DINAMIKAMilestravel

Jelajah Kejayaan Mataram Islam di Jogja (2) : Visi Maritim dan Cinta Mati Amangkurat I

Jejak Kemasyhuran, Kebijaksanaan dan Tirani Raja-raja Jawa

“History has been written by the victors” // Sejarah ditulis oleh para pemenang //

(Napoleon Bonaparte)

MILESIA.ID,  JOGJA – Menjelang siang, kami meluncur menuju desa Segoroyoso (bahasa Jawa: Segarayasa), desa yang menurut cerita pernah menjadi danau atau taman laut di masa pemerintahan Mataram Islam. Mengunjungi desa dengan legenda yang berkelindan, berjalin-jalin serupa benang kusut yang butuh diurai selalu membawa keasyikan tersendiri.

Kami membawa semua romantisme orang kota yang tergopoh-gopoh melihat desa sebagai tempat asing untuk dijelajahi. Sepanjang jalan berdecak kagum melihat deretan pepohonan di lereng-lereng perbukitan. Beberapa di antaranya nampak menguning, meranggas dan menyisakan warna abu seperti terbakar. Cuaca panas musim kemarau nampaknya telah menyulut api akibat gesekan ranting kering serta dedaunan yang meranggas.

“Desa ini mayoritas penduduknya bekerja sebagai peternak. Selain ternak sapi, ada juga kambing dan kuda,” ujar seorang penduduk yang kami temui tepat di jalan masuk menuju desa Segoroyoso.

Ia menggeleng ketika ditanyai mengenai sejarah taman laut Mataram Islam yang konon berlokasi di tempat ini. “Tak ada bekasnya, mungkin sudah rusak. Yang ada hanya sawah dan kebonan. Satu-satunya prasasti hanya tonggak batu Serangan Umum 1 Maret zaman Pak Harto,” terangnya.

Akhirnya kami memutuskan menyusuri jalanan desa Segoroyoso sendiri. Tak ada yang istimewa dengan desa ini, sama seperti suasana pedesaan pada umumnya: udara pedesaan nan sejuk, pemandangan sawah yang menghampar, tanah lapang yang luas, serta penduduk yang lalu-lalang di jalanan yang masih lengang.

Gawai berbunyi ketika sebuah pesan Whatsapp masuk, seorang teman yang aktif dalam komunitas sejarah menyarankan kami menuju “Tempuran Banyu Kencono”. Menurutnya, di tempat pertemuan dua arus sungai itulah muasal Segoroyoso tercipta.

Tempuran Banyu Kencono

Tempuran Banyu Kencono. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO

Sekitar 10 menit berkendara, tiga kilometer ke arah utara kemudian belok ke barat menuju jalan tempuran, akhirnya kami tiba di lokasi tempuran. Tepatnya di Jalan Karet, Pedukuhan Karet, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jika dihitung jaraknya dari kota Jogjakarta kurang lebih 15 KM atau membutuhkan waktu  40 menit perjalanan.

Kami memarkir kendaraan di tanah lapang yang bersebelahan dengan replika sebuah perahu nelayan bercat biru. Nampaknya tempuran ini tengah dikembangkan menjadi objek wisata oleh pemerintah desa setempat. Ada beberapa taman bunga yang tengah dikerjakan, tempat permainan anak, serta sebuah pendopo yang baru selesai dibangun.

Berjalan ke arah selatan menuju lokasi tempuran, kami menyusuri setapak kecil, membelah deretan semak belukar yang bersisian dengan aliran sungai berwarna kehijauan.

Tepat di ujung setapak, pemandangan dua aliran sungai yang mulanya bercabang kemudian bertemu, bergabung bersama-sama membentuk satu aliran sungai menghampar di muka. Air sungai berwarna bening kehijauan dengan tumbuhan air yang menggerumbul di tepian. Di kejauhan, deretan pepohonan nampak menghijau ranum, terasa sejuk menyatu dengan udara pedesaan yang segar. Tak jarang beberapa perahu nelayan melintas dengan sekelompok orang di lambung perahu. Sepertinya perahu-perahu itu telah disulap menjadi wahana susur sungai.

