DINAMIKA

Asset Hendak Diserobot, Keluarga Herlina “Si Pending Emas” Tuntut Keadilan

Tanpa permisi dan datang layaknya hendak berperang, tak kurang dari limapuluh orang yang belum jelas latar belakangnya, merangsek masuk sebuah rumah di kawasan Kelapa Dua Wetan No. 99, Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (12/11) lalu.

Belakangan diketahui, puluhan orang itu dikerahkan oleh seorang karyawan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) berinisial UG dan diketuai oleh RM. Padahal, rumah yang lantas dipasangi plang oleh orang-orang tak dikenal itu, bukan  milik orang sembarangan.

Rumah Herlina tampak depan (IST/Milesia.id)

Rumah dengan pintu gerbang berbahan logam bercat biru itu, milik Sitti Rachmah Herlina atau lebih dikenal sebagai Herlina “Si Pending Emas”. Pejuang Tri Komando Rakyat (Trikora) dan satu-satunya sukarelawan perempuan yang terjun di medan konfrontasi di tanah Irian Jaya pada 1961 hingga 1962.

Herlina terjun bersama 19 relawan laki-laki dengan parasut. Melewati pelatihan minim dan tidak pernah tahu apakah akan bisa mendarat di titik target penerjunan dengan selamat. Atau malah jatuh ke area musuh dengan resiko tubuh dihujani peluru. Herlina tercatat sebagai satu-satunya perempuan diantara ratusan relawan pejuang Trikora. Tidak mengherankan, Ia adalah inspirasi bagi banyak orang.

Lahir di Malang, Jawa Timur, 24 Februari 1941, Herlina juga tercatat sebagai perempuan pertama, bahkan di dunia,  yang mendirikan klub sepakbola di awal 1970an. Caprina, nama klub itu, menelurkan banyak pemain andal, dan murni didedikasikan untuk kepentingan sosial.

Pada sosok pejuang berpostur kecil dan tomboi itu, ternyata mengalir jiwa petualang dan nasionalisme yang tak pernah padam hingga akhir hayatnya. Talentanya yang luar biasa ditandai dengan kemampuan jurnalistik yang tangguh, serta lancar berbahasa Inggris dan Belanda. Kemampuan ini yang kelak menjadi modal terpenting saat Herlina  mendirikan media pertama di Papua, Cenderawasih.

Ketika Presiden Soekarno mencanangkan operasi Trikora, Herlina tengah menekuni media yang didirikannya, Mingguan Karya, yang berkantor di Ternate.

Pending emas dari Bung Besar (Foto : Pending Emas)

Atas semua jasanya, Herlina menerima anugerah Satya Lencana Bintang Sakti dan anugerah Pending Emas yang diserahkan langsung dari Presiden Soekarno di Istana Merdeka pada 19 Februari 1963.

Penghargaan medali berupa Bintang Sakti yang lebih dikenal dengan sebutan Maha Wira Ibu Pertiwi memang merupakan bintang tertinggi di dalam perjuangan. Penghargaan ini dianugrahkan bagi anggota angkatan perang yang menunjukkan keberanian dan ketebalan tekad melampaui dan melebihi panggilan dalam menjalankan tugas militer.

Penghargaan lain adalah medali Bintang Sakti, atau dikenal dengan sebutan Maha Wira Ibu Pertiwi. Penghargaan anggota angkatan perang yang menunjukkan keberanian dan ketebalan tekad melampaui dan melebihi panggilan dalam menjalankan tugas militer.

Pendudukan Ilegal Rumah Herlina

Seperti dikemukakan keluarga Sitti Rachma Herlina dalam konferensi pers yang rilisnya diterima Milesia.id Kamis siang (28/11), telah terjadi dugaan tindak pidana memaksa masuk ke dalam rumah atau pekarangan tertutup yang dipakai orang lain secara melawan hukum. Hal itu terjadi pada Selasa, 12 November 2019, dari pukul delapan pagi hingga jelang jam enam sore.

Atas permintaan keluarga besar, melalui kuasa hukumnya, Ir. Fredy P. Sibarani, SH, MBA,  perbuatan ini telah dilaporkan kepada pihak kepolisian melalui Polres Jakarta Timur, pada hari Kamis, 14 Nopember 2019 dan saat ini sedang diproses.

