DINAMIKA
Trending

Mereka yang Menimba Kristal Asin Laut Selatan

Pantai Selatan Gunungkidul, Yogyakarta, terkenal sebagai destinasi wisata dengan pasir putih dan batuan karang yang menawan. Geliat industri wisata berbasis pantai, turut melumasi roda ekonomi penduduk sekitar.

Kristal garam (Milesia.id/Ratih Puspita)

Diantara hiruk pikuk  industri wisata pantai yang jadi primadona, ada segelintir penduduk yang memilih menimba kristal dari asinnya air laut. Kristal itu tak lain adalah adalah garam laut.

Berlokasi di Pantai Sepanjang, Gunungkidul, pembuatan garam ini digawangi oleh kelompok usaha bernama Tirta Bahari yang beranggotakan 26 orang. Sejak berdiri kira-kira satu tahun yang lalu, kapasitas produksi ladang garamnya menyentuh angka 8-10 kuintal kristal garam per bulan. Menghasilkan produk dengan dua tingkatan kualitas garam konsumsi. Produk turunan yang lebih rendah berakhir sebagai campuran minum ternak warga.

Endapan garam (Milesia.id/Ratih Puspita)

Tidak seperti lazimnya garam yang dibuat di industri tambak garam pada umumnya, proses produksi garam laut dari pantai ini tidak melalui tahapan penjemuran dengan medium penguapan  (evaporasi) yang bersentuhan dengan permukaan tanah di udara terbuka. Cara konvensional itu memang riskan menghasilkan kristal garam yang terkontaminasi dengan banyak material tak dikehendaki.

Sebagai gantinya, Tirta Bahari mendirikan bangunan-bangunan semi permanen berbentuk setengah lingkaran berbahan plastik UV dengan rangka bambu yang disebut hut. Hut dibangun untuk melindungi wadah-wadah berbahan fiber berisi air laut bakal garam, dari paparan debu, hujan, dan kontaminan lainnya.

Tenggok penampung garam (Milesia.id/Ratih Puspita)

Hasil evaporasi air laut dalam fiber akan menghasilkan buliran kristal garam, yang lantas ditampung dalam  keranjang anyaman bambu yang dalam  bahasa Jawa disebut tenggok. Tenggok juga bisa difungsikan untuk meniriskan sisa air yang belum sepenuhnya menguap. Satu tenggok bisa menampung setara 23 kilogram garam.

Hut (Milesia.id/Ratih puspita)

Wadah fiber di dalam hut memiliki kedalaman 3 sentimeter dan 10 sentimeter yang dapat menghasilkan 13 kilogram dan 200 kilogram garam. Dibagi dalam tiga grade, kelompok Tirta Bahari menawarkan garam halus seharga Rp 6 ribu per kilogram. Di bawahnya ada garam krosok seharga Rp 4 ribu per kilogram serta garam kombor rp 3 ribu per kilogram.

Fiber penguapan (Milesia.id/Ratih Puspita)

Garam laut dengan mutu bagus masih terus diburu kalangan industri.  Industri makanan, kecantikan, dan  kesehatan. Ia mampu menjadi elemen penyeimbang elektrolit. Dengan komposisi magnesium, kalium, kalsium, natrium dan bromida, semua mineral penting ini banyak dibutuhkan untuk beragam keperluan. Konon, mandi dengan garam laut (mutu bagus) bisa membantu kulit tubuh jadi sehat dan berkilau.

“Saat musim kemarau kualitas garam menurun, karena lebih banyak angin dan debu,” tutur Datun, seorang anggota Tirta Bahari. “Kalau musim penghujan hasilnya lebih bagus dan bersih.”

Meskipun ladang garam sudah menghasilkan, anggota kelompok Tirta Bahari masih menggantungkan mata pencaharian di sektor pertanian. Seperti siang itu, Pak Datun menjelaskan kenapa  sekretariat Tirta Bahari tampak sepi. Rupanya, hari itu sebagian anggota kelompok tengah panen singkong.

Sudatun (kanan), menerawang hut dari sekretariat (Milesia.id/Ratih Puspita)

Garam memang tak akan berubah manis. Tapi manis usaha garam laut berhak mereka reguk. Tak muluk-muluk, mereka berharap produksi di ladang garam tersebut bisa lebih berkembang, berbadan hukum, dan produknya mendapat lisensi SNI. Alhasil,  laut selatan tidak saja memberi berkah bagi mereka yang pergi berlayar dan berwisata ke laut, tapi juga yang mengais rezeki kristal garam di tepinya. (*)

 

(Ratih Puspita/Milesia.id)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close