“Dulunya tempat ini danau buatan, biasa disebut tambak pada zaman Mataram Sultan Agung,” terang Agus Rendeng, salah seorang seniman warga dusun Pungkuran yang ikut mengerjakan pembangunan tempat wisata ini. Pada zaman dahulu tempat ini menjadi lokasi pertemuan para ulama untuk mendiskusikan berbagai permasalahan di masyarakat.

Di masa lalu, tempuran ini menjadi tempat berkumpul para ulama. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO

Konon dinamakan tempuran Banyu Kencono, karena tempat ini menjadi tempat pertemuan dua aliran sungai, yaitu Kali Opak dan Kali Gajah Wong. Istilah tempuran berasal dari bahasa Jawa yang berarti “bertemu”. Air tempuran ini sendiri masih dimanfaatkan penduduk sekitar untuk mengairi sawah dan kebun mereka.

Melihat kondisi tempuran saat ini, sulit dibayangkan jika 4 abad lalu pernah menjadi titik kunci bagi penciptaan segara (laut) buatan, atau lazim disebut “segarayasa”. Bagaimana tempuran ini dibendung sehingga membentuk sebuah danau multifungsi: sebagai tempat latihan perang Armada Laut Mataram sekaligus tempat berwisata raja bersama istri-istrinya.

Merujuk catatan Babad Sengkala tahun 1683 J (mulai 6 September 1660), menuliskan, ribuan penduduk dari wilayah bawahan Mataram di pesisir dan mancanegara bahu membahu membangun bendungan di Jaha. Nama Jaha sendiri belum bisa dipastikan sebagai sebuah tempat atau apa, namun diyakini nama kuno lokasi di sekitar Pleret. Tapi banjir bandang (diduga Kali Opak) menghancurkan bendungan baru yang dibangun.

Pembangunan Segoroyoso sebenarnya dirintis sejak akhir pemerintahan Sultan Agung, sekitar 1644 Masehi (Sultan Agung wafat: 1645 M). Di penggal Kali Opak di dekat Segoroyoso itu dibangun plered atau bendungan penahan aliran air. Penyebutan “plered” ini menjadi versi lain bagi toponim desa Plered, lokasi Ibu kota Mataram Islam yang ketiga. Namun secara keseluruhan, Segoroyoso dibangun dan disempurnakan oleh penerus Sultan Agung, raja Mataram Islam yang keempat, Susuhunan Amangkurat I.

Visi Maritim Seorang Despot

Sketsa peta Keraton Pleret buah karya Roufaers tahun 1889 saat mengunjungi bekas ibukota Mataram. IST

Pada tahun 1647, Amangkurat I memindahkan ibu kota Mataram dari Karta (Kerto) ke Plered. Letaknya 2 KM di sebelah timur Kerto. Pembangunan infrastruktur ibu kota baru ini dikerjakan dengan teliti. Setelah tembok keliling keraton selesai dibangun dalam waktu 2 bulan, Susuhunan Amangkurat I menghendaki pembangunan diperluas. Salah satunya membangun bendungan dan danau buatan. Bendungan itu dimanfaatkan untuk irigasi pertanian.

Kerajaan Mataram merupakan negara yang bertumpu pada sektor agraris, mereka menjadi salah satu pengekspor beras dan palawija di masa itu. Oleh sebab itu, Amangkurat I menyadari pentingnya menjaga kedaulatan pangan. Baginya, ketersediaan pangan yang cukup akan menjadi kunci stabilitas sebuah negara.

Untuk mewujudkan visi itu, Amangkurat memerintahkan membendung sungai-sungai yang mengitari Istana Plered. Seperti kali Opak, kali Winanga, dan kali Gajahwong. Pembangunan bendungan ini sekaligus dengan pembuat taman laut atau segara buatan. Raja ingin memiliki keraton indah yang dikelilingi danau buatan.

