DINAMIKAUncategorized

Workshop Yayasan Riza Marlon Indonesia : “SOS from Snakebites”

Flora dan fauna Indonesia memang menarik. Memiliki keragaman spesies dan pesona yang luar biasa ciamik. Satwanya komplet, dari jenis yang melayang di ketinggian, bergelantungan di pokok-pokok hutan, hingga yang melata di permukaan tanah.

Eksistensi keindahan flora dan fauna Indonesia belakangan kian terancam akibat rusaknya habitat alami mereka. Deforestrasi dan komersialisasi kawasan hutan seakan sukar dihentikan. Alih-alih merutuki keadaan, Wildlife Photographer kawakan Riza Marlon, sejak lebih tiga dekade silam, memilih terus menjelajahi hutan seluruh negeri. Dengan bidikan kamera, membekukan citra visual satwa-satwa memesona itu.

Caca dan Wallace’s (Prio Penangsang/Milesia.id)

Tertarik dunia fotografi alam liar sejak remaja, Riza Marlon intens menjelajah alam, memungut detail satwa liar di habitatnya melalui bidikan kamera. Dua dekade kemudian, buku kumpulan karya fotonya yang pertama berjudul “Living Treasures of Indonesia” terbit (2010).

Kenapa buku? Caca, demikian fotografer 59 tahun itu akrab disapa, prihatin, buku visual satwa Indonesia kebanyakan hasil karya peneliti atau fotografer dari luar negeri.

Empat tahun setelah merilis Living Treasures of Indonesia, Riza yang kesengsem eksotika reptil Indonesia, kembali menerbitkan karya kedua, “Panduan Visual dan Identifikasi Lapangan, 107+ Ular Indonesia”. Kalangan peneliti dan pemerhati reptil dan amfibi (herpetofauna), menyambut riuh peluncuran buku itu. Terakhir, tepatnya medio Maret tahun lalu, buku kumpulan foto Wallace’s Living Legacy diluncurkan.

Yayasan Riza Marlon Indonesia

Mewadahi itu aktifitas yang sedemikian padat dan penuh idealisme, Riza Marlon merasa perlu kehadiran sebuah wadah yang representatif untuk melanjutkan visi besarnya mengenalkan dan menjaga keragaman hidupan alam liar Indonesia. Tiga dekade menjelajah alam liar Indonesia jelas bukan waktu yang pendek, sekaligus masih banyak hal yang harus dilakukan. Didirikanlah Yayasan Riza Marlon (RMI)  Indonesia per 9 September lalu.

“Visi kami adalah untuk memacu pendokumentasian hidupan liar Indonesia lebih cepat dan melibatkan lebih banyak orang. Serta mendorong publikasi dan sosialisasinya secara masif dan berkesinambungan agar bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan hidup Indonesia,” papar Riza.

ANTUSIAS (Prio Penangsang/Milesia.id)

Sebagai sebuah awal, Sabtu (30/11), RMI menghelat sebuah seminar dan workshop. Bekerja sama dengan Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Aquatik dan Eksotik (ASLIQEWAN), menyodorkan tema “SOS from Snakebites” di Pusat Primata Schmutzer, Ragunan, Jakarta Selatan.

“Kami berharap Yayasan MRI menjadikan upaya pendokumentasian hidupan liar Indonesia menjadi lebih bergairah. Diminati kalangan milenial. Sehingga anak-anak muda Indonesia bisa jadi garda depan, agar masyarakat semakin akrab dan peduli dengan satwa dan lingkungan hidup Indonesia,” papar Riza Marlon yang ditemui Milesia.id, Sabtu (30/11). “Kami sangat berterimakasih untuk dukungan semua pihak, mohon doanya,” imbuh Wita Marlon, istri dan tandem handal Riza dalam berbagai kegiatan.

SOS from Snakebites” menghadirkan tiga narasumber.  Diawali Riza Marlon, fotografer hidupan liar itu mengupas pengenalan dan identifikasi ular berbisa di Indonesia.  “Kita masih kekurangan referensi hasil karya sendiri tentang reptil. Kebanyakan buku hasil karya peneliti dari luar negeri,” papar Riza.

Riza menyayangkan, hutan alami yang merupakan habitat reptil semakin berkurang berkurang luas dan kualitasnya karena berubah fungsi atau mengalami kerusakan. Alih fungsi hutan untuk industri perkebunan, perkayuan, hingga pabrik. “Sebenarnya bukan hanya reptil, satwa-satwa liar lainnya juga menjadi korban akibat rusaknya hutan habitat mereka”. Sebagai fotografer alam dan kehidupan alam liar, Saya sangat merasakan semua dampak buruk itu,” ujarnya.

