Milestories

Tim TANAGUPA Berjibaku Mengatasi Karhutla

Oleh : Efan Juniansyah

DokPribadi. Efan Juniansyah

Asap seolah tak pernah henti bermunculan dari sela-sela retakan lahan gambut yang kehausan itu. Tampak sesekali terlihat api yang seolah hendak muncul ke permukaan. Jarak pandang semakin memendek, tarikan nafas semakin meyempit. Ini tidak baik dan ini bukan Borneo yang kukenal.

Api menjalar (Nur/Jun-Milesia.id)

Bumi Borneo memang bukan satu-satunya. Akhir akhir ini, sebagian wilayah Indonesia dihumbalang kemarau berkepanjangan. Melanda juga Pulau Kalimantan, rumahku.

Sejatinya kami sudah terbiasa dengan kemarau yang berkepanjangan. Rasanya, hampir setiap tahun musim macam ini bakalan kami rasakan. Kekeringan, sulit air bersih, sawah yang gagal panen, adalah wajah-wajah yang senantiasa nampak saat kemarau berkepanjangan. Kami nyaris terbiasa dengan hal tersebut.

Tapi kali ini berbeda dengan kemarau kemarau terdahulu. Tarikan nafas kami semakin pendek dan sempit, didera kabut asap.

Setapak demi setapak (Nur/Jun/Milesia.id)

Kabut asap bukanlah masalah alami yang muncul akibat kemarau berkepanjangan. Kabut asap itu sebagian besar dibuat oleh tangan-tangan manusia yang membuka lahan dengan membakar, meskipun berkelit dengan menyebutnya sebagai sebuah ketidaksengajaan.

Banyak lahan perkebunan yang terbakar dan merambat ke kawasan Taman-Taman Nasional, rumah bagi harta pusaka Indonesia, yaitu keanekaragaman hayati.

Taman Nasional Gunung Palung ( TANAGUPA ) salah satunya. TANAGUPA terletak di Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. TANAGUPA mempunyai ekosistem yang dapat dikatakan sebagai yang terlengkap di antara taman-taman nasional di Indonesia.

Gunung Palung sendiri mempunyai ketinggian 1.116 meter, habitat bagi sekitar 2.500 ekor orangutan. Taman Nasional Gunung Palung membentang seluas 108.043,90 hektar, menjadi habitat terbesar bagi bekantan.

(Nur/Jun/Milesia.id)

O, ya namaku Nurohman, teman-teman memanggilku Nur. Tahun ini sudah memasuki tahun ke 4 aku mengabdi sebagai Bakti Rimbawan di Taman Nasional Gunung Palung, Kabupaten Kayong Utara. Aku bangga dengan pekerjaan ini, walaupun keluarga dan kehidupan pribadiku sering kali kurang waktu.

Kemarau akhir akhir ini membuat kami siaga terhadap karhutla. Kami harus siap 24 jam sehari semalam, menerima laporan untuk memadamkan kawasan yang terbakar. Pekerjaan ini tak kenal libur akhir pekan ataupun libur nasional. Kami tetap harus siaga apapun warna angka kalendernya.

Istri dan anak kutinggal di kabupaten sebelah. Makan waktu dua jam bermotor untuk sampai. Dalam kondisi normal, Aku akan pulang menjelang akhir pekan atau libur nasional. Kali ini berbeda, sudah hampir 1 bulan Aku tak bisa pulang menyapa keluargaku. Padahal aku baru saja di karuniai seorang buah hati, yang kini baru genap berumur 2 bulan. Rasa rindu yang mendalam hanya bisa aku tebus melalui video call saat ada waktu senggang.

Pernah suatu ketika, di antara merahnya langit akibat matahari yang tenggelam, kami mendapat laporan adanya kebakaran kawasan di sekitar perkebunan milik warga. Dengan cepat tim berkemas dan menuju lokasi kebakaran. Padahal, belum genap 30 menit kami duduk beristirahat sambil makan siang yang tertunda, setelah berjibaku memadamkan api dari pagi di kawasan sebelumnya.

Siaga (Nur/Jun/Milesia.id)

Rombongan mobil pemadam dan anggota yang sudah siap dengan peralatan masing-masing melesat menuju lokasi. Perlu waktu satu jam untuk sampai ke titik kebakaran ketika langit sudah menggelap seluruhnya.

Tampak api berkobar menjilati apapun yang dilewati. Perlu berjibaku berjam-jam sampai api berhasil kami jinakkan. Sulitnya ketersediaan air menjadi salah satu alasannya.

Lelah, kantuk, dan sekujur tubuh bau akibat keringat yang menderas dan mengering berulangkali. Sementara bulan pun sudah berada tepat di atas kepala, menandakan sudah hampir tengah malam. Kami bergegas pulang.

Tetap bangga (Nur/Jun/Milesia.id)

Terkadang terbersit di benakku, kenapa Aku tidak berkerja di perkantoran saja. Mungkin dengan begitu saat ini aku bisa duduk bermain di ruang tamu bersama istri dan anak-anakku. Bukan bermain dengan api dan kabut asap yang memanggang kulit dan mencekik pernafasan. Sudahlah, sekarang aku bangga dengan perkerjaanku sekarang sebagai bakti rimbawan, berjuang demi udara yang bersih walau tak semua orang tahu.

Dear sahabat. Tahukah engkau, begitu banyak hal yang kami korbankan. Waktu, tenaga bahkan nyawa. Bukan hanya Tim pemadam yang harus siaga 24 jam akibat karhutla, melainkan juga para tenaga kesehatan yang kelimpahan kunjungan ekstra pasien ISPA, para ibu yang khawatir pada kesehatan anak-anaknya. Belum lagi para satwa dan tumbuhan yang mati akibat api yang membara. Ayo lah, berpikir sebelum bertindak. Kami tahu engkau mencari uang dari tindakan tercela itu. Tapi kami juga kehabisan uang dari hal itu. Berhentilah membakar hutan.

(Efan Juniansyah/Milesia.id)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close