Awal 1659 Masehi bendungan dibangun di sisi selatan dan timur. Kemudian diperluas di sebelah timur alun-alun. Dua tahun kemudian air yang mengalir bukan hanya dari selatan dan timur namun juga dari utara dan barat.

Ahli sejarah Mataram dari Belanda, Dr HJ Degraaf, menyebut dalam catatan Daghregister 12 September 1661 halaman 275, raja membangun istananya menjadi tempat tinggal yang dikelilingi air. Proyek besar ini melibatkan lebih dari 300 ribu orang tenaga kerja paksa. Pembangunan dinyatakan rampung pada 1668 M. Saat meresmikan proyek pembangunan itu, Amangkurat I memberinya nama “Hastana Segarayasa”, istana di atas danau buatan.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Rijklof van Goens (1619 –1682) melukiskan kondisi Plered dalam catatannya saat mengunjungi ibu kota Mataram itu:  “Dalam perjalanan menuju Plered sekitar 18 – 19 mil dari kota pelabuhan Semarang, terletak pintu gerbang pertama, disebut Selimbi. Pada pintu gerbang ini terdapat sebuah benteng, yang dihuni sekitar 1500 – 1600 orang. Dengan dijaga oleh para prajurit kraton, semua yang lewat gerbang dicatat oleh juru tulis. Sekitar 1 – 1,5 mil dari gerbang Selimbi, terbentang daerah Mataram yang subur, sawah sangat luas hingga batasnya tidak tampak. Desa-desa sangat subur banyak ditemui sepanjang jalan. Di antara sawah-sawah ditemui perbukitan yang ditanami pohon buah-buahan. “

Maket istana Plered sekitar tahun 1670 M. IST/Dok. UPY JOGJA.

Amangkurat I tumbuh menjadi seorang despot seiring pemerintahannya yang dipenuhi pertikaian dan pemberontakan. Dimulai dari pemberontakan Raden Mas Alit atau Pangeran Danupoyo, adik Amangkurat I yang menentang penumpasan tokoh-tokoh senior. Kemarahan Amangkurat yang membabi-buta membuatnya tega membunuh 6000 ulama yang mendukung pemberontakan Raden Mas Alit. Raja juga membunuh seorang dalang istana, Dalang Panjang Mas, demi merebut istrinya yang bernama Ratu Malang. Puncaknya beliau berseteru dengan Putra Mahkota, Adipati Anom karena memperebutkan Rara Oyi.

Untuk memperkuat wibawa Mataram dan mengukuhkan kekuasaannya, Amangkurat I menjalankan pemerintahan dengan bertumpu pada kekuatan militer. Rijklof van Goens mencatat bahwa Amangkurat I memiliki 920.000 tentara dan 115.500 prajurit beristinggar. Tentara maupun prajurit beristinggar itu tidak hanya dipimpinnya sendiri melainkan juga dipimpin oleh vasal-vasalnya yang dikerahkan ketika Mataram menghadapi peperangan.

Mengutip laman tirto.id, dalam artikel “Saat 6.000 Ulama dan Keluarga Dibantai Sultan Mataram Islam”, sejarawan Australia, Merle C. Ricklefs dalam “War, Culture, and Economy in Java 1677-1726” (1993) menggambarkan sosok Amangkurat I sebagai penguasa brutal tanpa sedikit pun keberhasilan atau kreativitas. “Jika Sultan Agung menaklukkan, menggertak, membujuk, dan bermanuver, Amangkurat I menuntut dan membantai”.

Dengan sedikit sekali perhatian kepada keseimbangan politik, Amangkurat I mencoba membangun kekuasaan terpusat dengan tujuan menyenangkan kepentingannya sendiri. Seperti membangun istana megah, memperbanyak istri dan sewenang-wenang kepada rakyatnya.

