Milescoop
Trending

Koperasi, Manifesto Ekonomi Gotong Royong (1)

 

Oleh : Suroto *)

IST – Suroto HC

Hari ini, istilah gotong royong, walaupun menjadi praktek sosial yang penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita, masih sering dipertanyakan oleh berbagai pihak. Banyak diantaranya yang meragukan apakah masih relevan dan dapat dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat kita yang berkecenderungan semakin individualis saat ini?

Terlebih dengan  pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan semakin terbatasnya kesempatan masyarakat untuk meningkatkan kualitas taraf hidup, ikut menggerus nilai-nilai ikatan sosial di masyarakat. Sesungguhnya, pertanyaan tersebut jika dimaknai secara mendalam, merupakan satu pertanda bahwa kita sedang mengalami sebuah krisis ideologi mendasar. Mempertanyakan hakekat dari hidup rukun, guyub, kekeluargaan dan gotong royong sama halnya mempertanyakan hal yang lebih mendasar dari itu yaitu tentang ideologi bangsa kita, Pancasila!

Meningkatnya eskalasi krisis ideologi semacam itu bisa berdampak pada munculnya krisis kepemimpinan dan krisis kepercayaan yang bermuara pada hancurnya sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itulah, menemu kembali dan mepraktekkan kehidupan bergotong royong dengan lebih menjawab tantangan praktikal berbagai bidang dan tantangan jamannya merupakan sebuah kewajiban kita bersama. Termasuk di dalam bidang ekonomi, yakni ekonomi gotong royong.

Akhir-akhir ini munculah padanan konsep ekonomi gotong royong dalam berbagai istilah. Sebut saja misalnya sistem ekonomi solidaritas, sistem ekonomi kolaboratif, ekonomi inklusif, people-based economic dan lain sebagainya yang dalam prakteknya diwujudkan dalam bentuk usaha-usaha koperasi, ekonomi mutual dalam seluruh sektor kehidupan ekonomi.

Ini artinya sebetulnya dunia sedang menghendaki sebuah tatanan baru dunia yang lebih adil. Ini menjadi fakta praksis bahwa gotong royong itu memiliki relevansi praksis yang tinggi untuk diperjuangkan dalam situasi perkembangan masyarakat dunia yang kapitalistik saat ini.

Profesor Joseph Stigliz, penerima Nobel ekonomi belum lama ini menyerukan untuk belajar dari koperasi guna memerangi ketidakadilan yang sedang terjadi di dunia. Istilah gotong royong adalah istilah dari bahasa Jawa yang belum terlalu tua dari khasanah pengetahuan kita.

Kendati demikian, gotong royong ini secara fungsional telah lama menjadi bagian dari praktek sosial kehidupan masyarakat Indonesia terutama di daerah pedesaan yang masih terikat oleh nilai-nilai tradisional. Banyak padanan istilah dari gotong royong ini di berbagai daerah seperti misalnya : sambatan di Jawa Timur, Gugur Gunung di Jogjakarta (Koentoroningkrat, 2004), pela gandhong di Maluku, dalinan nan talu di dalam masyarakat Tapanuli dsb (Siahaan dalam Pranadji, 2009).

Istilah gotong royong ini menjadi populer terutama sekali ketika dipromosikan oleh Soekarno, yang terkenal dengan istilah Eka Sila, yaitu gotong royong! Sebuah hasil perasan dan saripati dari substansi Pancasila, Weltanschauung-nya Indonesia.  Begitu pentingnya asas

Gotong Royong ini bahkan oleh Profesor Mubyarto diharapkan menjadi sebuah asas nasional, menjadi gotong royong nasional, bukan hanya jadi praktek solidaritas sosial di desa.

Begitu kita menyebut istilah Ekonomi Gotong Royong dengan sendirinya adalah sama dengan Ekonomi Pancasila, dan ekonomi Pancasila ini sama dengan Demokrasi Ekonomi sebagaimana menjadi sistem dari ekonomi konstitusi kita yang anti terhadap kapitalisme, imperialisme dan liberalisme juga etatisme.

Tingginya penghargaan terhadap gotong royong oleh Soekarno ini memiliki kedalaman nilai tremendous seperti keadilan, persamaan, solidaritas dan lain sebagainya juga karena lebih dinamis dan berurat berakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Gotong royong yang artinya bekerja bersama-sama (tolong menolong bantu membantu) juga memiliki makna yang lugas dan aktif partisipatorik, dimana Sukarno menyebutnya sebagai azas yang dinamis.

 Ancaman Neo Kapitalisme

Ketika pemerintahan Orde Baru dimulai setengah abad lalu, pemerintah mengambil satu pendekatan kebijakan pembangunan dengan mengedepankan ekonomi sebagai panglima untuk meningkatkan legitimasi politik masyarakat terhadap pemerintah. Alternatif strategi ini dipilih untuk menutup keterpurukkan ekonomi semenjak terjadinya gejolak politik yang puncaknya berakibat pada terjadinya inflasi hingga 640 pada akhir tahun 1965.

Semenjak inilah apapun tensi tekanan politiknya, hanya satu pilihanya, ekonomi harus tumbuh konstan. Pembangunan Orde Baru dimulai dengan dibukanya karpet merah bagi investasi asing dengan disyahkanya Undang-Undang No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan berbagai produk kebijakan ekonomi turunan yang pada intinya bertujuan untuk memulihkan kondisi krisis ekonomi dan sekaligus mendorong laju pertumbuhan  ekonomi.

Hasilnya, pada lima tahun pertama hasilkan pertumbuhan ekonomi hingga 9,4 %.  Namun kondisi tersebut mendorong terjadinya satu kesenjangan pembangunan dan corak dominasi kekuatan modal asing. Puncaknya menuai protes yang dimotori mahasiwa yang kemudian dikenal dengan istilah Peristiwa Malari tahun 1974.

Melihat kondisi ini, lalu pemerintah saat itu meresponya melalui konsolidasi politik dengan dilahirkanya produk-produk kebijakan berupa instruksi presiden (Inpres) yang tujuanya untuk mendorong proses pemerataan pembangunan. Politik anggaran pemerintah yang tertolong oleh “oil booming” tahun 1980 an turut menguatkan kembali kekuatan ekonomi sebagai panglima. Pertumbuhan ekonomi konstan pada akhirnya menjadi tumpuan pembangunan dengan didasarkan pada tiga slogan pembangunan yang disebut dengan Trilogi Pembangunan yang terdiri dari ; pertumbuhan, stabilitas dan pemerataan.

Tapi setelah kekuatan birokrasi menjadi terlalu kuat menjadi melebihi undang-undang dan aspirasi politik pun terbungkam, maka terjadilah perlawanan politik yang dimotori oleh gerakan mahasiswa di era 1990 an. Desakan reformasi pada akhirnya memperoleh  momentumnya ketika terjadi krisis ekonomi asia tahun 1997 yang berakhir dengan kejatuhan pemerintahan Suharto. (Bersambung)

*) Ketua Asosiasi Kader Ekonomi Strategis (ASKES)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close