ANALISAMileseducation
Trending

Tips Mendidik Anak Agar Tak Sekedar “Pintar Menghafal”

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.” – Tan Malaka

MILESIA.ID, JOGJA – Menjelang akhir 2019, para pembantu Jokowi di pemerintahan jilid 2 telah rampung ditetapkan. Presiden menamai formasi menterinya dengan sebutan “Kabinet Indonesia Maju”. Harapan untuk mewujudkan Indonesia maju itu secara nyata disambut oleh Nadiem Makarim. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu membuat gebrakan dengan menganulir Ujian Nasional (UN).

Pro-kontra penghapusan Ujian Nasional (UN) mengemuka ketika Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla menyampaikan keberatannya. Beliau menyangsikan kebijakan mantan bos Gojek itu. Jika UN dihapuskan maka pendidikan Indonesia akan kembali pada saat UN belum diberlakukan (sebelum tahun 2003). Saat itu, tak ada standar mutu pendidikan nasional. Sekolah-sekolah menggunakan rumus “dongkrakan”, sehingga hampir semua siswa diluluskan.

Nadiem segera menjawab kritik Jusuf Kalla dengan menyampaikan uraian gagasannya. Menurutnya perubahan sistem UN menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter justru lebih menchallenge pegiat pendidikan. Siswa dan sekolah akan menjadi lebih tertantang.

Mas Menteri Nadiem Makarim menyampaikan empat program pembelajaran nasional bernama “Merdeka Belajar”. IST

Secara umum Nadiem menetapkan empat program pembelajaran nasional, ia menyebutnya sebagai kebijakan pendidikan “Merdeka Belajar”. Program pendidikan itu meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi. Empat program pokok kebijakan pendidikan itu menjadi arah pembelajaran ke depan yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Untuk Ujian Nasional (UN) akan diganti dengan assessment kompetensi di tahun 2021. Nadiem menyebut, setelah sistem ujian baru ini diterapkan, pihak sekolah harus mulai menerapkan pembelajaran yang sesungguhnya. Yaitu pembelajaran yang menekankan pada pentingnya penalaran (pemahaman) dan bukan sekedar penghafalan semata.

Penekanan Menteri Pendidikan pada penalaran siswa menjadi jawaban atas realita pendidikan selama ini . Kurikulum pendidikan dasar kita memang menjejalkan sebanyak mungkin pengetahuan kepada anak sejak dini. Begitu banyaknya hingga guru pun tak sanggup membangun pemahaman atas setiap subjek pelajaran. Akhirnya dipilih jalan pintas, hafalkan saja.

Terlalu banyak informasi melebihi porsinya pada akhirnya membuat anak-anak jauh dari kata ‘paham’. Beberapa sekolah berbasis agama mentargetkan anak-anak mampu menghafal sekian Juz Al Qur’an dalam waktu singkat. Dan terkadang, para orangtua merasa bangga ketika anaknya bisa menghafal dengan cepat, menjadi hafiz, menghafal Al Qur’an sejak dini sekali. Padahal beban anak tak cukup sampai di situ, kurikulum masih menuntut mereka menghafal pengetahuan umum, bahasa atau rumus-rumus matematika yang tak selalu mulus dicerna otak muda mereka.

Fenomena Hafalan

Ilustrasi otak anak-anak yang dijejali dengan bermacam hafalan. IST

Lalu efektifkah mengajarkan hafalan sejak dini? Menghafal sendiri adalah proses menempatkan informasi ke dalam ingatan (memori). Mengubah informasi menjadi kode dalam proses penyimpanan, alias coding. Bila diperlukan, informasi ini bisa ditarik kembali, diubah kodenya sehingga menjadi format asal. Dan menghafal umumnya berbasis pada bunyi yang dihasilkan secara oral.

