Milescoop

Koperasi Era Orba dan Sindrom Ketergantungan

Oleh : Suroto *)

IST – Suroto HC

Pada masa Pak Harto, koperasi diberikan tempat yang tinggi. Dalam pidato pengantar Pelita ke 2 dikatakan ” bahwa sekarang ini memang sistem koperasi belum menjadi suatu sistem ekonomi kita, tapi kelak di kemudian hari kita akan menuju kepada sistem ekonomi koperasi”.

Koperasi dipandang oleh Pak Harto tidak hanya sebagai sebuah mikro  perusahaan melainkan dilihat dalam konteks makro ideologi. Dibangun sebagai perwujudan sistem demokrasi ekonomi.
Sebagai sebuah arsitektur pembangunan yang utuh Pak Harto berusaha menciptakan sekolah koperasi,  dan kampus Institut Koperasi Indonesia ( Ikopin). Kemudian koperasi-koperasi diberikan dukungan fasilitas yang lengkap dari gedung hingga  priviledge bisnis. Sebut saja penyaluran sarana produksi pertanian dan monopoli bisnis sejumlah komoditas.
Pada masa Orba, Koperasi Unit Desa ( KUD) juga dijadikan idola masyarakat pedesaan.  Bahkan sukses sebagai alat untuk mencapai swasembada pangan pada tahun 1983/1984 yang dikemas dalam paket “revolusi hijau” yang kita ketahui pada akhirnya turut merusak lingkungan. Selain sebagai alat kekuasaan untuk mengendalikan masyarakat sipil dengan melakukan upaya tunggalisasi organisasi.
Pada masa itu, dikarenakan birokrasi lebih kuat dari regulasi dan wibawa politik Pak Harto nyaris tak ada yang berani mengoreksi termasuk para akademisi, maka kesalahan mendasar kebijakan pembangunan koperasi juga tidak berada dalam tempat yang pas.
Organisasi koperasi  tidak dibangun atas prakarsa dari bawah (bottom up) dan tidak dibangun dengan landasan kemandirian yang merupakan hal prinsip penting dalam keberlanjutan koperasi.
Era reformasi, yang diikuti dengan pencabutan berbagai fasilitas pemerintah terhadap koperasi menjadikan koperasi rontok dan kehilangan daya tahanya sebagai usaha bisnis di tengah arus sistem kapitalisme yang ultra liberal.
Masyarakat kita sampai saat ini dibentuk oleh sudut pandang bahwa koperasi itu merupakan tempat untuk mengejar fasilitas, mencari cari bantuan, dan bukannya dikembangkan sebagai bisnis natural untuk mewujudkan kemandirian dan memenuhi kebutuhan.
Celakanya, pembangunan koperasi saat ini bukan dikoreksi kesalahanya tapi ikut dihujat oleh banyak pihak dan termasuk para aktifis sosial yang hanya melihat das sein ( yang kenyataannya) koperasi tanpa tahu apa itu das sollen ( yang  seharusnya).
Koperasi berada dalam lobang besar. Terperosok terlalu jauh dalam kubang kerusakan organisasi dan alami sindrom ketergantungan akut. Kalau tidak segera melakukan koreksi ke dalam maka koperasi tentu akan segera ditenggelamkan oleh jaman.
*) Aktivis dan praktisi koperasi, Ketua AKSES.
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close