Milesains

Kemunculan Ular Kobra, Pentingnya Pahami Siklus dan Habitat

 

Oleh : Donan Satria Yudha *)

Donan Satria Yudha (Dok. Pribadi)

Dua bulan terakhir, sejumlah media massa memberitakan keberadaan ular kobra di sejumlah daerah. Prevalensi kemunculannya dianggap lebih sering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berita media menginformasikan temuan di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Depok, Bogor, Gunung Kidul, hingga Tabanan (Bali). https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-50805152; https://kumparan.com/kumparannews/deretan-penemuan-ular-kobra-di-jakarta-1sSpjoPafa1 https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4822010/banyak-banget-puluhan-kobra-ditangkap-di-gunungkidul-dalam-2-pekan;https://news.detik.com/berita/d-4824310/ular-kobra-kini-muncul-di-tabanan-bali).

Sejumlah pemberitaan media di atas adalah beberapa contoh yang menguatkan fakta itu. Sejumlah narasi media masih menyelipkan diksi “teror” dalam tulisannya. Kedepan, media perlu lebih cermat dalam memilih diksi. Peristiwa ilmiah perlu diinformasikan sebagai fenomena yang juga ilmiah. Ular kobra, misalnya, tidak melakukan “teror”.

Agar tidak tersesat di arus informasi yang tidak jarang kurang akurat, mari pelajari siklus hidup salah satu spesies ular yang mengagumkan ini. Anak ular kobra yang baru saja menetas, secara instingtif akan bergegas melata mencari tempat perlindungan (shelter). Anak-anak ular kobra harus segera berlindung agar terhindar dari pemangsanya agar survive.  

Anak kobra memiliki banyak pemangsa, diantaranya adalah: garangan (Herpestes javanicus), kucing baik kucing hutan (Prionailurus bengalensis, Neofelis diardi) maupun kucing rumah (Felis catus) dan burung Elang-ular bido (Spilornis cheela). Induk kobra bertelur antara 16 sampai 26 butir. Jika ada 20 butir yang menetas, maka keduapuluh ekor anak kobra akan keluar dari sarang dan mencari perlindungan sendiri-sendiri. Secara instingtif mereka akan mencari area yang hangat dan lembab.

Pemukiman penduduk menyediakan kondisi yang hangat dan lembab, sehingga mereka akan bersamaan menuju area pemukiman. Inilah antara kemungkinan yang oleh kalangan awam (juga sebagian media) menganggap kobra-kobra itu melakukan teror. Harap dicatat, ekspansi wilayah hunian manusia dengan membangun pemukiman baru semakin intens. Kawasan pemukiman baru yang terus meluas itu, menggusur “pemukiman” ular dan satwa liar lainnya.

Manusia bisa bernegosiasi dengan sesamanya untuk kepemilikan suatu lahan dan berhasil bersepakat dengan terbitnya “sertifikat tanah” sebagai penanda legal sepetak kavling. Sehingga manusia lain yang bukan pemilik sah sertifikat atau kavling tanah, berhak diusir jika hendak mengklaim. Bagaimana jika ular masuk ke dalam kavling manusia? Apakah ular sudah “dilibatkan” dalam perjanjian kepemilikan tanah tersebut? Jika tidak, lalu bagaimana sejatinya ular harus hidup dan bertempat tinggal?

“Sejarah penciptaan” menyebutkan Tuhan menghadirkan tumbuhan, hewan dan manusia di muka bumi. Secara evolutif dan paleontologis, manusia muncul di Bumi justru paling akhir. Alhasil,  manusia merupakan “Si Bungsu” di ekosistem kesemestaan. Lantas, mengapa anak paling kecil itu berhasrat menguasai semua lahan? Apakah hewan dan tumbuhan tidak berhak memiliki lahan?

Bumi milik Tuhan, dihadirkan bagi semua organisme dan berhak untuk menempatinya. Jika manusia mau belajar, konversi hutan menjadi permukiman dan ekstensifikasi lahan pertanian menyebabkan makhluk hidup lain, termasuk ular, terdesak dan lahan untuk berkembang biak menjadi berkurang. Banyaknya anak ular kobra yang memasuki permukiman warga, bisa dijadikan menjadi alarm alamiah, penanda bahwa kawasan hutan dan habitat mereka telah berkurang atau bahkan hilang.

