DINAMIKAUncategorized

Snake Bite Workshop : Pertolongan Tepat Cegah Penyakit Mewabah

International Snake Bite Awareness Day

Aula Gedung Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta, dipadati tak kurang dari  duaratus orang, Ahad pagi (13/10) lalu. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Petugas pemadam kebakaran, Masyarakat Peduli Bencana Indonesia (MPBI), staf dan pimpiinan BPBD DKI, akademisi, dan komunitas penggemar reptil di Jabotabek. Acara itu dikemas dalam rangka hari Pengurangan Resiko Bencana Sedunia dan International Snake Bite Awareness Day.

(IST-Tara Jime/Milesia.id)

Hadir sebagai narasumber Dr. dr. Tri Maharani, pakar penatalaksanaan gigitan ular berbisa yang sekaligus Presiden Toxinology Society of Indonesia. Bersama Maharani hadir ‘narasumber tamu’, Taksa Vasaruchapong dan Derek Chiang. Kolega dokter Maha ini merupakan dokter expert bidang penatalaksanaan korban gigitan satwa berbisa dari Thailand dan Taiwan.

Acara bertajuk “Pelatihan Kilat Imobilisasi Pasca Gigitan Ular Berbisa”, merupakan gawe kolaboratif sejumlah pihak. Diantaranya Masyarakat Peduli Bencana Indonesia (MPBI), BPBD, PKBRJ, Snakebite Accident Indonesia (SAI), komunitas RESE serta sejumlah pegiat reptil Jabodetabek. “Kami berharap melalui acara ini, tumbuh kesadaran publik luas untuk memahami first aid yang benar dalam menangani gigitan ular berbisa. Sesuai dengan guideline WHO 2016, sehingga korban cacat maupun wafat tidak kian bertambah,” papar Tara Jime, salah satu panitia.

Sepanjang acara, partisipan antusias menyimak paparan Maharani, yang diselingi dengan paparan singkat pengalaman Taksa di Thailand dan Derek Chiang (Taiwan). Kedua negara tersebut terbilang beberapa langkah lebih maju dari Indonesia dalam kultur medis dan infrastruktur penatalaksanaan gigitan ular berbisa.

Alhasil, peserta begitu antusias terlibat dalam sesi praktek imobilisasi dan aktif bertanya. Acara yang semula hanya sampai jam sebelas  siang, molor hingga hampir jam satu siang. Hingga acara usai, peserta tak beranjak dari tempat duduknya. “Selain pemadaman (kebakaran) kami juga dilatih bagaimana menangani satwa liar yang masuk ke tempat-tempat tak semestinya dan membutuhkan rescue. Teknik imobilisasi sebagai first aid penanganan gigitan ular berbisa ini benar-benar berguna bagi kami,” papar Taufik, seorang peserta dari BNPB, kepada Milesia.id.

Dalam acara itu, Maharani kembali mewanti-wanti agar masyarakat aware dengan kasus-kasus gigitan ular berbisa di Indonesia. Mengutip RECS (2018), angka kasus gigitan ular berbisa di tanah air terbilang tinggi, mencapai 135 ribu kasus per tahun. Posisinya hanya berada di bawah HIV/AIDS dengan 191 ribu kasus dan di atas kanker (133 ribu). “Kasus snake bite masuk 10 besar penyakit terbanyak, yang sayangnya terabaikan. Maka bukan hal aneh jika resolusi WHO menyebut kasus gigitan ular berbisa sebagai neglected tropical desease (NTD),” terang Maha. Ia juga berpesan agar tidak lagi menggunakan pendekatan klenik (batu hitam, keris, ramuan herbal, dll) yang tidak berdasar riset terukur dan terbukti efektifitasnya, dan justru berkontribusi pada terus naiknya angka korban gigitan ular berbisa.

Annual Scientific Meeting on Emergency Medicine

Tri Maharani (Prio P/Milesia.id)

Dua hari sebelumnya, diinisiasi Perhimpunan Dokter Ahli Emergensi (Perdamsi) dan sejumlah pihak, dihelat pertemuan ilmiah tahunan penanganan medis emergensi di Hotel Borobudur, Jakarta. Dalam acara yang berlangsung tiga hari itu, hadir partisipan dari kalangan medis hingga akademisi.

Praksis imobilisasi oleh Dr. Ririek (Prio P/Milesia.id)

Salah satu sesi yang juga dihadiri Milesia.id, adalah workshop tentang snake bite. Selain Dr. dr. Tri Maharani. Msi. Sp.Em, hadir narasumber expert dari sejumlah negara. Diantaranya Dr. Taksa Vasaruchapong dari Queen Saovabha Memorial Institute (Thailand), Simon Jensen dari Australian Venom Research Unit (Australia), dr Liao Chun Chiang, researcher di Poison Center, Taiwan, serta dr.Vich Muthu dari Kementerian Kesehatan Malaysia. Lainnya adalah dr. Niniek Budiarti, Sp.PD – KPTI, dari Fakultas Kesehatan Universitas Brawijaya.

