DINAMIKAMilestravel

Jelajah Kejayaan Mataram Islam di Jogja (1) : Dari Satu Ibu Kota ke Ibu Kota Lainnya

Jejak Kemasyhuran, Kebijaksanaan dan Tirani Raja-raja Jawa

“Hampir semua orang dapat menanggung kemalangan, tapi jika Anda ingin menguji watak manusia, coba beri dia kekuasaan.”

(Abraham Lincoln, presiden ke-16 Amerika Serikat)

MILESIA.ID,  JOGJA – Kepalan tangan lelaki itu erat memegang gagang sapu, sigap mengarahkan ke kanan-kiri pinggiran lubang sebesar lapangan voli di depannya. Debu tipis membumbung ketika ujung sapu menyeruak tanah kering bercampur sampah dedaunan yang nampak gembur di musim kemarau.

Lelaki bertopi coklat, dengan boot kelabu dan kaos putih bertuliskan: “Ekskavasi Arkeologi 2019” itu masih sibuk menyapu dan memunguti sampah di pekarangan seluas ± 900m2 yang dikelilingi pagar besi keperakan ketika milesia tiba. Ia menghentikan pekerjaannya begitu kami menyapa. Menyambut dengan senyum ramah kemudian menemani berkeliling.

Situs Kerta (Kerto)

Pak Rahmat menunjukkan trap tumpukan batu andesit hasil ekskavasi di situs Kerta. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO.

“Situs Kerta ini lokasi Ibu kota kedua Mataram Islam,” terang Rahmat Fauzi, Juru Pelihara (Jupel) Situs Keraton Kerta-Plered itu. Situs ini akrab disebut “lemah dhuwur” oleh masyarakat sekitar karena menempati lahan setinggi 1-1,5 m dari tanah sekitarnya. Konon merupakan bangunan Siti Hinggil Keraton Kerta yang berfungsi untuk menerima tamu-tamu kerajaan.

Sepuluh menit berkeliling, Rahmat menunjukkan beberapa lubang hasil ekskavasi (penggalian tempat yang mengandung benda purbakala) berisi tumpukan batu bata kuno yang berfungsi sebagai penguat pondasi. Ada pula tumpukan batu andesit berbentuk persegi panjang yang ditata bertrap, diduga sebagai undakan atau tangga di depan pintu masuk keraton Kerta.

Selain itu terdapat 2 buah “umpak” atau landasan soko (tiang) dari batu andesit. Berbentuknya persegi, berwarna pekat khas batuan yang biasa ditemukan pada bangunan candi. Pada bagian tengahnya berlubang untuk menancapkan tiang kayu yang bentuknya sudah tak rapih lagi.

“Dulu, masyarakat sering menggunakannya untuk memasah (menajamkan) mata pisau atau parang dan benda tajam lainnya, sehingga lama-kelamaan bentuk aslinya terkikis,” ujar Rahmat seperti menyayangkan.

Salah satu dari 2 umpak yang masih tersisa di Situs Kerta. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO.

Umpak berukuran ± 70×70 cm dengan tinggi 68 cm itu terhitung besar jika dibandingkan umpak yang terdapat di keraton Yogyakarta. Yang menarik, pada permukaan umpak itu terdapat semacam pahatan menyerupai huruf Arab terdiri dari mim, ha, dal. Rangkaian huruf Arab itu jika disatukan membentuk kata “Muhammad”.

Menurut Rahmat, idealnya selalu ada 4 (empat) buah umpak sebagai landasan soko pada setiap bangunan keraton. Sebelum tahun 1970-an, memang  masih tersisa 3 buah umpak, namun salah satu umpak kemudian dipindahkan ke area Tamansari sebagai saka guru Masjid Sakatunggal di Kompleks Tamansari pada masa Sultan HB IX. Sedangkan umpak yang satunya lagi raib entah ke mana.

Hampir setengah jam berkeliling, kami memutuskan mengaso di bawah pohon rindang tepat di tengah-tengah pekarangan luas itu sambil terus mengobrol. “Mengapa Ibu Kota Mataram Islam berpindah dari Kotagede ke Kerta?” kami bertanya pada Jupel itu sambil menenggak air mineral. Pria berkumis tipis itu tak menjawab dengan pasti. Ia hanya menyebut Ibu Kota berpindah ke Kerta pada era Sultan Agung, kemudian berpindah lagi sebanyak dua kali sebelum benar-benar pecah menjadi 4 kerajaan kecil seiring penandatangan Perjanjian Giyanti. Ia menyarankan untuk mengunjungi “Museum Sejarah Purbakala Pleret” agar memperoleh informasi yang lebih jelas.

