Milescoop

Kolaborasi Inovator Koperasi, Bangun Interkoneksi Pembayaran Digital

Alih-alih berkompetisi menghadapi persaingan bisnis dan perkembangan teknologi kiwari, entitas gerakan publik kreatif dan koperasi memilih berkolaborasi. Adalah PT Sakti Kinerja Kolaborasindo (SKK), salah satu pihak yang intens menyelenggarakan workshop teknologi secara periodik.

Pada 13-16 Agustus lalu, misalnya, mengambil lokasi di Bogor, workshop diikuti 50 Credit Union dan koperasi dari berbagai provinsi di Indonesia. Bahkan, beberapa credit union dari Timor Leste yang menggunakan Core Banking Sicunteles, turut serta. Ini merupakan perhelatan ke sembilan.

Mengangkat tema, “Kolaborasi Inovator Koperasi dalam Membangun Interkoneksi Pembayaran Digital Berbasis Koperasi Indonesia”, Sakti membagi kegiatan dalam dua kelas, yakni Kelas Programmer/ Teknis dan Kelas Umum/ Non Teknis.

Salah satu kelas SAKTI (ICCI/Milesia.id)

Pada Kelas Programmer, partisipan dilatih untuk membuat dan mengintegrasikan Application Programming Interface (API) Sakti ke berbagai aplikasi lainnya. Pada Kelas Non Teknis, peserta diberi pembekalan tentang akuntansi interkoneksi pembayaran sehingga tidak menimbulkan kekacauan pembukuan.

“Hal itu penting dilakukan sebab secara awam proses transaksi itu hanya terjadi dalam hitungan detik, namun di belakang layar, sebenarnya lebih kompleks. Termasuk dalam pembukuannya,” terang Endy Chandra, Direktur Utama PT. SKK. Di acara kali ini, PT. SKK menggandeng Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) dan InnoCircle Initiative, sebuah lembaga inkubator.

Lewat kegiatan itu juga dilakukan penjajakan kerjasama antara CU/koperasi dengan beberapa startup dan koperasi. “Teknisnya nanti kita kirim proposal ke masing-masing CU/koperasi untuk bisa ditindaklanjuti,” terang Endy. Harapannya, CU/ koperasi dapat mengembangkan layanannya tanpa harus membangunnya secara mandiri melainkan dilakukan secara kolaboratif.

Dalam kesempatan itu, Firdaus Putra, HC., Komite Eksekutif ICCI, memaparkan materi tentang “Reaktualisasi Pilar Keempat Credit Union”. Firdaus mengatakan, inovasi sebagai pilar keempat gerakan CU di Indonesia justru menemukan momentumnya pada situasi kontemporer. “Inovasi ini tidak sama dengan alien, bukan hal asing. Beberapa contoh yang saya kemukakan adalah hal-hal yang muncul di keseharian,” terangnya.

IST (ICCI/Milesia.id)

Pada sesi sebelumnya Anis Saadah, CEO InnoCircle, mempresentasikan tentang praktika lembaga inkubator yang dikelolanya. Ia mengisahkan bagaimana InnoCircle saat ini telah dan sedang menginkubasi beberapa startup coop sebagai cara mendekatkan kalangan milenial pada koperasi. Dalam kesempatan itu, Anis juga mengajak para peserta untuk berkolaborasi mendukung keberadaan lembaga inkubatornya. “Kita bisa mengembangkan lembaga inkubator semacam ini di credit union dan koperasi-koperasi yang lain. Sehingga anak-anak muda memperoleh ruang yang pas untuk mengembangkan diri,” papar Anis.

Workshop diakhiri dengan showcase karya-karya dari Beceer.com, startup coop yang menyediakan layanan belanja pasar berbasis aplikasi. Kemudian BookCircle.id, yaitu startup coop yang mempertemukan antara pemilik buku dan pembaca berbasis aplikasi. Lalu ada Playme.id, platform coop dengan layanan streaming video yang memungkinkan para local talent memperoleh donasi. Terakhir, tampil Kinarya Coop, koperasi bisnis kreatif yang sedang memproduksi 17 film layar lebar di 17 provinsi di Indonesia. [] (Firdaus P/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close