Dalam Wallace’s Living Legacy, Riza mengabadikan citra satwa liar yang berada di garis Wallacea. Garis Wallace lekat dengan Alfred Russel Wallace, penjelajah asal Inggris yang yang membagi persebaran flora dan fauna di Indonesia, yang meliputi Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Kawasan istimewa yang kaya akan keragaman alam endemik. “Flora dan faunanya luar biasa. Fauna yang hidup di sana tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia, ‘Indonesia banget’. Ini harus kita jaga,” imbuh Riza.

Wallace’s Living Legacy merangkum lebih dari 200 foto satwa berbagai spesies. Berbagai jenis burung, serangga, laba-laba, reptil dan amfibi, mamalia, hingga macaca dan tarsius. Citra visual satwa-satwa itu ditangkap langsung dari habitatnya dengan mutu jepretan yang mewah. Melengkapi sebagian karya-karya Riza yang terpampang di berbagai publikasi LSM berbagai negara, World Wild Fund (WWF), The Nature Conservacy (TNC), hingga Wildlife Conservation Society (WCS).

 Di balik tampilan luks karya-karya Riza Marlon yang memanjakan mata, ada perjuangan teramat berat yang harus dilalui. “Untuk memotret satwa di satu titik, Saya sampai harus mengunjunginya satu lokasi berulang kali,” terang Riza sekedar menyebut pengalaman memotret dalam untuk produksi Wallace’s.

Dalam bab “The Diversity of Herpetofaunas”, misalnya, pembaca diajak bertamasya melihat seekor Varanus komodoensis di Pulau Rinca. Lalu menyelinap di lantai hutan tropis nan lembab untuk menjeling tampang aneka katak yang eksotik sekaligus jenaka.

Jika ingin fokus pada ular, “Panduan Visual dan Identifikasi Lapangan : 107+ Ular Indonesia” memberikan panduan yang nyaman untuk identifikasi. “Saya membeli banyak buku ini untuk saya bagikan ke kolega-kolega saya di dalam dan luar negeri. Enak dilihat dan sangat membantu untuk identifikasi,” papar Dr. Tri Maharani, dokter ahli penanganan gigitan ular berbisa yang rutin memberikan pelatihan di kalangan medis maupun publik luas.

Gigitan Ular Berbisa dan Keselamatan Kerja

Dalam kesempatan yang sama, Dr. dr. Tri Maharani. Msi. SpEm, yang berbicara ihwal penanganan gigitan ular berbisa, mengemukakan perlunya penanganan pertama (first aid) pada korban gigitan ular berbisa sebagai langkah terpenting untuk menekan jatuhnya korban jiwa. Sampai November saja, tercatat 52 orang tewas akibat digigit ular berbisa di Indonesia.

Tri Maharani (Prio Penangsang/Milesia.id)

Harus diakui, mayoritas rumah sakit dan instansi medis di Indonesia, belum menerapkan kaidah penanganan gigitan ular berbisa sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terbaru (2016). Menurut Maharani, spesialis biomedik yang juga presiden Toxinology Society of Indonesia, penanganan korban snake bite dengan cara tradisional masih banyak diterapkan di kalangan masyarakat. Diantaranya menggunakan keris, batu, herbal dan tindakan yang berbau klenik lainnya,  justru dapat berdampak lebih buruk.

“Mengikat di bagian tubuh yang dekat dengan bekas gigitan, menyedot darah, atau menyayat bagian yang terkena gigitan (incisi) untuk mengeluarkan darah dari area luka gigitan, ini keliru. dan dapat memperburuk kondisi korban. Cara yang benar adalah imobilisasi, meminimalkan pergerakan di tubuh korban,” papar Maha. Di sesi ini, Maharani mempraktikkan teknik imobilisasi kepada tak kurang dari seratus audiens yang mamadati ruangan.

Lelitasari Danukusumo (Prio Penangsang/Milesia.id)

Sesi berikutnya, dr. Lelitasari Danukusumo, MKK, mengupas tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk Profesi Dokter Hewan. Lelita, dokter kesehatan kerja yang juga founder 4Life Occupational Health and Safety Services, itu mengemukakan perlunya para pekerja medis untuk mencermati aspek keselamatan mereka selama bertugas.

“Kalangan dokter hewan dan tenaga medis yang dalam keseharian berjibaku menyembuhkan maupun menyelamatkan kelangsungan hidup satwa, tak jarang terpapar rupa-rupa penyakit yang bersumber dari satwa itu sendiri,” papar Lelitasari. Bukan main-main, tercatat 350 ribu orang meninggal dunia akibat kecelakaan kerja setiap tahunnya, dan dua juta orang terkena penyakit akibat kerja untuk waktu yang sama. Diantara mereka, sangat mungkin adalah petugas medis yang berusaha merawat atau menyelamatkan hidup satwa (*).

(Prio Penangsang/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close