Mengulik “Ibu kota” di Museum Pleret

Museum Pleret jika dilihat dari pinggir Jalan Raya Pleret, Bantul. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO.

Matahari mulai tinggi ketika kami tiba di halaman samping Museum Pleret. Hal yang pertama menarik perhatian adalah sebuah sumur tua tepat di halaman muka museum ini. Sumur itu bernama “Sumur Gumuling”.

“Silakan saya antar menemui Pak Susanto kalau ingin bertanya seputar sejarah keraton Mataram Islam,” ujar Afi, salah satu staff museum yang menyambut kedatangan kami dengan ramah.

Menurut wanita berhijab itu, Museum Sejarah Purbakala Pleret dibangun tahun 2004 dan mulai dibuka untuk umum pada 10 Maret 2014. Museum yang berada di Kawasan Cagar Budaya (KCB) Kerta-Plered ini terletak di Jalan Raya Pleret, Kabupaten Bantul.

Museum ini mempunyai waktu berkunjung dari pukul 08.00 pagi sampai 15.30 setiap harinya. Kecuali hari Jumat sampai pukul 14.30 dan tutup pada hari besar nasional. Untuk informasi lebih lanjut, Museum Pleret dapat dihubungi melalui Instagram: @museumpleret dan Facebook: museumsejarahpurbakalapleret serta WhatsApp : 085106002927. Sedangkan untuk Harga Tiket Masuk (HTM) free alias tidak dipungut biaya.

Ia mengantar kami menemui pria yang dipanggilnya “Pak Susanto”, salah seorang staff senior di Museum Pleret. Menurut Susanto, yang kami temui di ruang tamu museum, beliau sempat ikut serta dalam beberapa proses ekskavasi di kawasan keraton Plered dan Kerta. Artinya Ibu kota Mataram Islam telah berpindah 2 kali sejak dari Kotagede menuju Kerta, kemudian Plered.

Penampakan “sumur gumuling” di sebelah utara lokasi Museum Pleret. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO.

Sama seperti Jokowi yang menyebut pertimbangan beban Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan bisnis sekaligus sudah sangat berat sebagai alasan untuk memindahkan Ibu Kota ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan. Para Sultan Mataram pasti mempunyai alasan yang kuat pula.

“Pada awal berdirinya Mataram Islam, Ibu kota berada di Kota Gedhe,” terang Susanto. Kota Gedhe (secara administratif ditulis: Kotagede) dibangun oleh Ki Ageng Pemanahan bersama Danang Sutawijaya pada 1587 Masehi. Danang Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senopati menjadi raja pertama Mataram Islam.

Selama 40 tahun berdiri, Mataram Islam beribukota di Kotagede, melewati 3 periode kepemimpinan: Panembahan Senopati (1587-1601), Panembahan Hanyakrawati (1601-1613) dan Sultan Agung (1613-1646).

Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung, naik tahta pada 1613 Masehi menggantikan ayahnya, Panembahan Hanyakrawati yang meninggal karena kecelakaan saat berburu kijang di Hutan Krapyak. Ibu kota Mataram pada saat Sultan Agung menjabat masih berada di Kotagede. Pada tahun 1614 mulailah dibangun istana baru di desa Kerta, sekitar 5 km di sebelah barat daya Kotagede, yang kemudian mulai ditempati pada tahun 1618.

“Kotagede tak kemudian ditinggalkan begitu saja, tapi dijadikan sebagai pusat Perekonomian. Pusat pemerintahan berada di Kerta yang sekarang dikenal sebagai Situs Kerta atau Lemah Dhuwur. Untuk lebih jelasnya nanti bisa dilihat pada film dokumenter sekitar 22 menit yang akan kami tayangkan, ” imbuh pria berkemeja batik itu.

Sisilah Raja-raja Mataram Islam pada diorama Museum Pleret. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO.

Kami digiring menuju sebuah studio mini dengan deretan kursi berwarna merah menyala. Sebuah layar pemantul proyektor menempel pada dinding bercat krem di sisi Timur ruangan. Susanto menyiapkan film dokumenter yang hendak diputarnya. Begitu film dimulai, lampu studio dimatikan.