Amangkurat I juga dianggap tidak memiliki kualitas kebajikan yang harus dimiliki seorang raja. Dalam “Serat Jaya Baya”, kitab rahasia yang dianggap sakti karena bisa meramal masa depan, Amangkurat I dilukiskan dengan metafora negatif: Kalpa sru semune kenaka putung (masa kelaliman yang diibaratkan dengan kuku yang putus). “Masa lalim” maksudnya kekejaman pemerintahan raja, dan “kuku yang putus” maksudnya banyaknya panglima yang dibunuh tanpa guna.

Ilustrasi kegiatan perdagangan tempo dulu. IST/ WIkipedia

Pemerintahan Amangkurat I di Kraton Plered  memang penuh dengan represi. Represi pertama yang dirasakan terkait dengan kegemaran Amangkurat I mengumpulkan besi untuk dibuat keris, tombak, senapan, dan kendaraan laut. Berbagai penangkapan, pembelengguan, pemerasan, dan perbuatan tirani lain dilakukan untuk mengumpulkan uang demi bisa membeli besi (Daghregister, 7 Desember 1656 via H.J. de Graaf, 1987: 130).

Selain itu, represi pemerintahan Amangkurat I juga dirasakan dalam ranah ekonomi. Per Garebeg Mulud 27 November 1659, rakyat dikenakan pajak kepala. Besarnya berbeda-beda, seperti: 7/4 ringgit bagi penduduk biasa, 9/4 ringgit bagi pemilik tanah, dan 3 ringgit bagi penduduk yang hidup dari usaha pelayaran (Daghregister, 13 November 1659 via H.J. de Graaf, 1987: 131).

Amangkurat I juga melakukan penutupan pelabuhan-pelabuhan. Penutupan pelabuhan itu dilakukan demi monopoli beras juga kayu sebagai komoditas perdagangan Mataram. Jika ada penduduk yang kedapatan tetap berlayar ataupun melakukan perdagangan melalui pelabuhan, seketika akan dibunuh oleh penguasa setempat atas perintahnya.

Ilustrasi Susuhunan Amangkurat I. IST

Walaupun terkenal sebagai penguasa lalim yang haus darah, Amangkurat I memiliki visi maritim yang kuat. Mengutip tulisan Kusno S. Utomo di laman radarjogja, “Amangkurat Peletak Dasar Pembangunan Maritim”, Segarayasa dibangun tak sekedar sebagai istana di atas air. Danau ini juga berfungsi sebagai tempat  latihan perang angkatan laut Mataram. Di balik pembangunan Segarayasa ada visi besar raja untuk menjadikan Mataram sebagai negara maritim yang tangguh.

Maka dibangunlah kementerian maritim dan kelautan, pangkalan angkatan laut, sekolah pelayaran, kedutaan besar, dan konsulat. Semua berkedudukan di Tegal. Anak-anak muda Tegal dikirim belajar pengetahuan maritim ke Palembang yang terkenal memiliki armada laut kuat sejak era Sriwijaya. Setiap tiga bulan sekali Amangkurat I berkunjung ke Tegal.  Ia didampingi bupati Banyumas, Pekalongan, Cilacap, Jepara dan, Semarang. Kunjungan itu dalam rangka rapat koordinasi menjadikan Tegal sebagai pintu gerbang maritim.

Dasar-dasar kemaritiman yang diletakkan Amangkurat I, mulai dari keterampilan mengelola pelabuhan, mendirikan pusat pendidikan kemaritiman dan pelayaran, menjadikan Tegal terkenal sebagai jalur perdagangan. Kiwari, TNI Angkatan Laut Indonesia dirintis dari Tegal. Sejak tahun 1945, Pendidikan perwira marinir berpusat di kota ini. Salah satu alumninya Letjen Marinir (Purn) Ali Sadikin, yang sempat menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Makam Ratu Malang

Menyusuri lereng bukit ditemani Pak Jito. MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO

Setelah menyusuri tempuran Banyu Kencono, kami meneruskan perjalanan menuju ke arah timur, tepatnya di sebelah utara desa Segoroyoso. Masyarakat menyebut area perbukitan setinggi 99 mdpl itu dengan nama “Gunung Kelir”. Konon di tempat ini disemayamkan jasad Ratu Mas Malang, salah seorang istri Susuhunan Amangkurat I yang paling dicintainya.

