Mileslitera

‘Irama Lain Monolog Yogya’ di MocoSik Book & Music Festival JEC

Bincang-Bincang Sastra edisi 167

MILESIA.ID, JOGJA – “Leluhur sastra sesungguhnya adalah musik. Tekslah yang membuatnya berbeda. Tanpa teks, yang ada ialah musik”, ujar Nirwan Ahmad Arsuka.

Membawakan teks sastra di atas panggung, di tengah gegap gempita musik, itulah yang hendak disajikan Studio Pertunjukan Sastra dalam Bincang-Bincang Sastra edisi 167 kali ini.

Bekerja sama dengan MocoSik Book & Music Festival, acara bincang sastra kali ini menampilkan format yang sedikit berbeda, yaitu diselenggarakan di tengah event “Festival Buku dan Musik Mocosik 2019” yang dihelat 23, 24, dan 25 Agustus 2019.

Bertempat di Omah Ontosoroh MocoSik Book & Music Festival, Jogja Expo Center (JEC), Studio Pertunjukan Sastra siap menghadirkan narasumber Indra Tranggono (pengamat budaya dan penulis lakon) serta Banyu Bening (aktor dan pendiri akuaktor.com)

Membawakan tajuk “Irama Lain Monolog Yogya”, acara yang sedianya diagendakan Jumat, 23 Agustus 2019 pukul 19.30-22.00 WIB ini akan dimoderatori Latief S. Nugraha. Selain itu akan hadir pula aktris berbakat Joanna Dyah dengan sebuah pertunjukan monolognya.

Kenapa harus monolog?

Bincang-bincang Sastra edisi 167 di JEC, 25 Agustus 2019. MILESIA.ID/ Dok.SPS

Bukan suatu kebetulan jika Studio Pertunjukan Sastra menghadirkan tema Monolog dalam acara Bincang-Bincang Sastra kali ini. Melihat dinamika pertunjukan seni kiwari, kita akan menjumpai beragam hasil karya kreatif pascasastra.

Misalnya yang paling sederhana, pembacaan puisi, pembacaan cerita, musik puisi, dramatik reading, hingga teatrikal, dan lain-lain. Usaha alih wahana ini menunjukkan bahwa teks sastra adalah pokok yang dapat diapresiasi ke dalam bermacam wujud.

Secara etimologi, istilah “Monolog” sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu: Mono, yang artinya satu, serta Legein, yang artinya berbicara. Sehingga monolog dapat diartikan orang yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Monolog berfungsi sebagai penegasan keinginan atau harapan terhadap sesuatu hal yang bisa ditampilkan dalam bentuk emosional, penyesalan, atau berandai-andai.

Menurut sejarah, monolog telah diperkenalkan sejak tahun 60-an. Saat itu pertelevisian tidak mengenal dubbing (pengisian suara) oleh karena itu monolog banyak dipraktikkan untuk membuat film-film komedi dan horror. Salah satu pengagas seni monolog legendaris adalah Charlie Chaplin. Monolog diperkenalkan pertama kali di Hollywood sektiar tahun 1964 lalu berkembang menjadi sarana seni dan teater serta menjadi salah satu teori dalam pembelajaran seni teater.

Mustofa W. Hasyim, Ketua Studio Pertunjukan Sastra. MILESIA.ID/ IST

Lalu mengapa Studio Pertunjukan Sastra menghadirkan tema monolog di acara buku dan musik kali ini?

“Hadirnya pertunjukan dan bincang-bincang mengenai monolog ini diharapkan dapat menjadi irama lain di acara MocoSik Festival. Monolog sebagai satu bentuk pertunjukan dalam seni peran yang menuntut kepiawaian dan keunggulan aktor dalam berperan sebagai penampil tunggal,” terang Mustofa W. Hasyim, Ketua Studio Pertunjukan Sastra.

Mustofa menambahkan, “Di dalam pertunjukan sastra, acap kali dijumpai suatu pertunjukan pembacaan kisah (prosa: cerpen, nukilan novel) yang kemudian dihadirkan sebagai satu pertunjukan dramatic reading, storytelling, dongeng, dan ada pula yang mengadaptasi naskah cerpen tersebut menjadi naskah monolog dan tentu saja pertunjukan yang dihadirkan adalah monolog.

Sementara itu, mau tidak mau, suka tidak suka, naskah drama monolog juga merupakan teks sastra yang rasa-rasanya perlu untuk dibaca dan dikaji keberadaannya.”

Geliat seni monolog van Yogya

Banyu Bening, aktor dan pendiri akuaktor.com. IST

Di Yogyakarta kita mengenal tokoh-tokoh yang piawai dalam seni pertunjukan monolog, seperti Yoyok Aryo, Sri Harjanto Sahid, Whani Darmawan, Joko Kamto, Nevi Budianto, Butet Kertaradjasa (untuk menyebut beberapa nama). Dalam lima tahun terakhir, monolog juga hadir di sejumlah komunitas teater kampus.

Monolog juga menjadi tangkai lomba di Peksiminas atau FLS2N yang digelar oleh lembaga terkait. Di Yogyakarta Whani D Project sempat menggelar acara pementasan monolog seiring dengan terbitnya buku naskah monolog Sampai di Depan Pintu karya Whani Darmawan.

Terhitung beberapa pementasan monolog seperti yang dimainkan oleh Yan Jangkrik Samurai Sakate karya Whani Darmawan atau Khocil Birawa dengan Genderuwo Pasar Anyar karya Indra Tranggono juga cukup mencuri perhatian.

Aktor Yogya Rendra Bagus Pamungkas belum lama ini juga sukses menggelar pementasan monolog Sutan Sjahrir di Salihara memperingati 10 tahun komunitas tersebut. Hal ini menandakan bahwa pertunjukan monolog masih mendapat tempat.

PR bersama

Indra Tranggono, pengamat budaya dan penulis lakon. IST

Meskipun geliat seni monolog terekam jejak menggembirakan, tapi mengapa keberadaan pertunjukan panggung, semacam monolog seolah gampang lenyap di era ini?

Pertanyaan-pertanyaan menggelitik inilah yang sengaja ditawarkan dan hendak dijawab oleh Studio Pertunjukan Sastra melalui acara bincang sastra ini.

“Melalui acara ini, semoga akan lahir wacana dan wawasan yang menambah keluasan pandangan kita bersama. Kesadaran bahwa panggung monolog dan naskah lakon monolog adalah dunia sunyi menjadi satu hal menarik untuk diperbincangkan. Tidak banyak pertunjukan monolog yang hadir, tidak banyak pula naskah monolog yang lahir.

Dari yang tidak banyak itu, kita hanya menjumpai sedikit sekali buku yang menghimpun naskah-naskah monolok karya para penulis atau teaterawan kita. Banyak naskah yang tercecer tidak terdokumentasi dengan baik. Hal ini mesti segera dicari solusinya!” Pungkas Mustofa.

(Milesia.id/ Mustofa W. Hasyim/ Kelik N)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close