Kisah epik yang tercatat sejarah pada era pemerintahan Kerta adalah penyerangan Sultan Agung ke Batavia. Siapa sangka jika strategi penyerangan besar itu disusun dari kota kecil bernama Kerta. Kapan waktu penyerangan, siapa pemimpin pasukan,  dan berapa jumlah armada yang berangkat ke Batavia sebenarnya memiliki banyak versi. Merujuk laman wikipedia.com, pada 27 Agustus 1628 pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Bahureksa, bupati Kendal tiba di Batavia. Pasukan kedua tiba bulan Oktober dipimpin Pangeran Mandurareja. Keseluruhan kekuatan Mataram adalah 10.000 prajurit (versi lain menyebut 80.000 prajurit).

Perang besar pun meletus di benteng Holandia. Pasukan Mataram mengalami kehancuran dan terpaksa dipukul mundur karena kurangnya perbekalan. Selain alasan kurangnya perbekalan, ada kisah unik yang sesungguhnya terjadi dalam perang besar ini: pasukan Mataram terpaksa mundur karena “tai”.

Lukisan yang mengilustrasikan serangan pasukan Mataram ke Batavia tahun 1628 M. IST

Mengutip laman kompas.com, “Kisah Batavia yang Dijuluki “Kota Tahi” oleh Prajurit Mataram”, Petrus Johannes Blok dan Philip Christiaan Molhuysen meriwayatkan sosok Madelijn dan takdir kubu Hollandia dalam Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek, yang terbit pada 1911. Para garnisun Kota Batavia itu dikepung selama sebulan penuh, sejak Agustus, sehingga komandan Mataram merasa yakin dapat merebut kubu ini.

Pada malam 21 dan 22 September, kedua belah pihak bertempur mati-matian. Hebatnya kekuatan prajurit Mataram membuat garnisun VOC kewalahan hingga kehabisan amunisi. Madelijn, pemuda 23 tahun asal Jerman, mempunyai gagasan sinting. Ia menyelinap ke ruang serdadu kemudian menyuruh anak buahnya membawa sekeranjang penuh tinja. Dengan segala rasa putus asa, kubu ini melemparkan tinja mereka ke tubuh serdadu Jawa yang tengah meradang- merayapi dinding kubu Hollandia. Sekejap, mereka lari tunggang-langgang tak kuat mencium bau tai menjijikkan itu.

Babad Tanah Jawi juga merekam pertempuran terkonyol dalam sejarah VOC itu. Seorang sejarawan Belanda bernama W.L. Olthof telah menerjemahkan salah satu versi Babad Tanah Jawi pada tahun 1941. Ia menerjemahkan bundel Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi ing Taoen 1647 ke dalam prosa berbahasa Belanda.

Gubernur Jenderal VOC, J.P. Coen yang tewas akibat wabah kolera pada serangan Mataram ke Batavia 1629 M. IST

Babad itu mengisahkan,“Orang Belanda bubuk mesiunya semakin menipis. Kotoran orang atau tinja dibuat obat mimis. Orang Jawa banyak yang muntah-muntah, sebab kena tinja.” Di bagian lain juga diceritakan, “Adapun Pangeran Mandurareja masih tetap mempertahankan perangnya, tetapi tetap tidak dapat mendekati benteng, karena tidak tahan bau tinja. Pakaian mereka berlumuran tinja. Para adipati pesisir bala-prajuritnya banyak yang tewas. Sedang yang hidup tidak tahan mencium bau tinja. Sepulang berperang lalu merendamkan diri di sungai.”

Thomas Stamford Raffles juga menceritakan perihal sebutan “Kota Tahi” dalam bukunya yang bertajuk History of Java Volume II halaman 168, terbit di London pada 1817. “Pada waktu itu, karena orang-orang Belanda dapat dipukul oleh keganasan orang-orang Jawa, mereka terpaksa menggunakan batu-batuan sebagai ganti bola-bola besi untuk amunisi meriam. Namun usaha tersebut menemui kegagalan,” tulis Raffles. “Sebagai usaha terakhir, mereka melemparkan kantong-kantong berisi kotoran yang berbau busuk sekali ke arah orang-orang Jawa, dan sejak saat itulah benteng itu dijuluki dengan nama Kota tai.”

Sultan Agung bertindak tegas menyikapi kekalahan memalukan ini. Pada Desember 1628 ia mengirim algojo untuk menghukum mati Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja. Pihak VOC menemukan 744 mayat orang Jawa berserakan dan sebagian tanpa kepala.

