DINAMIKAMileslitera
Trending

Melawan Klise, Membangkitkan “Gairah” Teater Kampung Yogya

Festival Teater Yogyakarta 2019

MILESIA.ID, JOGJA – Setiap karya yang baik adalah kampanye melawan klise, begitu ujar Dr. B. Herry Priyono. Klise telah mengepung media massa kita pun segala sendi peri kehidupan kita. Maka tidaklah gampang bagi 14 grup teater kelas kecamatan untuk mendobrak kemapanan klise.

Berbekal semangat anti mainstream, sebanyak 14 grup teater dari 14 kecamatan di Kotamadya Yogyakarta, siap unjuk kebolehan pada gelaran Festival Teater Yogyakarta, yang sedianya digelar 18-21 Agustus 2019, di Gedung Societeit Taman Budaya Yogyakarta.

“Festival Teater ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogya dan bertujuan untuk menggairahkan kembali teater modern berbasis kampung,” terang Erwito Wibowo sebagai Ketua Panitia Pelaksana Festival.

Gairah berbalut nostalgia

Agenda Festival Teater Yogya 2019 untuk masing-masing Kecamatan. MILESIA.ID

Antusiasme pegiat teater kota Yogya menyambut festival teater ini nyatanya cukup menggembirakan. Di balik tontonan klise-instan di layar kaca dan mewabahnya konten-konten unfaedah di media sosial yang mengedepankan perdebatan kalah-menang, para pegiat teater kota budaya ini nyatanya masih bersetia dengan gairahnya.

“Teman-teman teater dari Kecamatan se-Kota sangat antusias mengikuti festival teater ini. Mereka sudah menyiapkan naskah dan giat berlatih,” tutur Brisman HS selaku narasumber kegiatan ini.

Brisman juga menambahkan, ada delapan kategori penghargaan yang akan diberikan kepada para penampil. Di antaranya, grup penampil terbaik, aktor terbaik, sutradara terbaik, serta desain produksi terbaik.

“Sudah cukup lama keberadaan dan pertumbuhan teater di kampung-kampung terabaikan. Kurang mendapat support dan fasilitas yang baik. Semoga ini bisa menciptakan iklim dan gairah kreatif masyarakat,” harap pria setengah baya itu.

Ilustrasi penampilan kelompok teater. MILESIA.ID/IST

Brisman juga berharap para pemangku kebijakan sudi menengok kembali perjalanan teater di kota Yogyakarta yang pada mulanya tumbuh dari kampung-kampung. Geliat seni teater yang tumbuh dari kampung ini nyatanya telah memberi warna dan gairah berkesenian bagi masyarakat di kota Yogya.

Puncak gairah itu terjadi pada medio 80-an melalui Himpunan Teater Yogya (HTY) yang secara reguler mengadakan arisan teater. Semua grup teater pentas dari satu kampung ke kampung lain secara bergilir. “Jangan lupa, Teater Gandrik lahir dari iklim kondusif teater kampung. Sejumlah personelnya menjuarai festival teater, sebagai aktor maupun aktris,” papar Sutradara Teater Ramada Yogya ini.

Last but not least, mengusung tema: ‘Dengan Festival Teater Merespon Persoalan Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat Kota Yogyakarta Menuju Kesatuan dan Kebinekaan’, event ini diharapkan mampu memicu dan memacu kreativitas warga kota Yogyakarta.

(Milesia.id/ Mustofa W. Hasyim/ Kelik N)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close