Taksa Vasaruchapong (Prio P/Milesia.id)

Dalam Paparannya, Taksa Vasaruchapong menyampaikan teknik-teknik identifikasi berbagai jenis ular berbisa yang lazim ditemui di Indonesia dari Pulau Sumatera hingga Papua. Identifikasi dengan preferensi spesies, ciri fisik khas, hingga tipe bisa (venom) dan jejak gigitannya di bagian tubuh manusia. “Jejak gigitan di tubuh manusia bisa dijadikan salah satu rujukan dalam mengidentifikasi apakah ular yang menggigit masuk kategori berbisa atau tidak. Selebihnya adalah tanda-tanda fisik yang harus dipastikan melalui hasil observasi lengkap,” papar Taksa.

Thailand terbilang lebih maju dalam tata laksana dan penanganan gigitan ular berbisa. Intensifnya riset yang didukung oleh Kerajaan sejak tahun 1920an, juga dukungan pemerintah dan perguruan tinggi. Tak mengherankan jika kasus kematian akibat gigitan ular berbisa di Thailand sangat minim.

Sementara itu Dr. Lau Chun Chiang, memaparkan pengalaman negaranya melalui Poison Center yang mereka miliki dalam memitigasi kasus-kasus gigitan ular berbisa. Riset yang canggih dan intensif memungkinkan Taiwan memiliki data, peta, dan sebaran geografis yang lengkap ihwal populasi dan jenis-jenis ular berikut antivenom dan rumah sakit rujukannya.

L.C. Chiang (Prio P/Milesia.id)

Riset juga mengacu pada peralatan medis untuk mengidentifikasi tipe-tipe venom dari setiap variasi ular berbisa yang menggigit tubuh korban. Alhasil Taiwan punya pengalaman, ada kasus gigitan ular mematikan jenis Daboia siamensis pada seorang pasien yang ditangani dengan tepat, dan hasilnya nyaris tak menyisakan bekas di tubuh sang pasien. Di negara maju sekalipun, kasus-kasus gigitan D. siamensis seringkali menyebabkan kecacatan fisik permanen pada korban.

Menarik juga dengan paparan Dr. Vickneshwaran Muthu dari Kementerian Kesihatan Malaysia. Muthu memaparkan relasi manusia dan eksosistem dengan eksistensi ular, serta respons manusia dalam menghadapi ular sehari-hari. Muthu memaparkan, bahwa usaha preventif dari gigitan ular adalah ikhtiar terbaik. Lebih spesifik, dalam percakapan khusus dengan Milesia.id,

Vich Muthu (Prio P/Milesia.id)

Muthu berkisah ihwal pengalaman komunitas medis di negaranya dalam mengedukasi publik melawan mitos-mitos penanganan gigitan ular berbisa oleh bomoh (dukun). “Bomoh atau dukun memang fenomena lazim di negara-negara berkembang, juga di Malaysia yang memiliki banyak kesamaan kultur dengan Indonesia. Lalu bagaimana kita harus bersikap? Harus step by step, bertahap, mengedukasi masyarakat luas terlebih dahulu bagaimana cara menangani (gigitan ular) yang benar itu. Jika publik paham, mereka tidak akan berhubungan dengan dukun lagi,” papar Muthu kepada Milesia.id.

 

“Papua Cases”

Paparan menarik disampaikan oleh Dr. Simon Jensen, Ia secara khusus menyoroti proyeksi penanganan gigitan ular berbisa di Papua mengacu jenis-jenis ular yang lazim didapati di kawasan Indonesia yang berdekatan dengan benua Australia itu. “Kita perlu menyadari bahwa aspek penanganan korban gigitan ular berbisa itu kompleks. Agar berhasil, perlu ada jaminan ketersediaan data, transportasi, fasilitas medis dan SDM medis yang mumpuni. Papua adalah salah satu yang relatif terbatas dan belum merata terhadap elemen-elemen itu,” papar Simon. “Ini belum termasuk ketersediaan antivenom. Kita tahu Indonesia belum memproduksi antivenom ular Taipan Papua atau Death adder yang mematikan. Sementara antivenom ular Taipan harganya mencapai 2.000 dollar Australia,” imbuh Simon.  

Simon Jensen (Prio P/Milesia.id)

Apa yang dipaparkan Simon di atas tampak kontekstual dengan kasus dua bulan terakhir, yaitu terkait kematian seorang anggota Brimob yang bertugas di Polda Papua, Bripka Desri Sahrondi Chaniago (40) pada Senin (29/7) silam. Seperti diketahui, Desri meninggal akibat gigitan ular berbisa tinggi Acanthophis spp. atau dikenal dengan sebutan Death adder, ular yang habitat aslinya di Australia dan selatan Papua.

Seperti pernah diberitakan Milesia.id, Bripka Desri Sahrondi beserta rekannya yang tengah melaksanakan pengamanan area di sekitar Pos Iwakatergigit seekor ular di tangan kanannya. Desri memegang ular tersebut yang justru mengakibatkannya digigit beberapa kali. Desri lantas memijit-mijit tangan bekas di sekitar lokasi digigit ular dengan maksud mengeluarkan bisa.