Peta wilayah kekuasaan Mataram Islam pada masa pemerintahan Sultan Agung. IST

Kekalahan pertama tak membuat Sultan Agung menyerah, ia kembali menyerang Batavia setahun kemudian. Pasukan pertama dipimpin Adipati Ukur berangkat pada bulan Mei 1629, sedangkan pasukan kedua dipimpin Adipati Juminah berangkat bulan Juni. Total kekuatan Mataram 14.000 prajurit. Kegagalan serangan pertama disiasati dengan mendirikan lumbung-lumbung beras di Karawang dan Cirebon. Namun berbekal inteligen dari pihak “dalam Mataram” yang membelot, VOC berhasil memusnahkan semua lumbung itu.

Meski mengalami kekalahan yang sama, serangan kedua Sultan Agung berhasil membendung dan mengotori Sungai Ciliwung, yang mengakibatkan timbulnya wabah penyakit kolera di Batavia. Bahkan Gubernur jenderal VOC, J.P. Coen meninggal akibat wabah itu.

Sosok Sultan Agung yang diabadikan dalam sebuah prangko. IST

Pada era pemerintahan Sultan Agung, Mataram menjadi kerajaan Islam termegah dan terkuat di masa itu. Wilayahnya membentang dari ujung barat sampai timur pulau Jawa, kecuali Batavia. Kerajaan dengan kekuatan besar tentu didukung oleh keraton yang kuat serta penuh perencanaan. Kestabilan keraton baik dari segi keamanan, perekonomian dan keharmonian merupakan hal vital yang perlu dipertahankan.

Kebesaran Mataram Islam tidak hanya dibangun di atas pertumpahan darah dan kekerasan, tetapi juga melalui unsur seni-budaya dan pengenalan sistem pertanian. Negeri-negeri pelabuhan dan perdagangan seperti Surabaya dan Tuban dimatikan, sehingga kehidupan rakyat hanya bergantung pada sektor pertanian.

Sultan Agung juga memadukan Kalender Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya terciptalah Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatu. Selain itu Sultan Agung juga dikenal sebagai penulis naskah berbau mistik, berjudul Sastra Gending.

Menjelang akhir masa kekuasaannya, sekitar tahun 1644 M, Sultan Agung berinisiatif membangun sebuah bendungan di Plered, yang bertujuan sebagai tempat latihan militer Angkatan Laut Mataram. Bendungan ini kelak diteruskan oleh putranya, Amangkurat I dan dikenal sebagai Segarayasa.

Kemegahan Keraton Plered

Susuhunan Amangkurat I memindahkan Ibu kota Mataram ke Plered pada 1647 Masehi. IST

Pusat pemerintahan keraton Mataram berpindah untuk kedua kalinya pada era kekuasaan raja keempat, pengganti Sultan Agung. Peristiwa itu berawal dari tahun 1646 Masehi ketika Raden Mas Sayidin, putra Sultan Agung dengan Ratu Wetan diangkat menjadi raja Mataram menggantikan ayahnya yang wafat. Ketika dinobatkan secara resmi, ia bergelar Susuhunan Amangkurat I atau Mangkurat I. Dalam bahasa Jawa kata Amangku yang berarti “memangku”, dan kata Rat yang berarti “bumi”, jadi Amangkurat berarti “memangku bumi”.

Pada tahun 1647 ibu kota Mataram dipindahkan oleh Amangkurat I ke Plered (secara administratif ditulis: Pleret). Menurut folklore, disebut Pleret karena bergeser arah tempatnya dari barat ke timur: “mlorot” atau “mleret”, (berpindah dekat). Jadilah nama Pleret. Seperti juga tertulis dalam Babad Tanah Jawi, raja kontroversial ini bersabda:

“Sarupane kawulaningsun kabeh, padha nyithaka bata, ingsun bakal mingser teka ing kutha Kerta, patilasane kanjeng rama ingsun tan arsa ngenggoni. Ingsun bakal yasa kutha ing Plered.”

(“Semua rakyatku, kalian buatlah bata. Aku akan pindah dari Kerta, karena aku tidak mau tinggal di bekas kediamn ayahku. Aku akan membangun kota di Plered”).

Sketsa peta keraton Plered. IST

Maka istana baru ini dibangun dari bahan batu bata, berbeda dengan istana lama di Kerta yang terbuat dari bahan kayu. Keraton dibangun dengan luas 2.256 meter dikelilingi tembok dengan tinggi 6 meter dan tebal 1,5 meter. Semuanya terbuat dari batu bata.

Perpindahan istana ini disebutkan dipicu oleh keinginan raja untuk menghindarkan diri dari para pembangkang (para tokoh senior) yang hendak merongrong kekuasaannya. Proses transisi ini diwarnai pemberontakan Raden Mas Alit atau Pangeran Danupoyo, adik Amangkurat I yang menentang penumpasan tokoh-tokoh senior.

