Milesosbud

Komunitas, Kekuatan Baru Generasi Milenial

 

Oleh : Dr. Ahmad Subagyo *)

Akhir-akhir ini penulis cukup intens terlibat dalam berbagai aktivitas komunitas. Baik yang bergerak di bidang edukasi, bisnis, sosial, maupun berbasis hobby.  Ada yang menarik dari eksistensi komunitas-komunitas itu dari sudut pandang pegiatnya. Disamping mendapatkan kepuasan tersendiri karena dapat mengeksplorasi “will” dan “want”  pada diri mereka secara sehat, tak kalah penting adalah  juga capaian “satisfaction” tersendiri.

Ada hubungan antar anggota komunitas yang tidak lagi bersifat transaksional-ekonomis (bisnis), justru ketika dunia berubah dengan tendensi serba transaksional (commercial), yakni sisi lain aktivitas anak-anak muda yang penuh dengan nilai-nilai “VOLUNTARY”.

Saya beranggapan, dimensi voluntary ini merupakan sisi positif di tengah kekhawatiran para orang tua (OLD age) yang memandang bahwa budaya “gotong royong” di era millenial dewasa ini cenderung luntur.

Keterikatan dan interaksi untuk saling membantu satu dengan yang lain dalam konteks yang awalnya “tematik” menjadi  ke arah yang lebih “holistic” dalam tata pergaulan “community” memberikan harapan baru dalam menghadapi “tata nilai”  dan “social culture” masyarakat kita ke depan.

Mengacu Wikipedia, Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan. Umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Barangkali makna yang luas dari “komunitas”, agak analog dengan organisasi sebesar NU atau Muhammadiyah, hanya saja dalam konteks yang lebih sederhana. Para penggemar barang kuno berkumpul membuat komunitas, para penggemar “self healing” menjadi komunitas, bahkan anak-anak muda juragan batik juga membuat komunitas.

Komunitas-komunitas itu lebih lentur dan tidak kaku layaknya organisasi mapan dengan segala formalitas dan legalitasnya. Struktur organisasi mereka cair dalam mengelola kelompoknya. Budget-anggaran untuk kegiatan yang mereka rancang dan gunakan juga tidak berbasis PSAK (Pedoman standar akuntansi keuangan) tertentu, tapi cukup  berbasis TRUST. Dan dari semua itu, tidak lantas komunitas-komunitas itu mengelola dan memberdayakan diri secara serampangan.

Belakangan, komunitas-komunitas juga dapat menggerakkan aksi massa besar-besaran. Itulah kekuatan sebuah komunitas. Jika komunitas muncul dengan membawa spirit kebersamaan-kemanusiaan dan persaudaraan, maka komunitas juga mampu menggerakkan PEREKONOMIAN berbasis kegotongroyongan.

Ibnu Khaldun, intelektual Muslim multi talent abad pertengahan, dalam bukunya ‘Al-Muqaddimah’ bertutur, bahwa masa kejayaan Islam di Cordoba dan Andalusia, terjadi antara lain berkat  munculnya “ASHABIYAH”. Ashabiyah, demikian Khaldun, merupakan unsur penting dalam membangun negara. Tanpanya, negara akan mudah runtuh karena tidak memiliki ikatan solidaritas sosial yang kuat, untuk saling bekerjasama, membangun sikap saling pengertian, dan bahu membahu mempertahankan keutuhan negara.

Ashabiyah, merupakan salah satu bentuk CIVIL SOCIETY, ketika negara dengan segala keterikatannya pada komitmen global untuk membuka dirinya secara “telanjang”, maka kekuatan komunitas yang akan mampu tetap mempertahankan “jati diri-nya”, kemandiriannya dan kebebasannya dalam melindungi hak-hak pribadi dan kebijakan lokal (local wisdom) yang dimilikinya.

Saat ini, anak-anak muda milenial cenderung menjatuhkan preferensi aktifitas dalam aneka rupa komunitas alih-alih dalam organisasi-organisasi formal. Mereka lebih tertarik masuk dalam komunitas-komunitas yang cair dan dinamis demi mengaktualisasikan diri mereka, baik dalam bersosialita maupun berbisnis.

Mereka menganggap organisasi ala komunitas sangat fleksibel dan tidak melulu berbicara tentang untung-rugi dan tidak memposisikan uang sebagai sumber dan nafas organisasi. Sebut saja, misalnya Komunitas Tangan Di-atas (TDA) yang concern dalam pengembangan entrerpreuneur. Lalu komunitas RAJA (barakah berjamaah) yang fokus dalam pemberdayaan perempuan. Ada pula komunitas IBF (Islamic Business Forum), komunitas HEBAT (Home Education based on Akhlaq and Talents) yang concern dalam Pendidikan keluarga.

Beberapa tahun terakhir Saya juga mencoba untuk ikut dalam berbagai komunitas, baik yang concern dalam bidang Pendidikan maupun bisnis. Hampir semua kegiatan yang dilakukan berbasis pada kontribusi bersama secara gotong-royong dari anggota komunitas sendiri.

Bahkan untuk saat ini, deman komunitas menjalar dari kumpulan alumni TK, alumni SD, alumni SMP sampai Perguruan Tinggi. Komunitas-komunitas ini memang ada yang hanya sekedar kumpul-kumpul dan tempat saling berseloroh di grup WA. Namun ada juga yang sampai menghasilkan “sesuatu” yang bermanfaat baik bagi para anggotanya maupun masyarakat lainnya.

Kekuatan baru dalam bentuk “community” ini terasa lebih merdeka, karena tanpa baju politik dan kepentingan jangka pendek, tapi lebih pada ikatan nilai-nilai tanpa transaksi kontraktual yang hanya berbicara kepentingan sesaat dalam mencapai tujuan “kekuasaan dan kekayaan” .

Bagi yang belum pernah tergabung dalam “community”, cobalah rasakan denyut nadi mereka dengan belajar (bergabung) dengan beberapa diantara mereka. Akan menyesal rasanya “jika belum pernah” bersahabat dengan orang-orang yang penuh IKHLAS berbagi dengan sesamanya tanpa tendensi dan pretensi ekonomi semata.(*)

*) Akademisi, Ketua Umum IMFEA, Jakarta.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close