Planet Satwa
Trending

Salah Menangani Gigitan Ular Berbisa, Begini Akibatnya..!

Oleh : Milza Permatasari *)

IST-Milza P

Syuuut…!”

Beberapa saat Mbah Min belum sadar. Matahari pun baru saja mengintip hendak terbit dari ufuk timur. Saat sadar, matanya menatap kakinya dan berteriak, “ Aduh…!” Di samping kakinya masih teronggok seekor ular jenis viper.

Rupanya tanpa sengaja si ular terinjak oleh Mbah Min dan reflek menggigit kakinya. Ularnya sih kecil saja, berukuran panjang sekitar 20 sentimeter. Saking kecilnya dan terkamuflase dengan baik di lingkungan sekitar, menjadikan Mbah Min tidak melihatnya.

Sayangnya, saat kejadian beliau hanya mengenakan sendal jepit sehingga bagian jempolnya harus menerima hunjaman taring tajam si ular plus efek bisa nya. Mbah Min segera pulang dan membatalkan panen singkong yang sedianya dilakukan di hari naas itu.

Selanjutnya, Mbah Min merasakan panas seperti menginjak bara api. Di area luka gigitan ular itu, terlihat dua titik kecil, seperti ditusuk jarum. Saat itu, luka mengeluarkan darah dan lama kelamaan darah berhenti mengalir dan daerah sekitar luka berubah menghitam. Ini berarti bisa ular mulai bereaksi ‘mencerna’ jaringan tubuh di sekitar area gigitan.

Seperti diketahui bahwa bisa pada hewan merupakan bagian dari sistem pencernaannya. Apalagi ular, yang dikenal bukan jenis satwa yang mampu mengunyah untuk melumatkan mangsa, melainkan langsung  ditelan. Alhasil di fase pencernaan awal, ular butuh bantuan enzim-enzim khusus  sebelum fase pencernaan memasuki lambung.

Mbah Min, seperti halnya kebanyakan warga di pedesaan yang beraktifitas di ladang dan seringkali tanpa mengenakan alas kaki yang memadai, sandal jepit dirasa cukup. Kolega Mbah Min sesama petani malahan lebih nyaman nyeker.

Mbah Min segera diantar ke puskesmas terdekat setelah beberapa jam sebelumnya memutuskan mengobati sendiri lukanya. Segala jenis dedaunan ditempelkan. Alhasil bukan meringankan nyeri, luka akibat gigitan ular tambah melebar karena bisanya sudah menyebar.  Dari puskesmas Mbah Min dirujuk ke rumah sakit terdekat.

Ilustrasi. Akibat tergigit ular berbisa (Foto : Dok. Tri Maharani/Milesia.id)

Saat itu hampir seluruh kaki kanannya mulai menghitam. Di rumah sakit, Mbah Min langsung diberikan perawatan maksimal. Sayangnya, dua hari kemudian Mbah Min meninggal dengan kondisi kaki sampai lutut yang menghitam dan membusuk.

Belakangan diketahui Mbah Min digigit ular jenis viper berbisa tinggi, yaitu Caloselasma rhodostoma atau lebih dikenal dengan ular tanah atau ular gibuk.

Snake Charmer, Si Tukang Pamer

Jika Mbah Min tergigit ular di kaki karena ketidaksengajaan dan masuk kategori kecelakaan kerja, lain halnya dengan snake charmer alias individu yang suka pamer ular. Bahasa halusnya, pertunjukan ular. Banyak dari mereka yang mengerti bahaya dampak gigitan dan bisa ular, namun justru dari situlah mereka ingin pamer dan berharap jadi terkenal.

Contohnya kisah beberapa tahun lalu, seorang penyanyi dangdut yang berdendang sambil memainkan ular jenis king kobra milik seorang pawang yang menjadi bagian dari pertunjukan. Saat tergigit dan karena kurang cepatnya penanganan awal, sang pedangdut itu pun meninggalkan panggung bukan hanya ketika pentas usai, melainkan meninggalkan dunia untuk selama lamanya.