Pemberontakan ini mendapat dukungan para ulama namun berakhir dengan kematian Mas Alit. Amangkurat I yang geram kemudian menghadapi para ulama. Sebanyak 5.000-6.000 orang ulama beserta keluarganya dikumpulkan di alun-alun keraton untuk kemudian dibantai.

Ilustrasi mata uang warisan Mataram Islam. Diperkirakan dicetak setelah Mataram Islam pecah menjadi 4 kerajaan kecil selepas Perjanjian Giyanti, 1755 M. IST

Setelah menempati Kedaton Pleret, Amangkurat I memerintahkan pembangunan tembok keliling keraton, yang diselesaikan hanya dalam tempo dua bulan. Menurut sejarawan MC Ricklefs, benteng keraton ini berdinding susunan bata yang puncaknya batu putih berbentuk segitiga.

Dua tahun setelah tembok keliling selesai dibangun, Masjid Agung Pleret didirikan. Di dalam Serat Babad Momana masjid ini didirikan pada tahun 1571 Jawa atau 1649 Masehi dan dalam Babad ing Sangkala menunjuk bulan Muharram 1571 sebagai tahun pembuatan masjid ini.

Menurut Lons dalam tulisan Leemans (1855) Masjid Besar yang berada di Kauman ini juga memiliki ukuran besar dan mewah berbentuk segi empat, mempunyai 3 pintu di sebelah timur dan mempunyai serambi yang luas dengan dikelilingi tembok tinggi dan tebal. Sayangnya pada tahun 1800-an saat Pemerintah Belanda gencar membangun pabrik gula dan salah satunya Pabrik Gula Kedhaton di Pleret, besar kemungkinan batu bata Masjid Besar itu ikut diambil untuk membangun pabrik gula.

Selang satu tahun kemudian Sunan memerintahkan para pekerjanya untuk memperluas krapyak ‘tempat berburu binatang’ di daerah Krapyak wetan.

Catur Gatra Tunggal

Peta kuno keraton Pleret abad XVII yang tersimpan di Museum Pleret. IST

Hampir sama dengan dua keraton pendahulunya (Kota Gedhe dan Kerta), Plered juga mengadopsi filosofi “Catur Gatra Tunggal” dalam membangun pemerintahannya. Catur Gatra Tunggal atau “Catur Sagotra” adalah cerminan pemerintah yang juga memperhatikan unsur sosial, ekonomi, religi, dan budaya sebagai unsur-unsur yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Catur Gatra Tunggal bisa diartikan sebagai “empat elemen yang menjadi satu” (Wibowo, 2012). Keraton sebagai pusat pemerintahan menjadi elemen pertama, selanjutnya alun-alun sebagai pusat kegiatan masyarakat menjadi elemen kedua. Sedang elemen ketiga diwakili oleh masjid sebagai sumber pemahaman religi dan spiritual. Elemen keempat adalah pasar sebagai pusat perekonomian.

Setelah memastikan memenuhi kempat elemen “Catur Gatra Tunggal” itu, Amangkurat I meneruskan hasratnya menciptakan sebuah keraton nan luas dan megah. Pada puncak ambisinya, tahun 1661 M, Amangkurat I mengerahkan 300.000 tenaga kerja paksa untuk merenovasi besar-besaran keraton Plered.

“Jumlah tenaga kerja yang fantastis, mengingat pada awal pembukaan Ibu kota Keraton Yogyakarta sekitar 1755 Masehi pun tidak mencapai jumlah itu,” ujar Susanto. Data pengerahan  tenaga kerja untuk membangun istana Pleret itu tercatat dalam Daghregister 12 September 1661 halaman 275. Ahli sejarah Mataram dari Belanda, Dr HJ Degraaf, menyebut saat itu raja membangun istananya menjadi tempat tinggal yang dikelilingi air.

Mengutip laman tribunjogja.com, “Jejak Keraton Pleret : Raja Kerahkan 300 Ribu Orang Bangun Istana Indah Dikelilingi Air”,  Babad Sengkala pada tahun 1683 J (mulai 6 September 1660), menuliskan, ribuan penduduk dari wilayah bawahan Mataram di pesisir dan mancanegara bahu membahu membangun bendungan di Jaha. Nama Jaha sendiri belum bisa dipastikan sebagai sebuah tempat atau apa, namun diyakini nama kuno lokasi di sekitar Pleret . Tapi banjir bandang (diduga Kali Opak) menghancurkan bendungan baru yang dibangun.

