Milescoop
Trending

Anak-anak Dayak Itu Telah Menghidupi Pancasila

Oleh Suroto, HC *)

IST – Suroto HC

Jam dua dinihari tepat, dalam dingin sepertiga malam itu, teman-teman menjemputku ke hotel tempat aku menginap di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Kami akan menuju Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Untuk satu tujuan : melihat keberhasilan teman-teman Koperasi Persekutuan Dayak ( KPD) kembangkan koperasi di sektor ritel, swalayan.

Sebetulnya, rombongan berangkat dari berbagai kota di Kalimantan Barat. Semuanya 36 orang dalam 8 mobil. Kami beriringan menuju kota Palangkaraya. Kota yang disebut akan dijadikan sebagai Ibukota Negara.

Malam di perjalanan tak bisa saya lewatkan untuk menikmati suasana. Kebetulan malam itu sedang Purnama. Alhasil langit terang benderang.

Saya berharap dapat melihat langsung bagaimana alam dan kehidupan masyarakat di sepanjang jalan. Sepanjang jalan memang kami lebih banyak melihat hamparan kebun sawit dan karet ketimbang hutan.

Mobil terus melintas kencang dan sesekali berhenti di kantor-kantor Koperasi Kredit (Credit Union). Gerakan koperasi simpan pinjam yang masif di hampir seluruh wilayah baik desa maupun kota di Kalimantan Barat.

Sebagaimana saya baca dari laporan nasional, hampir separuh dari gerakan bank

IST-Suroto/Milesia.id

milik anggota/nasabahnya ini memang ada di Kalimantan Barat. Jumlah anggotanya di Kalimantan Barat sendiri sebanyak 800 ribu dan tabungan yang mereka kumpulkan dari masyarakat sebanyak Rp 15 trilyun.

Mereka saat ini, dimulai dari beberapa Koperasi sedang merintis untuk kembangkan usaha koperasi jenis lain di sektor riel, untuk menyebut usaha lain dari simpan pinjam. Ada yang sudah kembangkan usaha ritel minimarket, hotel, pertanian, sekolah dan bahkan sebentar lagi Perguruan Tinggi.

Salah satu tujuan kami ke Palangkaraya juga adalah untuk belajar dari keberhasilan salah satu Kopdit di Kalimantan Tengah yang telah berhasil mengembangkan koperasi konsumsi. Mereka telah berhasil membuka 3 outlet yang omsetnya masing-masing sebesar 150 juta, 70 juta dan 20 juta per hari.

Kami di perjalanan juga sempat istirahat melepas penat sejenak di salah satu kantor cabang atau unit tempat pelayanan (TP) salah satu Kopdit yang ada di Kalimantan Barat namun telah merambah ke Kalimantan Tengah.

Namanya CU Semandang Jaya. Anggota dari koperasi ini terbilang sudah lumayan, anggotanya 35 ribu dan mereka sudah memiliki tabungan sebanyak Rp 400 milyar. Kantor pelayananya tersebar di 34 tempat.

Kantornya yang di Kalimantan Tengah belum lama dibuka. Dirintis oleh 3 orang perempuan dan satu laki-laki muda. Mereka begitu terlihat sangat ramah dan tulus menyambut kami walaupun malam larut hampir subuh. Kopi dan kue ringan kami santap habis dan kami tidur di kantor baru di atas tikar seadanya.

Kami sampai di Palangkaraya kurang lebih 30 jam lamanya. Sampai di Pangkaraya kami hanya istirahat sejenak di penginapan yang sudah disediakan oleh teman-teman dari KPD.

Pagi jam 8 kami berkeliling ke 3 toko. Kami disambut hangat dengan pertunjukkan silat khas Dayak dan juga tarian energik dari teman-teman karyawan koperasi. Setelah itu kami kembali ke hotel dan sore hari baru diskusi dengan pengurus KPD.

Berdirinya KPD dilatarbelakangi ketidakadilan dalam usaha perdagangan Karet. Pada tahun 1994 diadakan Lokakarya di Sei Piyang, Kalimantan Barat yang kemudian melahirkan ide pendirian  Koperasi Pancur Dangeri ( KPD).

Pada tahun 2004 juga diadakanlah Lokakarya oleh Serikat Gerakan Pemberdayaan Masyarakat Dayak Pancur Kasih ( SEGERAK) bekerjasama dengan CU Betang Asi, CU Sumber Rejeki Ampah, Lembaga Dayak Panarung. Salah satunya adalah rekomendasi pendirian Koperasi Persekutuan Dayak ( KPD).

Suroto (Kanan) : Kita bisa belajar banyak dari mereka” (IST/Milesia.id)

Proses usaha yang dijalankan memang tidak semulus prestasi yang mereka telah raih saat ini. Dikarenakan belum adanya pengalaman bergerak dalam pengembangan usaha sektor riel pernah mengalami kegagalan.  Namun mereka bangkit lagi walaupun sudah berdarah darah. Hingga seperti yang dapat kita lihat sekarang ini.

Anak-anak Dayak itu telah membuktikan, betapa mereka jauh di pedalaman, hidup terhimpit oleh ekonomi monokultur sawit dan karet yang harga jualnya mencekik rakyat,  tapi telah mampu membuktikan bahwa konsep demokrasi ekonomi, ekonomi tanpa utang itu bisa mereka lakukan.

Mereka telah membuktikan bahwa kekuatan bersama, gotong royong itu memang mampu menyelamatkan hidup mereka. Dari mereka saya banyak belajar, bagaimana menghidupi Pancasila itu dalam praktek keseharian.

Juroung dan Berinjau, Kearifan Lokal Masyarakat Dayak

Masyarakat Kalimantan di pedalaman memiliki kearifan lokal yang luar biasa. Mereka secara adat tidak menjual beras untuk makan. Mereka menampungnya di juroung, semacam lumbung.

Ini adalah dasar manajemen yang canggih. Ide ini sungguh luar biasa. Bagaimana menginstitusikan keamanan hidup warga yang sangat kuat dan masuk dalam hukum adat.

Sementara jaman yang kita sebut semakin modern dan canggih ini,  ternyata  masyarakat Indonesia hari ini masih banyak yang menderita kelaparan. Di sejumlah tempat, bayi-bayi menderita busung lapar dan anak anak itu menggigil kedinginan karena lapar.

Dalam membangun solidaritas untuk meringankan beban pribadi, ternyata masyarakat Dayak juga memiliki sebuah tradisi yang disebut berinjau. Mengerjakan pekerjaan bersama untuk meringankan beban. Dalam bahasa Jawa sepadan dengan “sambatan” mungkin. Meminta pertolongan untuk meringankan pekerjaan. Pengerjaan ladang, membangun rumah, dll.

Jaman memang sudah mulai berubah, tapi kecanggihan semacam apakah yang dapat meredakan rasa lapar anak-anak di era modern ini? Lalu, kenapa di jaman serba canggih ini jangankan untuk membangun rumah, kenapa jutaan orang tak punya ruang sejengkalpun mereka dimiliki? sementara begitu banyak rumah Gotik bertebaran tanpa dihuni dimana mana  yang dimiliki oleh segelintir orang? Mari renungkan. (*)

*) Suroto, HC, Aktivis Koperasi, Ketua Umum ASKES.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close