MilestravelTravel

PASTY Movement Point, Membaca Geliat Pasar “PASTY” Malam Hari

MILESIA.ID, JOGJA – Hari beranjak petang, lampu-lampu jalanan di sudut selatan kota Jogja mulai menyala. Pasar Satwa dan Tanaman Hias (PASTY) di pinggir Jalan Bantul -sebelah Dongkelan, yang biasanya telah berkemas, nampak bergeming malam itu.

Kios ikan hias yang berada di sisi barat Jalan Bantul bertaburan cahaya lampu, orang-orang masih berkerumun melihat-lihat sekeliling. Sementara itu, beberapa kendaraan mengular memasuki gerbang pasar.

Tepat dari sudut bangunan heritage eks stasiun kereta api, mengarah ke barat plaza PASTY, nampak kursi-kursi ditata melingkar di muka panggung bercorak gelap. Sepasukan anak band tengah menyiapkan alat musik di atas panggung.

PASTY punya gawe malam itu, Jumat (30/08/19), bagian barat pasar ini resmi membuka acara PASTY Movement Point.

“Ide membangun PASTY menjadi ruang yang di datangi banyak orang sudah ada sejak dua tahun lalu, agar tumbuh hal baru yang menggerakkan aktivitas masyarakat,” terang Wakil Walikota Yogya Heroe Poerwadi di sela peresmian PASTY Movement Point, Jumat malam itu.

PASTY Movement Point diejawantahkan dalam panggung pertunjukan dan pusat kuliner, menyatu dengan penjualan tanaman dan ikan hias di sisi barat pasar ini. Selama gelaran ini berlangsung, PASTY akan buka hingga pukul 22.00 WIB

PASTY Movement Point

Launching PASTY Movement Point, Jumat malam (30/08/2019). IST/Dok. Disperindag

PASTY Movement Point merupakan sebutan bagi space sisi barat pasar yang akan dibuka sampai malam hari. PASTY sisi barat yang sebelumnya merupakan pusat penjualan tanaman dan ikan hias serta kantor UPT PASTY ini telah disulap menjadi ruang terbuka untuk umum.

Ruang terbuka ini dilengkapi dengan panggung hiburan, walking space, spot-spot untuk selfie serta didukung berbagai stan kuliner. Ruang terbuka ini dikemas sebagai tempat kongkow yang dilengkapi wifi berkecepatan tinggi.

Untuk stan kuliner, sudah ada 17 tenant yang siap memanjakan lidah para penikmat kuliner. Ketujuh belas stan ini antara lain: Healthy Juice, Warung Budhe, folk waffle, Mampir Mocktail, Nyonya Besar, Phinisi Burger, Dum Thai Tea, Ayam Kremes Kalasan, Man-Ayu, Dawet Irenk, Warung Bu Yanti, wedang Seruni, Waroeng Lawasan, Adhum Tai Tea, Chiknyios, Delta Coffee Break.

Milesia.id sempat menjajal beberapa stan kuliner, rasanya tidak mengecewakan dengan harga yang terbilang murah. Thai tea jumbo rasa taro dibanderol 10 ribu, coffee gelas ukuran standar dibanderol 5 ribu, ayam geprek plus nasi dibanderol 9 sampai 13 ribu. Ada diskon 30% bagi semua stan kuliner saat launching PASTY Movement Point.

Wakil Walikota Yogya, Heroe Poerwadi blusukan ke area stan kuliner. IST/Dok.Diskominfosan

Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasty, Bakoh Tumpon Langkir Hadi, fasilitas yang ada akan terus dibenahi, salah satunya dengan menambahkan skate park dan beberapa aksesori untuk menghiasi eks stasiun kereta api di depan Pasty sisi barat.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kota Yogyakarta, Yunianto Dwisutono, mengatakan, lahan sekitar satu hektare tersebut terdapat berbagai ruang yang bisa dimanfaatkan bersama. Di antaranya seperti panggung, shelter dan tribun, stan kuliner, ruang usaha, co-working space serta tempat pertemuan.

“Ini baru soft launching. Rencananya pada Januari 2020 akan ada grand launching. Tapi, setiap bulan sejak dari sekarang akan kami gelar beragam kegiatan yang mampu menarik minat anak-anak muda atau kaum milenial,” terangnya.