Kami memacu kendaraan menyusuri Jalan Raya Pleret, melewati “Museum Pleret” ke arah timur. Setelah melibas jalan Pleret, kendaraan berbelok menuju jalan Nyi Tuntrum. Pemandangan area persawahan seketika terhampar di kanan kiri jalanan beraspal. Di kejauhan nampak area perbukitan dengan pohonan yang meranggas, berwarna kuning kecoklatan.

Langit berwarna kelam ketika kami memasuki gapura hijau bertuliskan “Dusun Gunung Kelir”. Angin pedesaan yang bertiup agak keras membuat bulu kuduk meremang. Setelah mengikuti petunjuk arah yang bertebaran di pinggiran jalan, kami akhirnya tiba di area makam Ratu Mas Malang.

“Makam Ratu Malang ada di atas bukit. Silakan dilanjutkan dengan berjalan kaki,” ujar Jito (43), Juru Pelihara Situs Ratu Malang yang kami temui di muka sebuah mushola.

Gerbang utama Situs Makam Gunung Kelir. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO

Dengan ditemani Juru Pelihara (Jupel) itu, kami menaiki perbukitan melalui anak tangga dari batuan bersemen yang masih dalam proses pengerjaan. Menurut Jito, dana pembangunan anak tangga itu berasal dari seorang donatur yang masih kerabat Dalang Panjang Mas.

Setelah mendaki lereng bukit, melalui beberapa kelokan dengan nafas terengah-engah, kami tiba di muka kompleks pemakaman. Sebuah papan peringatan serta papan informasi mengenai peta dan sejarah pemakaman ini nampak bertengger gagah. Kontras dengan tembok bata di belakangnya yang uzur dimakan usia. Wujudnya semrawut serta berlumut. Rapuh mengitari kompleks pemakaman. Sepasang beringin tua dan beberapa bunga kamboja putih mengintip dari balik tembok makam.Tak berapa lama, Jito membuka pintu besi bercat hijau yang menjadi gerbang utama pemakaman.

Derit engsel pintu serta angin perbukitan yang tiba-tiba berhembus mengiringi langkah kami mengikuti Jito menuju bagian dalam kompleks pemakaman. Kami berjalan lurus, melewati beberapa nisan di sebelah kanan yang tertata rapih di bawah pohon kamboja dan beringin tua. Tepat di ujung kompleks pemakaman kami berhenti.

Nisan Ratu Mas Malang di bawah pohon kamboja. MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO

“Ini makam Ki Panjang Mas, dalang keraton Mataram,” ujar Jito sambil menunjuk sebuah nisan tua dengan kain mori dan jarik warna coklat, tepat di bawah pohon tua yang diselimuti kain putih. Ia menggelar tikar yang tersimpan di bawah pohon kemudian mempersilakan kami duduk.

Menurut catatan yang ditulis pada papan informasi di depan tadi, makam Ratu Malang dibangun selama kurang lebih tiga tahun, yaitu dari tahun 1665 sampai 11 Juni 1668. Kompleks makam ini dibangun dari balok-balok batu putih untuk dindingnya dan tembok batu andesit untuk nisannya. Amangkurat I menamai tempat ini “Antaka Pura” yang berarti istana kematian atau istana tempat menguburkan jenazah.

Ada 28 nisan yang tersebar pada kompleks pemakaman ini. Jika dikelompokan dalam 3 lokasi, masing-masing terdiri dari 19 nisan di halaman depan, 1 nisan di halaman belakang (nisan Dalang Panjang Mas) dan 8 nisan di halaman inti yang salah satunya nisan Ratu Mas Malang. Sedang jirat makam dibuat dari batu andesit dengan rincian, 1 berbentuk jajaran genjang dan 14 berbentuk kurung kurawal. Sementara nisan yang berupa tumpukan batu putih tidak memiliki jirat.

