Mileslitera
Trending

Ziarah Tafakur A. Adjib Hamzah

Bincang-Bincang Sastra Edisi 166

“Sikap yang dibutuhkan agar bisa mencapai tempat ziarah adalah kesederhanaan (simplicity)”.

(The Pilgrimage, Paulo Coelho)

MILESIA.ID, JOGJA – Studio Pertunjukan Sastra bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta serta Dewan Teater Yogyakarta kembali menggelar acara Bincang-Bincang Sastra. Perhelatan rutin yang telah menginjak edisi 166 ini bakal mengusung tajuk “Ziarah A.Adjib Hamzah: Sosok dan Karya”.

Acara ini sedianya dihelat pada hari Minggu, 28 Juli 2019 pukul 20.00-23.00 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta, jalan Sri Wedani 1 Yogyakarta.  Akan hadir pula A.S. Adham (putra alm. A. Adjib Hamzah) serta Brisman H.S. (Teater Ramada) selaku pembicara.

Selain itu, akan disuguhkan performance Dewan Teater Yogyakarta membawakan dramatik reading salah satu naskah drama karya mantan pemimpin redaksi Majalah Suara Muhammadiyah itu.

Ziarah Adjib Hamzah

Menziarahi A. Adjib Hamzah. MILESIA.ID/ SPS

Jika mengambil ungkapan Paulo Coelho, “sikap yang dibutuhkan agar bisa mencapai tempat ziarah adalah kesederhanaan (simplicity)”, artinya dibutuhkan sebuah kesederhanaan layaknya anak-anak untuk menapaki jalan pemahaman.

Dalam The Pilgrimage (Ziarah) ini, Coelho mengingatkan kita akan sikap kesederhanaan, sama seperti sikap iman seorang anak kecil, sebagai syarat mengalami kehadiran Tuhan pun pemahaman semesta lainnya.

Sebuah sikap terbuka kepada segala kemungkinan, sikap penuh kekaguman, keterkejutan yang datang dari dalam diri, kesetiaan untuk tetap memelihara pertanyaan-pertanyaan terdalam.

Dalam konteks susastra kiwari, dibutuhkan sebuah sikap sederhana untuk berendah hati menapaki jalan-jalan sastra di masa lampau bagi proses pertumbuhan serta pembelajaran.

Untuk itulah, Studio Pertunjukan Sastra mencoba mengajak para pencinta sastra dan teater di Yogyakarta untuk kembali ziarah, mengenal dan mengenang sosok maestro sastra Yogyakarta, Adham Adjib Hamzah.

Bagi generasi milenial, nama A. Adjib Hamzah mungkin masih terdengar asing di telinga. Padahal ia merupakan sastrawan tanah air yang telah banyak melahirkan karya sastra baik berupa novel, cerpen, dan drama. Adjib Hamzah adalah salah satu tokoh sastra yang bertumbuh dan dibesarkan di kota Yogyakarta.

Di kota Jogja, yang kala itu mematut diri sebagai ibukota negara pada masa awal kemerdekaan, telah mendorong sejumlah sastrawan seantero tanah air untuk berbondong-bondong datang dan menempa diri. Iklim kota budaya dan seni nan kental telah memantik kreativitas kesastraan, seni rupa, teater, dan lainnya untuk tumbuh berkecambah. Adjib Hamzah menjadi salah satunya.

Proses kreatifnya di bidang kesastraan dimulai sejak masa awal kemerdekaan bersama sang adik, Hadjid Hamzah, berbarengan dengan Nasjah Djamin, Kirdjomuljo, Motinggo Boesje, Bastari Asnin, dan  para sastrawan sezaman yang lainnya.

Kecintaannya pada dunia seni dan filsafat dibuktikan dengan riwayat pendidikan formal yang ditempuhnya, yakni di Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta, Asdrafi, dan Akademi Metafisika Yogyakarta.

Di sela hari-harinya yang suntuk dengan mesin tik di meja kerjanya, A. Adjib Hamzah juga aktif dalam dunia teater. Ia pernah menjadi guru drama di SMP Muhammadiyah III B, di SPG Muhammadiyah I Yogyakarta, di SMP Muhammadiyah V Putri, dan mengajar dramaturgi dan penulisan skenario film pada Fakultas Ilmu Dakwah Masjid Syuhada Yogyakarta.

