Mileslitera

Mengeja “Cermin” Patriotisme Sultan Agung: Kesetiaan vs Pengkhianatan

Sejarah bisa menjadi “cermin” bagi anak bangsa untuk menengok masa silam nan heroik. Semangat Sultan Agung (1613-1645) beserta para senapati dan prajurit Mataram untuk menyerang kembali Batavia pada 1629 Masehi sempat membuat ciut nyali para petinggi VOC.

Penjajah mengerahkan antek-anteknya untuk menghambat perjuangan itu. Tentu saja prajurit Mataram tidak tinggal diam. Terjadilah dua medan pertempuran akbar yang tercatat sejarah: perang terbuka di lapangan serta perang tertutup di medan intelijen.

MILESIA.ID, JOGJA – Narasi di atas adalah lakon ketoprak yang mengisahkan suka duka perjuangan Sultan Agung kala menyerang Batavia. Lakon ini akan dimainkan 25 mahasiswa dan pelajar yang mewakili 25 daerah se- Indonesia yang tergabung dalam “Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Daerah Indonesia” (IKPMDIY). Gawe yang diberi judul “Cermin: Kesetiaaan vs Pengkhianatan” ini sedianya digelar pada 11 Nopember 2019 pukul 19:30 WIB di Gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta.

Gelaran ketoprak dengan lakon Sultan Agung: Kesetiaan vs Pengkhianatan. IST/ Dok. TBY

Kegiatan yang merupakan program inkulturasi “Selendang Sutera” oleh Dinas Kebudayaan DIY ini kebetulan bertepatan dengan peringatan hari pahlawan. Ide ceritanya berasal dari SH Mintarjo yang diolah menjadi naskah ketoprak oleh Erwito Wibowo serta disutradarai Brisman HS. Demi mensukseskan gelaran ketoprak ini, para pelajar dan mahasiswa rela berjibaku, berlatih serius beberapa minggu ini di Taman Budaya Yogyakarta.

Menurut sumber Dinas Kebudayaan yang membiayai pentas dengan Dana Keistimewaan ini, ada dua tujuan yang hendak diraih. Pertama, mengkondisikan silaturahmi budaya antar mahasiswa dan pelajar yang berasal dari daerah di seluruh pelosok Indonesia.

Kedua, mengenalkan kembali sosok pahlawan nasional Sultan Agung yang telah berjuang mengusir penjajah Belanda. Bagaimana prajurit Mataram berjuang dan mengatasi tantangan medan tempur yang berat tergambar jelas dalam pertunjukan ini. Di samping itu juga memberi pengalaman baru dalam bekerjasama mensukseskan pentas bagi para pemain. Apalagi tim musik yang dipimpin Mamiek Slamet juga terdiri dari personil yang berasal dari beberapa daerah.

“Semoga ketoprak berbahasa Indonesia ini bisa menjadi wahana edukasi kebangsaan bagi kita semua,” harap Hery Bangun Saputra, pimpinan produksi pentas “Cermin” ini.

( Milesia.id/ Mustofa W. Hasyim )

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close