“Mewakafkan” Habitat Ular

Bagaimana kita sebagai individu yang sadar harus bertindak? Mungkin bisa dimulai dengan “mewakafkan” sebagian kecil lahan “milik” kita untuk organisme lain. Jika kita memiliki pekarangan, maka di satu sudut pekarangan bisa kita buat sebagai “habitat” hewan.

Diantaranya dengan membuat ‘intalasi’ berupa tumpukan batu, kayu dan semak. Atau kolam dengan air dan rumputan di sekitarnya. Melalui “habitat” buatan tersebut, diharapkan hewan-hewan tersebut terfokus di area itu. Kompleks perumahan, misalnya, semakin banyak dibuat ruang terbuka hijau,berikut kolam dan tumpukan kayu, batu serta pepohonan di beberapa sudutnya, itu lebih baik. Sebagian besar ular yang hidup di daerah tropis tidak memiliki musim khusus untuk bertelur.

Beberapa jenis ular seperti Styporhynchus mairii, Liophis poecilogyrus, Liophis miliarius, Liophis viridis bereproduksi/berkembangbiak sepanjang tahun. Cermati juga ular jenis Liophis dilephis, Phylodryas nattereri, dan Waglerophis merremii adalah contoh jenis ular yang bereproduksi di musim kering. Sedangkan ular jenis Oxybelis aeneus dan Oxyrhopus trigeminus adalah contoh jenis ular yang bereproduksi di musim hujan (Vitt & Caldwell, 2009 page 129; Vitt & Caldwell, 2014 page 135). Ular Sanca Bodo (Python molurus sekarang Python bivittatus) di dalam penangkaran memiliki beberapa kali masa peneluran, yaitu dimulai pada bulan Maret hingga September. Hal tersebut menandakan, bahwa ular sanca memiliki masa perkembangbiakan hampir sepanjang tahun, kecuali di bulan Desember hingga Februari (Vyas, 2002).

Bagi ular yang hidup di daerah tropis, setiap jenis ular memilih waktu berkembang biak sesuai dengan kondisi iklim setempat, serta kesesuaian habitat dan perkembangan embrio. Beberapa jenis ular memilih untuk bersarang dan meletakkan telur setelah berakhirnya musim hujan. Contohnya ular Tropidonophis mairii. Setelah musim hujan berakhir, kondisi tanah lembab dan basah tetapi tidak tergenang air seperti rawa.

Tanah lembab dan basah menyediakan kondisi kelembaban yang mempengaruhi tingginya ‘kelulushidupan’ anakan dan dapat memengaruhi tingginya jumlah anakan yang dapat menetas (Vitt & Caldwell, 200 page 130; Vitt & Caldwell, 2014 page 136). Beberapa jenis ular, seperti Kobra Jawa (Naja sputatrix) mulai bersarang dan meletakkan telurnya sekitar 3 bulan (88 hari) sebelum musim hujan. Hal tersebut dipengaruhi oleh habitat Kobra Jawa yang berada di dataran rendah yang kering, berupa hutan meranggas, semak-semak yang berada di dalam biotope/lingkungan geografis yang berbatu (Das, 2010).

Karena Kobra Jawa cenderung menyukai habitat yang kering, maka perkembangan embrio anakan juga harus berada di musim kering. Ketika bersarang dan bertelur, kobra menyukai tempat di bawah permukaan, di lubang-lubang atau diantara tumpukan batang kayu atau bebatuan yang besar dan rimbun dengan semak maupun serasah guna menyediakan kelembaban yang cukup (de Rooij, 1917; van Hoesel, 1959; Supriatna, 1982; Suhono, 1986; Das, 2010).