Selain itu, ia juga mendirikan kelompok Teater Ramada di tempat tinggalnya, yakni di Notoprajan. Terkait dengan dunia drama, ayah dari Affan Safani Adham, Annas Solikhin Adham, Amran Sahrani Adham, Amin Sa’adi Adham, Azam Sauki Adham, Arief  Subhan Adham, Abas Sani Adham, dan Anna Sophia Adham  ini menulis buku  Pengantar Bermain Drama (CV Rosda, 1985) yang menjadi buku bacaan wajib di sejumlah sekolah dan kampus di Indonesia.

Karyanya diangkat di layar kaca

Salah satu karya A. Adjib Hamzah. MILESIA.ID/ IST

“Boleh dibilang Adjib Hamzah adalah maestro di bidang sastra, khususnya di arena sastra Yogyakarta. Karya-karyanya telah mengisi sejumlah media massa tanah air, pun telah memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi. Seperti misalnya, Pembela Keadilan, menjadi pemenang pertama dalam Sayembara Besar Mengarang PN Balai Pustaka dan diterbitkan Balai Pustaka tahun 1968,” terang Sukandar selaku koordinator acara kali ini.

Karya beliau yang lain berjudul Tabah Si Anak Laut juga menjadi pemenang pertama sayembara yang diadakan Kedaulatan Rakyat dan diterbitkan oleh Kedaulatan Rakyat tahun 1971. Atas dedikasinya pada dunia sastra inilah, Adjib Hamzah menerima Penghargaan Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 1993,” imbuh Kandar.

Apresiasi terhadap karya-karya sastrawan kota Gudeg ini sebenarnya juga cukup menggembirakan. Hal itu dapat dilihat dari beberapa karya Adjib Hamzah yang telah diangkat ke layar kaca, antara lain Gudeg Yogya (film, 1962), Tiga Siluet (sinetron, 1985), dan Hengki (sinetron, 1986). Karyanya berupa drama radio diputar di RRI Nusantara II Yogyakarta sejak 1957-1985. Ia juga mengisi sinetron di TVRI Stasiun Yogyakarta sejak tahun 1972-1986.

Pribadi yang disiplin

Beberapa karya Adjib Hamzah nan berserak. MILESIA.ID/ IST

Sebagai pribadi, sastrawan kelahiran Yogyakarta, 4 Juni 1938 ini dikenal sebagai penulis yang disiplin. Berdasar kesaksian sang putra, A.S Adham, hampir sepanjang hari A. Adjib Hamzah bisa duduk di depan mesin tiknya. Bahkan tamu yang tengah bertandangpun harus sabar menunggu jika ingin bertemu, apalagi saat beliau fokus di depan meja kerjanya.

Selain itu, kegiatannya di bidang teater, yakni Teater Ramada juga menarik untuk dikupas lebih lanjut. Maka pada Bincang-bincang Sastra kali ini sengaja dihadirkan Brisman H.S., selaku penggiat teater yang diberi kepercayaan secara langsung oleh A. Adjib Hamzah untuk mengelola Teater Ramada. Teater Ramada adalah sempalan dari sebuah teater dengan sejarah besar di Yogyakarta bahkan Indonesia, yakni Teater Muslim.

Tradisi kepenulisan di suatu kelompok teater menjadi satu hal yang penting baginya. Oleh sebab itu, selain melatih bermain drama Adjib Hamzah juga melatih murid-muridnya dalam hal penulisan kreatif di Teater Ramada.

“Sosok Adjib Hamzah pun sastrawan lain di masa lalu beserta karya-karyanya tentu tidak boleh dilupakan begitu saja. Dari merekalah jagad sastra tanah air ini tumbuh dan berkembang.

Sebuah tanggung jawab moral bagi kita generasi selanjutnya untuk meneruskan tongkat estafet merawat dan mengembangkannya. Salah satu caranya dengan hadir menghikmati acara Bincang-Bincang Sastra kali ini. Acara yang rutin digelar setiap akhir bulan ini terbuka untuk umum dan gratis,” pungkas Sukandar.

( Milesia.id/ Sukandar, S.Hut/ Kelik N )

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close