MilesainsUncategorized

IMOBILISASI : Mengubah Paradigma Mistis Menuju Medis dalam Penanganan Gigitan Ular Berbisa

 

Oleh : Dr.dr. Tri Maharani, Msi. Sp.Em *)

DR. dr. Tri Maharani, Sp.EM (Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Kasus kematian akibat gigitan ular berbisa masih tinggi di Indonesia. Hingga awal Desember 2019, Remote Envenomation Consultancy Services (RECS) mencatat 52 orang meninggal dunia akibat gigitan ular berbisa. Tahun sebelumnya (2018), angka kasus gigitan ular berbisa menyentuh 135 ribu kasus per tahun. Posisinya berada di bawah HIV/AIDS dengan 191 ribu kasus dan di atas kanker (133 ribu).

Mengacu angka-angka di atas, kasus snake bites masuk kategori 10 besar penyakit terbanyak. Resolusi WHO (2016) menyebutkan, kasus gigitan ular berbisa sebagai neglected tropical disease (NTD).

Korban gigitan ular berbisa bisa menyasar siapa saja. Petani, pekerja kebun, warga biasa, pelaku atraksi dan komunitas penggemar ular, hingga ilmuwan peneliti di lapangan. Dalam kasus gigitan ular berbisa, kasus kematian dan kecacatan yang tinggi, salah satunya diakibatkan oleh pertolongan pertama (first aid) yang belum sepenuhnya tepat. Baik di kalangan medis maupun, terlebih, di kalangan masyarakat luas.

Sadar bahwa kemampuan Indonesia memproduksi serum anti bisa ular masih sangat terbatas,  upaya pertolongan pertama yang tepat sangat diperlukan. Di samping murah, teknis pelaksanaanya bisa dilakukan oleh siapa saja dengan peralatan yang tersedia di sekitar kita.

Adalah fakta, bahwa di sebagian masyarakat umum, pendekatan non medis dalam penanganan gigitan ular berbisa masih jadi pilihan. Anggapan mahalnya biaya perawatan di Rumah Sakit menjadi alasan utama. Padahal, dengan penanganan first aid yang  tepat melalui teknik imobilisasi, selain sederhana dan ekonomis, terbukti dapat membantu mencegah terjadinya fase sistemik dan menyelamatkan korban gigitan ular berbisa dari resiko kematian maupun kecacatan.

Perintisan Teknik Imobilisasi di Indonesia

Teknik imobilisasi sejatinya bukan hal yang baru. Tahun 2013, saat kongres Perhimpunan Herpetofauan Indonesia (PHI) di Semarang, saya membawakan konsep WHO 2010 tentang imobilisasi.  Ada sedikit “kehebohan” di sana, atau tepatnya keterkejutan ihwal pengetahuan baru.  Sejak itu saya jatuh bangun dalam suatu perjuangan first aid training selama tujuh tahun terakhir.  Saya berusaha mengubah paradigma first aid dari mistis menuju medis.

Salah satu teknik imobilisasi (Prio Penangsang/Milesia.id)

Berdasarkan ratusan riset dan akhirnya ditulis dalam guideline  WHO 2010 tentang penatalaksanaan snakebites, imobilisasi telah dibuktikan sebagai cara penanganan awal yang direkomendasikan. Adapun cara-cara tradisional seperti menyedot bisa dengan mulut, incisi, torniquet, penggunaan herbal, atau cara-cara mistis macam penggunaan batu hitam,  dll, tidak direkomendasikan lagi.

Dasar imobilisasi, ihwal bagaimana venom itu melalui lymfogen, bukan hematogen. Sehingga cara-cara penanganan gigitan ular yang melibatkan darah, misalnya, disedot dengan mulut untuk dikeluarkan darahnya,  diikat kencang demi menghambat aliran darah yang diduga mengandung bisa, tidak lagi direkomedasikan lagi.  Melainkan hanya melalui imobilisasi dan pressure bandage imobilisasi serta pad imobilisasi.

Prinsip dan mekanisme lymfogen memang tidak mudah dimengerti kalangan awam. Saya mencermati hal itu melalui ratusan seminar yang saya adakan mulai thn 2012 sampai sekarang. Tidak semua orang memahami perbedaan pembuluh darah dan pembuluh getah bening, baik secara anatomi fisiologi serta patofisiologinya. Pelajaran biologi sejak SD memang harus lebih menarik lagi, sehingga bisa mendasari semua orang untuk memahami hal-hal penting ini secara sederhana.

Konsep imobilisasi sangat berkembang dan dipahami sebagai first aid yang sangat berhasil. Riset saya tahun 2016 sampai 2019, tidak ada satupun kasus yang meninggal setelah melalui teknik imobilisasi yang benar. Fatalitas dipengaruhi oleh imobilisasi yang tepat. Sebaliknya, banyak ditemukan kasus korban meninggal akibat tidak menerapkan imobilisasi.

Imobilisasi korban gigitan area kaki (Ist. Tri Maharani/Milesia.id)

Ada beberapa macam teknik imobilisasi yang dipraktekkan kalangan medis atau orang-orang yang terlatih  Untuk imobilisasi pada kasus neurotoxin, misalnya, dilakukan imobilisasi dan pressure bandage. Tujuannya adalah, pertama, melakukan compression pada otot sehingga tidak bergerak. Kedua, inhibisi dari drainage slow lymfogen ke seluruh tubuh dan menjadikan sistemik. Dalam kondisi ini, kebutuhan elastic bandage dan sejenisnya sangat berpengaruh. Sehingga teknik ini memang hanya untuk kalangan terlatih serta kasus neurotoxin.