Aambulans yang datang sekira satu jam kemudian, tidak cukup cepat dan kondisi korban yang sudah tidak sadarkan diri. Setelah 48 jam mendapat perawatan intensif oleh tim medis di sebuah rumah sakit terbesar di Mimika, korban dinyatakan meninggal dunia.

Acanthopis (Dead adder) (IST))

Menurut Dr. dr. Tri Maharani. Msi. SpEm, presiden Toxinology Society of Indonesia dan juga pendiri Remote Envenomation Consultation Services (RECS), Death adder memiliki bisa yang berkategori neurotoxic kuat. “Jika korban mengalami respiratory failure maka harus dilakukan intubasi lalu dipasang ventilator, lanjut diberi antivenom disertai anticholinesterase dan jika terjadi bradikardi maka perlu diberi atropine sulphate (0,6 mg untuk dewasa dan 50 mikro gram/kg untuk anak-anak), anticholinesterase diulang 4 jam sekali. Mengacu WHO (2016) uji coba anticholinesterase harus dilakukan pada setiap pasien dengan keracunan neurotoksik.

Menimbang Death adder merupakan ular berbisa mematikan dengan anti bisa yang belum diproduksi di dalam negri, maka penanganan awal pasca gigitan sangat krusial, yaitu dilakukan imobilisasi. Meminimalkan gerak anggota tubuh korban guna mengurangi dampak penyebaran bisa melalui kelenjar getah bening. Memijit area sekitar gigitan untuk mengeluarkan bisa ular, juga justru dapat memperparah keadaan. “First aid yang benar adalah melakukan imobilisasi,” tegas Maharani.

Benar yang dikatakan Simon, Indonesia belum memiliki serum anti bisa ular  untuk Death adder, Taipan, dan berbagai jenis ular berbisa mematikan di Papua. Indonesia baru berhasil memproduksi satu antivenom (PT. Biofarma) yang diperuntukkan bagi kasus gigitan tiga jenis ular, yaitu C. rhodostoma (ular tanah), Naja sputatrix (kobra), dan Bungarus candidus (welang). Padahal, setidaknya tercatat ada 76 jenis ular berbisa di Indonesia, dengan salah satunya adalah Acanthopis (death adders) yang memakan korban jiwa seorang anggota Brimob di Papua, akhir Juli silam.

Ketiadaan serum anti bisa ular jenis Death adders mengharuskan impor. Diantaranya ke bioCSL Australia melalui PT Biofarma. “Saya pernah membeli antivenom Death adder pada 2017, harganya mencapai Rp 87,7 juta. Prosedur impor pun tidak mudah, harus mengurus ijin impor dulu yang bisa membutuhkan waktu 3 hingga 6 bulan. Bayangkan saja jika kita membutuhkannya dalam hitungan jam demi menyelamatkan nyawa manusia yang tak ternilai harganya.” imbuh Maharani.

Karena itu, sekali lagi, Maharani mewanti-wanti kalangan medis dan publik luas, agar prosedur penanganan, terlebih first aid, harus benar-benar tepat dan sesuai guideline WHO (2016). “Segera lakukan imobilisasi seperti yang sudah berulang kali saya ajarkan di kalangan medis maupun publik luas. Dan setiba di RS dilakukan pressure bandage untuk kasus neurotoxin kuat macam Death adder, lanjut pemberian antivenom yang sesuai. First aid yang salah berakibat kondisi korban masuk ke fase yang menjadikan organ tubuh rusak dan membutuhkan antivenom,” terang Maharani.

Maharani mengimbau kepada kalangan medis, komunitas-komunitas, maupun publik luas yang aktivitasnya bersinggungan dengan ular maupun korban gigitan ular berbisa, untuk menerapkan first aid yang benar dan berkonsultasi dengan Remote Envenomation Consultation Services (RECS). Selama ini RECS mengumpulkan kasus-kasus gigitan ular, termasuk dengan menjalin kemitraan dengan ahli reptil (herpetolog), kalangan akademisi dan komunitas. Serta mengumpulkan semua kasus gigitan ular di Indonesia secara daring (online).

Pendataan kasus gigitan ular yang lebih sistematis memang harus dilakukan seperti halnya pada penyakit berbahaya lainnya. Data yang akurat memungkinkan pengampu kebijakan untuk memetakan sebaran kasus, strategi penanganan, serta penganggaran. Untuk kasus gigitan ular berbisa, baru RECS yang serius mendatanya.

Data collecting yang benar, valid dan akurat terkait insiden gigitan ular berbisa,  adalah langkah awal yang harus dilakukan. Hal ini mengingat penanganan snake bites merupakan isu kesehatan yang kompleks dan memerlukan keterlibatan beragam pihak. Termasuk komunitas, penyedia layanan kesehatan, hingga pembuat kebijakan. Semoga. (*)

(Prio Penangsang/Milesia.id)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close