DINAMIKA

“Lagi, Korban Meninggal Tergigit Ular Berbisa, Indonesia Butuh Poison Center”

Setelah lima hari terbaring koma akibat gigitan ular berbisa, Adila Oktavia (4), bocah perempuan yang sedang lucu-lucunya itu akhirnya kembali dalam pelukan penciptaNya, kemarin (12/2) malam.

Adila, putri pasangan Rusmiyati dan Mukmin, asal Desa Pamengkang, Mundu, Kabupaten Cirebon, sebelumnya sempat dirawat di RS terdekat sebelum dirujuk  di RS Daerah Gunung Jati, Cirebon, sejak Sabtu (8/2) lalu.

Mengacu catatan Snakebite Accident Indonesia (SAI), satu-satunya platform media sosial yang intens memantau, mencatat, dan menjembatani antara korban gigitan ular berbisa dengan kalangan medis sesuai standar WHO, Adila adalah korban meninggal ke 7 dalam kasus gigitan ular berbisa sampai paruh Februari tahun ini.

“Hingga Februari ini, dari yang terdata tercatat 7 orang meninggal dunia. Enam korban tersebar di Jawa Barat dan 1 orang di Kalimantan Timur. Tiga korban diantaranya anak-anak,” papar Herlina Agustin, salah seorang eksponen SAI kepada Milesia.id, Kamis (13/2). Sebagai pembanding, tahun lalu, SAI dan RECS mencatat 52 orang meninggal dunia dalam kasus yang sama.

Ular yang menggigit Adila (Dok.SAI)

Penelusuran Milesia.id, Adila yang diberitakan digigit ular welang (Bungarus candidus) saat tengah tidur, merupakan korban termuda sejauh ini. Keluarga korban dipastikan belum mengetahui pertolongan pertama yang benar pada gigitan ular berbisa, yakni dengan teknik imobilisasi. Meminimalkan gerakan tubuh dengan pembidaian, yang merupakan standar penanganan pertolongan pertama pada gigitan ular berbisa versi WHO.

Diketahui, orang tua Adila masih menerapkan cara lama dengan menghisap darah di area luka bekas gigitan dan mengikatnya. Cara-cara tersebut, termasuk incisii, torniquet, penggunaan herbal dan cara mistis lainnya, tidak lagi direkomendasikan dan sudah lama ditinggalkan sebab berpotensi memperburuk kondisi korban.

 

Perlunya Poison Center

Adila kecil sudah berpulang, tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk membuatnya kembali. Paling penting adalah mengupayakan agar kasus serupa tak terulang lagi. “Kita bisa belajar dari kasus Lembata, ketika seorang anak korban gigitan ular berbisa tinggi yang praktis diprediksi tak akan tertolong lagi, nyatanya berhasil hidup dan sembuh berkat penanganan medis yang benar dan antibisa yang tepat,” papar pakar gigitan ular berbisa Dr. dr. Tri Maharani, kepada Milesia.id, Kamis (13/2).

Seperti diketahui, pekan ketiga Januari lalu, Martinus (12), seorang remaja asal Kabupaten Lembata , Nusa Tenggara Timur (NTT), selamat dari gigitan ular Daboia siamensis yang dikenal berbisa mematikan dan tak ada antibisanya di Indonesia.

Pelatihan Snakebites Management in Disaster (Foto . Muhammad Iqbal El Mubaraq/IDI)

Maharani berkisah, tak mudah untuk menangani kasus Martinus, ia harus terbang ke Thailand dengan biaya sendiri demi mendapatkan antibisa monovalent melalui koleganya di Thailand. Begitu antibisa didapat, Maharani tanpa sempat menginap, kembali terbang ke Jakarta dan lanjut terbang ke Lembata. “Berat memang, setelahnya saya sempat sakit karena kelelahan. Tapi itu satu-satunya cara agar Martinus bisa diselamatkan, saya ikhlas melakukan hal itu. Ini memang mukjizat Tuhan,” papar Maharani.