“Ratu Malang salah satu istri kesayangan raja Mataram. Ia cinta mati Amangkurat,” ujar Jito sambil menghisap kretek di tangannya.

Cinta Mati Amangkurat

Ilustrasi kemolekan putri kraton Jawa. IST

“Usianya masih muda, mungkin 25 tahunan. Tubuhnya semampai, berambut panjang lurus sepinggang, wajahnya cantik seperti gadis India,” terang Jito menceritakan sosok Ratu Malang.

Menurut Juru Pelihara Situs Ratu Malang ini, ia pernah melihat sosok Sang Ratu mengenakan kebaya biru dan kain jarik.

Mengutip tulisan M. Fazil Pamungkas dalam “Cinta Amangkurat I”, Babad Tanah Jawi mengisahkan pertemuan pertama raja dengan perempuan cantik itu terjadi saat ia mengeluarkan titah mencari seorang perempuan untuk diperistri. Amangkurat I lalu diperkenalkan oleh Pangeran Blitar dengan Nyi Mas Tuntrum, putri Ki Wayah, seorang dalang wayang gedog terkemuka. Parasnya yang molek langsung membuat raja despot itu jatuh cinta.

Sayangnya, perempuan yang berprofesi sebagai sinden ini telah menikah dengan Anjang Mas alias Ki Dalang Panjang Mas, seorang dalang kenamaan yang konon memiliki suara merdu, olah nafasnya sangat panjang sehingga suluknya tak terputus. Nyi Mas Tuntrum juga tengah mengandung dua bulan dari hasil pernikahannya itu.

Nisan Ki Dalang Panjang Mas. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO

Dimabuk cinta, Amangkurat I bersikeras memboyong perempuan itu ke istana. Menurut Sejarawan asal Belanda, HJ De Graaf (1899-1984) dalam “Runtuhnya Istana Mataram”, meskipun keberadaan istri baru ini tidak membuat raja melupakan istrinya yang lain, perhatiannya jadi lebih banyak dialihkan kepada istri barunya ini. Itulah sebabnya ia disebut orang “Ratu Malang” (artinya: yang melintang di jalan).

Sekitar tahun 1649, anak Ratu Malang dari pernikahannya dengan Anjang Mas lahir dan diberi nama Natabrata. Di luar dugaan, rasa cinta Amangkurat I kepada Ratu Malang tak sedikitpun luntur. Setelah kelahiran putra tirinya, demi menghindari masalah, raja mengeluarkan perintah membunuh Ki Dalang Panjang Mas.

Namun menurut catatan pemerintah Belanda, Daghregister 1677, yang didapat dari penuturan salah seorang pengawal istana, Anjang Mas tidak meninggal karena dibunuh Amangkurat I melainkan meninggal secara wajar. Kemudian setelah menjadi janda, wanita itupun dipersunting oleh raja. De Graaf meragukan pernyataan yang kedua ini. Menurutnya Amangkurat I telah melakukan dosa yang terlalu banyak, sehingga cara pertama bukanlah sesuatu yang mengherankan.

Ratu Malang merasa terpukul mengetahui kematian Anjang Mas. Ia meratapi kematian pria yang pernah menjadi suaminya itu. Ratu jatuh sakit dan meninggal tak lama kemudian. Raja melihat ada kejanggalan dalam kematian istrinya itu karena sebelum meninggal sang ratu mengeluarkan banyak cairan dari dalam tubuhnya, seperti keracunan. Amangkurat I segera menyeret dayang dan pelayan istana yang melayani Ratu Malang untuk dihukum.

“Dapat dimengerti bahwa Sunan curiga ketika istrinya meninggal dengan memperlihatkan gejala-gejala aneh. Ia menjadi risau sendiri terhadap hal-hal remeh. Andai kata peracunan yang menjadi penyebab maka si pelaku tentunya harus dicari di kalangan terdekat si korban, yaitu para dayang yang pernah sekali berkomplot dengan Putra Mahkota pembangkang itu (Pangeran Adipati Anom) untuk melawan raja,” ucap De Graaf.

