DINAMIKAMilestravel

Sejuknya Kuningan, Nikmatnya Menyesap Kopi Cibeureum yang Bikin Jatuh Cinta

MILESIA.ID, KUNINGAN – Udara mulai terasa hangat ketika kami memasuki perbatasan Cirebon-Kuningan. Jalanan beraspal di depan nampak memadat. Kendaraan mengular membentuk simpul-simpul yang seolah muskil diurai. Maklum, masih di minggu perdana libur lebaran 1440 Hijriyah. Orang-orang mempunyai isi kepala yang sama: silaturahmi.

Libur lebaran tahun ini Icha mengajak saya menyambangi Desa Wisata Kopi Cibeureum, di Kuningan, Jawa Barat. “Jadi ke tempat Pak Kokom, ayah?” Ujarnya berulangkali dini hari tadi.

Pak Kokom alias Pak Komala (52) adalah petani kopi asal Cibeureum yang lekat dengan khazanah kopi Jawa Barat. Namanya mulai dikenal berkat konsistensinya mengikuti berbagai festival kopi baik lokal maupun nasional. Berbekal informasi dari media massa dan beberapa kamerad pecinta kopi, saya putuskan mengunjungi Pak Kokom. Saya yakin, akan ada banyak kisah menarik yang bisa diretas dari beliau.

Gapura masuk Desa Wisata Kopi Cibeureum. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO

Setelah menempuh jarak kurang lebih 27 KM (50 menit waktu santai) dari arah Cirebon Utara, kami tiba juga di Desa Cibeureum. Memerlukan beberapa kali berbelok di jalanan sempit dan sedikit terjal untuk mencapai desa wisata kopi ini. Sepanjang mata memandang, hamparan kebun kopi menghijau di kanan kiri jalan. Eureka! Seketika saya diliputi perasaan ectase: bahagia yang teramat dalam. Rasanya seperti kanak-kanak yang menemukan dunia dongengnya menjadi kenyataan.

Sempat berputar-putar lalu bertanya pada penduduk yang kebetulan melintas, kami akhirnya tiba di halaman lapang sebuah kedai kopi. Dari bangunannya, bisa ditebak kalau kedai ini belum lama beroperasi. Beberapa kursi dan meja kayu tertata rapih di muka kedai, lengkap dengan payung warna-warninya. Yang membuat takjub, kedai kopi ini berada tepat di sisi danau dengan latar perkampungan bercat warna-warni. Penduduk sekitar menyebutnya Situ Sanghiang Kendit.

Seorang pria setengah baya, berkumis tebal dengan kaos polo gelap, menyambut kami dengan senyum ramahnya. “Dari mana mas?” Sapanya bersahabat. “Dari Cirebon, Pak.” Saya menyahut sembari tersenyum tak kalah ramah. “Pak Kokom ya?” Saya menebak sambil mengulurkan tangan. Pria ramah itu mengangguk, meraih uluran tangan saya. Sekejap saja kami larut dalam obrolan panjang yang melenakan.

Menyigi Kopi Cibeureum

Asrinya pemandangan kebun kopi di Desa Cibeureum. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO

Menurut Pak Kokom, saat ini ada 150-an petani kopi yang mengais rejeki di Desa Cibeureum, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Para petani kopi ini rata-rata memiliki 1.400 m2 lahan perkebunan yang berlokasi di kaki Gunung Ciremai, pada ketinggian 500 -700 mdpl. Beberapa petani kopi ini terhimpun dalam kelompok tani bernama “Ratu Asih”.

Jika menyigi sejarah kopi Cibeureum, popularitas kopi lokal ini dimulai sejak 1985. Saat itu, banyak penduduk Cibeureum yang mengadu nasib dengan bertransmigrasi ke daerah Lampung. Di tempat baru ini mereka menanam kopi dan sukses memanen buah kopi. Dari situlah, sekitar tahun 1990-an, para transmigran tercetus ide untuk kembali ke Desa Cibeureum dan memanam kopi di desanya sendiri. Sejak saat itulah Kopi Cibeureum mulai dikenal luas.

Konsistensi Pak Kokom membesarkan Kopi Cibeureum berangkat dari passions dan kecintaannya pada dunia kopi. Pun pada kegelisahannya akan kondisi perekonomian desa Cibeureum.  “Pada awalnya belum banyak yang mau menanam kopi,” kisah Pak Komala. Setelah popularitas kopi melambung beberapa tahun belakangan, perlahan-lahan kopi khas Cibeureum mulai dilirik para pecinta kopi. Masyarakat Cibeureumpun mulai tergerak menanam kopi.

