Milestyle
Trending

Sejenak Melawan Junk Food dengan Tolpit

Stands Pasar Kangen (Prio P/Milesia.id)

Malam akhir pekan (13/7) itu, mata bulat Arka Cayapata (5) nyaris tak berkedip. Sembari berjongkok, jemari kecilnya memilah dan menimang koin-koin uang lawas berwarna perunggu dan hijau lumut dalam kotak-kotak kaleng aneka ukuran.

Berdiri tak jauh, Kala, adiknya yang selisih usia dua tahunan, menjeling wayang-wayang kertas yang dijajakan seorang bocah.

(Prio P/Milesia.id)

Saya tak menyela, membiarkan keduanya bermain-main dengan imajinasinya. Beberapa jenak kemudian Arka beringsut, menuju lapak buku-buku lawas. Lalu mengamati setrika-setrika arang, tumpukan kaset berpita, mobilan kaleng, dan barang-barang aneh lainnya dengan tatapan takjub.

Wayangan kertas (Prio.P/Milesia.id)

Perburuan di ‘pasar klitikan’ malam itu akhirnya berakhir di sudut lapak yang menawarkan mainan jadul.  Arka menimang sosok Spiderman plastik berwarna hitam, dengan seutas tali yang bisa mulur-mungkret naik turun. Tampaknya Ia naksir, meskipun warnanya mulai kusam. Ia sukses membujuk Ibunya untuk meminang Si Spiderman hitam dengan banderol  limabelas ribu perak. Berikutnya, jajanan..

Kian larut, kawasan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kian ramai. Dari stand-stand menjual jajanan tradisional dengan pendar lampu yang menyala syahdu, menguar aroma-aroma lezat yang ganjil.

Mari minoem limoen..(Prio.P/Milesia.id)

Ada stand khusus bothok besutan Endah Palupi dari Sanggrahan, Bantul, yang ramai pengunjung. Penyuka kuliner tradisional dari Jawa mungkin masih familiar dengan bothok.

Penganan terbuat dari parutan kelapa berbumbu dengan aneka isian, dikemas dalam bungkusan daun pisang dan dikukus. Bothok, lazimnya untuk lauk makan nasi. Bothok teri, bothok petai cina (mlanding), bothok tempe, adalah beberapa yang lazim.

Endah lebih dahsyat lagi, di “Toko Bothok” yang dikelolanya, Ia meracik lebih dari 40 macam bothok. “Saya memakai aneka bahan yang ada di sekitar. Berbahan dedaunan, ikan air tawar maupun laut,” papar Endah, jebolan Sastra Nusantara UGM, yang ditemui Milesia.id di area Pasar Kangen, malam itu.

Mari kita mbothok.. (Prio.P/Milesia.id)

Bahan isian bothok buatan Endah tidak lagi melulu petai cina (mlanding). Tercatat jamur, daun kemangi, jantung pisang, hingga daun kelor dan bunga kecombrang. Ikan air tawar dan laut juga dibothok oleh Mbak Endah. Lele, gabus, nila, kepiting, hingga tenggiri. Bagi Endah, bothok yang merupakan warisan kuliner tradisional, adalah cermin kedaulatan pangan lokal.

Awas, Tolpit..!

Ada lagi cemilan unik khas Bantul, nama ‘resmi’ nya biasa saja, adrem. Nama populernya yang agak berbahaya, tolpit. Akronim dari konthol kejepit, dengan komposisi bahan baku berupa tepung beras, parutan kelapa, gula Jawa, dan vanili.

Cara membuatnya, adonan bahan-bahan itu  dibentuk menyerupai bulatan, lantas digoreng sampai berwarna kuning kecoklatan. Cara menggorengnya unik, dibutuhkan tiga stick bambu atau sumpit untuk menjepit adonan sebelum dikeluarkan dari minyak panas. Hasilnya memang berbentuk khas, yang lantas ditafsirkan sebagai tolpit. Yang jelas, mengacu bahan bakunya, bisa dibayangkan legit gurih si tolpit ini. Sayang, ketika Milesia.id tiba di stand yang menjajakan tolpit, dagangan sudah tandas diganyang pembeli. Menyisakan tampah beralas daun yang kosong melompong.

Di luar acara Pasar Kangen yang hanya dihelat setahun sekali, sesiapa yang penasaran dengan bentuk dan rasa tolpit bisa memburunya di kawasan Pantai Baru, Pasar Sanden, Pasar Celep Srigading Bantul, Pasar Bantul, Pasar Kotagede. Juga di acara Pasar Tani Jogja di area Dinas Pertanian Yogyakarta.

Tolpiiit..! (IST/Milesia.id)

Tolpit melengkapi lusinan macam penganan dan minuman tradisional yang dijajakan di Pasar Kangen, yang berakhir 20 Juli lalu. Klepon, cenil, gatot, thiwul, lupis, adalah beberapa kolega tolpit yang nikmat dikudap sembari membayangkan romansa masa silam. Yaitu ketika penganan tradisional dengan bahan baku lokal, begitu berdaulat dan bermartabat. Junk food belum lahir dan menawarkan citra kuliner manusia modern yang ethok-ethok. Mari, kita cintai dan nikmati tolpit kita..(*)    

(Prio Penangsang/Milesia.id)

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close