Maket istana Plered dengan danau buatan Segarayasa, sekitar tahun 1668 M. IST/Dok. UPY JOGJA.

Menurut Arkeolog UGM, Inajati Adrisijanti, yang milesia simak dalam film dokumenter yang disajikan di Museum Pleret, keberadaan bendungan buatan bernama Segarayasa ini diperuntukkan sebagai wahana rekreasi Raja Amangkurat I bersama permaisuri dan istri-istri lainnya.

Segarayasa yang sebenarnya telah dirintis pembangunannya sejak era Sultan Agung, sejatinya digunakan sebagai tempat berlatih perang Angkatan Laut Mataram, sebagaimana dikisahkan Sri Margana, sejarawan asal UGM dalam video dokumenter yang sama. Mengingat jarak pusat Kerajaan Pleret dengan Laut Jawa sekitar 99,63 km dan 20 km ke Samudera Hindia.

Infrastruktur Keraton Pleret dan sekitarnya selesai dibangun dengan sempurna pada 1666 hingga 1668 Masehi. Artinya, dibutuhkan waktu 20 tahun bagi Amangkurat I untuk membangun keraton megah seluas total 34 hectare ini. Yang unik, tak pernah ada catatan resmi mengenai siapa arsitek atau perancang dan pemimpin proyek pembangunan Keraton Plered ini.

Pemberontakan Trunajaya dan Lengsernya Kedaton Mataram

Pertempuran antara tentara VOC dan Trunajaya, digambarkan di buku cerita Belanda tahun 1890. IST/Wikipedia.

Pemberontakan pangeran Madura, Trunajaya (menantu Panembahan Rama alias Raden Kajoran) yang muak dengan pemerintahan Amangkurat I yang kejam dan berlumuran darah, menjadi akhir masa Amangkurat I sekaligus kemegahan Mataram Plered.

Trunajaya dan pasukannya didukung Mas Rahmat alias Adipati Anom (putra Amangkurat I yang diusir dari istana), juga dibantu para pejuang Makasar pimpinan Karaeng Galesong, sisa-sisa pendukung Sultan Hasanuddin yang dikalahkan VOC tahun 1668. Sebelumnya tahun 1674 pasukan Makasar ini pernah meminta sebidang tanah untuk membangun perkampungan, tetapi ditolak Amangkurat I.

Pertempuran yang berkepanjangan menyiutkan jumlah pasukan Mataram. Sebaliknya, kekuatan para pemberontak semakin besar. Perselisihan yang terjadi antara Trunajaya dan Adipati Anom, menyebabkan Trunajaya tidak jadi menyerahkan kekuasaan kepada Adipati Anom. Mas Rahmat yang tidak mampu mengendalikan Trunajaya akhirnya berbalik memihak Sang Ayah.

Puncaknya, tanggal 28 Juni 1677, Trunajaya melancarkan serbuan ke keraton Mataram dan berhasil merebut istana Plered. Keraton berhasil diduduki pemberontak. Amangkurat I dan keluarganya terpaksa melarikan diri. Mereka menuju Batavia untuk meminta perlindungan VOC.

Makam Susuhunan Amangkurat I di Tegal. Beliau meninggal saat pelarian ke Batavia. IST

Enam belas hari rombongan Amangkurat tersaruk-saruk melalui Imogiri, Jagabaya, Rawa, Bocor, Petanahan, Nampudadi, Pucang, Ambanan, Banyumas, Ajibarang, hingga Winduaji.

Belum sampai Batavia, ketika masih dalam perjalanan, Amangkurat I jatuh sakit. Menurut Babad Tanah Jawi, kematiannya dipercepat oleh air kelapa beracun pemberian Mas Rahmat. Meskipun demikian, ia tetap menunjuk Mas Rahmat sebagai raja selanjutnya, tetapi disertai kutukan bahwa keturunannya kelak tidak ada yang menjadi raja, kecuali satu orang dan itu pun hanya sebentar. Amangkurat I meninggal pada 13 Juli 1677 di desa Wanayasa, Banyumas dan berwasiat agar dimakamkan dekat gurunya di Tegal.

Mas Rahmat ini kemudian bergelar Amangkurat II dan mendirikan Kasunanan baru sebagai kelanjutan Kesultanan Mataram. Setelah itu, dengan bantuan utang dari VOC, ia membangun keraton baru di Kartasura, dekat Solo, untuk menggantikan kraton di Plered yang telah dikuasai dan dihancurkan oleh Trunajaya.

