Milescoop
Trending

Puasa Menuju Taqwa, Koperasi Mengantar Sejahtera

Oleh : Prof. Dr. H. Agustitin Setyobudi *)

Prof.Dr. Agustitin Setyobudi (Prio P/Milesia.id)

Bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur’an. Ummat Islam diantarkan pada sebuah ritus suci yang kompleks sekaligus sangat implementatif untuk berbagai level usia dan keimanan. Secara lahiriah, bulan Ramadhan ditandai dengan tradisi mengencangkan ikat pinggang sekaligus secara simultan tancap gas dalam membaca dan mengamalkan isi Al Qur’an dengan target utama : membangun insan bertaqwa.

Unsur-unsur penting dalam Bulan Ramadhan memiliki persinggungan dengan semangat berkoperasi yang sekarang kita tekuni. Diantaranya adalah kerja keras dan kerja cerdas, solidaritas dan kesetiakawanan sosial, serta mempererat kerjasama, dengan target utama : mengantar menuju sejahtera.

Koperasi dengan puluhan tahun pengalamannya memang layak dinisbatkan sebagai elemen penting ikhtiar manusia membangun kesejehteraannya. Koperasi memiliki keunggulan yang tidak dimiliki korporat swasta maupun pemerintah dalam sejumlah hal, salah satunya adalah keberlanjutan sosial dan lingkungan. Keberlanjutan sosial dan lingkungan, menguatkan koperasi sebagai salah satu perangkat merajut relasi erat antar manusia (habluminannash) yang adil dan ramah sosial.

Koperasi memiliki daya tahan lebih dibanding perusahaan swasta. Daya tahan koperasi tercipta berkat arah usahanya yang tak sekedar mengejar keuntungan, namun juga berorientasi pada keberlanjutan sosial dan lingkungan. Karakter itulah yang tak dimiliki perusahaan swasta yang alasan adanya hanya untuk memenuhi pundi-pundi laba.

Koperasi yang berbasis pada orang (people based) menjadikannya lebih mawas diri. Berbeda dengan itu, perusahaan swasta yang berbasis modal (capital based) cenderung bertindak atas dasar orientasi keuntungan. Orientasi yang jika tidak terkendali akan potensial terjerembab pada Kerakusan (greedy), hal yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama manapun.

Dalam rangka mengejar laba sebesar-besarnya, perusahaan swasta dapat berlaku sewenang-wenang.  Misalnya saja mereka pelit dalam menggaji karyawan dibandingkan dengan laba yang dihasilkan. Alhasil, rasa kepemilikan karyawan terhadap perusahaan dan kinerjanya  menjadi rendah.

Selain koperasi, sebenarnya ada beberapa model lain dengan karakter yang sama. Sebutlah model kewirausahaan sosial (socialentrepreneurship) yang dimotori oleh Bill Drayton. Kewirausahaan sosial adalah bagaimana memecahkan masalah sosial dengan cara entrepreneurial. Caranya, dimulai dengan mengorganisir modal sosial dalam komunitas dan kemudian memobilisasi sumber daya mereka.

Di Indonesia ada sosok dokter Gamal Albinsaid, yang memperoleh penghargaan dari Pangeran Charles  di Inggris atas pencapaiannya. Di Malang, Jawa Timur, ia membangun klinik asuransi berbasis sampah. Masyarakat membayar layanan dokter Gamal dengan sampah rumah tangga mereka. Sedikitnya ada tiga manfaat klinik asuransi tersebut: 1). Kesehatan masyarakat terjaga meski mereka tak secara langsung mempunyai uang; 2). Sampah-sampah mereka terkelola dengan baik dan memberi nilai tambah ekonomi; dan 3). Dokter Gamal tetap memperoleh jasa dari layanan kesehatan yang diselenggarakannya. Alhasil, koperasi memang multidimensi. Ia bukan melulu lembaga beranggota orang-perorang yang bersama-sama ingin melek finansial, melainkan juga melek sosial dan lingkungan. Hanya koperasi yang (idealnya) mampu seperti itu.

Semoga Ramadhan kali ini terus memberi inspirasi insan gerakan koperasi untuk terus menebar manfaat dengan caranya yang khas. Khas gerakan koperasi yang penuh solidaritas, kerjasama dan penghargaan atas martabat manusia melebihi harta dan benda. Wallohua’lam. ()

*) Guru Besar Ekonomi Islam dan Koperasi, Acprilesma, Pimpinan Pondok Pesantren  “Prof Dr Agustitin Setyobudi”, Jakarta.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close