Lainnya, kasus beberapa oknum yang tergabung dalam suatu komunitas reptil. Dengan rasa jumawa, mereka memainkan ular yang masuk  kategori berbisa dan berbahaya dengan tangan kosong (free hand).

..Nyut!”

Tiba-tiba ular yang masuk kategori berbisa tinggi dan berbahaya itu  mencokot si oknum. Biasanya yang digigit adalah daerah tangan, yaitu jari jemari. Bisa jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis bahkan kelingking. Saat jempol yang ‘diemut’ seekor king cobra dan bisanya masuk ke dalam sistem peredaran darah maka hasilnya menunjukkan hampir semua jari menjadi jempol alias bengkak semua.

Belum lama ini bahkan, ada lagi oknum yang jarinya ditancap taring ular jenis viper. Hasilnya, jari menghitam dan lengan seperti tokoh poppeye alias membengkak. Masih banyak lagi kasus oknum berjamaah yang terkena gigitan ular berbisa.

Rata-rata mereka bukan “orang biasa” namun publik figur yang cukup dikenal karena seringnya mereka muncul di stasiun televisi baik lokal, nasional, dan memiliki channel youtube. Anehnya, mereka yang mengaku tahu aneka jenis taring ular dan jenis bisa ular tidak segera menuju puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.

Mereka malah lebih percaya dengan pengobatan ‘sugestif’. Diantaranya dengan cara luka gigitan ditoreh pisau, ditusuk-tusuk jarum, diborehkan dedaunan, ditempeli batu dan sebagainya. Saat segala upaya jadul itu tidak membuahkan hasil, barulah mereka ke rumah sakit dan biasanya sudah terlambat meski beberapa oknum berhasil selamat dan kembali sehat. Itu pun setelah menghabiskan biaya yang lumayan besar.

Pembidaian (foto : dok. Tri Maharani/Milesia.id)

Menurut toksinolog yang juga ahli penanganan gigitan ular berbisa Dr. Tri Maharani, Sp.Em, yang merupakan satu dari sedikit dokter ahli dalam penanganan bisa ular dan gigitan hewan berbahaya, korban gigitan ular berbisa harus melakukan pembidaian untuk meminimalkan gerakan, lalu segera ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lanjutan dan observasi selama 48 jam. “Banyak yang bilang, semakin ikatannya kencang, semakin bisa ular tidak menjalar. Kemudian disedot darahnya, dikeluarkan darah banyak-banyak agar tidak menjalar. Itu salah,” tegasnya.

DR. dr. Tri Maharani, Sp.EM (Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Dr. Tri menjelaskan, berdasarkan penelitian World Health Organization (WHO) tahun 1979, bisa ular tidak tersebar melalui pembuluh darah namun melalui kelenjar getah bening. Sehingga, mengikat bagian tubuh yang tergigit atau mengeluarkan darahnya adalah hal yang sia-sia alias ga ngaruh.

“Justru hal itu bisa menyebabkan pembekuan darah dan akhirnya diamputasi karena yang diikat adalah pembuluh darahnya,” lanjutnya.

Masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang gigitan ular membuat Dr. Tri Maharani membentuk RECS (Remote Envenomation Consultan Service) pada 2015 serta ITS (Indonesia Toxinilogy  Society) yang yang anggotanya terdiri dari konsultan- konsultan medis untuk kasus gigitan ular atau pun kasus keracunan hewan (berbisa dan beracun) lainnya dan bertujuan untuk mengurangi angka kematian akibat gigitan ular berbisa yang bekerja 24 jam. RECS dapat dihubungi melalui nomor kontak 085334030409 agar korban gigitan ular dapat segera mendapatkan pertolongan yang semestinya.

Jadi paham, kan? Sekarang, jika digigit ular apa yang pertama kali harus dilakukan? Unggah foto dan menulis status di medsos? Nah, ini jawaban yang salah! Yang benar adalah melakukan imobilisasi (pembidaian) lalu segera ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Jangan lupa juga untuk menghubungi RECS. Masih ngeyel? Nikmati saja sendiri akibatnya, Mas Bro..!

*Milza Permatasari, Founder PLANET SATWA

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close