Pontang-panting untuk mendapatkan anti bisa ular yang tepat bukan kali ini saja dilakukan Maharani, ia sudah beberapa kali melakukan hal serupa. Sungguh sangat merepotkan. “Karenanya sudah saatnya Indonesia memiliki Poison Center, yang memungkinkan melibatkan melibatkan banyak pihak untuk bersama-sama mengatasi persoalan ini,” papar Maharani.

DR. dr. Tri Maharani, Sp.EM (Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Presiden Toxinology of Indonesia ini lantas mencontohkan Taiwan dan Thailand yang sukses menekan dampak fatal kasus-kasus gigitan ular berbisa berkat kehadiran Poison Center di negara masing-masing.

“Beberapa negara siap membantu mewujudkan Indonesia Poison Center. Diantaranya Taiwan dengan Taiwan Poison Center, dan Thailand melalui Mahidol University serta Queen Saovabha Memorial Institute, yang sudah berpengalaman sejak 1920an,” terang Maharani.

Taiwan, misalnya, menjadikan Poison Center sebagai pusat informasi dan training toksikologi dan toksinologi (racun/bisa dari satwa berbisa), serta pusat riset, laboratorium dan rumah sakit khusus. Riset juga mengacu pada peralatan medis untuk mengidentifikasi tipe-tipe venom dari setiap variasi ular berbisa yang menggigit tubuh korban.

Hasilnya, Taiwan sangat mumpuni dalam memitigasi kasus-kasus gigitan ular berbisa. Di samping itu, riset yang canggih dan intensif memungkinkan Taiwan memiliki data, peta, dan sebaran geografis yang lengkap ihwal populasi dan jenis-jenis ular berikut antivenom dan rumah sakit rujukannya di seluruh wilayah negara itu.  Kerjasama antara pemerintah, kalangan medis dan ilmuwan setempat sangat bagus. “Setiap tahun di poison center diadakan pertemuan ilmiah toksinologi. Termasuk training dan magang para ahli serta pendidikan, riset untuk S2, S3 dan spesialis toksinologi. Lalu riset antivenom dan memproduksi deteksi kit”.

Adapun Thailand, poison center setempat selain difungsikan sebagai tempat edukasi dan training, juga pusat informasi 24 jam. Tradisi riset dan produksi antivenom setempat juga mumpuni. Mereka sukses memproduksi serum anti bisa ular monovalent untuk berbagai spesies ular berbisa yang di Indonesia belum mampu memproduksinya.

“Di Thailand poison center menstorage semua antivenom. Jadi, jika butuh antivenom tinggal mengontak poison center. Terutama antivenom dan antidote yang tidak ada di Thailand. Poison center memegang perannya sebagai pusat antidote dan antivenom. Saya membayangkan negara sebesar Indonesia mampu seperti itu. Beberapa serum antivenom bisa dibelikan dan ditaruh di poison center, nanti jika butuh tinggal ambil dan biayanya dicover BPJS,” terang Maharani.

Poison Center Indonesia, menurut Maharani, untuk sebuah awal tidak perlu membangun RS khusus seperti di Taiwan, tapi kita bisa menggandeng RS mitra. Misalnya RS Sulianti Saroso dan RS Hasan Sadikin di Bandung.

Poison center dapat membantu Pemerintah dan tidak memberatkan Kementerian Kesehatan. “Selama ini program terkait toksinologi dan toksikologi bingung mau ‘dicantolkan’ di mana. Saya sangat berharap Indonesia bisa memulainya. Menimbang urgensinya, saya siap membantu menginisiasi poison center tanpa dibayar. Cukup beri satu ruangan kantor poison center. Nanti RECS serta Indonesia toxinology dilebur dan jadi milik pemerintah,” pungkas Maharani.

                                              Prio Penangsang/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close