Saat ini telah tercatat 32 komunitas yang siap bergabung meramaikan PASTY Movement Point. Mulai dari komunitas musik seperti Djogja Music Community, Hamkry sebagai komunitas keroncong, Jogja Rock Community, pecinta otomotif, pecinta gamers serta komunitas penggemar dari sejumlah band.

Heroe Poerwadi berdialog dengan tenant salah satu stan kuliner. IST/Dok.Diskominfosan

Semua komunitas anak muda, lanjutnya, dapat memanfaatkan PASTY Movement Point untuk berbagai kegiatan positif. Bahkan, antar komunitas dapat saling berdialog dan sharing karya masing-masing untuk menumbuhkan karya baru.

“Kami juga sedang mendorong para pedagang di sini bisa buka sampai malam hari. Tapi kalau untuk satwa memang perlu penanganan khusus sehingga sulit jika harus buka sampai malam,” ujarnya.

Yunianto mengakui bahwa pengembangan Pasar Pasty menjadi Movement Point yang buka dari sore hingga malam hari setiap harinya masih belum optimal. Salah satunya skate park yang masih dalam tahap pembangunan di sisi depan serta pembenahan lampu agar lebih terang.

“Sekarang aktivitas menumpuk di utara, baik keramaian dan kuliner. PASTY Movement Point dibangun agar di selatan ada ruang yang tak kalah menarik sehingga dapat memecah keramaian di sebelah utara,” terangnya.

Motivasi dan kerja keras

Momentum peresmian PASTY Movement Point (30/08/2019). IST/Dok.Diskominfosan

Menurut Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, banyak potensi pasar tradisional di Kota  Yogyakarta yang belum dikembangkan secara optimal.

“Kita membangun pasar tradisional dengan biaya besar. Banyak pasar yang dibangun dengan biaya lebih dari Rp 10 M. Bahkan Pasar Prawirotaman nanti lebih dari Rp 60 M. Tapi fungsinya belum optimal, penggunaannya sebatas pagi-siang,” terang Heroe.

Dengan biaya pembangunan yang cukup besar serta potensi yang sesungguhnya luar biasa, Ia ingin menerapkan pemanfaatan pasar secara optimal. Tidak hanya pagi sampai siang, tapi sore dan malam pasar dihidupkan.

“Misalkan Pasty, kalau malam tidak hidup. Padahal potensinya besar, ada ikan hias dan tanaman hias. Kita ingin ada warna baru terhadap pengelolaan pasar. Kita ingin optimalisasi pasar jadi kebutuhan masyarakat dan tidak hanya menjadi keperluan dapur tapi kebutuhan batin orang datang ke pasar. Misalkan kalau orang datang ke Pasty itu ingin melepaskan passion,” ujar pria berkacamata itu.

Penampilan Group Band Plastik memeriahkan acara launching PASTY Movement Point. MILESIA.ID/ KELIK N.

Heroe Poerwadi mengingatkan mengenai tantangan yang akan dihadapi PASTY Movement Point di awal proses pertumbuhannya.

“Bagi pengelola Pasty Movement Point, tantangannya adalah menghidupkan tempat ini di awal-awal. Harus buat strategi. Harus memperbaiki coraknya, bukan malam tapi hanya cari terang lampunya saja. Harus dibuat ada warna dan karakternya. Kalau hanya terang, nggak ada bedanya dengan mall,” pesannya.

Ia juga menekankan bahwa komunitas yang ada di PASTY Movement Point harus bisa berdamai dengan kepentingan penjual untuk bisa memberikan sesuatu dari sisi bisnis. Membutuhkan banyak perjuangan, banyak investasi serta harus berdarah-darah.

“Ada PR yang harus dikerjakan. Mulai dari lampu, panggung yang tidak boleh kosong, dan perlu kontinyuitas agar menarik banyak orang. Ada panggung, makanan, pasar ikan, tanaman, manfaatkan potensi yang ada. Kalau bisa dimaksimalkan akan banyak orang yang datang ke sini,” terangnya.

Diharapkan dengan dibukanya PASTY malam hari ini, mulai Pukul 16.00 WIB -22.00 WIB, masyarakat sekitar bisa ikut berpartisipasi dalam wadah-wadah kegiatan yang disediakan oleh PASTY Movement Point.

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto/ dari berbagai sumber)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close