DINAMIKA

Hentikan Laju Korban Gigitan Ular Berbisa!

Manfaatkan RECS, Transformasi Mistis ke Medis

Seakan tak belajar dari peristiwa sebelumnya, seorang remaja meninggal dunia akibat dipatuk ular king kobra (Ophiophagus hannah) peliharaan. Rendy Arga Yudha, remaja 18 tahun itu, meninggal Minggu lalu (11/11) setelah sempat 4 hari dirawat di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI).

Alm. Rendy Arga Yudha/ SAI

Warga asal Wonosobo,  Jawa-Tengah, yang tinggal di Cimanggis, Depok, itu menjadi  korban gigitan ular berbisa ke-51 sampai November tahun ini saja. Sebelumnya, akhir Juli lalu, Bripka Desri Sahrondi, anggota Brimob yang bertugas di Papua, juga meninggal dunia akibat digigit ular Death adder (Acanthopis spp.).

Baik dalam kasus almarhum Bripka Desri maupun Rendy, keduanya mengalami kendala yang nyaris identik untuk bisa diselamatkan secara medis, yaitu kesalahan penanganan awal (first aid).

Dalam kasus Bripka Desri, seusai digigit Death adder, ada rentang waktu satu jam tanpa tindakan first aid yang benar sampai ambulans yang dihubungi datang dan mengangkut korban dengan kondisi sudah hilang kesadaran.

Adapun Rendy, sampai dua jam pasca gigitan, tidak ada tindakan pertolongan pertama hingga korban tak sadarkan diri dan dibawa ke RS Citra Medika Depok, lanjut dirujuk ke RSUI pada tengah malam.

Bukan Problem Antivenin

 Menurut Dr. dr. Tri Maharani. Msi. SpEm, pakar penanganan gigitan ular dan Presiden Toxinology Society of Indonesia, ada sejumlah hal prinsip yang harus diluruskan terkait tata laksana penanganan gigitan ular berbisa.  

“Ini terkait hakekat konsultasi ke ahli (expert). Tak jarang, di Indonesia seorang dokter tidak melakukan konsul, apalagi jika merasa sudah spesialis dari RS terkenal. Itu fatalnya dalam kasus Rendy ini,” terang Maha. “Saya mendapat informasi kasus ini saat saya masih berada di Kuala Lumpur. Setiba di tanah air lanjut ke Jakarta, lantas memberikan antivenin khusus king kobra. Namun saya menyayangkan pihak RS tidak menginformasikan kepada saya. Bahkan sampai ketika korban meninggal dunia Saya tidak diberi tahu”.

Menurut Maharani, situasi ini menggambarkan bahwa kasus kegawatdaruratan di Indonesia, termasuk snake bite, ini salah kaprah. Masih banyak first aid yang salah, termasuk pemahaman RS dan IGD nya.

“Puluhan tahun kita mempunyai pandangan, bahwa gigitan ular itu harus dapat antivenin, tak peduli cocok atau tidak dengan jenis ular yang menggigit dan fasenya (sistemik atau tidak)”.

Tidak sedikit RS dan Puskesmas kebingungan dan tidak mengambil tindakan pertolongan pertama dan tahapan kegawatdaruratan yang benar. Mulai dari teknik imobilisasi, menjaga patensi jalan nafas, oksigenasi, agar jalan nafas tetap adekuat dan sirkulasi terselamatkan.

“Tidak jarang, mereka ribut mencari antivenin, padahal tidak tahu antivenin itu apa dan untuk apa serta cocok atau tidak untuk kasus snake bite yang sedang ditangani.

Balada kebingungan ihwal antivenom itu layaknya iklan teh botol. Apapun makanannya (kasus gigitannya) minumnya teh botol (antivenin). Hasilnya, tanpa memikirkan kesesuaian jenis antivenin, tetap saja diberikan guna agar mereka merasa tenang secara psikologis, meskipun secara medis salah kaprah,” imbuh Maharani..

Dipaparkan Maharani, first aid berupa minimalisasi gerak area tubuh korban yang tergigit ular (imobilisasi) baru lanjut penanganan emergency, baru kemudian pemberian antivenin sisertai anticholinesterase untuk kasus gigitan ular dengan tipe bisa  neurotoxin.

Dalam kasus Bripka Desri dan Rendy, ketika keduanya mengalami gagal nafas (respiratory failure) maka harus dilakukan intubasi lalu dipasang ventilator. Lanjut diberi antivenom disertai

anticholinesterase dan jika terjadi bradikardi maka perlu diberi atropine sulphate (0,6 mg untuk dewasa dan 50 mikro gram/kg untuk anak-anak). Pemberian anticholinesterase diulang setiap 4 jam. Mengacu WHO (2016) uji coba anticholinesterase harus dilakukan pada setiap pasien dengan keracunan neurotoksik.

