Milescoop

Nafsu Berkuasa dan Budaya Malu yang Ambyar

"Catatan Retrospektif untuk Dekopin"

 

Oleh : Djabaruddin Djohan *)

Djabaruddin D (dok pribadi)

Malu adalah sifat terpuji dan merupakan ahlak mulia, yang mendorong seseorang untuk menjaga dari  perbuatan buruk dan tercela, serta mencegah sikap melalaikan hak dan kepentingan orang lain.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “malu sebagai merasa sangat tidak enak, hina, dan rendah karena berbuat sesuatu yang kurang baik atau kurang benar’”. Dengan demikian maka malu bisa disebut sebagai instrumen untuk mengendalikan orang yang memilikinya dari perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya dilakukan.

Dari uraian tersebut di atas,, bisa kita ketahui, betapa rasa malu memainkan peranan sangat penting dalam kehidupan manusia. Bisa dibilang, tegaknya tatanan kehidupan ini  banyak ditentukan oleh adanya rasa malu dalam diri manusia. Rasa malu juga menjadi kata kunci untuk mengukur kualitas kemanusiaan manusia. Tanpa rasa malu, manusia akan kehilangan kemanusiaannya. Dengan demikian maka rasa malu bisa menjadi faktor pembeda utama antara hakekat manusia  sebagai mahluk termulia dengan hakekat mahluk lainnya

Dalam ajaran Islam rasa malu merupakan salah satu aspek paling penting. Imam Nawawi, seorang uama besar (1233-1277 M) menyatakan, bahwa “malu adalah akhlak mulia yang akan mendorong seseorang untuk meninggalkan keburukan dan mencegahnya dari melalaikan hak para pemiliknya’.

Dalam sebuah hadis shahih yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW “Jika kamu tidak memiliki rasa malu, berbuatlah sesukamu” (HR Bukhari). Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat penting bahwa rasa malu merupakan pembatas dari perbuatan tercela yang bertentangan dengan norma-norma agama. Sebuah hadis lain menyatakan “Malu adalah sebagian dari iman” (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini hendak menekankan, bahwa tidaklah sempurna iman seseorang jika tidak ada rasa malu dalam dirinya.

Iman dan malu bagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna” (HR Al-Hakim)

Sayang seribu sayang, asset moral yang sedemikian penting dan mulia ini, baik dilihat dari aspek sosial maupun aspek agama, beberapa tahun terakhir ini. semakin ditinggalkan/diabaikan dalam kehidupan masyarakat. Hal – hal yang sebelumnya sangat tabu dan memalukan telah menjadi hal yang sangat banyak terjadi. Sebut saja dalam bidang kesusilaan, berupa  praktek prostitusi, baik yang dilakukan oleh kalangan bawah maupun kalangan atas, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, baik yang dilakukan secara konvensional maupun secara on line, sekarang jauh lebih banyak dilakukan secara terbuka. Atau perselingkuhan yang dilakukan seorang suami atau isteri, yang sebelumnya merupakann sesuatu hal yang sangat tabu atau memalukan, saat sekarang mulai dianggap sebagai hal yang biasa.

Dalam ranah hukum, distorsi rasa malu ini dari hari ke hari semakin parah.  Praktek korupsi, baik di kalangan pejabat negara, apakah di kalangan eksekutif, legislatif maupun yudikatif semakin menunjukkan gejala yang semakin meningkat, yang antara lain ditunjukkan oleh semakin seringnya KPK melakukan OTT (Operasi Tangkap Tangan).

Korupsi bukan semata-mata dilakukan oleh kalangan bawah yang didorong untuk memenuhi kebutuhan hidup (corruption by need), melainkan juga oleh kalangan menengah  ke atas oleh dorongan keserakahan (corruption by greed) untuk memenuhi nafsu konsumerisme dan hedonismenya.

Begitu menjamurnya praktek korupsi ini (bahkan lebih luas lagi dalam bentuk KKN, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) di seluruh level kehidupan masyarakat mulai dari kehidupan rumah tangga sampai kehidupan bernenegara, sehingga KKN seperti telah menjadi budaya baru dalam kehidupan. Sogok menyogok, pemerasan, perampasan hak, pengingkaran tangguang jawab dan hal – hal lain yang bertentangan dengan aturan dan norma – norma hidup telah menjadi sesuatu yang lumrah.

Seolah tidak mau ketinggalam dengan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat dewasa ini dalam wujud pengingkaran terhadap nuilai-nilai rasa malu, di kalangan gerakan koperasi Indonesia pun terjadi hal serupa.

Adalah Nurdin Halid (NH), politisi yang telah menjabat sebagai Ketua Umum Dekopin selama  beberapa  periode sejak 1998, (diselingi dengan “istirtahat karena terlibat dalam kasus hukum”), namun selama gerakan koperasi di bawah kendalinya, tak tampak jejak langkahnya yang bernilai positif, baik dari aspek ekonominya maupun aspek ideologinya, baik pada aspek mikro maupun aspek makronya.

Dengan latar belakang ini, maka sungguh membuat banyak orang geleng-geleng kepala, ketika pada Musyawarah Nasional baru-baru ini, sang tokoh dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi dan tanpa terbebani rasa malu,  masih mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Dekopin. Entah dengan strategi dan taktik yang bagaimana,  ternyata dia berhasil “terpilih” , meskipun sebagian anggotanya melakukan walkout, dengan alasan telah terjadi pelanggaran Anggaran Dasar dengan ‘mengangkangi’ masa periodisasi kepemimpinan NH.

Para peserta yang walkpout ini konon lalu membentuk Dekopin tandingan dengan Ketuanya Sri Untari dari Dekopinwil Jawa Timur. Bisa diduga, kondisi ini bisa menyulut konflik  internal gerakan koperasi yang berkepanjangan, seperti yang terjadi pada era 1993-2014 yang juga melibatkan NH.

Ambisinya yang begitu kuat untuk menduduki jabatan Ketua Umum Dekopin sebagai basis politiknya (setelah gagal menjadi Gubernur Sulsel), menjadikannya sebagai  tokoh (juga sebagai muslim) yang mengabaikan rasa malu, yang lebih menonjolkan egonya  yang asosial. Sungguh suatu demonstrasi yang begitu “telanjang” tentang praktek yang tak kenal rasa malu.

Dalam kondisi perkoperasian seperti sekarang  ini, sulit berharap koperasi Indonesia akan bisa berkembang dengan kuat dan sehat. Dengan pimpinan yang “tak tahu malu”, yang perhatiaannya lebih ditujukan untuk mempertahankan kedudukannya ketimbang untuk membangun koperasi secara benar, maka bisa dimengerti jika perkembangan koperasi dari waktu ke waktu bukan semakin kuat dan sehat, suatu kondisi yang semakin menjauh dari cita-cita yang menginginkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian  nasional.

Keinginan untuk kembali meluruskan perkembangan koperasi di jalan yang benar (sesuai dengan jatidirinya) yang berarti untuk menjadikan koperasi sebagai organisasi ekonomi yang sehat dan kuat, tidak bisa lepas dari upaya untuk membudayakan  rasa malu di kalangan gerakan koperasi sebagai ahlak mulia yang mencegah perbuatan yang amoral, yang menghalalkan segala cara, dan jangan lupa dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai koperasi seperti kejujuran, keadilan, solidaritas,  dan peduli kepada orang lain (*).

*) Penulis, Aktivis Koperasi dan Pegiat Sosial, tinggal di Jakarta.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close