Milestories

Mereka yang Berjibaku “Memanusiakan” Penyintas Bencana

Dengan ukulele di tangannya, laki-laki enerjik berkacamata nyentrik itu menjentikkan jari di bilah senar dan menembang. Juga mendongeng. Di depannya, sorot mata puluhan anak-anak nyaris tak berkedip disihir pesona. Untuk beberapa jenak, tak seguratpun trauma dan kesedihan nampak di wajah mereka. Padahal, belum genap sepekan sebagian rumah mereka hanyut dihumbalang banjir bandang. Bahkan kehilangan orang tua dan sanak saudara.

Kak Ardy mendongengi anak pengungsi (Dok. Kak Ardy/Milesia.id)

Pendongeng itu, akrab disapa Kak Ardy, adalah satu diantara sekian banyak relawan yang mencoba menembus keterbatasan untuk menawarkan penghiburan. Dipaparkan Ardy, salah satu pengalaman menegangkan adalah ketika melawan rasa takut melewati medan ekstrim menuju tempat terdampak banjir terparah di Lebak, Banten. “Lantas bisa menyapa, dan memberikan sedikit keceriaan. Juga bersama teman-teman relawan komunitas Turun Tangan menyerahkan bantuan secara langsung kepada mereka,” papar Ardy.

“Kami berangkat dari Jakarta Jam 21.00 WIB dengan menggunakan truk milik Polri. Tiba di lokasi sekitar jam 01.00 dini hari. Dengan penerangan berupa senter handphone kami harus melewati jembatan licin yang bikin khawatir. Tapi itu satu-satunya jalan jika ingin sampai di lokasi”.

Sepulang dari Lebak, Ardy terus bergerak menghimpun donasi. Diantaranya memanfaatkan momen Car Free Day (CFD) di Rawamangun, Jakarta Timur. “Kami keliling sepanjang jalan Pemuda, Rawamangun, ditemani perwakilan para pedagang, yakni Ibu Tuti pedagang Dimsum dan Pak Mahmud Chemuth, pedagang bandeng presto. Alhamdulillah terkumpul Rp. 1.296.000,-“

Keahlian mendongeng juga dimanfaat Ardy dengan menghelat Dongeng Celengan Hati. Ia bersafari mendongeng di sekolah-sekolah, RPTRA, atau tempat lainnya yangg ingin ikut serta berbagi untuk saudara-saudara yang terkena musibah di Lebak, Banten. Celengan berupa bola plastik warna-warni diisi oleh anak-anak atau siapa saja yang mau berderma.

Motor Trail handal membawa bantuan logistik (Dok. Agus S/Milesia.id)

Lain lagi yang dilakukan Agus Supriyadi dan teman-teman komunitas motor trail Dras, Depok. Jum’at (3/1) lalu, bersama Komunitas Trail Jabodetabek (KTJ) melakukan penyaluran bantuan berupa sembako, alat penerangan, hingga terpal kepada korban banjir dan tanah longsor di kawasan Sukajaya, Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa-Barat. “Kami dari Depok jam 7 pagi dan sampai di posko komunitas trail Jabotabek Cigudeg jam 9 dan lanjut melakukan bakti sosial,” papar Agus kepada Milesia.id.

Medan yang sulit dengan track menanjak dan berlumpur, musykil dilalui kendaraan roda empat atau sepeda motor biasa.  Sepeda motor trail yang handal menerabas medan sulit, jadi salah satu moda transportasi pengangkut logistik bantuan yang handal.

Dari informasi yang didapat Milesia.id, hingga hari ini (14/1), sebagian warga terdampak masih mengungsi di ruangan Kantor Desa Pasir Madang, Sukajaya. Mereka merupakan sebagaian dari 185 kepala keluarga (KK) yang berjumlah 604 jiwa yang mengungsi akibat bencana tanah longsor, awal Januari lalu.

Pentingnya Trauma Healing dan Seni Berbagi

Di samping kebutuhan makanan dan perlengkapan lain, para penyintas bencana banjir dan tanah longsor juga membutuhkan trauma healing. Seperti dikemukakan Daurie Bintang, relawan dan praktisi trauma healing, meskipun mereka adalah korban,  secara etika dan psikologis sebaiknya pemberian label untuk identifikasi cukup dengan menyebut nama,  lokasi, dll, tanpa embel-embel ‘korban’.