Pria simpatik ini sepertinya menginsafi benar filosofi hidup ala Maxim Gorky: “ketika pekerjaan adalah kesenangan, hidup adalah sukacita. Ketika pekerjaan adalah tugas, hidup adalah perbudakan”.

Binaan Bank Indonesia

Icha menunggu pesanan kopi tiba. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO

Popularitas kopi Cibeureum bisa dibilang bersisian dengan eksotisme kopi Gunung Aci. Hamparan perkebunan kopi Cibeurum menghasilkan kopi jenis robusta dengan cita rasa yang unik. Kopi robusta ini menyajikan sensasi rasa yang khas, seperti brown sugar, nuty dan dark chocolate yang menyerupai rasa kopi arabika.

Kopi Robusta ala Cibeureum yang diberi nama “Ratu Asih” (julukan yang disematkan masyarakat pada pendiri desa Cibeureum) ini, menurut Pak Kokom memiliki cita rasa khas karena diproses dengan metode honney. Beliau membanderolnya dengan harga 60 K per kilonya. Produk olahan kopi Desa Cibeureum ini dikemas dalam beberapa ukuran: Greenbean (100 gram, 200 gram, 500 gram, 1 kg), Roastbean (100 gram, 200 gram, 500 gram, 1 kg), dan Kopi bubuk (100 gram, 200 gram).

Di bawah binaan Bank Indonesia (BI), Desa Cibeureum tak hanya mengandalkan sektor perekonomian dari mengolah kopi. Desa ini terus bertumbuh dan berkembang menjadi Desa Wisata. Salah satu program unggulannya adalah “kopi edukasi” yang memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai dunia perkopian. Keseluruhan proses dalam semesta kopi, mulai dari penanaman, pemanenan dan pengolahan biji kopi disajikan dalam paket wisata ini.

Berfoto bareng Pak Komala (Kokom) di Kedai Lakeside Cibeureum. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO

Sementara itu, sebuah kedai kopi juga dibangun untuk melengkapi wisata edukasi ini. Kedai Kopi bernama “Lakeside Cafe” yang dikelola oleh Pak Kokom sendiri. Kedai sederhana ini baru dilaunching di awal tahun 2019 ini.

Di bawah naungan “Kampus Kopi Collective Project”, kedai kopi ini menyajikan kopi khas Cibeureum lengkap dengan keindahan panorama alam  danau “Situ Sanghiang Kendit”. Di sebaliknya, hamparan Kampung Warna-Warni berjuluk “Kampung Katumburi”, bertengger anggun di lereng kompleks “Taman Nasional Gunung Ciremai”. Pemandangan ini berkelindan dengan keelokan Gunung Ciremai di kejauhan sana.

Setelah mengobrol ngalor-ngidul (panjang lebar), akhirnya tiba giliran mencicipi kopi khas Cibeureum. Saya sengaja memesan seduhan kopi arabika dengan metode V60 serta segelas es kopi susu buat Icha. Pak Kokom sendiri yang menyajikan kopi pesanan kami dengan metode manual brew itu. Saat menyesap kopi V60 dalam gelas kaca mini, seketika saya pun jatuh cinta. Ada rasa khas, semacam dark chocolate yang memenuhi mulut dan kerongkongan saya. Pantas jika kopi Cibeureum begitu populer di kalangan pecinta kopi kiwari.

Matahari kian meninggi ketika kopi terakhir usai disesap. Waktu sholat Jum’at hampir tiba. Setelah menghabiskan kopi pesanan dan berfoto, kami bergegas untuk pergi. Pak Kokom sempat menahan, berharap bisa berbincang lebih lama. Ah, terimakasih keramahannya Pak, dan kesempatan emas untuk menikmati Kopi Cibeureum. Doa sukses buat Pak Kokom dan masyarakat Cibeureum dengan ikhtiar kopinya. Saat kendaraan melaju meninggalkan Cibeureum, lamat-lamat terbayang kalimat Gorky: “ketika pekerjaan adalah kesenangan, hidup adalah sukacita…”

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Kedai Kopi Pak Kokom “Lakeside Cafe”

Alamat: Cibeureum, Cilimus, Kuningan Regency, West Java 45556, Indonesia.

Telp: +62 817-613-246

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close