DINAMIKAMileslitera
Trending

Mengeja “Tipu Daya Yogya”

Bincang-bincang Sastra Edisi 172

Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan,” tapi berhati-hatilah

Karenahati Yogya hangat dan berbahaya…” (Joko Pinurbo)

MILESIA.ID, YOGYA – Membuka tahun 2020 ini, Studio Pertunjukan Sastra bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta kembali menggelar Bincang-bincang Sastra dengan tema “Tipu Daya Yogya”. Acara yang terbuka untuk umum dan gratis ini sedianya digelar Sabtu, 25 Januari 2020 pukul 20.00-23.00 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta.

Tak terasa, Bincang-bincang Sastra yang dihelat rutin setiap bulan sejak Oktober 2005 ini telah sampai pada edisi 172. Menandai perjalanan panjang itu, Studio Pertunjukan Sastra akan menampilkan para pembicara yang tak asing lagi di dunia sastra dan budaya tanah air. Mereka adalah Hairus Salim dan Iqbal Aji Daryono.

Akan tampil pula pembacaan puisi oleh Sutirman Eka Ardhana, Ulfatin Ch., Marwanto, Mutia Sukma, dan Hendrik Efriadi.

Tipu Daya Yogya

Bincang-bincang Sastra edisi 172. IST/SPS

Tajuk “Tipu Daya Yogya” merupakan perwujudan kegelisahan kita tentang Yogyakarta. Apakah kota ini telah menjadi “perangkap” yang “menjerat” penghuninya sehingga sulit untuk lepas dan keluar darinya? Pertanyaan yang kemudian mengemuka: Kita sendirilah yang terlena oleh tipu daya Yogya, atau Yogya yang terlena oleh tipu daya kita?

Tak dipungkiri, Yogyakarta telah menjadi rumah sendiri bagi setiap penghuninya. Banyak orang yang mula-mula datang dari kota-kota nun jauh untuk sekedar belajar, bekerja, menikah, mengontrak rumah, membeli tanah, membangun rumah, dan akhirnya menjadi penduduk baru yang berdampingan dengan penduduk lamanya.

Orang-orang merasa nyaman tinggal di Yogyakarta, bersua dengan habitus baru, orang-orang dengan satu pandangan ke depan sehingga sayang jika kekerabatan yang terbangun itu mesti ditinggalkan. Meski belakangan Yogya mulai tampil dengan wajah lainnya: aksi kriminalitas “klithih” para remaja, konvoi, kemacetan, juga beberapa kejadian intoleransi lainnya.

Jika Yogyakarta merupakan tanah kelahiran kedua, sebagai kampung halaman, pada akhirnya Yogyakarta pun akan ditinggalkan para penghuninya. Pada masanya mereka akan kembali ke kampung halaman pertama. Mungkin karena sejarah atau mitos masa lalu yang sudah terbangun demikian kokoh, tiada berhenti, terus-menerus generasi muda dari berbagai penjuru daerah di Indonesia bertandang, datang, dan tinggal menetap di Yogyakarta. Sesrawungan melahirkan segala kemungkinan, baik yang ada di dalam maupun yang datang dari luar. Penduduk awal dan penduduk yang datang kemudian dapat hidup berdampingan tanpa curiga dan prasangka.

Tanah Sastra

Joko Pinurbo. IST

Dalam wilayah sastra, Yogyakarta terus bergulir mengikuti alur perkembangan kiwari. Para sastrawan lahir dan tumbuh, lantas menetap dan terus berproses kreatif di kota ini. Karya-karya bernuansa Jogja lahir dari rahimnya. Sastrawan dari beragam penjuru tanah air itu pun kemudian telah menjadi Yogya.

Sejak masa awal kemerdekaan, Yogyakarta sebagai ibu kota Negara telah akrab sebagai tujuan banyak orang untuk datang. Sejak dekade 1950-an Yogyakarta telah menjadi tempat berpumpun (berhimpun) seniman dan sastrawan kemudian kita baca nama dan karyanya dalam buku sejarah sastra dan kebudayaan Indonesia. Jika diibaratkan sebagai pendapa, tak ada dinding penghalang bagi siapa saja yang hendak masuk ke dalamnya. Namun, orang-orang akan sulit keluar darinya.

Penyair Joko Pinurbo menyebut Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Penyair Iman Budhi Santosa menyebut di pangkuan Yogya aku terlahir kembali. Penyair Indrian Koto menyebut di kota ini, aku merasa kembali dilahirkan. Hanung Bramantyo menyebutkan bahwa Yogyakarta adalah ladang garapan, tempat orang-orang nenandur (bercocok tanam), bukan untuk dol tinuku (jual beli). Agaknya, Yogyakarta yang independen telah menumbuhkan etos kebudayaan dan etos kerja (makarya, berkarya) setiap masyarakatnya.