Pusara Ratu Mas Malang, diselimuti kain mori putih. MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO

Dirundung rasa curiga yang dalam, Amangkurat I menjadi membabi-buta. Thomas Stanford Raffles dalam History of Java menggambarkan bagaimana raja amat marah kepada dayang-dayangnya. “… raja mengurung 60 orang dayang-dayang istrinya di dalam sebuah kamar gelap dan tidak diberi makan sampai mereka mati semua”.

Kematian Ratu Malang menjadi pukulan berat bagi Amangkurat I. Dalam laporan pejabat Belanda, raja sampai tidak bisa menjalankan pemerintahannya dengan baik hingga 4-5 tahun setelahnya. Bahkan saat pejabat tinggi negeri Belanda berkunjung ke Mataram, Amangkurat I tidak hadir menyambut utusan itu. Sambil menjelaskan keadaannya, para menteri kerajaan sementara menggantikan tugas-tugas sang raja.

Jenazah sang ratu dibawa ke Gunung Kelir untuk dipusarakan. Menurut De Graaf , selama beberapa hari liang lahat Ratu Malang tidak ditutup atas permintaan raja. Siang dan malam sambil membawa serta putranya, Amangkurat I diam di dekat makam itu meratapi tubuh perempuan pujaannya yang telah terbujur kaku. Kepergian raja menimbulkan kekacauan di keraton. Keluarga dan pejabat kerajaan terus berusaha membujuknya agar kembali pulang.

“Suatu malam Sunan mendengar dalam mimpinya bahwa Ratu Malang telah menemani kembali suaminya, Ki Dalang Panjang Mas. Setelah terbangun, dilihatnya jenazah Ratu Malang sudah tidak berbentuk manusia lagi. Setelah itu ia kembali ke keraton dan dengan marah diperintahkannya agar menutup liang lahat. Setelah itu suasana kembali tenang,” tulis De Graaf.

Sejarah Milik Penguasa

Panji Kerajaan Mataram Islam. IST

Mentari mulai beringsut ke barat ketika kami keluar dari pintu komplek pemakaman Ratu Malang. Sambil mengunci kembali pintu makam, Jito bercerita bahwa di sebelah timur laut makam itu terdapat sebuah sendang bernama Sendang Moyo. Di tempat itu juga terdapat sebuah balok berbahan batu andesit yang dikenal penduduk sebagai kotak wayang Ki Dalang Panjang Mas.

Kami menuruni perbukitan Gunung Kelir ketiga adzan Ashar berkumandang. Cuaca sudah tak begitu panas ketika melewati beberapa penduduk yang masih sibuk membuat anak tangga di lereng bukit. Sebentar kemudian kami telah meninggalkan perbukitan Gunung Kelir, menembus jalan Raya Pleret yang mulai padat.

Sulit membayangkan jika di tempat ini pernah berdiri pusat peradaban besar bernama Mataram Islam. Tak ada catatan sejarah yang rapih dari negeri sendiri selain “Babad Tanah Jawi” yang terkadang lebih terdengar sebagai dongeng. Sebagian besar catatan berasal dari Eropa khususnya negeri Belanda, terutama dalam penggambaran karakter para penguasanya. Sungguhkah Amangkurat I sosok despot yang keji seperti digambarkan dalam catatan sejarawan Belanda? Tentu kita harus meneliti mengenai kebenaran catatan sejarah itu, karena  sejarah tak lebih dari kumpulan fragmen yang disusun dalam sebuah narasi oleh para sejarawan.

Narasi inilah buah karya sejarawan, sebuah interpretasi atau  tafsiran yang tak lepas dari unsur subjektifitas pun “keberpihakkan”. Sejarah bisa  saja memutarbalikkan fakta, mengubah pahlawan menjadi pecundang atau mengubah pecundang menjadi “hero”. Seperti  sebuah adagium klasik : “sejarah adalah milik penguasa, milik para pemenang”.

 (Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close