Anak-anak penyintas bencana (Daurie Bintang/Milesia.id)

Begitu juga dalam interaksi antara petugas atau relawan dengan penyintas,  tidak menyebut orang-orang yang terkena bencana sebagai korban. Termasuk dalam nama atau judul kegiatan dan dokumentasi. “Jadi, penamaan korban diganti jadi “penyintas”. Kemudian nama kegiatan seperti trauma healing diganti dengan “dukungan psikososial awal”.

Perlu kita perhatikan cara kita memberikan sesuatu pada penyintas. Baiknya diberikan satu persatu. Diraih dan disentuh tangannya. Dimanusiakan,  disentuh,  dihargai. Gunakan kata “Saya titip”. Bukan menggunakan kata “Saya kasih” atau “Saya berikan”. Ini by design untuk menghaluskan bahasa,  menghargai dan menyetarakan penyintas dengan kita sebagai relawan atau pihak yang memberi bantuan.  Bahasa yang menyentuh hati. Itu esensi utk memanusiakan dan menyentuh penyintas.

“Berbagi merupakan sebuah seni utk merendahkan hati. Kitalah yang seharusnya berterima kasih sebab mereka memberi kesempatan kita untuk berbagi,” papar Daurie, yang intens mengambangkan aplikasi art therapy menggunakan elemen gambar, warna, musik, dll.

Tiga hal yang dilakukan untuk support recovery penyintas bencana, menurut Daurie, meliputi sentuhan, pijatan  (massagesbody movements), dan pernafasan. “Tiga hal ini sebagai intervensi psikologis sekaligus juga berdampak bikin fisik lebih fresh. Ada lebih dari 140 teknik yang berasal dari 11 negara di dunia yang dipelajari oleh trainer capacitar international,” papar Daurie, pegiat seni dan budaya yang  bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini.

“Untuk tools yang biasa digunakan di lokasi bencana ada sekitar 15 teknik. Ini adalah teknik sentuhan dan pijatan yang dilakukan untuk pasien stroke dan psikosomatis.  Ada juga untuk petugas yang sudah dua hari tidak bisa tidur sebab fatique”.

Kenapa fokusnya pada sentuhan,  body movements,  pernapasan dan  pijatan?  “Coba saja bayangkan,  tidur di tenda berhari-hari, rumah hancur,  keluarga hilang. Lalu ada yang datang kasih nasehat dan beragam omongan tentang kesabaran . Yakin itu gak nyebelin?,” papar Daurie.

“Tasbih, misalnya, itu adalah alat “reframing”. Keluhan,  teriakan kesakitan kaki yang patah atau luka,  beban dalam hati,  dll.  Katarsisnya tetap bisa dikeluarkan,  hanya diganti jadi doa. Ini adalah teknik reframing. Kejadian dan kesakitan tidak diubah,  hanya cara reaksinya yang diubah”.

Perlu dipahami adalah, bahwa tidak semua anak-anak atau orang dewasa di lokasi bencana itu mengalami trauma. Jika shock, stres,  dll  itu wajar. Nah, metode bermain, merupakan salah satu cara untuk release stress dan mengendurkan ketegangan fisik anak-anak. Hanya, penggunaan kata trauma yang mesti hati-hati.

“Anak-anak sebenarnya paling gampang release dibanding orang dewasa. Anak-anak memiliki kemampuan untuk adaptasi dan fleksibel. Tak semua penyintas anak-anak itu trauma,  malah banyak orang dewasa yang trauma. Salah satu ciri anak-anak di lokasi bencana yang mengalami trauma, secara fisik biasanya mereka mengalami gangguan pencernaan,  gangguan pernapasan,  dll,” papar Daurie.

Bagaimana dengan remaja? “Remaja,  paling asyik itu diajak jadi team relawan.  Misalnya : bantu di dapur umum,  bantu di logistik,  dll. Salah satu teknik trauma healing yang efektif adalah mengubah kondisi penyintas dari posisi korban menjadi orang yang membantu orang lain,” pungkas Daurie. (*)

(Milesia.id/Prio Penangsang)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close
Close