Pihak keluarga Herlina menyayangkan masih ada pihak yang lebih menggunakan sisi emosionalnya ketimbang mengedepankan rasio dan ketaatan pada peraturan perundangan mengenai hak dan kepemilikan suatu lahan. Baik dari sisi atas nama sertifikat hak milik maupun dari sisi proses terjadinya perubahan kepemilikan sertifikat tersebut.

Seperti diketahui, tindakan yang  dilakukan oleh oknum karyawan BPOM tersebut, disebut terkait dengan upaya hukum yang sedang dilakukan oleh keluarga besar Ibu Herlina, untuk membebaskan dari jeratan perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Bank Intan pada tahun 1997-1998, sebelum bank itu ditutup oleh Pemerintah melaui BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) pada akhir tahun 1998.

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) – Kementerian Keuangan sekarang mewakili Bank Intan yang telah terlikuidasi, tanpa menyelidiki terlebih dahulu status hukum tanah rumah tinggal Ibu Herlina, secara serta merta telah meminjampakaikan lahan rumah tinggal tersebut kepada BPOM pada 26 Agustus 2016.

Keluarga Besar Herlina, saat ini dalam upaya untuk menebus sertifikat tanah rumah tinggal tersebut di Kementerian Keuangan. Sejak Pahlawan Trikora itu wafat pada 17 Januari 2017 silam, rumah itu dihuni dan ditinggali oleh Ibu Soebiati, keponakan Ibu Herlina, dan dua orang anak Ibu Herlina, yaitu Rigel Wahyu Nugroho dan Aurigia Bima Sakti yang berprofesi sebagai pilot.

Melalui kuasa hukumnya, keluarga Herlina meminta diberi kesempatan untuk melunasi hutang Ibu Herlina melalui PT Captina Jaya sebesar Rp 5 miliar atau sebesar nilai hak tanggungan. Mereka juga meminta BPOM, setelah mengetahui bahwa aset yang dipinjampakaikan oleh DJKN ternyata adalah aset milik Ibu Herlina, yang dalam permasalahan utang dengan Bank Intan, agar mengembalikan sertifikat kemilikan kembali kepada DJKN.

Dalam wawancara Milesia.id dengan Rigel Wahyu Nugroho melalui whatsapp, medio Desember tahun lalu, Rigel Wahyu Nugroho (56), mengaku sedih dan prihatiin. Rigel yang saat diwawancarai Milesia.id berada di Malaysia, berharap pemerintah RI mau peduli.  “Memang sangat menyedihkan. Sepertinya pemerintah kita tidak menilai perjuangan dan pengorbanan Ibu saya. Di masa Ibu saya hidup, tidak ada yang datang untuk menanyakan status (tanah dan rumah) nya. Setelah hampir dua minggu Ibu wafat mereka datang dengan tim mereka. Sangat menyedihkan..! ” ungkap Rigel.

Padahal, seperti dituturkan Rigel, selama hidupnya, Herlina tidak pernah minta maupun dan menerima apapun pemberian dari pemerintah. “Pending emas juga dikembalikan kepada pemerintah untuk pembanmgnan negara dan bagsa. Sudah lama Ibu saya tinggal di tanah yang sekarang ini. Tanah yang bukan dari pemberian pemerintah,” imbuh Rigel.

Semasa hidup, Herlina banyak melakukan aksi sosial kepada masyarakat sekitarnya melalui beragam kegiatan. Diantaranya klub sepak bola Caprinajaya, termasuk dengan menghibahkan beberapa lahan miliknya kepada yayasan-yayasan sosial. Di antaranya berupa lapangan bola Caprinajaya Kelapa Dua Wetan, lahan Pramuka Jambore, dan lain-lain.

Kasus dugaan penyerobotan asset milik mendiang Herlina “Si Pending Emas”, berpotensi menjadi preseden buruk bagi pemerintah Indonesia jika tak mampu membantu menyelesaikannya secara berkeadilan.

Jika menghargai jasa pahlawannya (termasuk menetapkan secara resmi gelar kepahlawanan Herlina) saja tak sanggup, maka memberi keadilan bagi keturunannya adalah langkah terhormat. (Prio P/Milesia.id)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close