Babad Tanah Jawi menyatakan, dengan jatuhnya istana Plered pada 1677 Masehi menandai berakhirnya masa kejayaan Kesultanan Mataram.

Jejak Sejarah

Berfoto bersama Pak Susanto dan Mbak Afi di depan kompleks Museum Plered, Bantul. MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO.

“Jika dilihat dari catatan sejarah dan temuan hasil ekskavasi, bisa dipastikan istana Plered memang luar biasa megah,” ujar Susanto meyakinkan. Sayangnya butuh energi ekstra untuk mengumpulkan puing-puing yang terlanjur berserak. Salah satu sisa kejayaan keraton Plered yang masih utuh hanyalah “Sumur Gumuling”. Sumur gumuling adalah sumber mata air alami yang terletak di sebelah utara Museum Pleret. Masyarakat sekitar mempercayai bahwa sumur ini terhubung secara spiritual dengan pantai selatan.

Menurut Susanto, sisa peninggalan keraton Plered sebenarnya masih bisa ditemukan pada 3 (tiga) situs yang ada, yaitu Situs Kauman-Plered,  Situs Kedaton-Plered, dan Situs Makam Ratu Malang-Plered.

“Situs Kauman-Plered” berupa bagian dari komponen kerajaan Mataram Islam abad XVII (periode Susuhunan Amangkurat I) yang bertahta tahun 1647-1677 M. Secara administrasi berada di Dusun Kauman, Desa Pleret, Kecamatan Pleret. Pada situs ini terdapat peninggalan sisa bangunan Masjid Agung Plered berupa: umpak bangunan dari batu andesit, balok batu andesit yang diduga sebagai ambang pintu sisi utara, dan sebagian tembok masjid sisi utara dan barat berikut bagian ruang mihrab.

Selain reruntuhan, di sebelah barat masjid terdapat makam Ratu Labuhan yang merupakan selir Susuhunan Amangkurat I.

Sementara “Situs Kedaton-Plered” yang terletak di Dusun Kedaton, menyisakan fragmen bata kuno, bata putih, balok andesit bertakik, sisa struktur saluran air, sisa struktur tanggul, sumur kuno, sisa fondasi benteng dan jagang kompleks Keraton Plered.

Situs Masjid Kauman Pleret dipastikan sebagai lokasi bekas Masjid Agung Keraton Plered. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO.

Situs yang ketiga, “Situs Makam Ratu Malang-Plered”, terletak di bukit Gunung Kelir, Desa Pleret, Kecamatan Pleret pada ketinggian 99 mdpl. Situs yang dibangun pada tahun 1665 dan selesai 11 Juni 1668 Masehi ini berupa makam keramat Ratu Malang (salah satu selir kesayangan Amangkurat I) yang meninggal secara misterius. Di kompleks makam ini juga terdapat makam Ki Dalang Panjang Mas dan beberapa pengikut Ratu Malang. Selain pemakaman, terdapat pula sebuah sendang bernama Sendang Moyo pada lokasi tertinggi kompleks makam ini.

Selain ketiga situs itu terdapat pula peninggalan berupa toponim-toponim (nama-nama tempat) yang identik dengan nama-nama dusun yang berada di bekas kompleks Keraton Pleret. Toponim-toponim itu di antaranya: Kedaton, Keputren, Pungkuran, Kauman, Segarayasa, Sampangan, dan Mertasanan.

Pertanyaan yang kemudian muncul: bagaimana mungkin perdaban yang begitu maju beserta bangunan keraton yang luar biasa megah itu seolah tak bersisa?

Situs Makam Gunung Kelir adalah makam selir Amangkurat I yang dibangun pada 1665-1668 M. MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO

Secara umum, catatan sejarah merekam beberapa faktor penyebab hancurnya peradaban Plered. Selain akibat serangan besar-besaran Trunajaya tahun 1677M yang memporak-porandakan seluruh isi keraton, juga akibat gempuran tentara Belanda pada Perang Jawa 1826 M. Kala itu, Plered menjadi wilayah pertahanan Pangeran Diponegoro dan pasukannya.

Selain itu, penggunaan batu bata untuk pembangunan pabrik gula milik Pemerintah Hindia Belanda pada awal abad-20 disinyalir memperburuk kondisi bekas keraton Plered. Meskipun saat ini jejak keberadaan Pabrik Gula (PG) Kedaton Pleret tidak ditemukan lagi akibat penghancuran bangunan pabrik pada Agresi Militer tahun 1949. Kemungkinan besar Pabrik Gula (PG) Kedaton Pleret itu berada di sekitar Pasar Pleret dan dilewati oleh jalur kereta api Rute Ngabean-Kotagede-Pleret-Pundong milik NIS (Belanda).