Hangat dan Berbahaya

Nafas Nol Kilometer Yogya di malam hari. IST

Tak bisa dipungkiri Yogyakarta begitu memiliki arti dan nilai penting bagi setiap penghuninya, termasuk bagi para sastrawan. Yogyakarta adalah satu tatanan yang aneh, yang tak bakal ditemui di daerah lain. Laku kehidupan yang lamban, syahdu, romantis, puitis bertemu dengan tatanan yang paradoks bahwa Yogyakarta macet, sumpek, tragis, dramatis. Apakah Yogyakarta adalah sebuah dunia ideal bagi para sastrawan, sehingga mereka bisa hidup —sekali lagi meminjam diksi Jokpin,  “alon-alon waton hepi”. Namun, perlu dicermati  —Jokpin juga mengingatkan kita, bahwa “hati Yogya hangat dan berbahaya…”

Lantas, apa yang membuat orang-orang betah tinggal di Yogyakarta? Padahal, tidak ada yang benar-benar menjanjikan dari Yogyakarta selain ungkapan berhati nyaman. Apakah kenyamanan di hati itu berupa banyaknya gelaran seminar, forum-forum diskusi, perlombaan-perlombaan, pemeran buku, acara baca puisi, kos-kosan yang bebas bagi sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, warung kopi serta mini market yang buka 24 jam?

Bagi yang sudah bekerja, entah mengapa dengan gaji pas-pasan orang-orang tetap bisa tersenyum bahkan tertawa cekakakan sambil ngopi dan ngrokok klempas-klempus di angkringan. Benarkah, mereka yang merasa terlahir kembali di Yogyakarta telah menjadi manusia yang tidak grusa-grusu, tidak kagetan, tidak gumunan, tidak sok-sokan, dan tidak untuk hal-hal yang njelehi lainnya? Banyak pertanyaan tentang Yogyakarta yang mudah tapi tidak gampang dijawab.

Menjadi sastrawan di Yogyakarta adalah satu pilihan yang terlampau suci, untuk tidak dikatakan naif. Menjadi mahasiswa selamanya di Yogyakarta rasa-rasanya juga terlalu wagu. Bekerja di Yogyakarta tentu saja hasilnya tak seberapa jika dibandingkan bekerja di kota-kota industri atau di ibu kota. Namun, entah mengapa banyak orang betah tinggal di Yogyakarta. Agaknya Yogyakarta telah membuat banyak orang terlena dan menjalani hidup dengan memegang falsafah gliyak-gliyak waton tumindak-nya.

Nafas Perubahan

Malioboro terus berbenah, karena tak ada yang mampu mencegah perubahan. IST

Yogyakarta merupakan daerah yang lekat dengan budaya dan tradisi Jawa. Yogyakarta yang terbuka membuat siapa saja dapat dengan gampang diterima menjadi wong Yogyakarta. Dialektika kultural bolak-balik menjadikan Yogyakarta benar-benar menjadi hunian yang nyaman. Sehingga tidak sulit bagi para sastrawan yang berasal dari luar Jawa bisa menyesuaikan diri di Yogyakarta dan kemudian menjadi Jawa. Walhasil, Yogyakarta menjadi ladang bagi tumbuh kembang kesenian tradisi dan kesenian modern —juga postmodern, berdampingan ditopang adanya sekolah, kampus, sanggar seni, dan komunitas-komunitas yang menjamur di punggung kota ini.

Maka tersebutlah nama Mahatmanto, Kirdjomuljo, Motinggo Boesje, Nasjah Djamin, Umar Kayam, Subagio Sastrowardoyo, Kuntowijoyo, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi W.M., Darmanto Jatman, Umbu Landu Paranggi, Iman Budhi Santosa, Linus Suryadi Ag., Emha Ainun Nadjib, Mustofa W. Hasyim, Suminto A. Sayuti, Hamdy Salad, Joko Pinurbo,  Dorothe Rosa Herliany, Joni Ariadinata, Agus Noor, Eka Kurniawan, Puthut EA, Gunawan Maryanto, Raudal Tanjung Banua, Hasta Indriyana, Indrian Koto, Mahfud Ikhwa dan banyak lagi yang lainnya.

Nama-nama yang bermunculan itu pun tak hanya harum di Yogyakarta, namun bahkan di arena sastra Nasional. Keberadaan Malioboro, Stasiun Tugu, Pasar Kembang, Senisono, lorong-lorong kampung, para mahasiswa, pedagang kaki lima, gelandangan, pencopet, tukang becak menjadi bahan baku bagi kelahirankarya sastra. Belum lagi suasana alam Yogyakarta yang romantis melankolis serta kehidupan yang dramatis dan tragis yang membentang mulai dari Suroloyo hingga Wediombo, dari Kaliurang hingga Parangtritis.

Dan benarlah, “tak ada yang mampu menghentikan perubahan”. Jantung kota ini -Malioboro- pun, terus berhias menjadi pusat perhatian lengkap dengan bangku-bangku malasnya. Warung-warung kopi melahirkan penyair-penyair yang gelisah. Jalanan yang macet dijejali bus-bus pariwisata, andong, becak motor, dan ojek online. Perubahan dunia di era globalisasi dengan kecanggihan zaman menuntut segalanya serba instan. Semua ini pasti berpengaruh pada kedalaman dan kedangkalan karya sastra yang lahir dari para sastrawan generasi kiwari.

Lalu benarkah (lah) Yogya telah menyihir kita…?

(Milesia.id/ Sukandar S.Hut, Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close