Tri Maharani (tengah). (Prio P/Milesia.id)

Dengan kata lain, ketiadaan antivenom tidak perlu sampai menjadi kelindan kesalahan fatal dalam penananganan, baik pada korban hingga penolongnya. “Bangsa ini tidak perlu dibingungkan dengan antivenin, yang perlu dipikirkan itu first aid yg benar. Harus diingat, sampai kasus Rendy di bulan November ini, sudah 51 orang meninggal digigit ular berbisa dengan faktor utama kematian adalah akibat first aid yang salah”. Sebagai pembanding, di periode dan kasus yang sama, di Malasyia sampai hari ini hanya tercatat 2 kasus kematian, Philipina kurang dari 10 kasus, dan Thailand bahkan tanpa kasus.

Maharani lantas mencontohkan kasus gigitan king kobra yang dialami TS, seorang penggemar reptil dan pegiat lingkungan asal Kulonprogo, Yogyakarta, September lalu. Dipaparkan Maharani, melalui telepon Ia memandu dokter yang menangani korban untuk melakukan apa yang dapat menolongnya meskipun saat kejadian tidak tersedia antivenom dan tanpa fasilitas ventrilator. “Saya menyarankan untuk mengamankan air way atau jalan nafas dengan intubasi dan bagging agar tidak ada kendala respiratory”.

Selanjutnya, Maharani berupaya mencari ventrilator di sejumlah RS rujukan di sekitar Jogja. “Syukurlah, dapat di RS PKU Muhammadiyah Gamping, dan saya ajari dokter di RS PKU pemberian anticholinesterase. Itu semua dilakukan sebelum Saya tiba di Yogyakarta untuk cek kondisi korban. Saya bersyukur, dokter dan tenaga medis percaya advis Saya”. Dengan tindakan yang tepat, TS dapat meninggalkan RS setelah tujuh hari dirawat dan kini telah pulih total.

Optimalkan RECS, Transformasi Mistis menuju Medis

Sekali lagi, Maharani menghimbau kepada kalangan medis dan siapapun yang dalam keseharian intens berinterkasi dengan satwa berbisa, ataupun secara insidental mendapati kasus snake bite, untuk menerapkan first aid yang benar dan berkonsultasi dengan Remote Envenomation Consultation Services (RECS). RECS satu-satunya institusi yang intens mendata kasus-kasus keracunan akibat gigitan satwa berbisa yang bisa dihubungi secara daring (online) setiap saat.

RECS merupakan media konsultasi online tak berbayar alias gratis yang diampu oleh ahli-ahli medis di bidang kegawatdaruratan dan envenomasi, bermitra dengan ahli herpetologi dan kalangan akademisi. RECS merupakan fenomena baru konsul online tepercaya yang diakui oleh WHO sebagai ikhtiar untuk mendukung Indonesia dalam mendapatkan akses untuk menolong pasien lebih cepat dan lebih baik.

Sampai 2018, angka kasus gigitan ular berbisa menyentuh 135 ribu kasus per tahun. Posisinya berada di bawah HIV/AIDS dengan 191 ribu kasus dan di atas kanker (133 ribu). Dengan demikian kasus snake bites masuk 10 besar penyakit terbanyak, yang sayangnya terabaikan (neglected). Alhasil, resolusi WHO menggaungkan kasus gigitan ular berbisa sebagai neglected tropical desease (NTD).

Di tanah air, RECS tercatat telah membantu menyelamatkan ribuan orang, termasuk kasus gigitan ular. “Tahun 2019 ini, sampai bulan November ada 1.425 kasus yang dikonsulkan kepada RECS melalui Saya dan dr. Ririek . Semuanya gratis”.

Diakui Maharani, fenomena maraknya kasus gigitan ular berbisa acapkali disalah gunakan oleh pihak-pihak yang mengaku mampu mengobati meskipun bukan berlatar medis. Termasuk mencoba-coba memberi advis dengan dasar yang belum teruji dan berpotensi membahayakan nyawa orang lain.

“Perlu gerakan transformasi penanganan snake bites dari mistis menjadi medis, dan dari medis menuju sebuah standard guideline yang benar, yaitu standar WHO. Cukup sampai 51 orang saja hingga tahun ini yang meninggal akibat gigitan ular berbisa. Semoga Pemerintah periode sekarang mencermati hal ini dan menjadikan kasus snake bite dari semula neglected menjadi prioritas,” pungkas Maharani.

Jika Rendy masih bisa diselamatkan dengan penanganan medis yang benar, remaja yatim-piatu ini niscaya masih bisa mengejar mimpi-mimpinya. Takdir memang pasti, tapi manusia wajib berusaha. Ikhtiar dengan cara yang benar. Semoga ini kasus yang terakhir.

(Prio Penangsang/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close