Untuk imobilisasi kasus gigitan ular Russel viper (D. Russeli), misalnya, dilakukan dengan menaruh sebuah pads dari kasa atau suatu bahan yang tebal, lalu diimobilisasi untuk mencegah terjadinya drainage slow venom dari kelenjar getah bening.

Saya memilih melakukan training ke seluruh Indonesia dengan satu tipe imobilisasi saja dengan tujuan agar mudah dipahami dan dipraktekkan. Termasuk untuk masyarakat luas. Imobilisasi  dengan prinsip anggota tubuh tidak bergerak. Teknik yang  sangat cocok untuk kasus neurotoxin, hematotoxin juga renal toxicitas.

Tindakan first aid imobilisasi untuk kasus gigitan ular berbisa Indonesia dari jenis ular neurotoxin, hematotoxin, necrotoxin sampai nefrotoxin, sangat bagus, mudah dan murah. Terlebih terkait dengan masih tingginya ketidaktahuan masyarakat akan jenis-jenis ular berbisa atau tidak berbisa.

Teknisnya, pertama, mencari bahan rigid berupa kayu, bambu, kardus atau apapun yang dapat membuat anggota tubuh target imobilisasi menjadi tidak bergerak. Kedua, melakukan pembidaian.  Istilah ini memang tidak sederhana, tapi sebenarnya mudah dilakukan, yaitu memasang bahan rigid tadi pada kedua sisi bagian yang tergigit terutama anggota gerak seperti kaki atau tangan, lantas disatukan dengan kain, mitela, perban, atau  sesuatu yang dapat membuat bahan rigid tadi tidak bergerak.

Berikutnya, jika lokasi tergigit di bagian jari, pergelangan, atau punggung tangan, misalnya, pembidaian dilakukan dari ujung  jari hingga ketiak sampai persendian tidak bergerak. Gunanya, adalah mengkondisikan agar otot tidak berkontraksi yang dapat berakibat ter-drainage-nya isi kelenjar getah bening berupa venom tadi ke seluruh tubuh.

Semua teknik imobilisasi di atas hanya dilakukan untuk gigitan hewan berbisa, misalnya adalah ular. Kasus gigitan laba-laba funnel web (Atrax robustus), misalnya,  juga bisa menggunakan teknik imobilisasi. Lalusengatan gurita cincin biru atau blue ringed octopuss (Hapalochlaena maculosa) dan cone snail, juga bisa menerapkan baik imobilisasi pressure bandage maupun imobilisasi saja. Sedang first aid  sengatan satwa beracun macam jelly fish (ubur-ubur) cukup dengan pemberian vinegar atau larutan cuka.

Di Indonesia, pengetahuan soal ini memanag masih jarang. Hanya dokter spesialis emergency dengan interes toxinology yang  secara spesifik memelajarinya. Ini yang  penulis bagikan agar kita semua bisa terselamatkan dari kecacatan dan kematian akibat gigitan hewan berbisa.Jadi, tehnik imobilisasi ini tujuannya ada dua.

Pertama, mendelay atau menghambatergerakkan tubuh untuk meminimalisir kontraksi otot. Sehingga kelenjar getah bening tidak memompakan isinya, yaitu venom, dan menyebarkannya ke seluruh tubuh.

Kedua, imobilisasi pressure bandage untuk kasus neurotoxin, membantu kompresi pada otot, dimana kelenjar getah bening itu memompakan isinya sehingga menghambat penyebaran venom.

Waktu dan Fase

Hal mendasar lain yang perlu diketahui terkait imobilisasi adalah waktu dan fasenya. Imobilisasi dilakukan dalam rentang waktu 24 jam sampai 48 jam. Jika  dalam rentang waktu tersebut tidak terjadi fase yang sistemik sehingga pasien tidak membutuhkan antivenom, maka perangkat imobilisasi  bisa dilepas dan pasien bisa pulang.

Sebaliknya, jika dalam masa 24 sampai 48 jam terjadi fase sistemik, maka dokter dapat memberikan antivenom. Di fase ini, perangkat imobilisasi juga dilepas  karena sudah masuk ke pengobatan antivenom dan fase dimana venom menyebar ke seluruh tubuh dan tidak bisa dihambat lagi oleh imobilisasi. Prinsipnya, hanya fase sistemik saja yang membutuhkan antivenom.

Bagaimana identifikasi kedua fase di atas? Secara umum, pada fase lokal atau non sistemik, adalah fase dimana didapati adanya pembesaran kelenjar getah bening pada kasus gigitan tertentu. Ada pembengkakan dan juga rasa nyeri tapi hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium terindikasi normal.

Adapun fase sistemik, terjadi abnormalitas dari hasil pemeriksaan laboratorium yang meliputi pemeriksaan fisik, tanda dan gejala serta hasil laboratorium. Kasus sistemik pada gigitan tipe haematotoxin, misalnya, terjadi perdarahan spontan, hematuri, bloody tear, melena, mimisan, dan haemoptoe. Terjadi necrosis jaringan pada kasus necrotoxin, ptosis, abdominal cramp, respiratory failure serta paralysis pada kasus neurotoxin.

Terjadi bradikardi pada ecg pada kasus cardiotoxin, juga bisa terjadi rabdomyolisis dan peningkatan creatinin atau creatinin kinase pada nefrotoxin. Hasil laboratorium biasanya juga menujukkan adanya trombositopenia, peningkatan partial thromboplastine time  (PTT), aPTT, dan Internationalized Normalized Ratio (INR) pada kasus haematotoxin dan segala keabnormalitasan akibat toxin- toxin lainnya. []

*) Pakar gigitan ular dan hewan berbisa, Presiden Toxinology Society of Indonesia.

(Tulisan yang sama dimuat untuk Jurnal Warta Herpetofauna)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close