan bahasa jujur dan tidak memakai pupur bahasa yang hanya menyamarkan fenomena.

Seperti mengutip laman timesindonesia, Prof Djoko menyebut Stebby tak terjerumus dalam kubangan “munafik-isme” yang penuh basa-basi sehingga kesulitan mencapai dasar persoalan.

Novela Rumah Ilalang dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia dalam memandang sesuatu yang dianggap sebagai minoritas di tengah mayoritas,” ujar Aji Bayu Setiawan, koordinator acara ini.

Stebby Julionatan sendiri merupakan sastrawan yang cukup produktif menerbitkan beberapa karya di media massa dan telah menghasilkan sejumlah buku. Buku-bukunya yang sudah terbit selain Rumah Ilalang yakni, LAN (2011), Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali (2012), dan Di Kota Tuhan (2018). Sastrawan yang bekerja sebagai staf bagian informasi di Dinas Komunikasi dan Informatika, Kota Probolinggo, Jawa Timur ini  juga aktif bergiat di Dewan Kesenian Kota Probolinggo dan di Komunitas Menulis (Komunlis) yang dibentuknya pada tahun 2010. Aktivitasnya di bidang literasi tak tanggung-tanggung, melaui Komunlis pada tahun 2015, Stebby menyelenggarakan program Komunlis Goes to School.

“Novela karya Stebby ini memiliki warna tersendiri di dalam khazanah sastra Indonesia. Satu isu yang membutuhkan ruang gerak dan ruang diskusi yang lebih luas untuk memahaminya. Untuk itu, mari kita membaca buku ini dan berbincang bersama,” pungkas Bayu.

(Milesia.id/ Sukandar S.Hut, Bayu Aji Setiawan/Kelik N)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close