DINAMIKAUncategorized

International Snakebite Awareness Day : Waspada dan Tangani dengan Benar

Ingatan masih basah dan rasa duka masih belum sepenuhnya reda. Ketika Juli lalu, seorang anggota Brimob yang bertugas di Polda Papua, Bripka Desri Sahrondi Chaniago (40), meninggal dunia akibat pagutan seekor Acanthophis spp. Ular berbisa mematikan yang klop dengan nama populernya : Death adder. Ular yang habitat aslinya di Australia dan selatan Papua.

Tak sampai sebulan kemudian, Iskandar (45) seorang petugas keamanan di sebuah perumahan di Gading Serpong, Tangerang, menyusul Desri. Kali ini akibat digigit seekor ular weling (Bungarus candidus), silent killer dengan komposisi bisa neurotoksin yang tak kalah maut.

Dalam kacamata medis penanganan gigitan ular, dampak fatal yang muncul dalam kasus almarhum Desri maupun Iskandar, setali tiga uang : kegagalan dalam penanganan pertama (first aid).

“Seharusnya segera dilakukan imobilisasi dan setiba di RS dilakukan pressure bandage untuk kasus neurotoxin kuat macam Death adder maupun weling. First aid yang salah berakibat kondisi korban masuk ke fase yang menjadikan organ tubuh rusak dan membutuhkan antivenom,” terang Tri Maharani, pakar penanganan gigitan ular dan satwa berbisa.

Maharani mengimbau, kalangan medis, komunitas-komunitas, maupun publik luas yang aktifitasnya bersinggungan dengan ular maupun korban gigitan ular berbisa, untuk menerapkan first aid yang benar dan sesuai guideline WHO (2016). Lebih intens lagi, bisa berkonsultasi dengan Remote Envenomation Consultation Services (RECS), yang selama ini rutin mendata kasus-kasus gigitan ular. Termasuk dengan menjalin kemitraan dengan ahli reptil (herpetolog), kalangan akademisi dan komunitas.

Indonesia International Snakebites Awareness Day

Hari ini, 19 September, ditetapkan International Snakebites Awareness Day (ISAD). Momentum untuk menggugah kesadaran publik terkait pentingnya kesadaran bersama pada kasus-kasus gigitan ular.

IST/Milesia.id

Mengutip RECS (2018), angka kasus gigitan ular berbisa mencapai 135 ribu kasus per tahun. Posisinya berada di bawah HIV/AIDS dengan 191 ribu kasus dan di atas kanker (133 ribu). Dengan demikian kasus snake bites masuk 10 besar penyakit terbanyak, yang sayangnya terabaikan. Maka bukan hal aneh jika resolusi WHO menggaungkan kasus gigitan ular berbisa sebagai neglected tropical desease (NTD).

Di Indonesia, salah satu acara puncak ISAD adalah lomba imobilisasi massal di Solo pada 22 September mendatang. Lanjut workshop internasional di Jakarta pada 11 dan 13 Oktober. Nopember di Cirebon dan Surabaya, lalu di Papua dan Sumba pada Desember.

(Prio Penangsang/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close
Close