Yang paling menyedihkan, puing-puing sisa bata dari Keraton Plered ini digunakan warga untuk membangun rumah bahkan dipergunakan untuk campuran industri semen pada medio 1940-an.

Usaha pelestarian situs sejarah yang dilakukan pemerintah sebenarnya juga tak main-main. Melansir laman tribunjogja.com, “Inilah Riwayat Penggalian dari Masa ke Masa Untuk Menemukan Jejak Keraton Pleret”,  Sekitar 2017, tim gabungan Dinas Kebudayaan DIY, Balai Arkeologi Yogyakarta, BPCB DIY, dan Departemen Arkeologi FIB UGM menggelar penelitian dan ekskavasi di kawasan Keraton Pleret.

Kotak ekskavasi di situs Kedaton-Plered. IST/Dok.Tribun.

Sebelumnya, secara bergelombang penelitian dan ekskavasi dilakukan lembaga itu sejak 2003. Penelitian ini melanjutkan usaha-usaha besar sebelumnya yang dimulai tahun 1976 oleh sejumlah lembaga. Temuan terakhir di kotak ekskavasi sektor 3 di Dusun Kedaton Wetan, benar-benar menegaskan tata ruang asli keraton yang dibangun sejak 1646 Masehi itu. Struktur dasar benteng terlihat selebar 2,6 meter.

Catatan mengenai penelitian situs Keraton Pleret sendiri diawali tahun 1976 ketika Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan struktur bangunan permukiman di dalam lingkungan keraton serta struktur bangunan benteng di sudut barat daya. Penelitian selanjutnya, tahun 1977 lewat Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala Yogyakara, berhasil menemukan data toponimi tambak, dan benteng keraton.

Setelah vakum selama beberapa tahun, penelitian dilanjutkan tahun 1985 oleh Balai Arkeologi Yogyakarta. Temuannya berupa identifikasi lawing patokan atau bagian Kedaton sisi utara dan sisi barat benteng.

Sejak 2003, penelitian intensif diinisiasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DIY. Lokasi penelitian meliputi wilayah Kauman, Kedaton, dan Keputren. Hasil penelitian mengidentifikasi sebab-sebab kepunahan artefak Keraton Pleret. Penelitian 2008 oleh Dinas Kebudayaan DIY menemukan bukti keberadaan saluran resapan air dalam lingkungan keraton. Data dari masa VOC dan kolonial menunjukkan di dalam komplek istana terdapat bangunan di air atau dikelilingi air.

Kotak ekskavasi di situs Masjid Kauman Plered. IST/Dok.Tribun.

Tahun berikutnya (2009), penelitian gabungan di Kedaton menemukan sisa struktur pondasi bangunan dari benteng dan pagar, struktur lantai, saluran air, serta fitur tiang atau umak bangunan.

Pada 2012, menggunakan petunjuk peta Rouffaer (1889), para peneliti Dinas Kebudayaan DIY menemukan pondasi yang diduga tembok Srimanganti. Tahun berikutnya, memperkokoh hasil penelitian sebelumnya terkait posisi Bangsal Srimanganti. Kali ini dilengkapi temuan bagian Bangsal Keben, dan benteng cepuri Keraton Pleret. Sebagian lahan dan kotak-kotak ekskavasi dari tahun pertama penelitian hingga yang terakhir, sudah di bawah penguasaan Dinas Kebudayaan DIY.

Dua titik bekas penelitian di Dusun Kedaton, saat ini sudah diberi pagar keliling, dan memiliki juru pelihara khusus. Begitu juga lahan di Dusun Kedaton Wetan yang di bawah permukaan terpendam benteng sisi timur, juga sudah dikuasai negara.

Usaha yang tak kenal lelah dari seluruh stakeholder, diharapkan mampu menguak sejarah kejayaan Mataram Islam, setidaknya melestarikan apa yang para pendahulu titipkan. Mengutip harapan sederhana dari Juru Pelihara Situs Kerta, Rahmat Fauzi: “Semoga pemerintah dan seluruh masyarakat menjadi lebih peduli untuk menjaga dan melindungi situs-situs sisa kejayaan Mataram Islam, agar kehebatan nenek moyang kita masih bisa diteladani anak cucu kelak.”

 (Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close