Life Style

Menyesap Filosofi “Arane” Kopi

Geliat Inovasi Bisnis Kopi dari Kaki Gunung Tanggamus

Di sepanjang jalan yang meliuk menuju Ulubelu, siang tak menawarkan terik. Jumat (18/1) Januari itu, berkendara menyusuri sebuah kecamatan di Kabupaten Tanggamus, Lampung, tak ubahnya menunggang roller coaster. Naik-turun, menikung tajam kekiri, lalu sejenak terbanting ke kanan. Sisanya adalah pesona : hampar sawah dan ladang menghijau, hawa sejuk, kanopi hutan yang relatif terjaga, juga wangi kebun-kebun kopi di kanan dan kiri.

Lansekap Gunung Tanggamus (Milesia.id/Prio P)

Nyaris dua jam berkendara dari Gisting, sebuah Kecamatan di kaki Tanggamus, Milesia.id mengunjungi Ulubelu untuk pesona terakhir itu : kebun kopi.

Ruas jalan umumnya beraspal cukup mulus. Beberapa bagian saja yang tampak terkelupas menyisakan lubang yang menuntut pengendara ekstra hati-hati di kawasan berketinggian antara 900 hingga 1.300 meter di atas permukaan laut itu.

Adalah Frederikus Dimas (30), anak muda kelahiran Gisting yang memiliki kegalauan kreatif di kepalanya. Ada ribuan petani kopi yang bisa diberdayakan dengan menaikkan performa produk mereka. “Selama ini, petani menjual kopi green bean tanpa diolah lebih lanjut. Harganya hanya menyentuh kisaran Rp 18 ribu per kilogram di tingkat tengkulak,” papar Dimas dengan nada prihatin. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, valuasi usaha kopi lereng Tanggamus itu bisa naik berlipat.

Fred. Dimas : Ikhtiar kembangkan wisata desa kopi (Milesia.id/Prio P)

Sebagai sebuah awal, tahun lalu Dimas membuka kedai kopi “Arane Kopi”, tepatnya di Jalan Raya Gisting No 754 Blok 1 Gisting Bawah. Berlokasi strategis, kafe didesain dengan fasad depan berupa instalasi bambu sebagai tiang-tiang penyangga. Memberi kesan alami dan terbuka.

Menu utama aneka racikan kopi single origin Tanggamus. Dengan suguhan live music secara periodik, menjadi lokasi kongkow anak-anak muda yang ingin menyesap nikmatnya kopi Tanggamus dalam beragam varian. Bagi yang datang dengan perut lapar, “Arane Kopi” menyediakan ayam geprek dan soto lezat sebagai kudapan berat.

“Arane Kopi” sekaligus didesain sebagai etalase aneka olahan kopi khas Tanggamus dan produk UKM lokal. Keripik pisang, keripik bayam, madu, gula semut dan gula jahe, adalah beberapa produk home industry setempat yang coba dikenalkan Dimas kepada pengunjung di kafenya.

Rintis Desa Wisata Kopi

Kabupaten dengan luas wilayah tak kurang dari 4,6 juta kilometer persegi yang berketinggian antara 0 hingga 2.115  meter di atas permukaan laut itu, memang diberkahi dengan klimat nan nyaman plus tanah subur bagi aneka komoditas hortikultura dan perkebunan. Butuh kreatifitas dan terus berinovasi agar potensi di daerah yang kaya destinasi wisata itu tak sia-sia. “Kami mencoba menginisiasi desa wisata kopi di Ulubelu,” terang anak muda low profile berkacamata itu dalam sebuah percakapan dengan Milesia.id, akhir pekan lalu.

Bupati Tanggamus menyesap “Arane” Kopi (Istimewa/Milesia.id)

Ulubelu merupakan satu dari 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Tanggamus. Selain memiliki area perkebunan kopi yang jembar, Ulubelu cukup dikenal dengan sejumlah destinasi wisata berbasis alam yang menarik. Diantaranya permandian air panas, air terjun, hingga danau hijau.

