Mileslitera

Tango & Sadimin: Penghayatan Hidup yang Tak Pernah Usai

Bincang-Bincang Sastra Edisi 165: Peluncuran dan Diskusi Novel Tango & Sadimin Karya Ramayda Akmal

MILESIA.ID, JOGJAMengapa cinta harus disertai dengan jatuh? Karena cinta butuh segala yang tiba-tiba, seperti pertemuan pertama dengan kakacauan dan bahkan penyesalan. Pertemuan yang penuh kejutan dan pikiran-pikiran yang salah”.

Setidaknya begitulah yang Tango percayai setelah sepuluh tahun hidup dengan Sadimin. Sayangnya kesadaran itu terlambat, dan pertemuan pertamanya, ingatan akan itu, menjadi satu-satunya kebenaran yang tersisa tentang cintanya.

Romantik, misterius, sekaligus menggelitik. Begitulah penggalan novel Tango & Sadimin karya Ramayda Akmal. Sebuah novel yang mampu mencuri perhatian Studio Pertunjukan Sastra (SPS) untuk mengulasnya lebih lanjut.

Bekerja sama dengan Gramedia Pustaka Utama dan Taman Budaya Yogyakarta, SPS menggelar acara Bincang-Bincang Sastra edisi ke 165 dengan mengusung tajuk: Peluncuran dan Diskusi Novel Tango & Sadimin karya Ramayda Akmal.

Acara yang terbuka untuk umum dan gratis ini akan diselengarakan Sabtu, 22 Juni 2019 pukul 20.00-23.00 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta, jalan Sri Wedani 1 Yogyakarta. Hadir selaku pembicara, Mahfud Ikhwan dan Ramayda Akmal serta akan dipandu oleh Anis Mashlihatin. Acara kali ini juga akan dimeriahkan oleh penampilan Esklasika yang menyuguhkan nukilan novel Tango & Sadimin.

Ruuner up UNNES International Novel Writing Contest

Bincang Sastra edisi 165. IST/DOK.SPS

Novel Tango & Sadimin merupakan novel kedua karya Ramayda Akmal yang berhasil menjadi runner up UNNES International Novel Writing Contest 2017. Sebelumnya, Jatisaba, debut novelnya yang pertama dinobatkan sebagai Pemenang Unggulan Sayembara Novel DKJ 2010.

Ramayda Akmal tergolong produktif menghasilkan karya sastra, kajian sastra, esai-tulisan ilmiah popular yang dimuat di surat kabar lokal dan nasional. Tahun 2013, buku kumpulan cerpennya berjudul Lengkingan Viola Desingan Peluru mendapat penghargaan sastra dari Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta. Ramayda Akmal juga menjadi salah satu Emerging Writers di Ubud Writers and Readers Festival 2013.

Selain menulis buku fiksi, ia juga menulis buku ilmiah, antara lain Pahlawan dan Pecundang, Militer dalam Novel-Novel Indonesia (2014 bersama Aprinus Salam) dan Melawan Takdir, Subjektivitas Pramoedya Ananta Toer dalam Novel Perburuan (2015).

Staf pengajar di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM ini selain terus berproses kreatif di belantika sastra kini juga tengah menempuh studi  doktoral di Hamburg University, Jerman.

Penghayatan yang tak pernah usai

Ramayda Akmal. IST

Studio Pertunjukan Sastra terbilang beruntung bisa menghadirkan Ramayda Akmal yang tengah mudik ke Indonesia dengan membawa karya terbarunya. Untuk itulah, sengaja dihadirkan Mahfud Ikhwan, untuk mengulas seluk-beluk novel karya novelis asal Cilacap itu.

“Mahfud Ikhwan didaulat mengulas novel yang di dalamnya memaparkan kisah misteri dinamika rumah tangga tokoh Tango dan Sadimin. Manusia-manusia yang tinggal di bantaran Sungai Cimanduy nan lembap dan berkabut, yang ganjil sekaligus ajaib ini,” tutur Latief S. Nugraha selaku koordinator acara.

Sementara itu, Ramayda Akmal saat dihubungi melalui sambungan telepon mengungkapkan, “Kalau boleh jujur, novel Tango & Sadimin adalah cerminan dari proses penghayatan yang tidak pernah selesai tentang kehidupan, terutama hubungan antara realitas dan imajinasi, fakta dan asumsi-asumsi.

Tango & Sadimin saya tulis dengan bahagia dan sangat menggebu-gebu. Sebab, tokoh-tokoh di dalamnya adalah cerminan dari realitas sekaligus impian-impian saya. Semoga karya ini bisa diterima dan bermanfaat bagi masyarakat.” Pungkas Ramayda.

(Milesia.id/ Sukandar, S.Hut/ Kelik N)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close