Menurut Hasanudin Adurakhman dalam tulisannya berjudul “Menghafal itu Bukan Belajar”, sistem hafalan ini akhirnya terkait dengan pola ujian atau tes di sekolah-sekolah kita. Ujian berbasis pilihan ganda, satu jawaban untuk satu pertanyaan. Cara paling gampang menggarap soal model ini adalah menghafal. Kita tidak menyediakan ruang memadai untuk eksplorasi dan argumentasi dalam sistem tes. Selain hanya menyediakan satu jawaban untuk satu persoalan, sistem hafalan tidak membangun hubungan antar informasi yang disimpan.

Banyak orangtua terjebak pada mitos keliru kalau anak menghafal sejak dini mereka akan ingat seumur hidup. Nyatanya anak-anak bisa lupa, kecuali terus menerus melakukan pengulangan. Persis seperti orang melakukan latihan fisik. Kalau rajin melakukan latihan beban secara berulang, maka otot akan membesar. Otot itu ibarat “memori” yang menandai aktivitas tadi. Menghafal sama dengan memberi tanda pada otak kita. Konsekuensinya, bila prosesnya dihentikan, maka secara perlahan tanda itu akan hilang, dan kita pun lupa.

Pentingnya Pemahaman

Anak-anak ibarat kertas putih kosong. IST

John Locke (1632-1704), filsuf kelahiran Inggris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan empirisme menyebut kurikulum pendidikan di sekolah harus diarahkan demi kecerdasan individual, kemampuan dan keistimewaan anak-anak dalam menguasai pengetahuan.

Salah satu pemikiran Locke yang paling berpengaruh adalah tentang proses manusia mendapatkan pengetahuan. Menurutnya, seluruh pengetahuan yang diperoleh manusia bersumber dari pengalaman. Pandangan empirisme ini menolak pendapat kaum rasionalis yang mengatakan sumber pengetahuan manusia berasal dari rasio atau pikiran manusia. Meskipun demikian, rasio atau pikiran berperan juga di dalam proses manusia memperoleh pengetahuan.

Locke berpendapat bahwa sebelum seorang manusia mengalami sesuatu, pikiran atau rasio manusia itu belum berfungsi atau masih kosong. Situasi ini diibaratkan seperti “kertas putih” yang kemudian terdapat coretan yang isinya berasal dari pengalaman yang dijalani oleh manusia. Rasio manusia hanya berfungsi untuk mengolah pengalaman-pengalaman manusia. Sehingga menurut Locke,  sumber utama pengetahuan adalah pengalaman.

Serupa “kertas putih” kosong, anak-anak memang bisa menghafal dengan cepat karena ingatan mereka masih segar. Tapi tugas kita sebenarnya bukan menjejali mereka dengan hafalan. Tugas kita semestinya memanfaatkan masa ‘emas’ itu untuk menciptakan ruang-ruang bagi fondasi ‘pemahaman’ sebanyak mungkin, agar mereka lebih mudah menyerap informasi pada tahap selanjutnya.

Menurut W.J.S Poerwodarminto (Badriyah, 2011), pemahaman (comprehension) berasal dari kata “Paham” yang  berarti “mengerti benar tentang sesuatu hal”. Sedangkan pemahaman adalah proses, perbuatan, atau cara memahami sesuatu. Proses belajar anak-anak adalah upaya memperoleh pemahaman. Seseorang dikatakan mengerti benar terhadap suatu konsep jika ia mampu menjelaskan kembali dan menarik kesimpulan terhadap konsep itu.

Contoh riil dalam dunia pendidikan, seringkali anak-anak hanya menghafalkan definisi sebuah konsep tanpa memperhatikan hubungan antar konsep. Sehingga ketika anak-anak menghafal konsep baru, maka konsep itu tidak masuk dalam jaringan konsep yang telah ada. Konsep baru ini berdiri sendiri tanpa hubungan dengan konsep lainnya. Maka konsep yang baru itu tak dapat digunakan dan tidak “mempunyai arti”. Misalnya, jika anak hanya menghafalkan “luas” suatu bentuk geometri, anak-anak belum tahu apa-apa dan belum mampu menggunakan pengetahuannya.