Lamat-lamat, ada sekeping idealisme yang coba diusung Dimas. “Harga jual kopi masih dikendalikan oleh tengkulak atau pedagang besar. Menjadikan mereka kurang memiliki posisi tawar,” terang Dimas. Lazimnya, petani setempat menjual kopi green bean kepada tengkulak atau pedagang perantara seharga Rp 18 ribu per kilogram.

Dimas lantas mencoba mengedukasi duapuluhan petani dengan mengajaknya untuk bermitra. “Syaratnya, proses dan pasca panen harus diubah. Kita menawarkan cara yang lebih baik untuk menaikkan harga jual kopi mereka,” Imbuh Dimas. Ia mendiversifikasi proses olahan kopi dalam setidaknya tiga kategori. Meliputi honey, wine, dan natural. Hasil proses honey dihargai Rp 30 ribu per kilogram, Natural Rp 35 ribu per kilogram, dan wine menyentuh angka Rp 90 ribu per kilogram.

Harus petik merah (Dok. F.Dimas/Milesia.id)

Bahan baku kopi, untuk hasil proses honey diracik dari biji kopi klon robusta Komari. Adapun bahan baku kopi Wine dan Natural diambil dari olahan kopi klon Tugu Sari. Ketiganya merupakan klon kopi khas Tanggamus. “Kami tak minta terlalu banyak, mereka bisa memasok 20 kilogram untuk ketiga kategori itu,” imbuh Dimas. Lainnya, Dimas membebaskan mereka untuk menjualnya kepada pihak manapun. “Ada potensi sebanyak 1.800 petani kopi yang bisa bergabung dengan kemitraan ini,” imbuh Dimas.

Kemitraan mutualis itu melibatkan tiga pihak. Meliputi Petani kopi, prosesor kopi, dan kedai kopi. Petani fokus menyediakan bahan baku kopi robusta Tanggamus bermutu. Prosesor kopi mendampingi para petani pasca panen, dan kedai kopi “Arane Kopi”, merupakan hilir dari dua pihak sebelumnya.

Merangkap sebagai Coffee Shop, “Arane Kopi” menawarkan Espresso, Coffee Latte, Vietnam Drip, V60, dan aneka racikan minuman turunan kopi. Termasuk kopi kemasan “Arane Kopi” yang dijual ke beberapa daerah di Indonesia dan Mancanegara. “Arane Kopi” juga bisa diperoleh di sejumlah market place.

Secara teknis budi daya, petani kopi di Kabupaten Tanggamus berpengalaman puluhan tahun. Bisnis kopi yang semakin kompetitif, meniscayakan petani memanfaatkan teknologi budidaya maupun pasca panen untuk menaikkan nilai produk mereka. “Para petani mitra kami membutuhkan sejumlah peralatan pemroses biji kopi agar kualitas produk meningkat,” terang lajang jebolan fakultas hukum Universitas Atma Jaya, Yogyakarta itu.

Karenanya, pihaknya masih membutuhkan sejumlah alat proses untuk meningkatkan performa kopi olahan petani. Diantaranya dome dryer untuk proses penjemuran biji kopi, mesin pengupas biji kopi (pulper), pengupas biji kopi kering (huller), mesin roasting, mesin sortasi, mesin espresso hingga grinder.

Mesin roasting, misalnya, berperan dalam mengkreasi aroma dan rasa pada kopi. Peran signifikan lain ada pada kelihaian petani berjibaku memproduksi biji kopi. Sisanya,  adalah kelihaian barista meracik kopi.

Gestur Gunung Tanggamus yang menjulang, nyaris tak terlihat ketika langit Gisting mulai berselimut gelap, akhir pekan lalu. Sebelum kembali ke Jakarta, sekali lagi Milesia.id menyesap hangat kopi wine seduhan “Arane Kopi” dengan sensasi lunak asam segar di after taste. Musik mengalun lembut, dan lampu-lampu kafe berpendar nglangut. Di lereng gunung itu, filosofi kopi nyaman disruput.

(Prio Penangsang/Milesia.id)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close