Semoga dengan pemahaman yang tepat ihwal siklus reproduksi ular dan kondisi terkini perubahan ekosistem yang dekaden akibat campur tangan manusia, menjadikan kita semua sadar. Menjadikan kita, termasuk media massa, mampu memetakan suatu peristiwa secara ilmiah dan mengambil pelajaran berharga demi kehidupan bumi yang lebih baik.() *) Pemimpin Redaksi Jurnal Warta Herpetofauna, Laboratorium Sistematika Hewan, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dengan perubahan judul, artikel yang sama dimuat di Jurnal Warta Herpetofauna atas izin penulis.

Catatan tambahan.

Cara mengatasi agar ular tidak masuk rumah

  • Bersihkan setiap sudut ruangan secara berkala;
  • Letakkan bau-bauan yang menyengat pada setiap sudut ruangan. Kamper, parfum, spray anti nyamuk, adalah beberapa diantaranya.
  • Tutup setiap celah pada pintu dan lubang udara dengan kawat strimin.
  • pelihara kucing atau anjing dirumah – hewan tersebut mampu mendeteksi dan menghalang-halangi atau bahkan memangsa ular yang masuk rumah.
  • Jangan berburu atau membunuh predator alami ular. Contohnya garangan atau ganggarangan (Herpestes javanicus).
  • Hindari mengkonversi/merubah total area peruntukan lahan alami. Tidak menghilangkan seluruhnya area bersemak, pepohonan, dll agar ular masih memiliki habitat untuk tinggal.

Tindakan yang dapat dilakukan jika bertemu ular di dalam rumah?  

  • Usahakan tetap tenang dan menjauh perlahan. Tidak membuat gerakan yang mengejutkan.
  • Lokalisir tempat ular dengan terus mengamati posisi ular pada jarak aman. Hal tersebut dilakukan agar perpindahan ular dapat terkendali.
  • Jika siap, ambil sapu dan pengki (serokan, dustpan) lalu dorong ular dengan sapu ke dalam pengki. Setelah ular berada di dalam pengki buang ular ke area yang jauh dari rumah.
  • Jika tidak memungkinkan untuk handling dan berpotensi mengancam keselamatan, pilihan terbaik adalah memanggil petugas pemadam kebakaran (Damkar) setempat dan atau individu/komunitas yang memiliki kemampuan menangani ular (rescue).
  • Dalam situasi mendesak dan terpaksa membunuh ular, pukul ular pada bagian kepala. Setelah ular mati segera buang ke tempat yang aman dan bersihkan lokasi bekas ular.

Referensi

Das, Indraneil. 2010. A Field Guide to the Reptiles of South-East Asia. New Holland Publishers (UK) Ltd.  Pp. 138-139; 316-317.

Boeadi, R. Shine, J. Sugardjito, M. Amir, dan M.H. Sinaga. 1998. Biology of the commercially-harvesting rat snake (Ptyas mucosus) and cobra (Naja sputatrix) in Central Java.

Proceedings of a Symposium (Jakarta, Indonesia, 26-27 November 1996). Mertensiella. (9): 99 – 104.

de Rooij, Nelly Dr. 1917. The Reptiles of the Indo-Australian Archipelago. II. Ophidia. Leiden. E.J. Brill Ltd. Pp. 246-248.

Suhono, B., 1986. Ular-ular Berbisa di Jawa. Penerbit Antar Kota. Hal. 48-50.

Supriatna, J., 1982. Ular Berbisa Indonesia. Seri Pembangunan Masyarakat Desa. Penerbit Bhratara Karya Aksara, Jakarta. Hal. 28-30.

van Hoesel, J.K.P. 1959. Ophidia Javanica. Kementerian Pertanian, Lembaga Pusat Penjelidikan Alam (Kebun Raya Indonesia), Museum Zoologicum Bogoriense. Hal. 45-47.

Vitt. L.J., and J.P. Caldwell. 2014. Herpetology, An Introductory Biology of Amphibians and Reptiles. 4th ed. Academic Press is an imprint of Elsevier. Elsevier Inc. All rights reserved. Pp. 135-136.

Vyas, R., 2002. Breeding data on captive Indian Rock Python (Python molurus molurus). ZOOS’ PRINT JOURNAL 17(4): 752-756.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close