Sementara Prof. Drs. Anas Sudijono mendefinisikan pemahaman sebagai kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan dan hafalan.

Expert lainnya, Anderson et al memilah pemahaman menjadi 7 (tujuh) jenis, yaitu interpreting (menginterpretasikan), exemplifying (memberikan contoh), classifying (mengklasifikasikan), summarizing (meringkas), inferring (menyimpulkan), comparing (membandingkan), serta explaining (menjelaskan).

Mind Mapping: Tips Anak Cepat Memahami

Ilustrasi sederhana “mind mapping” (pemetaan pikiran). IST

Secara umum basis pemahaman akan melatih anak-anak berpikir global, melihat melalui beragam sudut pandang serta cerdik memetakan suatu permasalahan. Anak-anak bisa melihat sebab-akibat, memilah dan membuat skala prioritas, menyimpan informasi yang penting dan mengabaikan yang tak berguna. Sehingga anak-anak tidak menjadi stress karena penumpukan informasi.

Di kemudian hari saat dewasa, mereka akan terhindar dari ‘pemikiran sempit’ yang cenderung menajamkan segregasi serta berkutat pada metode ‘denial’ dalam membuat analisa seperti para penganut ajaran ‘konservatif’. Dengan menanamkan pondasi pemahaman sejak dini, anak-anak akan terbiasa berpikiran terbuka, mendalam dan cermat.

Lalu bagaimana cara mendidik pemahaman kepada anak?

Salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk mendidik pemahaman anak adalah menggunakan mind mapping (pemetaan pikiran). Metode yang diperkenalkan Tony Buzan, seorang ahli pengembangan potensi manusia dari Inggris tahun 1974 ini mencoba memaksimalkan potensi pikiran manusia dengan menggunakan otak kanan dan otak kirinya secara simultan.

Prinsip dasar metode ini adalah menggunakan teknik curah gagasan (brainstorming) dengan menggunakan kata kunci bebas, simbol, gambar, dan melukiskannya secara kesatuan di sekitar “Tema Utama” seperti pohon dengan akar, ranting, dan daun-daunnya. Tahap pertama setelah tema ditentukan dan kata kunci hasil curah gagasan dituliskan, dilukis, dan ditandai dengan warna atau simbol tertentu adalah menyusun ulang kata kunci tersebut. Kemudian proses curah gagasan diteruskan kembali secara bebas. Kata kunci yang digunakan disarankan hanya satu kata tunggal (wikipedia.com).

Metode mind mapping mempunyai beberapa kelebihan, seperti: mengingat secara detail, cepat menguasai materi sulit dengan menggunakan kata kunci, serta belajar lebih kreatif dan menyenangkan.

Selain mind mapping, para guru dan orangtua dapat memberikan pembelajaran “pemahaman” kepada anak dengan menggunakan teknik story telling, interaksi (focus grup), atau memanfaatkan teknologi pembelajaran seperti animasi lucu dan bergerak. Semua metode pembelajaran kiwari itu akan memberikan pola pemahaman yang lebih efektif kepada anak-anak dibanding cara pembelajaran konservatif. Sudah selayaknya anak dididik sesuai zamannya.

Dus, jika kemampuan memahami sangat dibutuhkan anak-anak, apakah kemampuan menghafal menjadi tidak penting? Tidak juga. Menghafal tetap punya beberapa sisi positif. Salah satunya, ia bisa menarik informasi dengan cepat dari memori. Saat berpikir membangun pemahaman, kecepatan ini bisa membantu. Namun yang harus diingat, menghafal harus diposisikan sebagai alat bantu proses belajar semata, bukan proses utama dalam belajar.

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto, dari berbagai sumber)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close